
Diana boleh lega setelah dua wanita itu pergi.Kemudian kembali masuk ke dalam rumah.Untuk memulai pekerjaa. Yang tertunda tadi.
Bu Ida berdiri di tengah ruangan.Di tangannya berisi beberapa camilan untuk minum teh.
'Eehh…Ibu bikin apa bu..?".
"Ini dymsum..Mana si kembar cucu ibu..?"
"Wahh..!! Untuk Diana gak ada bu..?" Tanya Diana pura pura merajuk.."
"Ya adalah..Ah kamu ini…Kok jadi kaya Savana siih.."
"Hee..hee…Kan emaknya bu.."
Mereka lalu sama-sama tertawa.Hari-hari selalu diisi dengan kegiatan tang menciptakan kegembiraan dalam rumah.Apalagi semenjak Diana memilik resign dari perusahaan Blue Stone"s.
Walaupun begitu ada sedikit was-wa di hati Diana .Melihat keadaan bu Ida yang mulai kurusan , dan sering muncul dengan wajah pucat.Perasaan tidak enak dan iba seketika. Wanita yang tidak ada hubungan darah dengannya itu, sudah memberikan kasih sayang yang tulus untuk Diana dan si kembar.Layaknya seorang ibu dan nenek kandung bagi mereka.
Hal itu yang memicu Diana untuk memberlakukan beliau dengan sangat sayang dan berharga..Bagaimanapun caranya , Diana berusaha memberikan kebahagiaan untuk ibu angkatnya itu.
Sebenarnya bukan itu saja yang berubah dari bu Ida.Beliau kadang-kadang memperlihatkan gelagat yang tidak biasa dalam waktu-waktu tertentu..Seperti suka melamun.Atau mengatakan sesuatu yang tidak biasa.
Seperti sore itu ketika mereka duduk-duduk minum teh.
"Diana, apakah jadi pindah ke rumah barumu itu..?"
"Belum pasti sih bu.Sementara belum, soalnya masih betah di sini.Lagian kalau Diana pindah nanti ibu kesepian .Dan anak-anak pada menanyakan neneknya.."
"Mmh.."Bu Ida menanggapi dengan senyum.."Jangan terlalu memikirkan tentang ibu nak.Ibu pikir sungguh egois rasanya melarangmu untuk pergi. Ibu sudah ikhlas kok, kalau memang kamu ingin pindah.Ibu mengerti. Kamu juga punya kehidupan sendiri yang tidak mungkin bersama ibu selamanya.Ibu ingin melihatmu bahagia.."
Sampai di situ , mata wanita itu berkaca-kaca.Dia yang memahaminya meraih tangan bu Ida. Matanya menatap sungguh-sungguh pada retina wanita itu.
"Mengapa tiba-tiba ibu membahas masalah ini.Apakah Diana sudah menyakiti perasaan ibu..?"
"Tidak nak.."
__ADS_1
"Atau ibu sudah bosan melihat Diana dan si kembar..?"
"Tidak..Tidak pernah.."
"Tapi Dia bahkan sering membuat ibu repot.."
"Siapa bilang..? Ibu tidak repot kok.."
Diana diam sejenak sebelum mengajukan pertanyaan intinya.
"Lalu, mengapa Diana merasa ibu mengusir kami ?Padahal Diana dan anak-anak ingin terus di dekat ibu.." Katanya sendu.
Bu Ida tidak bisa lagi menahan perasaannya. Dengan air mata bercucuran mendekap ibu muda yang sudah dianggap anaknya sendiri .
"Ibu tidak mengusirmu..Tidak pernah..Ibu hanya ingin kamu bahagia.."
"Tapi Diana dan anak-anak sangat sayang sama ibu.Apakah ibu tidak menyayangi kami lagi" Rajuknya manja sambil membenamkan wajahnya di pangkuan wanita itu.."
Bu Ida terisak menahan tangis.Tangannya gemetar memukul lembut lengan Diana.
"Tapi .."
"Kamu tidak lupa kan, mendoakan ibumu ini, jika suatu saat ibu sudah tiada..?"
"Tentu ibu..tentu.."
"Anak baik..Berjanjilah pada ibu, bahwa kamu akan bahagia nantinya.."
"Insya Allah bu..Diana janji.." Sahut Diana sendu.
Kedua orang wanita beda zaman itu kemudian bertangis tangisan seperti besok akan segera berpisah.
Bu Ida mengusap-usap rambut Diana di pangkuannya.Matanya menerawang jauh.
Teringat pertemuan mereka pertama kali dulu, saat si kembar baru berumur beberapa bulan.Hingga kemudian perasaan antara Ibu dan anak, nenek dan cucu, tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
__ADS_1
Diana adalah orang yang mengontrak paviliun , dan bu Ida pemiliknya.Namun hubungan yang unik semakin erat terjalin dan berakar, hingga sulit dipisahkan.Sudah terlalu banyak cerita diantara mereka sehari-hari, hingga sekarang, si kembar Said dan Savana berusia empat tahun.Seperti cerita legenda yang tidak akan hilang dalam perputaran masa.
Mereka berdua seakan larut dalam luapan perasaan dan emosi.Hingga ketika terdengar suara si kembar memanggil-manggil.
"Mami..mami…"
Bu Ida yang pertama kali bereaksi.Sambil mengusap air matanya dia berkata.
"Sepertinya anak-anak kehilanganmu.Temuilah mereka dahulu.."
"Iya bu.."Sahut Diana sembari berdiri.Namun ketika akan melangkah, tangannya dicekal kembali. Diana menoleh .
"Ibu minta maaf ya..kalau banyak salah.."
Diana tidak punya kata-kata lagi menanggapinya.Sesuatu perasaan asing tiba-tiba menyusup di hatinya.Tapi dia tidak bisa menggambarkan ataupun menjelaskan perasaan itu.Dia tidak nyaman karenanya.
Ketika kemudian dia berjalan mendapati si kembar yang masih memanggil-manggilnya, wanita itu masih digayuti pikiran tak menentu.
Savana langsung sumringah ketika melihat kehadiran mami nya.Sementara Said hanya sibuk dengan permainan kereta api yang terus menerus berjalan membuat jalur memutar.
Diana tersenyum sambil membelai kedua malaikatnya itu.Savana langsung minta gendong, dan merebahkan wajahnya di bahu Diana. Walaupun mereka kembar, semakin besar semakin terlihat perbedaan sifat keduanya. Said terkesan aktif dan cuek, khas anak laki-laki. Sangat bertolak belakang dengan Savana yang tenang dan manja. Tapi justru membuat Diana semakin bangga memiliki mereka. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya yang sepi tanpa kehadiran kedua malaikat-malaikat kecilnya itu.
Syukurlah , tentang apa yang ditakutkannya dulu tidak terjadi.Tidak ada gelagat buruk dari Adnan ingin merebut kedua anaknya. Hanya yang membuatnya sering kesal, kalau mantan suaminya itu kelewat nyinyir memberi perintah atau mengomentari tindakannya .Selalu si kembar akan dijadikan sebagai alasan yang jitu. Namun ketika mengetahui bahwa Diana mengundurkan diri dari pekerjaannya, pria itu terlihat sangat bahagia.dan berterima kasih atas keputusannya itu.
"Kamu mengambil keputusan yang tepat Dy.."
"Aku tidak minta komentar mu.." Jawab Diana seperti biasa…pedas..!!
Adnan sudah terlalu hafal dengan emosi Diana.Dan dia tidak pernah peduli selagi masih bisa diajak berbicara.Dia akan menderita kalau Diana tidak mengacuhkan apa pun yang dia katakan.Walaupun harus bertengkar itu lebih baik, karena dia bisa berinteraksi langsung dan menatap lama setiap perubahan emosi di wajah mantan istrinya itu.
"Daddy..!" Tiba-tiba Said berteriak gembira.
Tangannya menunjuk-nunjuk dengan bahagia di layar tivi, wajah Adnan yang sedang diwawancarai.Tanpa sadar, Diana ikut menoleh.Bahkan Savana yang mulai ngantuk di gendongannya terbangun dan ikut menoleh.Tidak menunggu lama langsung melorot turun dari pangkuan maminya.Suaranya tak kalah ribut memanggil-manggil daddynya di layar datar. Bahkan tangan mungilnya ingin menggapai gapai televisi yang tergantung di dinding.Perasaan Diana menjadi nelangsa.
Dia memandang sayu pada kedua buah hatinya itu.Menyadari, betapa besar ikatan batin antara mereka.Adnan dan si kembar. Perasaan bersalah terasa dalam hatinya.Hingga beberapa detik kemudian dihilangkan.Saat ingat penderitaan yang sudah pria itu berikan untuknya.
__ADS_1