MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
DI SUATU MALAM DUA TAHUN LALU


__ADS_3

    FlashBack


     Diana berjalan tertatih-tatih 


 tak tentu arah.Perasaan marah, terhina dan terbuang berkecamuk di hatinya.Dia bahkan sudah tidak punya daya lagi untuk menangis. 


    Sebuah surat cerai yang baru disahkan tadi siang tersimpan di tas hitam yang selalu dibawa-bawa ke mana dia pergi. Diana terus berjalan.Sementara penampilannya kusut dan ringkih.Matanya memerah dan bengkak karena air mata yang tidak berhenti mengalir.


   Sepasang suami istri dan seorang anak kecil usia tiga tahun sedang menikmati suasana malam dari dalam mobil.Tujuan mereka  setelah ini adalah mencari tempat makan .


     Sudah dua hari Agnes dan putranya menemani Erick tugas raker.Rencananya besok akan kembali ke kota tempat tinggal mereka. Apalagi David sang bos di Blue Stone's  hanya memberi izin cuti lima hari untuk Agnes.


     Mereka begitu asyik mengunyah camilan ketika suaminya bertanya.


     "Kita makan di mana ya ma..?" 


     "Restoran seafood aja pa. Mama lagi pengen makan kepiting raksasa yang terkenal di sini.."


     "Di kota kita kan juga ada."


     "Ya lain rasa pa..Di sini lebih fresh, karena dekat dengan laut.." Jelas Agnes pada suaminya.Sang suami yang bernama Erick akhirnya hanya manggut-manggut setuju.


     Tiba-tiba di suatu pertigaan.Mereka melihat seorang wanita yang berjalan tertatih-tatih. Tampangnya berantakan dan kusut.


     "Eh..Itu orang kenapa ya..? Kasihan amat.." Tanya Agnes.Matanya tajam mengawasi.


     "Ada masalah mungkin.Udah biarin aja.Nanti malah jadi masalah kalau kita dekati.."


     "Tapi, kok kaya kenal ya..?" Kata Agnes lagi sambil meneliti wanita itu.


      "Aduh .!!.Mama sebenarnya mau makan atau mau ngurusin orang siih..?" Erick mengomel sebal.


      "Ya makan sih pa..Kok papa jadi galak gini.."


       "Gak galak sayaang..biniku cantik.."


Jawab Erick sambil mencubit pipi istrinya.


       Wajah Agnes bersemu merah mendengar gombalan suaminya. Namun matanya  kembali terarah pada sosok wanita yang baru saja melewati mobil yang mereka parkir. Akhirnya Erick pun jadi ikutan memperhatikan.


     Ketika wanita itu menoleh tanpa sengaja Seraut wajah cantik bermata indah langsung terlihat.Erick terperanjat.Tiba-tiba matanya melotot hampir keluar. Bukan karena terpesona pada wajah cantik wanita itu. Tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu.


     "Ma..mama"


     "Mmh..ya pa ?"


     "Kok kayak mirip seseorang ya.."


     "Papa  kenal..?"

__ADS_1


     "Rasa-rasanya sih.Tapi gak pasti.."


     "Maksud papa..?"


     "Coba deh..Kamu perhatikan lebih teliti.Dia mirip siapa.."


     Agnes penasaran lalu lebih memfokuskan penglihatannya.Sialnya kacamata minusnya malah ketinggalan di penginapan.Tapi nalurinya juga mengatakan bahwa sosok itu akrab dengannya.


     Agnes masih sibuk dengan pikirannya Menerka-nerka siapa wanita itu 


    Tiba-tiba pintu mobil dibuka dengan cepat dan Erick keluar dan berlari cepat ke sana. Agnes yang masih bingung terkejut dan heran.Tanpa dia sadari, tangannya juga ikut membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Erick.Namun kemudian urung, mengingat anaknya tertinggal di dalam . Dia kembali lalu menggendong anaknya .Setelah mengunci mobil,  berjalan cepat mengikuti Erick.


      Tepat di pinggir trotoar di bawah pohon besar.Erick memegangi wanita tadi. Posisi wanita itu sudah bersimpuh dengan kepala disandarkan ke batang pohon.


      "Diana..Diana..!"


     Mata  Agnes terbeliak kaget. .Punggungnya seperti diguyur air dingin.Demi mendengar nama wanita yang dipanggil Erick dia semakin mempercepat langkahnya. Sementara anaknya yang bernama Andre hanya diam .Tubuh kecilnya terguncang-guncang dalam pelukan Agnes..Mata bocah tiga tahun itu hanya menatap heran pada maminya.


      Akhirnya sampai di tempat Erick dan wanita yang dipanggil Diana itu berada.Perasaan sedih melihat nasib kawannya tidak dapat dibendung lagi. Agnes maupun Erick yakin, sudah terjadi sesuatu hal yang membuat kondisi Diana terlihat kacau begini.


     "Tolong..tolong aku.." Suara lirih keluar dari mulutnya. Sementara mukanya sudah sembab karena terlalu lama menangis.Agnes cepat bertindak.


      "Tolong bawa ke mobil aja dulu pa..!" Kata wanita itu pada suaminya.


     Tanpa banyak ba bi bu , Erick memapah Diana berjalan. Mengikuti Agnes  yang sudah duluan membukakan pintu mobil


     "Langsung ke rumah sakit ya ma ?" Tanya Erick meminta persetujuan istrinya.


     "Ya..Lebih baik begitu pa.."


     Dua jam kemudian 


      


      Seorang dokter keluar dari bangsal rumah sakit. Wajahnya ramah saat bertatapan dengan sepasang suami istri itu.


     "Gimana kondisinya dokter..?"Berondong Erick padanya.


     Sementara Agnes hanya mendengarkan jawaban dokter. 


     "Dia mengalami shock dan tekanan mental yang berat.." Jawab dokter kalem.


      " Mengalami shock dan tekanan mental..?" Erick mengulangi ucapan dokter itu. Wajahnya tegang menatap dokter. Sementara kedua tangannya terkepal di tangan.


     Agnes yang juga terkejut kemudian menggenggam tangan suaminya. Dia tidak heran mengapa Erick begitu menunjukan simpati yang dalam pada sahabatnya itu.Karena Diana sudah hadir sebelum dia dengan Erick.Mereka dua orang yang dibesarkan bersama dari balita .Karena kedua orang tua mereka bertetangga baik dari dulu.Hingga kedua anak mereka pun bersahabat.Saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.


      Namun kasih sayang dari keci yang dirasakan kedua orang itu l, tidak bisa berkembang lebih jauh. Seperti mengutip salah satu ungkapan.Masalah hati memang tidak bisa dipaksakan.Walaupun bertetangga dan sama-sama dari kecil.Masalah pasangan hidup lain lagi ceritanya.


      Dokter yang merawat Diana masih ingin mengatakan sesuatu.Kedua suami istri itu masih terdiam menunggu kelanjutannya.

__ADS_1


     "Ada lagi yang penting di sini.Pasien saat ini sedang  hamil muda.Mungkin kira-kira hampir tiga bulan.Dalam kondisi yang sangat rentan"


     "Hamil.?" Tanya  Agnes.


     "Ya.."


     Diam sejenak, dokter itu kembali bertanya dan menatap kedua orang di depannya.


     "Maaf ya pak, bu..Anda berdua hubungan apa dengan pasien ?"


     "Saya abangnya.Dan ini istri saya.."Sahut Erick cepat.


     "Oo..Lalu suaminya mana..?"


     Agnes dan Erick saling berpandangan.Hingga sekonyong konyong terdengar gumaman dari mulut Erick.


    "Adnan.."  


     Hanya itu yang bisa di beri tahu Erick.Selebihnya, baik dia maupun istrinya juga punya pertanyaan yang lebih untuk Diana nanti.


     Tapi  ada yang mengherankan mereka pada sikap Diana.Dari pertama bertemu hingga masuk ruang dokter, Wanita itu bahkan tidak sekalipun menyebut apalagi memanggil nama suaminya itu. Selain kata-kata tolong yang sering diucapkan.


     Baik Erick maupun Agnes sepakat akan mencari tahu ini semua.Namun saat ini lebih baik  membiarkannya istirahat dulu.


     Keesokan harinya mereka terpaksa menunda keberangkatan pulang demi menjaga Diana.Karena bagi Erick maupun Agnes, wanita itu bukan lagi orang lain.Mereka sudah seperti saudara.Walaupun komunikasi sempat terputus semenjak Diana dipersunting Adnan.


     Walaupun begitu, Agnes maupun Erick tidak pernah melupakannya.Selain baik, Dia juga ikut andil   membuat Agnes akhirnya berjodoh dengan Erick.Walaupun dulu sempat ada permusuhan antara Agnes dan Diana.Karena kecemburuan Agnes pada Diana.


     Agnes dan Erick mendekati ranjang tempat Diana dirawat.Wajah wanita itu masih pucat tapi berusaha tersenyum.


     "Terima kasih,karena kalian sudah menolongku.."Ucapnya sendu menatap kedua malaikat penolongnya.


     Agnes tersenyum mengusap kepalanya.Dia tidak ingin bertanya apa-apa dulu. Namun satu kalimat dari Diana kemudian membuat mereka terperangah.


     "Maukah kalian membawaku keluar dari kota ini..?..hik…hik "  Tangisnya tak terbendung lagi.


    Baik Agnes maupun Erick sepakat dalam pikiran mereka.Bahwa sesuatu yang besar telah menimpa Diana.


    Mereka kemudian tidak bisa menutupi keingintahuan mereka. Dan harus memastikan Diana untuk bercerita.Karena mereka percaya bahwa wanita itu adalah wanita baik-baik.Dan apapun yang telah terjadi terjadi, pastilah tidak semata kesalahan dia.


     Dari mulut Diana akhirnya tercurahlah semua cerita dan tragedi yang menimpanya. Air mata tidak pernah berhenti mengalir sepanjang dia menceritakan penderitaannya. Erick dan Agnes menjadi marah .


    Mereka kemudian sepakat untuk melindungi wanita malang itu.Hingga ketika besoknya saat berangkat pulang ke daerah tempat mereka tinggal, Agnes dibawa serta.Karena tidak ada alasan wanita itu tinggal di sini lebih lama lagi. Erick berperan sebagai kakak laki-laki yang melindungi adiknya.


    "Tinggallah di rumah kami dulu.Setidaknya sampai kamu sudah mampu merawat anakmu nanti (belum ketahuan kembar )" Kata Agnes.


     Diana hanya mengangguk lemah.Pada saat ini, dia hanya memasrahkan nasibnya  ke tangan dua orang ini. Sambil berdoa semoga  dirinya cepat bangkit dan mandiri.Kemudian menata masa depan dengan kedua buah hatinya.


       

__ADS_1


__ADS_2