MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
PRIA ITU MERAWATNYA


__ADS_3

Suara burung pagi-pagi membangunkan Diana dari tidurnya. Dia tidak tahu sudah berapa lama terlelap. Namun ketika melirik meja di sampingnya yang terhidang makan malam hangat. Dia akhirnya tahu bahwa sudah berjam-jam dia tertidur.


     Melirik pada satu set sofa panjang, sesosok tubuh panjang, terbaring tenang.Adnan tertidur sangat pulas.Bunyi nafas yang teratur, keluar masuk dari hidungnya yang mancung dan kokoh. Pria itu sangat tenang mengembara dalam dunia mimpinya.


    Diana ingat dahulu sangat mengagumi bentuk hidung itu.Dia suka sekali menyentuhnya diam-diam  ketika  Adnan tidur. Kemudian tersenyum  mengingat bahwa kedua buah hatinya juga mewarisi bentuk hidung daddy mereka.Anak-anaknya yang cantik dan tampan.


     Diana menghela nafas.Teringat kedua buah hatinya yang sudah lama tidak bertemu. Betapa rindu sekali rasanya.Apa kabar mereka sekarang.?  Entah bagaimana mereka melewati hari-hari tanpa kehadiran sosok ibu di samping mereka. Dalam hati dia bertanya-tanya bagaimana cara Adnan menenangkan ketika rindu pada mami mereka. Air mata menetes di pipinya. Nafasnya tersengal.Mengingat sudah lama tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang ibu.


      "Kamu kenapa..? Apakah ada yang sakit..?" 


     Sebuah suara bariton bernada rendah terdengar sangat dekat. Entah dari kapan pria itu sudah berada di sisinya.


      Diana berusaha menutupi perasaannya, namun terlambat menghindar.Tangan Adnan terulur menghapus tetesan air matanya. Diana merasa risih dengan perlakuan lembut mantan suaminya itu.Lebih gampang baginya kalau Adnan bersikap dingin atau biasa-biasa saja.Namun Adnan seolah -olah adalah hal yang wajar baginya.


       "Tenanglah..Jangan berpikir apapun.Aku janji akan menyelesaikannya.."


       "Aku …Tidak apa-apa.."


        "Ya..Aku sangat berharap begitu.."


    Adnan tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya.Membuat Diana semakin gugup dekat pria itu.


      "Mas..Mengapa kamu di sini..?"


     "Maksudmu..?" Tanya Adnan sambil mengerutkan kening.


      " Tidak usah repot-repot padaku.Aku akan baik-baik saja…!"


      "Begitukah..?"


     "Kamu hanya punya kewajiban menjaga anak-anak.Bukan menjagaku…"


     "Lalu…?" Tanya pria itu tak acuh.Tangannya kembali membenarkan rambut Diana yang berantakan.Tak cukup sampai disitu, kemudian mengambil sisir dan memakaikannya dengan lembut.Diana berusaha mencegah, tapi dia tidak bisa bebas menggerakan motoriknya.Apalagi masih ada bebat di sekeliling tubuhnya mengarah ke rusuk yang patah. Dia berusaha protes.


     "Ini…Ini berlebihan.."


     " Tidak juga…Ini tanggung kawabku" Jawabnya kalem. 


     Pria itu menggerakan sisirnya dengan lembut seolah-olah takut akan melukai kulit kepala Diana.Diana terpaksa menyerah membiarkannya sampai selesai.Hingga tidak lama kemudian pria itu meletakkan kembali sisir ke dalam laci dan kembali pada Diana.Di tangannya terdapat sebotol cream.Semacam skin care. 

__ADS_1


     "Ini…?"


     Adnan hanya diam ,lalu membuka tutup botol dan mengeluarkan isinya.Lalu tanpa bisa dicegah, mengoleskan di wajahnya.Mencoba menghindari wajahnya ,Diana berkata.


       "Biarkan perawatku yang melakukannya.."


       "Biar aku saja.Ini cuma tugas kecil.."Jawabnya cuek.


       "Ku rasa tidak perlu memakainya.Karena hanya berbaring atau duduk di bed.Tidak ada yang akan peduli dengan penampilanku.."


        "Kamu harus peduli dengan dirimu Diana.Harus…"Kata pria itu lirih.


        "Aku tidak menganggap demikian.." Tegas Diana.Walaupun suaranya masih  terdengar lemah.


     Adnan diam  menatap langsung ke manik  matanya.  Pria itu  sepertinya tidak terpengaruh atas ucapan Diana. Justru lebih fokus memperhatikan luka di dahinya yang sudah hampir sembuh. Dia menyentuh.


      "Semoga tidak berbekas.Atau aku akan membawamu ke plastic surgery.."


       "Biarkan saja..Aku tidak akan peduli..!"


       "Aku sangat peduli Diana. Beberapa hari lagi bila sudah dapat izin, aku akan mendatangkan dokter kecantikan yang sudah direkomendasikan seorang kawanku.."


      "Cck…Kamu bahkan mengambil keputusan atasku.Apa urusanmu..?"


      "Bisakah kamu menaikan sedikit bed ini..?Aku ingin duduk.."


     "Oke…" 


     Dia memencet tombol otomatis.Sehingga perlahan-lahan bergerak membentuk sandaran, tapi masih setengah berbaring.Mengingat tulang rusuknya yang patah dan masih dibebat, Adnan tidak mau gegabah dalam memperlakukan Diana. Bagaimamapun wanita itu seperti kembali dari kematian. Dan harus menunggu satu bulan lagi untuk pulih dan melepaskan bebattan yang melingkari dada hingga rusuknya.


       Diana merasa sedikit leluasa memandang ke sekeliling ruangan. Walaupun pergerakannya masih terbatas karena cedera berat.Apalagi baru siuman dari koma hampir satu bulan.Diana mungkin tidak mengetahui bagaimana perjuangan dokter-dokter , Adnan dan sahabat-sahabatnya menyelamatkan nyawanya. Tapi sedikit banyak mengetahui bahwa cedera yang dideritanya tidak ringan.Tanpa sengaja dia sudah menggantungkan nasibnya di tangan mereka.


      Dia dalam keadaan antara hidup dan mati ketika diketahui patahan tulang rusuknya mengenai paru-paru dan otot lain.Perdarahan dalam tidak bisa dihindari. Sudah lebih dari sepuluh kantong dan infus menopang hidupnya. Namun tiba bisa menjamin bahwa dia akan selamat dari kritisnya.


       Namun pernah sekali dia sempat terjaga dan siuman setelah operasi.Merasa takut dan kesepian di ruangan asing dengan berbagai selang di tubuhnya.Namun saat melirik ke kanan, dia melihat Adnan yang tertidur beralaskan lengannya. Diana tidak bisa menampik kalau ada senang dan tenang karena ada Adnan di sampingnya menemani dan menjaganya. Hanya sebentar kemudian, dia kembali terlelap kembali.Seiiring Adnan yang terbangun, karena merasakan gerakan jari Diana di telapak tangannya.


        Pria itu memperhatikan tangan dengan jari-jari lembut di tangannya. Tapi tidak melihat pergerakan apapun.Pria itu menghela nafasnya.Dia pikir, mungkin sedang berhalusinasi.Hingga kemudian, mengulurkan tangannya mengusap kepala dan wajah wanita yang terlelap itu. Adnan merasa miris, mengingat perjuangan dan kegigihan pemilik wajah ini dalam melindungi diri dan buah hatinya.. Dia yang sering diterpa derita yang berkepanjangan tanpa ada yang melindunginya. 


     Adnan tercekat seketika. Pria iti tidak bisa menahan air mata bergulir di pipinya.Dia sudah menjadi pria cengeng akhir-akhir ini. 

__ADS_1


      "Bertahanlah sayang…Kami menunggumu. Aku, anak-anak kita merindukan kehadiranmu. Jangan tinggalkan kami. Aku mencintaimu…Aku mencintaimu.."


      Pria itu selalu mengajaknya berbicara walaupun tidak ada tanggapan.Dia tahu bahwa semua butuh proses dan harus sabar .Mungkin dia harus menunggu lama sampai Diana benar-benar pulih. Adnan bertekad akan memaksa Diana pindah ke rumah baru.Bila dokter mengizinkan perawatan di rumah untuknya.


       Hampir satu bulan kemudian, Diana benar-benar siuman dan mengenali orang-orang disekitarnya. Namun dokter mewanti-wanti agar jangan terlalu banyak bicara.Mengingat dia baru pulih.Dan masih dalam perawatan tulang rusuknya yang baru di sambung.Butuh waktu lebih kurang satu bulan lagi untuk sembuh.


     Ternyata ruangan tempatnya dirawat bukan ruangan biasa. Lebih tepatnya rumah peristirahatan.Dengan aquarium sebagai penghias ruangan serta beberapa hiasan dinding dan satu set sofa mewah.Apalagi dengan televisi layar datar ukuran besar.Tempat ini terlalu mewah untuk disebut  kamar perawatan.


Diana lebih suka menyebutnya kamar hotel  bintang lima.


      "Apa lagi yang kamu pikirkan di kepala indahmu ini…?"Tanya Adnan sambil mengetuk lembut dahinya.


       Diana meremgut. Dia merasa semakin risi ketika Adnan menyentuh tanpa rasa salah.


      "Berhenti menyentuhku..!"


      "Kenapa..?"


      "Aku tidak suka.."


      "Tapi aku suka..Dan ingin melakukan lagi…Dan lagi..' Jawabnya enteng.


     "Aku ingin pulang..Aku rindu anak-anak…"


      "Aku setuju soal itu..Tapi sayangnya kita harus menunggu beberapa hari lagi.."


     " Apakah masih lama.?"


     "Mudah-mudahan tidak.Bersabarlah sayang..!"


     "Kau…Buang panggilan sayang itu..?"


     Diana melotot marah karena menolak dipanggil mesra oleh Adnan.."


     Namun dia  tidak bisa berbuat apa-apa ketika pria itu menatapnya lembut.Bahkan Diana tidak berdaya mencegah saat dahinya tiba dikecup lembut.


     "Terimakasih karena sudah kembali Diana sayang….Terimakasih atas perjuanganmu melawan maut…." Ucap Adnan tulus.Kemudian bergerak meraupkan tangan besarnya pada telapak tangan Diana yang mungil.


     Diana masih termangu, ketika pria itu kemudian melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


     "Berikan aku waktu dan kesempatan terakhir kali untuk menjaga dan merawatmu sebagai milikku yang berharga…!"


       Diana hanya terdiam dalam dilema. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Karena keterbatasan,Saat ini dia hanya mampu bergerak dan berbicara seadanya. Terima atau tidak, hanya Adnan yang selalu mendampinginya


__ADS_2