
Agnes pura-pura kaget, lalu memutar tubuhnya. Terlihat Risa berdiri angkuh menatap kepergian Diana.
"Bicara sama siapa kamu..?" Tanya Agnes pada wanita itu.
Risa mencibir angkuh. Matanya mempelajari Agnes dari atas sampai ke bawah. Seperti seorang saudagar yang akan membeli seekor kuda. Agnes menjadi jengah. Dia dibandingkan Diana lebih judes yang mana..?
Risa mendengus kesal.Ternyata wanita di depannya ini tidak bisa di anggap santai.
"Menurutmu dengan siapa..? Apakah.kamu.melihat orang lain.di dekatku.."
"Yah..Siapa tahu ada penyakit bersarang di otakmu.."
Agnes mulai menembakkan peluru panas. Dan langsung bersarang pada hati yang tepat. Melukai dan menyakiti.
"Ternyata mulutmu tajam juga ya.Kalian memang cocok berteman .Sampah dengan sampah.."Balas Risa tak mau kalah.
Agnes malah tiba-tiba ngakak kencang.Sehingga menarik perhatian orang-orang yang kebetulan lalu lalang.Tapi kebanyakan mereka menyangka mereka bersua hanyalah dua orang yang sedang melepaskan candaan satu sama lain.
Agnes mengibaskan rambutnya dengan ekspresi menggoda. Dia meniru gaya seorang bintang iklan shampoo yang sering di tontonnya di tv swasta. Walau sebenarnya tidak suka dengan shampoo tersebut, tapi dia suka dengan gaya bintang iklannya.
Dia memperhatikan Risa dengan santai dari tempatnya berdiri.Mengerucutkan mulutnya , dan mengeluarkan suara manja. (Gaya ini disadur Agnes dari iklan ****** yang sering ditayangkan malam hari).
"Apakah kamu tidak berkaca diri dulu sebelum menilai orang lain? Tahu nggak..!? Kamu bahkan tidak punya moral untuk dipamerkan. Walau hanya untuk menutupi kebusukanmu…"
Mak jleb..Peluru Agnes kembali membombardir Risa tanpa ampun. Hasilnya, Risa langsung kepanasan sampai ubun-ubun.
"Kurang ajar..Beraninya kamu Kamu kamu berhadapan dengan siapa ?.."
"Memang..Terus..Mau apa kamu…? Oh ya..Kamu siapa ya..?"
"Dasar manusia bar-bar.." Umpat Risa.
"Gak pa-pa..Dari pada kamu.Otak cuma di selang**ngan.." Hinaan Agnes tak kalah pedas.
Dua orang wanita yang mempunyai wajah sama-sama cantik, tapi juga sama-sama judes. Mereka saling berbalas kata pedas dan menghina satu sama lain. Cukup membuat kuping panas bagi lawan masing-masing.Hanya karena suara mereka tidak terlalu kentara karena diucapkan dengan pelan.
Sementara dari kejauhan sebuah Audi hitam masih tersekat karena ngantri akan memasuki pelataran.Dari tempat nya Erick melihat Agnes sedang bersitegang dengan seorang wanita. Dari gestur mereka, menunjukkan keadaan semakin panas. Erick merasa harus cepat menengahi, sebelum istri tersayangnya iti mengeluarkan kelakuan bar-barnya.
Bunyi klakson membuat kedua waniga yang saling adu mulut itu berhenti.Masih dalam mode galak Agnes menoleh ke arah mobil suaminya. Beradu pandang dengan Erick, membuatnya sadar harus mengurangi emosinya.
Erick yang menyadari suasana semakin memanas, turun dari mobil. Berjalan langsung mendekati istrinya.
*Ayo sayang, kita pulang sekarang.Sengaja mengacak acak rambut dan merengkuh istrinya dalam pelukan.Mencoba menenangkan kucing betina kesayangannya.
Erick mempunyai cara tersendiri meredakan emosi wanita yang hampir delapan tahun dinikahi itu. Walaupun masih nyap-nyap, setidaknya dia merasakan emosi yang mulai berkurang sedikit demi sedikit. Erick dapat keluhan dari sang istri.
"Apa an sih mas..?.Jangan peluk-peluk gini di depan umum..!"
Matanya menatap Erick, seperti mata rusa. Pria itu menjadi gemas .
"Memangnya kenapa..?Aku bahkan bisa lebih berani dari ini..Cuup…" Kata Erick dan langsung mengecup dengan panas.
Pemandangan romantis itu tidak lepas dari mata Risa. Dia mencibir jijik.
'Hei..Ada orang disini .Apakah kalian tidak punya malu…?"
"Tidak..!! Ngapain malu..Dia suamiku..Bukan suami orang..Seharusnya yang malu itu kamu.." Balas Agnes enteng.
Erick kembali menarik istrinya pergi. Namun langkahnya terjeda. Getaran hp saku bajunya membuatnya melepaskan rangkulan pada istrinya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Agnes kembali berbalik menyerang Risa.Anggap saja tadi durasi iklan.
Risa agak terperangah, karena tidak menyangka Agnes akan berbalik.Sementara Erick sibuk dengan teleponnya. Dari gesturnya, Agnes menyadari ketertarikan Risa pada suaminya yang ganteng itu. Agnes mulai kesal dan kembali menembakan peluru panasnya.
" Heh..Perempuan berdada palsu..Videomu masih di up di media sosial. Kamu gak lupa kan perselingkuhan yang digerebek suamimu…?" Semburnya tanpa tendeng aling-aling. Akibatnya cukup menghancurkan.
"Brengsek…" Risa langsung memerah padam. Dia tidak menyangka vidio itu masih di publish di media sosial. Padahal dia sudah membayar mereka untuk memblock nya.
Melihat reaksi Risa, Agnes merasa di atas angin.
"Kenapa..shock yaa..?...Hee..hee…"
Agnes ingin melanjutkan kata-katanya ketika rangkulan hangat sudah menyelubunginya. Dia menjadi kecil saat meringkuk dalam pelukan tubuh kekar itu
"Sudah-sudah sayang..Ayo pulang.."Ajak Erick lembut sambil merangkul bahu istrinya.
Risa yang lagi-lagi .menyaksikan kemesraan Erick menjadi semakin gerah.
"Harusnya pria tampan dan mapan sepertimu lebih selektif memilih istri. Lamu bisa memdapatkan wanita yang lebih kompeten , mengapa harus membuang waktu mu untuk wanita seperti ini." Sindirnya. Dia merubah suaranya menjadi lembut dan mendayu.
Agnes menjadi semakin jengkel. Ternyata benar nalurinya. Si ****** Risa sedang tebar pesona.
Erick menyadari kejengkelan istrinya segera menengahi. Walaupun secara jujur dia mengakui di dalam hati. Sosok Risa adalah wanita yang cantik dan menggairahkan.Di tunjang penampilan yang berani dan barang-barang branded di tubuhnya. Dia adalah wanita yang sangat menjanjikan kepuasan sexsual. Namun Erick pun sudah berpengalaman bahwa wanita. Sangat menyadari, betapa berbahayanya wanita di depannya. Wanita cantik itu, sangat berpotensi menghancurkan sebuah rumah tangga, bahkan negara sekalipun.
__ADS_1
Erick sebenarnya sudah tahu tentang Risa. Walaupun tidak saling mengenal. Berita tentang anak seorang pengusaha yang dilabrak saat sedang berselingkuh dari suaminya, cukup santer di kalangan pengusaha.Apalagi suami wanita itu adalah juga pengusaha, yang bernama Adnan. Yang dia kenal sebelumnya sebagai mantan suami Diana.
Mengingat sudah banyak pria yang tidur dengannya, Erick menjadi bergidik jijik. Dia memberikan muka dingin pada Risa.
"Dia sudah lebih dari cukup bagiku nyonya.." Katanya sambil mempererat rangkulannya.
"Maaf..Nama saya Risa ...Jangan panggil nyonya. !" Protesnya lembut.Erick hanya mengangguk tanpa senyum .Dan dia tidak peduli.
Wanita seperti Risa sudah sering ditemukan di masa lalu dan masa sekarang
Sebagai pria dewasa dia cukup paham, sinyal apa yang sedang di pancarkan Risa padanya.. Tapi bagi Erick yang sudah pernah melakukan kesalahan di masa lalu, Sudah cukup baginya mendapatkan pelajaran. Dia tidak mau kehilangan Agnes dan keluarga kecilnya.
Risa tidak pernah lepas memandang Erick. Memberikan senyum yang menggoda yang bermain di bibirnya. Bahkan mengabaikan kehadiran Agnes di sana.
'Singkirkan wajah mesummu dari suamiku jalang…! Benar-benar sampah tak punya malu.." Bentak Agnes.
"Cih…Aku bahkan heran ..Bagaimana mungkin suamimu betah dengan wanita sepertimu. Kamu berdua Diana tidak ada bedanya. Manusia burik.." Caci Risa tak mau kalah.
Bukannya marah, Agnes malah ngakak keras. Sementara Erick hanya menjaga tangan di pinggangnya .Takut kalau tiba-tiba Agnes menerjang Risa.
"Cukup..diam.." Bujuk Erick menenangkan istrinya.
Tapi dia terpaksa melepaskan kembali saat harus membuka pintu mobil.Bersamaan dengan itu, telepon kembali bergetar. Erick menahan kesal, menatap Agnes sebagai tanda peringatan. Selanjutnya pria itu kembali berbicara di telepon. Sedikit mengambil posisi agak menjauh dari suara makian kedua wanita itu.
Agnes pun bebas lepas dari kungkungan Erick. Kembali mengeluarkan kata-kata yang akan membuat Risa dendam padanya sampai mati.
"Haa..haa ..Kamu memang tak ada cermin untuk dirimu sendiri Risa..?..Kenapa kamu heran suamiku bertahan denganku..?Jawabannya ada pada dirimu sendiri bodoh..Mengapa dari sekian laki-laki yang menggumulimu tidak ada yang betah jadi suamimu..?"
"Kau..Jaga mulutmu perempuan burik .!" Ancam Risa.
"Kenapa ? Jaga mulut.?..Aduh, maaf ya..Biar ku perjelas padamu otak kotor. Kalau mau mengatai orang, bersihkan dulu dirimu…! Berani bilang aku buriik..?
Oke..!.Lalu apa yang kau dapat dengan tampang kinclong mu itu..? Haa..haa….Bahkan Adnan cuma betah satu tahun , lalu melepeh mu. Aku jadi curiga .Dibandingkan marah dengan perselingkuhanmu, jangan-jangan dia lebih takut terkena penyakit kelamin.."
"Kurang ajar kau…"
Risa menerjang hendak memukul dengan tas mahalnya itu. Tapi Agnes malah lebih cepat mengelak, tepat saat tas itu masih diayunkan di udara.
Risa ternyata tidak terlalu erat memegangnya. Tas harga ratusan juta itu terbang melayang dan jatuh di pelataran parkir. Parahnya lagi langsung kena gilas mobil yang kebetulan lewat.
Risa berteriak histeris. Bagaimana mungkin. Tas seharga ratusan juta, yang baru saja dia pamerkan berakhir mengenaskan, tidak ubah nya kantong asoy yang tak berharga.
Bukan hanya Risa, bahkan Erick pun terperangah.Dia mulai marah pada istrinya.
"Sayang..Apa yang kamu lakukan…?" Tanya pria itu cemas pada istrinya. Dia baru saja selesai menelpon. Tidak menyangka suasana semakin tak terkendali.
" Cukup..!!! Kita pulang sekarang juga…!"Perintahnya marah.
Namun Risa tidak membiarkan mereka berlalu. Erick jadi semakin serba salah dan kesal.
"Aku akan menuntutmu atas pengrusakan barang.." Ancam Risa dengan muka merah.
Agnes mencibir tak peduli Tangannya dilipat di dada dan menantang Risa dengan angkuh.
"Silahkan.!.Kalau kau ingin ku tuntut dengan kasus penyerangan. Ada banyak cctv dan saksi di sini.."
"Dasar brengsek liar.."
"Thanks you bitch…"
Seorang selebriti datang dengan membawa tas He*mes yang sudah mengenaskan nasibnya. Kotor dan lecek.Sepertinya akan banyak perbaikan di sana sini.
Seorang security bertampang sewot datang sedikit bergegas.
"Ini tas anda nona…Tolong jangan buang sampah di sembarangan…!"
"Sampah gigimu.!!" Maki Risa semakin panas.
Agnes tertawa ngakak tak tertahankan.
"Wah..!! Bahkan security mengatakan tas mu sampah..wk..wk..wk.."
Erick sudah tidak tahan lagi melihat keributan di depan matanya.Dengam sedikit memaksa dia menyeret sang istti menuju mobil dan menyuruh masuk. Dia bahkan tidak mau repot-repot melihat kesialan wanita cantik dan bertubuh montok itu. Baginya yang penting sekarang membawa istrinya. cepat pulang.
"Jangan diseret kenapa sih mas..!?"
Agnes yang tidak terima di seret paksa masuk mobil menggerutu . Dia masih belum puas mengejek Risa. Tapi nyalinya yang tadi besar jadi menciut saat melihat tatapan Erick.
"Kenapa memannya…Masih belum puas ributnya..? Apa kamu gak malu dilihat orang-orang..?"
"Habis..kesal sekali sama dia…"
"Kalau kamu punya energi yang berlebih ..Layani aku sampai pagi…"
__ADS_1
"Lo mas…Apa-apa an sih…? Kok jadi ke situ larinya..?"
"Itu lebih baik sayang…lampiaskan ke sana.."
"Kamu ini.." Protesnya membuang muka. Erick menjadi geli melihat istrinya yang salah tingkah.
"Hee..hee…."
Agnes tiba-tiba menatap langsung tepat di manik mata suaminya.Pria tercinta yang hampir sepuluh tahun menikah dengannya.
"Apa kamu mulai tergoda dengan nya.?"
"Siapa..?" Tanyanya Erick bosan. "Wanita kok suka ribet sih..?" Gerutunya dalam hati. Matanya menatap awas jalan raya di depannya.
"****** itu.. " Terang Agnes kembali.
"Siapa.?....Oh.!.."
Erick tiba-tiba meminggirkan mobilnya dan berhenti tiba-tiba. Agnes yang tidak siap langsung kaget dan hampir membentur dashboard. Untunglah sebelah tangan besar langsung meraihnya dan mendekap.
"Kamu lupa pasang seatbelt istriku..? Apakah harus aku yang memasangkan setiap saat..?"
"Huft.. Kamu hampir membunuhku..Kamu sengaja" Agnes mengucapkan dengan mata berkaca-kaca.
Erick menatapnya sayang.Tangannya terulur membelai pipi istrinya.
"Maaf..tapi ucapanmu mengagetkanmu.."
"Tapi, dia sepertinya tertarik padamu.."
" Lalu..?"
" Lalu aku menanyakan tanggapanmu.."
"Aku tidak tertarik untuk menanggapi.."
Erick menatap lekat mata istrinya
"Ada apa sayang..?"
" Entahlah…Mungkin ini hanya kecemasan ku saja. Wanita tipe Risa tidak ada malunya. Tidak peduli suami orang sekalipun .Kalau dia suka, maka dua akan membidiknya.."
Erick menarik istrinya itu lebih mendekat padanya..
"Jadi ..? Menurutmu, dia sudah membidik aku.?"
Diana merajuk. Dia melepaskan dekapan Erick.
"Kamu pernah mengkhianatiku mas..Perasaanku masih sakit sampai sekarang.."
Erick merasa tertohok saat mendengar ucapan istrinya. Ternyata ingatan tentang pengkhianatan seseorang yang kita percayai, tak ubahnya cacat permanen di sisi relung hati . Walau berapapun hal-hal yang indah setelah itu. Tidak akan menghilangkan bekas sakit karena pengkhianatan itu.
Erick kembali mendekap istrinya.Menatap sungguh-sungguh.
"Aku bersumpah, itu tidak akan terjadi lagi. Seandainya kemudian janjiku teringkari, itu bukan kemauan atau kesadaranku. Kuharap kamu percaya selalu padaku…" Ucap Erick sendu.
Dia menyadari akibat dari perbuatannya dulu , memberi banyak penderitaan pada istrinya. Memberikan kesempatan kedua , bukan hal yang mudah untuk didapatkan dari Agnes untuknya.Karena hati yang tersakit di ibaratkan kaca pecah, maka akan sulit direkatkan kembali. Kalaupun berhasil, sudah penuh bekas-bekas luka yang tidak hilang sampai kapanpun.
Erick menyadari dengan cepaf semua itu. Dan tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu. Kehilangan Agnes pernah memberikan rasa takut, dan sakit yang berkepanjangan untuknya.
"Aku masih beruntung dari Adnan..Paling tidak, belum sempat bercerai.." Pikirnya miris.
Agnes memandang wajah suaminya yang kecut .
"Kamu kenapa mas..?" Tanya Agnes heran dengan ekspresi suaminya.
Erick membalas menatap istrinya dalam-dalam. Tangannya menggenggam tangan Agnes penuh khidmat. Kemudian mengucapkan kata-kata dengan suara bergetar.
"Sayang..Istriku sayang..Aku minta maaf atas semua kesalahanku dahulu. Aku sangat berterima kasih saat kamu mau memberi kelapangan hati,memberi maaf dan kesempatan. Biar ku buktikan padamu betapa aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Jika dalam perjalanan nanti aku mulai menempuh jalur yang salah, tolong kamu ingatkan aku.Tarik aku kembali ke jalur yang benar"
Agnes terdiam mendengarkan semua kata-kata suaminya. Ada rasa bersalah , karena sudah mengingatkan Erick akan kesalahannya di masa lalu.
"Mas..Aku minta maaf.." Ujarnya penuh penyesalan.Perasaannya menjadi tidak enak sendiri dan salah tingkah dengan keseriusan suaminya
Erick menggeleng sambil mengusap kepala istrinya.
"Jangan tinggalkan aku..ku mohon..! Tetaplah bersama sampai tua. Mari kita saling menggenggam hingga nanti maut mengambil salah satu dari kita. Jika di kehidupan kedua nanti, aku tetap berharap kita bertemu dan bersama kembal.."
Agnes bercucuran air mata mendengar kesungguhan hati suaminya itu. Ini sudah lebih dari lima tahun berselang. Tapi dia masih sulit melupakan kejadian itu.Yang membuatnya pernah bertekad ingin menghapus Erick dalam cerita masa depannya.
Agnes tiba-tiba menyesali semua ucapannya yang sering memojokkan Erick akan kesalahan masa lalunya. Dia merasa sangat egois karena berulang kali menikmati penyesalan suaminya. Walaupun sampai detik ini, Erick sudah membuktikan kesetiaannya.
Kedua suami istri itu semakin larut dalam suasana sentimentil. Sementara jalan di sekitar mereka masih berlalu lalang kendaraan yang berpacu menyongsong malam.
__ADS_1