
Udara disekitar mereka mendadak gerah dan agak pengap. Ditambah bau parfum import yang menguasai ruangan dekat mereka.Walaupun pada dasarnya Diana adalah wanita normal penyuka berbagai wewangian, tapi efeknya tidak sama dengan wangi yang tebarkan Risa.
Wanita di depannya berdiri angkuh dan memandang remeh orang-orang di hadapannya. Dia merasa berani dan percaya diri untuk menyerang dan melukai hati Diana hingga berdarah. Seperti yang pernah dilakukannya dulu waktu merebut Adnan dan menyingkirkan wanita itu.Risa sangat bangga dengan kemenangan yang dianggap prestasi itu .Jenis wanita yang mempunyai tingkat egois dan tidak punya malu tingkat dewa. Sayang sekali, kondisinya menguntungkan untuk berbuat sekehendak hatinya. Selain wajah cantik dan tubuh sexy, sisi finansialnya cukup menjanjikan untuk memuaskan nafsu dunia wanita berusia hampir tiga puluh tahun itu.
Namun seiring kesombongannya, dia harus menelan kekecewaan. Sasaran yang dibidik tidak memberikan hasil yang diharapkan. Padahal sudah membayangkan kemarahan dan kecemburuan yang ditumpahkan mantan istri pertama Adnan itu.
Diana hanya memperhatikan dengan wajah datar. Risa seperti bukan ancaman yang datang untuknya. Menjengkelkan sekali ketika tanpa acuh malah menyeruput kopi tanpa beban. Wanita itu seperti tidak punya emosi sama sekali.Seperti menghadapi lalat nakal yang iseng mendekatinya untuk digebuk.
Risa menggigit pipinya menahan geram. Rasa sakit yang terasa memberikan kesadaran padanya. Dia sudah berusaha menyakiti wanita sialan ini.Tapi mengapa justru dia yang merasa tersakiti.Dalam hatinya mengutuk karena reaksi Diana hanya santai padanya.Apalagi tanpa beban memberikan balasan yang sarkas untuknya.
"Apakah kamu begitu kesepian dan tak punya teman Risa..? Kalau iya..Ku sarankan memperbaiki attitude mu, supaya tidak merana seumur hidup. Karena pengganggu itu tak ubahnya seperti lalat yang suka datang tanpa diundang.Dan cara mengatasinya juga harus ekstrem supaya tidak menjadi toksik bagi lingkungan.."
Risa melotot marah..Nafas wanita itu terdengar memburu.Ini bukan hasil yang diinginkannya.Dibalas dengan pukulan telak. Menurut pikiran bawah sadarnya,Diana hanya pantas menerima cacian dan hinaan dari nya tanpa daya untuk membalas.
"Pertanyaan itu lebih pantas diajukan untukmu.." Balas nya sengit. Tangannya mengepal hingga ditekan kuku-kukunya yang runcing.Sungguh menyebalkan saat dia merasa diintimidasi wanita lemah ini.
Diana menatap malas.Tapi dalam kepalanya menemukan cara untuk memainkan emosi wanita ini. Karena hal itu seperti hidangan manis untuk melampiaskan kekesalannya.
" Oh ya..? Apa yang mesti kamu tanyakan.Di antara kita tidak ada yang mesti ditanya jawabkan.Kecuali ada yang dirugikan atau karena usil tak ada kerjaan..Kamu sungguh pantas dikasihani Risa. Mungkin kamu tidak sadar, dalam penampilan cantik dan mewah,.Bahkan bertolak belakang dengan sikap norak dan tak tahu malu mu itu.Gak lucu juga kan..Kalau tiba-tiba datang melabrak orang yang tidak ada urusan denganmu..?"
Muka Risa menggelap.Dalam pikirannya, dia ingin sekali menghilangkan wanita ini dari muka bumi dengan sekali tiupan.
Tanpa Diana berbuat kesalahan, dia bisa saja memberikan alasan apapun untuk membencinya. Karena Diana seperti racun dalam udara yang dihirupnya.Tapi aneh juga kalau dia seperti magnet yang menarik Risa untuk menghampirinya.
Mungkin hal itu tidak akan terjadi jika Adnan bisa membuang Diana dan melupakannya dengan sepenuh hati.Walaupun kemudian pernikahan antara dia dan Risa kandas di tengah jalan pria itu bisa melanjutkan hubungan dengan wanita lain.Tapi bukan dengan Diana, apalagi sampai mati-matian untuk kembali pada mantan istri pertamanya itu.
Pemandangan saat ini tambah bikin emosi.Bagaimana wanita itu bisa duduk santai sambil ngobrol dan minum kopi dengan Nero.Pria yang disukainya setelah Adnan. Nero adalah pria pilihan kedua.Tapi mengapa juga merapat pada janda beranak dua itu..?
Di masa lalu, waktu statusnya masih sebagai istri Adnan, Nero tidak pernah memandang kehadirannya.Jangankan duduk ngobrol, memandangnya saja, pria itu tidak sudi.Apalagi saat Risa memakai pakaian yang banyak mengeksposkan kemolekan tubuhnya. Pria itu tidak segan-segan menampakkan muka jijik dan merendahkan.
Risa mengacungkan telunjuknya yang berhias kuteks merah pada kuku-kuku yang runcing. Membuat Diana geram untuk mematahkan sekaligus dengan jari nya.Tapi dia cukup pintar menyembunyikan isi hatinya dengan penampilan tak berdosa.
"Kamu jangan seperti tidak apa-apa denganku.Aku tahu kamu iri dengan keadaanku yang lebih banyak menang darimu.."
"Sayang sekali Risa, aku malah tidak merasa kau tidak pantas merasa menang dariku. Karena aku malu disaingkan dengan wanita busuk dan tak tahu malu sepertimu.."
"Kau…Jaga mulutmu..!"
"Jaga mulut..Jaga mulutmu..Mulutku berkata sesuai porsi yang dihadapinya.Dan lagi , mulutku tidak akan mengurus apa yang bukan urusannya.Bukan begitu Risa..?" Tanggap Diana santai.Dia melirik Nero yang sudah tidak nyaman dengan situasi mereka.
Pria itu bahkan tidak ingin berlama-lama melihat wanita mantan istri kedua kakaknya disini.Kehadiran Risa tidak pernah memberikan kenyamanan baginya Semakin cepat wanita itu pergi, akan lebih baik bagi mereka.Karena Nero menyadari karakter Diana sekarang bukanlah sama dengan Diana dahulu yang mau saja ditindas orang-orang yang tidak menyukainya. Diana sekarang ibarat petarung yang menunggu lawannya di atas ring .Apalagi diikuti dendam dan amarah yang terpendam lama, tidak dapat diprediksi apa yang akan dilakukan pada musuh-musuh masa lalunya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini Risa. !" Perintah Nero yang dari tadi hanya memperhatikan dengan muak.
Risa tidak bisa menerima pengusiran begitu saja .Dia menatap shock pada mantan adik iparnya itu. Tapi kemudian secara dramatis menukar ekspresi wajahnya. Wanita itu seperti tersakiti.
"Kau mengusirku Nero..? Kamu tidak boleh melakukan ini.." Jeritnya tanpa sadar.
__ADS_1
Beberapa orang pengunjung kafe mulai terusik dengan jeritan Risa.Namun mereka masih memberi sedikit toleransi untuk membiarkan wanita itu.Bagaimanapun, penampilan cantik dan sexy Risa cukup menarik untuk dipandang.Apalagi kaum adam khususnya yang mempunyai pikiran gila dan mesum.Penampilan Risa membuat fantasi *** mereka jadi melambung tinggi.
Risa menarik nafasnya dalam-dalam sehingga membuat dadanya yang berbelahan rendah membusung.Tapi suaranya sudah agak terkontrol
"Ketahuilah Nero.! Aku sedang menyelamatkanmu.."Suaranya terdengar memelas.
Tanggapan Nero malah mencibir padanya.Dia bukanlah Adnan yang kalem dan tenang.Mata pria tidak bisa ditutupi menatap jijik pada Risa.
"Kamu terlalu berlebihan menganggap dirimu Risa Apakah aku memintamu menyelamatkanku.?Kamu lucu sekali. Kalau ada yang mesti diwaspadai itu adalah dirimu.Bercerminlah..!"
Risa tercekat.Kata-kata Nero lumayan jitu.Mati matian wanita itu untuk agar tidak kelihatan tersinggung. Sudah sampai hingga di sini, dia harus berusaha menampilkan citra dirinya dengan baik di depan publik.
"Kamu akan menyesali ini suatu saat Nero.Seperti Adnan abangmu dengan wanita ini.." Risa masih ngotot berperan dengan kemunafikannya.
Diana mulai jengah dan memutar bola matanya.Memandang jijik pada wanita di depannya. Bertanya tanya dalam hati.Mengapa ada wanita yang tidak tahu malu dan tak tahu diri seperti ini..?
Diana tahu bahwa sebenarnya Risa sedang menantangnya.Reaksi dialah yang sedang ditunggu-tunggu oleh Risa.Mungkin sudah saatnya membeli yang ditawarkan Risa dengan sukarela.Meskipun pada dasarnya, dia adalah wanita yang tidak suka jadi pusat perhatian.Apalagi di dalam kafe yang ramai pengunjung.
"Berhentilah menciptakan drama menjijikan Risa.Semua juga tahu, betapa bejatnya kamu. Dan kamu tidak usah mencemaskan tentang Nero di dekatku.Dia bukan pria bodoh yang tidak bisa membedakan yang baik atau tidak untuknya. Percuma kamu berkhotbah soal kebaikan, kalau keringatmu saja berbau kebohongan.."
Risa meradang tidak terima .Pandangan kebencian pada Diana tidak ditutupi lagi. Namun hatinya mendongkol putus asa.Niatnya ingin mempermalukan wanita itu seperti bumerang yang berbalik pada nya. Mengapa sulit sekali menjatuhkan wanita sialan ini.? Makinya dalam hati.
Nero memperhatikan semua perubahan emosi di wajah Risa. Dia sudah berusaha mengusir wanita ini pergi Namun sampai saat ini, dia masih bertahan tak tahu malu.
Tiba-tiba menjadi sedikit usil dengan kehidupan pribadi mantan istri kedua Adnan itu.
Tapi Nero tidak ingin berlama-lama dan tanggung-tanggung menghadapi tipe tak tahu diri seperti ini. Dia bukanlah wanita yang mempan dengan kata-kata kiasan ataupun sindiran .
"Aku ingin tahu kabar anakmu Risa..Apakah sudah mengetahui siapa bapak biologisnya..?"Akhirnya Nero memberikan pertanyaan yang telak.
Risa tertegun.Dari sekian pertanyaan orang-orang tentang kehidupan pribadinya, bagian ini adalah hal yang paling dibencinya. Sialnya lagi, Nero tanpa rasa bersalah menanyakan di depan Diana.Wanita yang dibenci dan diam-diam dicemburuinya.
Padahal diantara mereka berdua, yaitu Nero dan Diana.Risa lebih menargetkan Diana sebagai korban nya.Tapi siapa sangka tidak semudah itu jalannya.
Beberapa hari yang lalu saat bertemu Adnan di Zurich airport, dia mengetahui dengan jelas, bahwa perasaan Adnan pada wanita mantan istri pertamanya itu tidak pernah berubah.Apalagi sudah ada dua anak di antara mereka.
Dia tidak bisa menerima kenyataan itu.Mengapa Adnan harus berbalik arah kembali pada Diana.Tidak masalah itu wanita lain, asal jangan Diana.Karena hal itu sangat melukai harga dirinya. Walaupun pada hakikatnya, tidak demikian di mata kebanyakan orang-orang yang mengenalnya.Risa adalah wanita bebas yang hampir tidak menjunjung nilai moral ketimuran. Pepatah mengatakan 'Seburuk-buruk pria, hanya menginginkan wanita baik-baik untuk jadi istrinya'.
Namun, bukan Risa kalau hanya menerima begitu saja ungkapan itu..Dia terlalu mengagungkan dirinya, dan tidak peduli benar dan salahnya. Kalau karena anak dia dipermalukan, maka Diana pun juga harus sama.Risa bertekad melukai Diana dengan seputar pembicaraan tentang anak.
Sayang sekali dia tidak cukup cerdas untuk mempelajari situasi kapan harus menyerang dan kapan harus mundur.Diana ibarat tentara yang sudah melewati kejamnya medan peperangan. Bahkan tidak akan segan-segan berlaku kejam bila diperlukan saat menghadapi lawannya
Risa mengalihkan pandangan pada Nero yang masih menunggu jawabannya.Dia semakin benci dengan kenyataan bahwa pria itu lebih memilih membela Diana dan memojokkan dirinya.Namun dia tidak berani memperlihatkan dengan jujur isi hatinya.
"Apakah kamu merindukan ponakanmu itu Nero..?"
"Mmh..Tidak juga..Lagian aku hanya pernah bertemu sekali saja.."
__ADS_1
" Dia sehat kok .Dan hidup berkecukupan , karena ibunya kaya "Jawab Risa bangga.
Nero diam sesaat, sambil menggoyangkan tempat kopinya. Diana tersenyum kecut ketika ikut mendengar, dan menyadari kalimat bersayap yang diarahkan padanya.Untungnya dia tidak menemukan alasan untuk tersinggung.Bahkan lebih memilih menyantap cake red velvet yang dari tadi masih utuh bentuknya.
Lain halnya tanggapan Nero lebih bersemangat ketika kembali mengungkapkan isi pikirannya .
"Dari ucapanmu , aku yakin kamu belum menemukan siapa ayahnya. Namun..Aku ucapkan selamat untukmu karena bisa mencukupi sebagai ibu tunggal.Namun tidak usah repot-tepot mengumumkan anakmu adalah keponakanku.Semua juga tahu kalau Adnan bukanlah ayahnya."
Diana hampir tersedak mendengar kata-kata pedas dari mulut si tengil ini.
"Nero..Kamu tidak harus mengucapkan kata-kata menyakitkan itu ..!" Bisiknya kemudian. Tapi ditanggapi dengan senyum sinis dari pria itu.
Sebenarnya Diana Pun tidak perlu terlalu sensitif seperti itu .Karena Risa sendiri tidak bereaksi apa-apa atas ucapan kasar Nero. Walaupun mukanya memerah, tapi tidak terlalu berpengaruh pada kepercayaan dirinya.
"Walaupun Adnan bukan ayah kandungnya, tapi aku cukup bahagia karena dari kandungan hingga lahir, Adnan selalu memperhatikan dan merawatnya. Yah..Terbukti kalau dia mencintai anakku melebihi anak kandungnya sendiri.."
Diana merasakan sedikit nyeri di hatinya.Susah payah menghapus kenangan pahit masa lalu yang kembali mengorek luka nya. Bayangan si kembar yang tidak mendapatkan sedikitpun perhatian dari ayahnya ketika dalam kandungan mulai mengusik emosinya.
Pandangan Nero menjadi kelam.Dia pun mengerti bahwa panah beracun Risa mulai mengenai sasaran.Walaupun Diana Menampilkan ekspresi cuek, tapi dia tahu apa yang dirasakan wanita itu.
"Apakah kamu sudah selesai Risa..?Kalau sudah pergilah..! Kami tidak bisa menikmati kopi semenjak kehadiranmu.." Usirnya tanpa belas kasihan .
"Oke..oke just enough.Tapi aku lupa memberitahu kalian.Mungkin tidak lama lagi ,aku dan Adnan akan rujuk. Buktinya kami sangat menikmati kebersamaan saat di Swiss.."
Nero benar-benar sudah habis kesabaran.Dia akan menguliti wanita tak tahu diri ini dengan kata-kata. Tapi mengurungkan niatnya ketika sesosok bayangan tinggi besar hadir di belakang Risa. Bahkan Diana pun tidak menyadari kedatangannya.Wanita itu hanya fokus pada hidangan dan kopi di mejanya.
Tapi bagi Nero ini adalah saat yang tepat untuk membuka kebusukan dan kebohongan wanita ini.
"Kamu punya alasan apa yang bisa membuatku rujuk denganmu Risa..?'
Wanita itu tercekat.Wajahnya yang semula begitu percaya diri, tiba-tiba jadi kecut.Tidak menyangka akan kehadiran pria yang sedang dibicarakan ini.
"Adnan..?" Serunya manja , lebih mirio rengekkan.
Diana yang akan memasukan kue ke dalam mulutnyapun menjadi batal.Tidak memungkiri bahwa dia juga kaget.Tapi lebih banyak heran.Dua orang ini seperti janjian untuk bertemu di sini.
Adnan memandang kedua mantan -mantan istrinya silih berganti.Siapapun yang yang mengetahui hubungan ketiganya, akan berspekulasi dengan pikiran sendiri.Tak terkecuali Nero yang tiba-tiba hanya memperhatikan interaksi mereka dalam diam.Seperti layaknya penonton sepak bola, dia memberikan penilain-penilaian dan teori yang menurut nya harus terjadi.
Diana adalah satu-satunya yang tidak ingin berada dalam situasi tersebut.Dalam hati berharap, semoga ada alasan baginya untuk cepat pergi dari sana.
Risa berupaya memasang mimik yang dibuat semerana mungkin.Mengharapkan belas kasihan dari Adnan.
"Oh Adnan, syukurlah kamu datang tepat waktu.Mereka menghinaku semenjak waktu pertama tadi.."
Nero tertawa mendengar kelicikan Risa. Dan Diana hanya geleng-geleng kepala tidak peduli.
Adnan menatap dingin dan kaku.Tubuhnya yang tinggi, seperti tiang listrik yang ditancapkan di tanah.
__ADS_1