
Rumah baru Diana memang cozy habis. Agnes melakukan penjelajahan ke segenap taman rumah baru Diana. Tidak beda dengan yang lain, setiap yang datang pertama kali ke sini pasti akan terpesona dengan nuansa pedesaan yang diciptakan di tempat ini. Agnes akan menyesal sekali jika Diana masih keras kepala tidak mau pindah ke sini. Tempat ini sungguh nyaman sekali. Bahkan bunyi burung -burung ikut menunjang kesan suasana tempat itu.
Dia mengalihkan pandangan ke tempat semula.Kedua orang lain generasi itu semakin hanyut dalam obrolan yang hangat. Sesekali diselingi tawa bahkan tangisan rindu.Mereka seperti sudah berpisah bertahun-tahun , sehingga menumpahkan emosi saat bertemu kembali.Agnes benar-benar dilupakan.Namun dua juga ikut merasakan kebahagiaan kedua orang itu. Dari tempatnya berdiri dia bisa mendengar kata-kata bu Ida. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya semenjak Agnes menjemput ke rumah tadi.
"Ibu suka salah panggil nama perawat di rumah. Kadang membuat dia kesal juha karena ibu memanggilnya dengan nama Diana…"
"Apakah dia tidak mencoba mengingatkan ibu dengan namanya..?"
"Sudah sering, namun kadang ibu suka lupa lagi.Untuk orang pengertian sekali"
"Haa..haa…Gak apa-apa, kok bu.Dia pasti paham dengan kondisi ibu."
"Iya..Ibu juga merasa ada yang aneh sama ingatan ibu akhir-akhir ini.Ibu bahkan suka mimpi-mimpi kehilangan sendal, kehilangan uang dan tiba-tiba suka gak bisa tidur malam hari.." Terang wanita itu.
Dia mendengarkan dengan seksama. Perasaan cemas menyusup ke hatinya. Ketika menatap ke wajah bu Ida, Diana tidak ragu menyatakan keinginannya.
"Ibu tinggal sama Diana di sini yaa..Biar kita gak berjauhan lagtti. Jadi kalau perlu tfapa-apa, ibu bisa cepat menemui Diana.."
"Gak usah nak..Ibu senang tinggal di rumah ibu sendiri. Cuma ibu suka kangen tidur sama kamu. Cerita-cerita seperti dulu lagi. "
'Diana juga kangen bu..Tapi keadaan Diana belum pulih seratus persen.." Sahut nya terkesan putus asa.
Bu Ida memperhatikan wanita itu secara menyeluruh. Dari kepala sampai seluruh badan. Bekas luka di dekat ubun-ubun masih membekas.Juga luka pada tangan,, kaki masih ada beberapa bagian yang harus menunggu lagi untuk sembuh total. Pandangannya berhenti pada rusuk Diana yang pernah cedera parah dulu.
"Ibu mengerti..Cuma kalau keadaanmu kamu sudah memungkinkan, mampir ke rumah yaa..!"
"Iya bu..Itu pasti.Tapi Diana tetap berharap ibu mau tinggal disini bersama-sama anak-anak juga. Supaya tidak kesepian.."
Bu Ida hanya menanggapi dengan senyum.Kemudian menggenggam tangan Diana.
"Terimakasih sudah menemani ibu selama ini. Kamu dan anak-anak adalah keluarga ibu.."
"Diana juga berterimakasih pada ibu. Diana sangat bahagia waktu bersama ibu.."
"Ibu juga nak…"
J Bu Ida menatap wajah Diana secara menyeluruh. Dua ingin mengatakan sesuatu tapi dibatalkan.Ketika Dianaengajaknya lagi untuk tinggal bersama, bu Ida hanya menggelengkan kepala.
Diana memang sering menawarkan bu Ida agar tinggal bersamanya.Namun wanita itu selalu menolak dengan halus. Wanita itu malah menyuruh Diana berhenti mencemaskannya.
"Jangan pikirkan ibu lagi.Kamu harus konsentrasi pada penyembuhan , supaya anak-anak lebih bahagia.."
"Iya bu..Diana ingin berbakti pada ibu.."
"Baktimu sudah cukup nak Sudah cukup.."Katanya berulang kali.
"Diana merasa belum cukup kok bu.."
"Doakan saja ibu sehat-sehat. Dan ibu juga selalu mendoakanmu setiap habi shalat. Bagaimanapun kondisi kita sekarang, harus diambil hikmahnya..Ibu selalu meminta pada Allah untuk kebahagiaanmu. "
"Ya bu..Terima kasih ya.."
Wanita yang mulai berangkat tua itu membelai pipi Diana.
"Ibu bahagia melihatmu sudah baikan..Lain kali hati-hati ya…"
"Ya bu.."
Diana menatap sendu wajah bu Ida.Kalau bukan karena kondisinya masih dalam penyembuhan, dia pasti akan merawat wanita ini. Banyak sekali jasa-jasa beliau yang tidak bisa terbalaskan olehnya.
Apalagi saat pertama kali kehadirannya di rumah itu.Saat dia adalah seorang ibu muda yang cukup kerepotan mengurus dua kembar yang baru berusia satu tahun. Tanpa suami dan tak punya orang tua .
Bu Ida tanpa ragu dan sungkan mengulurkan tangannya mengurus bayi-bayi itu. Membiarkan istirahat Diana cukup, tanpa diganggu rengekan bayi-bayinya. Bu Ida cukup telaten mandikan si kembar, bahkan sudah hafal kapan jadwal makan dan pup nya.
Tanpa disadari seulas senyum tercetak di bibir Diana.Mengenang hari-hari yang telah lewat.
"Diana banyak terimakasih pada ibu..Karena ibu , Diana tidak merasa sendiri dalam membesarkan si kembar hingga besar begini.."
"Ibu senang melakukannya.Anggap saja ibu sedang cari amal untuk bekal nanti…"
"Ya bu..Aamiin..Semoga semua kebaikan ibu pada kami menjadi gudang pahala untuk ibu.."
Beberapa saat kemudian bu Ida menjadi sedikit serius. Tatapannya sangat dalam.Diana mersa teruusik untuk bertanya.
"Ya bu..Ada yang ingin dikatakan..?" Tanya Diana lebih dahulu. Lagi-lagi ditanggapi dengan senyuman lembut.
"Seandainya suatu saat nanti, ibu sudah tidak ada..Kamu jangan pernah lupa doakan ibu ya..Ibu tidak punya siapa-siapa lagi, selain kalian.."
"Ya bu..Insya Allah..Tapi sekarang Diana mendoakan ibu panjang umur dan sehat-sehat selalu.."
"Alhamdulillaah…"
__ADS_1
"Sayang sekali ibu tidak mau diajak tinggal bersama di sini.."
"Aduuh kamu ini ya..Kan sudah ibu katakan..Jangan merisaukan ibu lagi. Ibu banya yang merawat. Adnan bahkan memempatkan seseorang sebagai perawat khusus untuk ibu..Walaupun tidak bisa menyaingi kehebatan kamu kalau merawat wanita tua ini.."
"Masa sih bu..?"
"Iya..Cuma kamu yang suka dandani ibu sehabis mandi. Memakaikan parfum, wewangian. Lalu menanyakan ibu mau dimasakin apa.Sekarang ibu hanya dipakaikan daster sehari-hari. Kalau makan ya harus ngikut apapun yang dihidangkan…"
"Biar nanti saya bilangkan pada mereka.."
"Gak usah..Gak usah..Biar ibu jalani saja.."
"Makanya ibu tinggal di sini saja."
"Duh…kok omongan ke situ situ lagi siih…Udah deh…Ibu gak pa-pa kok.."
Diana sering ngotot bahkan sedikit memaksa ketika menawarkan bu Ida agar tinggal bersamanya.Namun wanita itu selalu menolak .
"Jangan pikirkan ibu lagi.Kamu harus konsentrasi pada penyembuhan , supaya anak-anak lebih bahagia.."
"Diana ingin puas mengadu pada ibu.."Katanya lirih.
"Doakan saja ibu sehat-sehat.Bagaimanapun kondisi kita sekarang, harus di ambil hikmahnya.."
"Ya bu…"
Wanita yang mulai berangkat tua itu membelai pipi Diana.
"Ibu bahagia melihatmu sudah baikan..Lain kali hati-hati ya…"
"Ya bu.."
Diana menatap sendu wajah bu Ida.Kalau bukan karena kondisinya masih dalam perawatan, dia pasti akan merawat wanita ini.."
Percakapan dengan bu Ida sangat menyentuh dan serius hari itu. Namun ada kalanya wanita itu suka tidak nyambung.Dan tak jarang melupakan seseorang atau sesuatu yang ditanya Diana.
Wanita itu hanya lancar berkisah tentang masa lalu.Tentang ayah ibu, masa kanak-kanak, sahabat masa kecil hingga kenangan tentang suami dan anak semata wayangnya. Mereka semua sudah berpulang untuk selama-lamanya. Namun bu Ida bercerita seolah mereka masih hidup.
Melihat kegigihan bu Ida, akhirnya Diana tidak pernah memaksa lagi. Namu. Selalu memantau by vc keadaannya hampir tiga kali sehari.Dari mengingatkan makan, minum obat dan hal-hal remeh temeh lain.
Di kala waktu senggang gantian Diana yang berkunjung ke sana. Melihat paviliun yang pernah ditinggali dulu. Adnan ternyata tidak main-main saat memindahkannya dan anak-anak.Hampir tidak satupun barang-barang Diana yang teringgal di sana.
Lagi-lagi bu Ida menangkap arti pandangan Diana ke seluruh tempat tersebut. Seperti tidak rela melepaskan kenangan di sana.
" Ya bu, Insya Allah…"
"Nak..Ibu sudah tua..Kamu juga bisa lihat kondisi ibu yang menurun akhir-akhir ini..Sebelum ibu pergi, maukah kamu meluluskan permintaan ibumu ini..?
"Kok ibu jadi semakin serius bicaranya..?"
"Kembalilah pada Adnan. Berilah dia kesempatan satu kali lagi. Dia sudah bertahun-tahun berjuang menunjukkan ketulusannya padamu nak.."
"Tapi..bu..Perasaan Diana sepertinya sudah hampa.."
"Kamu hanya mengalami trauma sehingga mengunci hatimu karena takut terluka lagi.."
"Maksud ibu, saya mengalami sesuatu yang tidak normal pada diri saya..?"
"Ibu tidak bilang begitu. Tapi merelakan masa lalu , adalah salah satu syarat untuk kita mampu menjalani hidup secara normal.Tanpa tekanan emosi dan dendam.."
"Diana tidak tahu apakah sanggup melakukan seperti yang ibu minta.Terkadang saat-saat tertentu kenangan yang menyakitkan itu datang dalam mimpi.Sehingga takut untuk tidur lagi.."
"Nak..Kita tidak boleh terlalu menghakimi seseorang yang pernah berbuat salah pada kita. Apalagi jika dia sudah menunjukkan penyesalan diri dan ketulusannya untuk berubah dan memperbaiki keadaan. Ibu tahu betapa menderitanya dirimu dahulu. Tapi bisakah kamu mencoba memaafkannya..?"
"Memaafkan…."
"Ya..Seperti ibu dulu saat kehilangan anak gadis semata wayang ibu. Padahal belum lama setelah ayahnya berpulang.."
Sampai di sana bu Ida berhenti sejenak. Suaranya bergetar, dan satu buliran air mata jatuh tanpa bisa dicegah.Diana mengusap lembut telapak tangannya .
" Bu…"
Namun bu Ida malah semakin tergugu. Setelah agak lama baru melanjutkan ceritanya.
"Dulu ibu sempat marah pada Tuhan.Ibu katakan Tuhan tidak adil pada ibu. Sehingga ibu tidak pernah bersujud padanya hampir satu tahun.Lama-ibu baru bisa menerima keadaan.
Ketika melihatmu pertama kali ,terus yerang ibu agak terguncang.Kamu benar-benar seperti pinang dibelah dua dengan putri ibu, Arimbi. Rasanya ibu ingin berteriak kegirangan melihatmu saat itu. Kamu bahkan mempunyai sifat yang sama dengannya. Hanya saja usia Arimbi agak sedikit muda darimu. Ibu bahagia sekali waktu kamu datang dengan membawa si kembar Said dan Savana. Seperti melihat Arimbi pulang lagi dan bawa bonus dua cucu. (Sampai di sini ibu Ida tersenyum bahagia. Semakin ke sini…Akhirnya ibu mengakui hikmah dari semua itu. Kita dipertemukan dalam kondisi yang sama.Sama-sama menderita karena telah kehilangan sesuatu yang berharga…."
"Diana juga sangat bahagia dengan ibu…"
"Ya..nak..Kamu harus bahagia lagi ke depan. Kamu hanya perlu membuka hatimu dan berdamai dengan masa lalu. Kamu juga tahu kan…Adnan pun tak kalah menderita .Anggap saja dia sedang menebus dosanya.
__ADS_1
Tapi kamu jangan selalu melihat ke kejadian belakang yang banyak menyakitimu.Bukankah beberapa tahun ini Adnan sudah menunjukan ketulusannya padamu.?. Dia sebenarnya suami dan ayah yang baik.Tapi pada hakikatnya dia hanya manusia.Yang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memberikan resiko besar padanya.."
Percakapan mereka meninggalkan kesan yang tidak terlupakan di hati Diana.Hingga saat sampai di rumah. Dia masih saja memikirkan itu.
"Apakah aku sudah kena rayuan bu Ida..?"
Namun, terlepas dari itu, Diana merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya.Seperti mengharapkan kehadiran pria itu. Padahal dia sudah membentengi perasaannya sendiri,agar jangan berpikir lebih pada Adnan.
Seperti ada sesuatu perasaan yang lama membeku dan terkunci rapat., sekarang mulai menghangat. Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia dan anak-anak merasa aman dalam lindungan pria itu.
Lamunannya tiba-tiba terusik ketika seorang art mendatanginya. Di tangannya membawa sebuah handphone.
'Ada telepon untuk anda nyonya. Dari tadi tidak berhenti bergetar"
"Ih ya…Makasih mbak. "
Sesaat Diana tertegun dengan nama yang tertera pada hpnya. Nomor asing..?
"Hallo..?"
"Hallo jalang…"
Dia mengernyitkan keningnya. Berpikir tentang orang yang tidak mendapatkan didikan adab dan tatakrama dalam hidupnya.Ingatannya tertuju pada satu nama.. Dia akan mematikan telepon ketika teriakan melengking kembali terdengar.
"Jangan kau coba-coba tutup telepon ini sialan.."
"Tidak boleh tutup telepon.? Mmhh…? Kau kira siapa dirimu. ??" Balas Diana jengkel.Dia tahu itu adalah Risa.
"Kk..kau..Siapa orang-orang di belakangmu yang melakukan itu hah..? Kau sudah membuat perusahaan keluargaku merugi banyak ."
"Apa yang kamu bicarakan Risa.?Jika waktumu begitu luang untuk omong kosong.Bukankah sebaiknya kau gunakan otakmu untuk melakukan hal-hal baik.Bukannya bikin sensasi murahan. Video kotormu berseliweran di jagat maya.Tanpa ada yang bisa kau tanggulangi. Apakah saat ini kau begitu bahagia karenanya..?"
"Kau..!! Jaga mulutmu..!! "
"Jangan membentakku brengsek..Kau yang harus jaga mulut kotormu ..Dasar wanita tak. bermoral.."
"Kurang ajar kau Diana..Perintahkan orang -orangmu menghentikan video itu..!"
"Cih..Mengapa harus aku..? Apa kau mengaku bahwa sundal sepertimu tak punya kemampuan itu..?"
"Sialan..Seharusnya kau mati dalam tabrakan itu..Sayang sekali karena nasib baik masih bersamamu.Sedangkan Alex disekap mereka……"
Wanita itu tiba-tiba terdiam.Seperti menyadari bahwa dia sudah keceplosan.Sesuatu yang harusnya di rahasiakan.
"Alex..? Siapa Alex…Apa urusanku dengan Alex..?"
"Dd…dia pacarku…"
"Lalu..?"
"Mereka sekarang mengancamku…"
Bicara Risa menjadi kacau. Namun Diana menangkap sesuatu yang mencurigakan. Otaknya mencoba menghubung hubungkan setiap hal dengan peristiwa penabrakannya..
Diana tertegun sejenak.Tiba+tiba mata wanita itu menjadi dingin.
"Apa kamu yang melakukan..?".
Untuk sesaat tidak ada jawaban.Tiba-tiba Risa melengking.
"Itu…itu Alex..Bukan aku.."
"Oh…begitu..? Kalau begitu biar saja dia disekap sampai busuk.."
'Tutup mulutmu..!!"
"Tutup saja telepon mu ….goblok..!!"
Diana tidak mau buang waktu langsung mematikan sambungan telepon. Tak peduli pada reaksi Risa yang uring-uringan.
Bagaimanapun tabahnya Diana, namun emosinya tetap terganggu jika diingatkan pada kejadian naas itu. Dia yakin bahwa Risa dibelakang semua itu.
Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit.Sehingga membuatnya goyah.Seorang art langsung memegang tangannya.
"Apa anda baik-baik saja nyonya..?"
"Bantu aku ke rumah.Aku ingin istirahat…"
" Baik nyonya.."
Diana akhirnya dipapah hingga di tempat tidur. Perasaan marah dan nelangsa membuatnya lemah. Dia menyelimuti dirinya hingga kepala. Diam-diam menangis sambil membekap mulutnya.
__ADS_1
"Anda yakin tidak apa-apa nyonya.Apakah perlu sesuatu..?"
Namun hanya dijawab dengan lambaian tangan dan menyuruh nya keluar.