MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
MENGUNDURKAN DIRI


__ADS_3

      Mata David menatap Diana dalam-dalam.Pria itu tercenung dalam waktu lama.Beberapa kali harus menghela nafasnya.Tanpa disadari , wakahnya terlihat sangat muram.


      "Apakah kamu bersungguh-sungguh..?"


      "Aduh..Diana..Katakan saja kalau kamu ingin kenaikan gaji.Bukankah kita bisa membicarakannya..?"


      "Tidak David..Bukan itu masalahnya..Ini hanya masalah pribadi yang urgen. Aku bahkan sudah lama memikirkan untuk resign dari  kantor. Aku semakin paham bahwa ini bukan duniaku.."


      David menyugar rambutnya hingga terlihat lebih acak-acakkan.


       "Oh common…Sungguh merepotkan kalau harus mencari pengganti yang cocok sepertimu.."


       "Bukankah Andita sudah bisa di ajak bekerja lagi.."


       "Dia masih menyusui anak kami.."Sahut pria itu cepat.


       "Kalian bisa bawa anak kalian kesini.Bukankah orang tuanya pemilik kantor ini.Apa masalahnya.."


        "Huff..Tapi pernikahan kami masih belum dipublikasikan.."


        "Kalau begitu lakukan segera.Aku tidak bisa menunggu lama David,Selain anak-anak sangat membutuhkan kehadiranku, kondisi bu Ida pun semakin  mencemaskan.."


     David kemudian terdiam beberapa saat.Kembali memandang wanita di depannya.


    "Maukah kamu berjanji padaku Dy..?"


    Diana tidak langsung menjawab.Dia tidak ingin terjebak oleh suatu janji yang mungkin akan diingkarinya. Sambil menangkupkan kedua tangannya, dia menatap atasan nya itu.


    "Sepanjang sanggup untuk ku penuhi, maka akan ku lakukan.."


    "Kalau seandainya nanti, atau suatu saat kamu berubah pikiran ingin bekerja lagi, kamu akan kembali padaku lagi ya..?"


    "Cuma itu..?"


    "Satu lagi..Kamu harus membantu jika aku tidak punya pilihan yang lain oke..?"


    "Yup..Aku janji kalau aku bisa.."


    Diana akhirnya mencapai kesepakatan dengan David.Hal ini sudah lama dipikirkan.Dia menyadari bahwa dia tidak mungkin bekerja di luar rumah sementara pikirannya selalu dibayangi hal-hal buruk yang mungkin terjadi di rumah.


     Dia menyampaikan salam perpisahan kepada rekan-rekan kerjanya. Kemudian keluar ruangan sambil membawa barang-barang pribadinya.


    Di lobby sudah ada Agnes yang menunggunya. Dia sudah tahu jauh-jauh hari bahwa Diana akan resign.


     "Apakah tidak ada yang ketinggalan..?" Tanya dia malas-malasan.


     " Kukira sudah  kayaknya.."


     "Oke kita langsung berangkat.."


    Mereka berjalan beriringan dan hampir menabrak satu sosok tubuh wanita. Dara..


    "Wah..Masih berusaha ya..?" Sindir Agnes.


    Dara memandang jengah pada kesua wanita itu.


     "Apakah jadi masalah buat kalian..?"


      "Oh…Jelas masalah dong.Kamu akan jadi biang kerok antara kami dan David, jika niat busukmu terwujud.."


      "Siapa bilang niatku busuk.Pikiran kalian kali.."


      "Yee…Ngeles ya..Lalu apa yang menyebabkan kamu membuang pacarmu yang sedang bangkrut, lalu tanpa malu berusaha mendekati bos perusahaan ini..?" Cibir Diana.


      Dara mengibaskan rambutnya menutupi rasa malu.Kemudian menghentakan kaki meninggalkan kedua orang wanita yang sudah jadi musuhnya itu.


     Dia berkhayal.Seandainya nanti menjadi nyonya David John, dia akan memastikan nasib kedua orang itu akan naas di tangannya.Biarla sementara dia menahan dulu semua cibiran untuknya.Bukan tidak ada yang mudah untuk mencapai satu tujuan..?


      Sementara itu, Diana dan Agnes sudah dalam perjalanan pulang ke rumah Diana. Seperti biasa kalau keduanya bertemu ada ada saja yang dibahas.Dan kemudian ujung-ujungnya ledek-ledekkan.


      Hingga setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah.Senyum bahagia menghiasi wajah ayu Diana.Membayangkan besok adalah hari yang baru untuknya.Dia tidak lagi bangun lebih duluan dari subuh ,karena takut telat ke kantor.


     Beberapa saat setelah bermain dengan si kembar, Agnes Pun berpamitan  kepada Diana dan bu Ida untuk kembali. Karena hanya meminta waktu satu jam setelah jam istirahat siang untuk datang telat.

__ADS_1


     Diana menutup pintu rumah dan masuk ke dalam.Apapun yang terjadi besok, dia tidak akan menyesali keputusannya hari ini. Kebahagiaan dua buah hatinya adalah harga mahal yang harus ditebus.


       Apalagi si kembar Said dan Savana sedang aktif-aktifnya.Diana sering  tidak tega setiap kali meninggalkan mereka dengan seorang art dan bu Ida. Semoga Allah melancarkan jalan untuknya.


      Dia akan kembali mencoba peruntungan di media sosia. Selain bisa mengirim tulisan, ulasan serta jasa sebagai editor.Diana lebih menikmati dunianya di media ini.Lebih asyik, menantang dan yang pasti merdeka.


      Seperti dua hari kemudian, dia mulai mengotak atik laptopnya dan tenggelam dalam dunia yang dia ciptakan sendiri.


    Anak-anak sedang asyik bermain dengan mbaknya.Sementara bu Ida sedang mengaji Suaranya pelan, hanya seperti gumaman.Namun memberikan efek ketenangan dalam rumah.


     Namun suara ketukan di pintu mbuat mereka menjadi terusik.Diana berjalan dengan malas ke pintu.Dari balik kaca  melihat siapa yang datang.


    Mantan ibu mertua dan iparnya yang bernama Dara sedang berdiri di depan pintu. Mood Diana langsung turun sampai sekian derajat.


     "Ada apa kalian kesini lagi.?" Tanya dia lebih dahulu saat pintu dibuka.


    Kedua orang itu saling berpandangan satu sama lain. Seperti biasa memberikan muka angkuh dan merendahkan.


    "Mengapa kamu tidak mengizinkan kami masuk dahulu..?"


     Diana tertegun mendengar nada bicara mereka yang tidak seperti biasa padanya.Namun dia tidak memperdulikan itu.


     "Mengapa harus masuk..?"Tanya dia masa bodoh.


     "Kamu tidak sopan sekali.." Gerutu Marlena , mantan ibu mertuanya. Dia telah susah payah menekan keangkuhannya.Namun siapa sangka anak setan ini malah memancing emosinya.


      Diana memperhatikan perubahan bolak balik di wajah Marlena.


     "Jangan terlalu banyak basa-basi.Katakan apa mau kalian.."Tegas Diana.Tangannya bersiap siap hendak menutup pintu.


     Dara yang melihat gelagatnya langsung mengatakan secepatnya tujuan mereka datang.


     "Kami ingin kalian rujuk kembali.!" Perintah mereka cepat.


     "Apa..?"


     "Maksudnya, kamu dan Adnan."


      "Tentu saja tidak..!"


       "Mengapa..?"


       "Itu urusanku.."


       "Tapi, Adnan  masih mencintaimu.."


        "Oh..terimakasih kalau gitu.Pria-pria lain juga ada yang mencintaiku.."


         "Tapi.."


          "Tapi apa..? Sudahlah..! Jangan berpura-pura baik padaku. Lebih baik kalian tetap jadi iblis seumur hidup.Karena percuma juga berbohong padaku.."


         "Tapi , ini sungguh-sungguh.."


          "Oh..seriuskah. Lalu apa lagi..?"


     Kedua orang itu kembali berpandangan.Seperti dikomando, Marlena berkata.


         "Apakah kamu dengan David masih berhubungan..?"


          "Kalau iya kenapa..? Jangan katakan kalian akan memerintahkanku untuk sesuatu.."


      Melihat pembawaan Diana yang tak kenal takut, Marlena menurunkan suaranya.


         "Berbaik hatilah untuk membujuk.David agar mau menerima undangan makan malam kami.."


        "Dia sudah punya istri. Walaupun datang pasti dengan istrinya.."


        "Apa..? Siapa wanita itu..?"


         "Apakah itu penting bagi kalian..?"


         "Tentu saja.."

__ADS_1


         "Tentu saja..? He..he..Apakah kalian berniat  menyuruhnya mundur jadi istri David atau merusak hubungan mereka..?"


        "Jangan kelewat sinis..Kamu seharusnya berterima kasih pada kami karena bagaimanapun hubunganmu dengan Adnan dahulu banyak memberikan keuntungan padamu ." Bujuk Dara.


       "Untuk kepalamu..!Kalian hanya manusia bebal yang berusaha menutupi kebusukan kalian .Sayangnya kelicikan kalian terlalu kentara…"


       "Kau..!?"


        "Sudahlah..Aku sudah muak dengan tampang kalian.Mau-maunya jauh-jauh terbang dari tempat kalian ke kota ini.."


       "Itu bukan masalah bagi kami.." Jawab Marlena sombong.."


        "Tapi masalah bagiku.."


        "Kamu ini..!"


        "Memang…Lalu mau apa.?"


     Untuk beberapa saat mereka terdiam.Dan Diana menunggu dengan sabar.Akhirnya Marlena bicara lagi.


        "Apakah Nero sering mengunjungimu..?"


        "Sepertinya.." Jawabnya acuh tak acuh.


       "Jauhi dia..?"


        "Apa.?"


        "Ya.Jauhi dia..Kamu tahu dia tidak cocok denganmu.."


        "Kenapa..?"


         "Masih bertanya..?.Kamu sudah janda anak dua.Dia masih bujangan.Anakku yang tampan tidak mungkin kuizinkan dengan wanita sepertimu.." Dampratnya sambil menunjuk-nunjuk mukaantam menantunya itu.


     Untuk beberapa saat Diana tertegun.Lalu tertawa ngakak.Dia merasa sesuatu yang tidak lucu menjadi menggelikan. Maka pada menit berikut, dengan wajah kejam dia menatap dua wanita yang menyebalkan itu.


     "Kalian.! Apakah di tempurung otak kalian masih ada sedikit pikiran..? Ini rumahku.Adnan dan Nero berusaha untuk datang kesini dengan alasan merindukan. Putra putriku.Mengapa bukan dua orang itu yang harus kalian nasehati agar menjauhiku hah? Kalian bahkan dengan muka tebal juga ikutan datang ke sini.."


     "Hei..Jangan lancang kamu.." Tuding  Dara berusaha menyela.Matanya menyala menatap Diana.Wanita itu tidak bisa berpura-pura lagi, bahwa dia sangat membenci mantan kakak iparnya itu.Apalagi mengingat betapa dekatnya dia dengan pemilik perusahaan Blue Stone.David John pria idamannya.Dia bahkan sudah sesumbar pada teman-teman sosialitanya, bahwa mereka akan segera bertunangan.


       Hal yang sama dirasakan Marlena.Dia bahkan tidak pernah merubah penilaiannya yang memandang rendah wanita keras kepala itu.Hanya saja ,karena perubahan sikap Adnan pada keluarga yang semakin menjauh dan tidak suka pada keluarganya, yang membuat dia dengan berat hati membujuk Diana.


     Apalagi keinginannya untuk mendapatkan David sebagai calon menantu ,semakin besar.Dalam pikiran sederhananya, dia hanya perlu memakai tangan Diana hingga kemudian perkembangannya semakin lancar.Jika sudah sampai pada titik itu, hanya tinggal membuang wanita itu.Bukankah dia pernah melakukan itu 


     Melihat perubahan muka kedua orang itu tidak membuat Diana menurunkan nada bicaranya.


     "Kalian dengar ucapanku..Apapun alasannya jangan pernah lagi.Aku tidak punya kata lain lagi untuk mengatakan betapa menjijikkan kalian.."


      "Kamu benar-benar tidak punya kelas sebagai perempuan.." Desis Marlena.


      "Terima kasih Nyonya.Setidaknya aku masih punya otak manusia dan memakai naluri manusia bermoral..Soal kelas kamu berikan saja pada si bodoh anakmu itu. "


      "Aku tidak bodoh..!" Pekik Dara.


      "Cih…Tapi kau malah menyahut..Dasar bodoh.."


      "Kau brengsek.."


      "Keluar..!! Kupastikan David tidak akan sudi denganmu Dara.Jadi, simpan tenagamu untuk mengincar dia.."Ejek Diana.


      Marlena adalah orang pertama yang berpikir untuk cepat pergi dari sana. Dia tahu tidak akan pernah kata baik diantara mereka dan Diana.


      "Aku membencimu jelek.." Maki Dara lagi. Dia berjalan meninggalkan teras Diana.


       "Itu lebih bagus.Aku lebih leluasa menganggap kau musuhku, wanita bodoh.."


    Dara ingin berbalik menyerang, ketika Diana mengejek dia dengan kata bodoh lagi. Dia berusaha melepaskan cekalan tangan ibunya. Namun terpaksa  urung, saat melihat orang-orang yang berdiri  di depan pagar.


Wajah-wajah mereka yang memandang aneh dan rasa ingin tahu yang besar.


     Diantara mereka ada Sofia yang pernah bermasalah dengan Diana.Rasa kesal dan tidak puas pada Diana, seperti duridi telapak kakinya.Setiap melangkah akan berdenyut-denyut nyeri.


    

__ADS_1


__ADS_2