
Diana memegang kuat tangan Nero mantan adik iparnya itu.Di bandingkan dengan Adnan yang besifat tenang dan dingin, Nero lebih keras dan emosional. Diana tidak ingin sesuatu yang buruk semakin tidak terkendali.Walaupun dalam hal ini dia adalah pihak yang jadi korban.
Sementara David lebiih fokus pada bu Ida.Dia datang setelah mendengar berita. Bahwa Agnes ikut Diana pulang menjenguk bu Ida yang kurang sehat Sebagai mantan guru SMA nya dahulu.Sosok bu Ida begitu istimewa bagi dia dan Agnes.
Namun tidak menyangka kemudian dia menemui suatu kejadian yang melibatkan Diana dan Agnes, itu adalah kebetulan saja.Dan kebetulan juga dia bertemu Nero mantan adik Ipar Diana.Pertemuan yang tidak direncanakan memang sering terjadi karena satu peristiwa .Begitu juga halnya Erick yang melihat berita viral di media sosial dalam perjalanan pulang ke rumah.Dan karena alasan yang bisa ditebak, yaitu peristiwa booming yang melibatkan Diana dan Agnes istrinya.
Sesungguhnya Diana adalah tipe orang yang tenang dan tidak suka ribut, apalagi berkelahi.Tapi perjalanan hidup yang pahit telah mengajarkannya. bahwa sesekali ,seseorang harus keluar dari suatu karakter baiknya.Karena hal itu bisa jadi senjata bila berhadapan dengan lawan yang tingkat kewarasan dan malunya sangat tipis.Apalagi jika orang itu mulai menjadi toksik pada kehidupannya.
Pada akhirnya pak rt dan warga bubar diikuti Sofia dan pacarnya.Takut-takut kedua orang itu meminta maaf pada Diana dan bu Ida. Namun mereka hanya diam menanggapi.Bukan pelit maaf, tapi menilai karakter Sofia sebelumnya ,harus melihat ke depannya dulu.Kalau-kalau Sofia berulah lagi. Mereka tahu bahwa Sofia sudah sejak pertama berjumpa merasa tersaingi oleh Diana.Tidak penting seberapa ramah sikap Diana, wanita itu selalu memasang muka masam dan sinis padanya
"Permisi mas-mas.."
Katanya ketika melewati tiga orang pria berwajah tampan, Sofia tidak melewatkan kesempatannya. Bertopeng ekspresi lemah dan rapuh dia menatap ke tiga orang itu dengan tatapan malu-malu kucing.
Tidak ada yang berminat menanggapi.Mereka adalah pria-prua yang punya pengalaman tinggi soal karakter wanita.
Agnes menjadi gerah dan hendak menyemburkan lahar panas dari mulutnya.Namun batal saat dia ditarik ke dalam pelukan yang posesif suaminya.
"Shh..tenanglah..! Atau kucium kamu di depan orang-orang ini..Bisik nya sensual sambil menggigit kecil kuping istrinya.
Diana cukup risi dengan pertunukan kedua suami istri itu. Apalagi ada bu Ida dekat mereka.
"Pulanglah mas..! Bawa sekalian sahabatku yang gampang panas ini." Ujarnya kemudian
"Diana..Apa,apa an sih..?" Omel Agnes.Namun tak urung mukanya memerah.Dia menyikut lembut pinggang suaminya .Erick belagak cuek.Lalu menarik istrinya ke hadapan bu Ida.
"Bu, kami pami pulang ya. "
"Loh..masuk dulu nak..Ibu mau bikin minuman.."
"Terimakasih..Gak usahlah bu..Takut kelamaan, anak kami menunggu di rumah.."
"Oh ya..Terimakasih sudah mampir ke sini..Maaf ya..Situasinya gak mengenakkan kalian.."
"Gak pa-pa bu.." Jawab Agnes. Kemudan memajukan tubuhnya memeluk wanita itu.
"Ibu sehat-sehat ya..Kalau perlu apa-apa bisa hubungi salah satu dari saya dan Diana.Kami kan anak-anak ibu juga. "
"Ya..Iya…"Sahut bu Ida sambil menyusut air mata haru yang merembes keluar. Dia berusaha menolak amplop yang diselipkan ditangannya.Tapi Agnes ngotot, tidak menerima penolakannya.
Melihat Agnes yang sudah beranjak pergi.Davidpun menyusul pamit.Tak jauh beda dengan Agnes.Setelah mengucapkan bebrapa kata yang memberi semangat pada bu Ida.Tidak lupa menyelipkan amplop ke tangan wanita itu.
"Sehat selalu dan panjang umur ibu guruku yang cantik dan baik.." Ucapnya tulus.
__ADS_1
Bu Ida tersenyum sumringah dan bahagia.Tangan nya yang keriput menepuk-nepuk lembut bahu pria mantan muridnya itu.David terpaksa membungkuk saat memeluk bu Ida agar wanita itu bisa leluasa memeluk nya.
"Cepatlah menikah.Jangan sampai ibu tidak sempat melihatmu punya anak nanti.."
"Insya Allah segera bu.."
"Syukurlah..Sering-sering mampir ke sini ya..Seperti dulu, saat kamu masih murid ibu ..!"
"Ya..Saya akan usahakan bu.."
David akhirnya melenggang pergi setelah berpamitan kepada Diana dan si kembar.Kemudian menanggukan kepala kepada. Nero. Mata pria tampan itu dari tadi menatap waspada pada David. Apalagi saat pria itu mengatakan sesuatu yang konyol.
"Saya titip ketiga sayang-sayangku oke..!" Kata-kata yang sanggup memancing cemburu di hati Nero.Walaupun statusnya hanya mantan adik ipar.
Sepeninggal David, tinggal Diana dan Nero yang duduk di beranda.Bu Ida telah pamit masuk ke dalam .Tak lama kemudian muncul si kembar diantar babysitter nya.
"Uncle.."
Teriak keduanya.Balita yang sudah mulai lancar berbicara itu bersorak kegirangan.Tangan keduanya terbuka minta gendong..
"Halo twins. Makin gembul aja kalian.Dikasih apa sih sama mamimu yang kurus itu.." Sapanya sekalian mengejek Diana.
Diana memang bertubuh langsing cenderung kurus.Dia mengalami penurunan berat badan semenjak melahirkan si kembar.Mungkin karena kesibukan yang banyak menguras tenaga dan pikirannya.
"Twins sangat suka dengan aku kan Dy.."
" Ya iya lah..Kamu kan paman mereka."
"Ku rasa bukan hanya itu.Karena aku lebih pantas jadi ayah mereka di bandingkan Adnan.." Jawab Nero menyindiri.
Diana mendelik.Dia harus tegas dalam hala ini.Agar Nero tidak lagi berharap ke depan.
"Itu tidak akan terjadi Nero, kamu tetap paman mereka sanpai kapanpun.Dan Adnan adalah daddy mereka.."
"Awh…Kamu benar-benar menghancurkan harapanku.."
"Sudah lah…"
Nero tiba-tiba menatap Diana.
"Lalu siapa yang kamu sukai..?Apakah pria yang bernama David itu.Lah dia dengan Adnan tak akan beda.Hanya satu manusia dalam dua wujud.."
"Aku tidak mau membahas ini lagi." Tegas Diana.
__ADS_1
David mencibir.
"Kamu bahkan tidak menawariku makan.."
"Aku justru belum masak apa-apa.Kalau kamu mau , biar kuambil bubur sereal milik twins.."
"Iiih..gak deh..makasih.." Tolaknya dengan jijik.
Tiba-tiba handphone Diana bergetar.Video call dari Adnan.
Diana ragu-ragu untuk menjawabnya.Karena kehadiran Nero yang sedang memangku si kembar. Dia tidak ingin ada masalah lagi ke depan.
Nero bukannya tidak tanggap akan perubahan sikap Diana yang tiba-tiba Dan kegelisahan wanita itu, dia sudah menebak siapa yang menelpon.
"Angkat saja..Kenapa kamu harus ragu..?" Perintahnya pelan.
Diana lalu membuka video call dengan Adnan.Wajah mantan suaminya itu muncul dalam pakaian kantor lengkap.Perbedaan waktu Indonesia dengan negara tempatnya tinggal, membuat Diana tidak heran, jika Adnan masih berada di jam-jam kantor saat ini .Dia memperkirakan kemungkinan saat ini pukul 14.00 Cest karena di Indonesia pukul 19.00 wib.
"Diana..Apakah kamu gak apa-apa..?"Tanya dia tanpa basa- basi.
"Aku biasa saja..Gak apa-apa kok.."
Diana tidak heran Adnan mengetahui kejadian tadi.Bagaimanapun media sosial adalah media yang cepat mengabarkan suatu berita viral.
"Ada yang luka..?"
"Tidak..Tidak ada.."
"Syukurlah.Apakah sudah diselesaikan..?Atau kalau perlu kamu laporkan ke polisi.Biar Supri ku suruh mengurusnya.."
"Oh tidak usah…tidak segitunya kali..Aku dan anak-anak gak apa-apa kok.."
Diana tidak sadar saat dia berbicara dengan Adnan, sudah menunjukan kegelisahan.Dan Adnan membaca itu.
"Anak-anak mana..?"
"Oh..sebentar.." Sahut Diana berusaha bersikap wajar.Namun Adnan terlalu hafal akan dirinya.
"Apakah kamu ada tamu..?Coba arahkan kamera padanya.Aku mendengar suara anak-anak yang bercakap-cakap dengan seseorang.." Suara Adnan mulai mengintimidasi.
Separuh hati , Diana mengarahkan kamera pada Nero yang sedang menggendong si kembar.Pria itu menyadari , lalu menatap kamera.Tersenyum sumringah dan sedikit licik.
"Halo brother.." Sapanya
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari seberang.Tiba-tiba menjadi senyap.Diana bingung untuk berbicara.