
Malam semakin larut ketika Diana masih berdebat dengan Adnan di telepon.
Dia bahkan hampir melupakan kehadiran Agnes di sampingnya.Hingga kemudian wanita itu menepuk lembut pundaknya menuju ke satu arah.
Diana hanya menganggukan kepala menyetujui.Kemudian kembali ke pembicaraan di telepon.
"Aku malas berdebat Diana.Savana minta kamu keloni sebelum terlelap. Apa yang bisa ku lakukan.."
"Kalau begitu, antarkan lagi mereka pulang.."
"Itu tidak mungkin.Mereka sudah terlalu lelah dan mengantuk.." Tegas pria itu lagi.
"Diana ingin mendebat lagi, ketika terdengar rengekan dari seberang telepon.
"Mami..mami…hu..hu.."
Diana tertegun.Separuh nyawanya tiba-tiba pergi.Buah hatinya membutuhkan nya, tapi dia masih berdebat soal ini itu.
Hingga akhirnya dia mengalah dan Adnan menang.Karena dimenangkan anak gadisnya.
Dengan wajah lesu bercampur kesal, dia memasuki mobil yang sudah menunggunya.Supri pun menutup pintu dengan hati-hati.Wajah cerah dan dalam hati pria itu bersorak kegirangan.Dia bahkan tidak memperdulikan kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Aku ingin membunuh tuanmu..Supri.."
Supri hanya diam tak menyahut.Karena yakin ucapan itu tidak akan dilaksanakan.
Pria itu bahkan bersiul saat akan duduk di bangku sopir.Dia merasa terselamatkan dari kemarahan tuannya. Walaupun sesungguhnya lebih baik daripada didiamkan seperti gedebok pisang yang tak bernyawa.Perlakuan tersebut malah membuat Supri jadi serba salah
"Kita berangkat nyonya.."
"......."Diana tidak menyahut satu katapun.Dia hanya menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya.Benar-benar menguras energi, setiap kali bertengkar dengan mantan suaminya itu. Namun herannya, tanpa dia sadari selalu menjadikan Adnan samsak kekesalan hatinya. Terutama imbas dari hal hal yang membuat moodnya gak nyaman.
Supri tidak langsung melajukan mobil karena terhalang macet di depannya.Tiba-tiba Diana celingukan mencari keberadaan Agnes. Matanya menjadi liar.Syukurlah wanita itu terlihat sedang menatap geli karena gelisah mencari keberadaannya.
Ketika tersadar akan berangkat duluan, Diana melambaikan tangan pada Agnes .Dia sudah tidak sendirian di sana..Ternyata wanita itu telah ditemani Erick.Diana bahkan tidak sadar semenjak kapan pria itu datang jemput istrinya.
__ADS_1
"Aku duluan ya Nes.."
"Ya..Hati-hati.."
Perjalanan dari kantor menuju komplek perumahan Emerald memakan waktu empat puluh lima menit kurang lebih.Tapi belum juga sampai, Diana sudah sangat kelelahan.Sehingga tanpa sadar sudah berada di alam mimpi.Hari ini sangat melelahkan.
Kepalanya terkulai lemah ,dan posisi duduk menjadi tak berdaya. Supri bahkan bisa mendengar dengkuran halus dari mulut wanita bosnya itu.Dia tertawa tanpa sadar.Tapi tidak sanggup mengusik kenyamanan tidur Diana.
Tubuhnya agak berguncang ketika melewati jalanan yang tidak stabil.Namun masih terlelap dalam damai.
Dia bahkan tidak menyadari ketika sudah melewati gerbang utama yang dijaga dua orang security berpakaian lengkap.Tubuhnya bersandar hampir tak bergerak.
Sekali lagi, Supri melirik dari kaca spion.Dia tersenyum memaklumi kondisi nyonya nya.Kelelahan tergambar kelas,tidak bisa ditutupi lagi.
"Aah..Tuan memang pemaksa yang pintar.." Gumamnya.Namun wajahnya sumringah.
Supri sudah bisa membayang betapa bahagia tuannya nanti.Setelah sekian lama bisa berkumpul lengkap dalam rumah baru, walau belum rujuk sekalipun.
Bangunan megah dari rumah besar yang sebentar lagi akan dimasuki.Perasaan bangga sedikit banyak menimbulkan halu di hati Supri.Seolah-olah dia sedang memasuki rumah miliknya sendiri.Tapi kemudian pria itu sadar dan tersenyum masam.Bagaimanapun, dia harus kembali ke kehidupan nyatanya .Jika tidak ingin berakhir di rumah sakit jiwa dan jadi ketua senat di sana.
Meskipun begitu, Supri cukup bahagia.Karena pada awalnya , dia hanya lah orang kere yang kebetulan bertemu Adnan pertama kali saat pria itu hampir saja dirampok dalam keadaan teler. Terakhir kali dia kemudian mengetahui bahwa tuannya telah mengalami goncangan batin yang sangat hebat.Sehingga memilih mabuk sebagai pelariannya.
Pria itu tidak berkutik ketika beberapa orang mencoba mempreteli j tangan, dompet dan aksesoris lainnya. Namun Supri yang kebetulan pulang habis cari kardus dan plastik bekas berhasil mengusir mereka.Kebetulan dia dan lima orang kawannya sedang rombongan.Alhasil kedua perampok itu kocar kacir digebuk ramai-ramai.
Semenjak itu, nasib seakan menjodohkan mereka.Ada-ada saja hal yang menyebabkan pertemuan mereka secara tidak sengaja. Dari hanya menolongkan melap mobil hingga akhirnya dia menjadi sopir sekaligus pengawalnya.Adnan sangat menyukai dia..Karena selain jujur, Supri juga pekerja keras.
Tidak terasa mobil sudah memasuki halaman rumah yang luas.Beberapa bunga tabebuya yang berjuntai-juntai, menyambut kedatangan mereka.
Seseorang sudah berdiri menjulang di depan beranda rumah.Pria tampan namun berwajah datar hanya menatap ke kursi penumpang.Supri tidak menyiakan kesempatan mencuri pandang pada ekspresi yang disembunyikan .Karena sangat mengenal tuannya. Dalam wajah datar yang dingin itu, ada kilatan bahagia yang disembunyikan.
Adnan berjalan tenang ke arah kursi penumpang. Dia melihat wanita itu sangat lelap dalam tidurnya.Sangat tak berdaya.Berbanding terbalik dengan sikapnya di telepon tadi.Namun Adnan sangat mengerti berapa besar tekanan psikis wanita itu sehingga sanggup menampilkan karakter keras darinya.
Adnan tidak membangunkan karena tidak mau repot-repot memancing kucing betina yang telah mengasah cakar untuknya.
Adnan memasukkan separuh badannya ke dalam mobil dan menjangkau tubuh lembut mantan isttinya itu.
__ADS_1
Sementara Diana begitu tenang dan semakin nyaman dalam tidurnya.Dia bahkan sempat bermimpi bisa mengambang kemudian, bersentuhan dengan udara malam yang dingin.Hingga ada sebuah kehangatan yang tiba-tiba menyelubunginya.
Adnan membopong lembut tubuh wanita itu.Setelah bertahun -tahun berlalu ini kali pertama menyentuhnya dalam keadaan pasrah.Adnan menikmati momen itu.Dan dia tidak keberatan kalau dikatakan pria mesum yang hanya memanfaatkan kesempatan dalam kelengahan mantan istrinya itu.
Syukurlah kedua kembar kesayangannya juga sudah terbuai dalam mimpi.Adnan hanya perlu menggendong Savana seperti koala.Lalu menepuk lembut punggungnya sambil menyanyikan sebuah lagu religi yang membuat Savana semakin terlelap.
Dia tersenyum melihat wajah mantan istrinya itu.Sangat mirip dengan Savana.Namun kulit Diana tidak sebening kulit anaknya itu.
Adnan langsung menggendong Diana menuju lantai dua.Seorang art sudah menunggu di sana.
"Apakah kamar sudah disiapkan..?" Tanya dia pada aalah seorang art.
*Sudah tuan, bahkan mengganti sepreinya dengan yang baru "
Adnan membaringkannya dengan lembut.Untuk sesaat memandang wajah wanita yang sangat dirindukannya.Kecantikannya semakin terlihat ketika dalam keadaan yang tidak berdaya ini.Begitu lembut dan tenang.Adnna muaskan matanya memandang secara puas.Ketika melihat bentuk bibir indah yang sudah lama tifak disentuh nya.Dia tidak tahan lagi.
Bibir lembut yang sangat dirindukannya.Walaupun bentuknya tidak seindah semasa beberapa tahun yang lalu. Adnan tertohok, ketika teringat lagi masa-masa yang menyakitkan itu.
Dia tidak akan menyalahkan apapun sikap buruk wanita itu padanya. Karena apapun perubahan diri Diana sekarang sedikit banyak karena penderitaan yang dia berikan dulu.
Ke depan dia hanya ingin terus bersama.Tidak peduli berapa berubahnya fisik wanita ini nanti.Dia akan selalu menikmati sedikit demi sedikit proses alami menjadi tua bersamanya.
Diana melenguh dalam tidur ketika Adnan melaksanakan maksudnya.Namun tidak ingin segera menyudahi.Hanya tinggal melakukan dengan pelan dan hati-hati.Adnan semakin menikmati dengan bahagia..Karena tanpa sadar, bibir Diana membalasnya.Hingga pada satu titik kesadaran, dia menghentikan.
Pria itu sadar bahwa dia harus segera menyudahi karena tidak ingin kebablasan sehingga membangunkan wanita galak ini.Bukan tidak mungkin jika dia akan memperoleh cakaran atau pukulan yang bertubi-tubi.Dan setelah itu Diana akan kembali memusuhinya.
Mengingat hal yang akan dilakukan Diana padanya, Adnan tersenyum geli.Dia bahkan hampir terkekeh membayangkan amukan wanita ini padanya.
Sebelum beranjak , dia menyempatkan untuk membelai wajah dan mengecup keningnya.Sehingga kerutan di dahi itu semakin berubah mengendur. Sekali lagi mengecup bibirnya dengan cepat.Kemudian menyelimutinya dengan lembut.
Sebelum mematikan lampu kamar,Adnan sekali lagi melayangkan pandangan pada sosok yang berbaring itu. . "Mimpi yang indah my lady.." Bisiknya kemudian.
__ADS_1