MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
DIJEMPUT SOPIR ADNAN


__ADS_3

 Jam sudah menunjukan pukul  sembilan malam, ketika Diana dan Agnes beranjak  dari lobby gedung Blue Stone's.


      "Aku mencurigai seseorang yang berkhianat pada David.." Kata Diana tiba-tiba.


       "Aku juga merasa begitu..Tapi kita belum bisa membuktikan." Timpal Agnes.


       Diana memandang lurus ke depan , ke arah lampu jalanan. Bagaimana cara mengatakan pada David bahwa hampir semua kegiatan dalam perusahaan sudah di rekam secara diam-diam .Termasuk kegiatan dalam ruangan David.


     " Aku harus kembali lagi besok ke sini.Meninjau ulang hasil kerja hari ini.."


      "Aku setuju itu.Kamu katakan saja jam berpa, biar ku jemput.'


       "Tidak usahlah..Aku bisa datang sendiri.


        " Gak repot juha sih.Tapi okelah..Aku dan David akan menunggu kedatanganmu.Ayolah sekarang aku akan mengantarmu pulang.."


        "Jangan repot-repot begitu Agnes.Aku bisa memesan taxi online kok.."


        "Tapi ini sudah malam Dy"


        "Yang bilang ini masih siang siapa sih ..?" Ejek Diana.


     Agnes mendengus kesal. Berkacak pinggang , lalu menatap pada Diana.


      "Iya nyonya cantik..Dengar ya..Maksud ku , daripada kamu pulang sendiri , lebih baik ikut pulang ke rumahku.Kan bu Ida juga ada yang nemani. Dan anak-anakmu juga bersama daddynya.."


      "Ah..Gak mau ah..Malah bikin repot.." Tolak Diana lagi.


       "Siapa bilang..? Seperti sama siapa saja kamu itu.."


      Mereka masih berdebat soal itu.Ketika tiba-tiba terdengar getaran hp di tas Diana.


Tanpa melihat nomornyapun, Diana sudah memastikan itu dari Adnan.Karena suaranya sudah terlalu dia hafal.


     "Hallo Dy.."


     "Ya.."


     "Supri sedang menuju ke arahmu.Kamu pulangnya ke rumah baru saja.."


     "Tidak..! Aku akan pulang ke rumah kontrakkan.Aku sudah sangat lelah. Jawab Diana.


       "Makanya sekalian nginap.."


       "Apa an sih.?..Gak..gak deh..!"


       "Dengar Diana..! Aku tidak punya waktu untuk basa-basi..Savana merengek minta kamu keloni…"


     "Kalau begitu , kamu bisa langsung mengantarkan mereka pulang.."


    "Masalah nya di sini..Mereka juga ingin menginap di sini.Karena aku menjanjikan mereka ke water park besok.."


      "Kamu jangan memperalat mereka, kenapa sih.!"


      "Heii..Kontrol amarahmu.Mereka juga punya hak untuk memilih mana yang lebih menyenangkan.."


       "Itu kan bisa bisanya kamu saja…Udah deh..! Aku lagi gak mood untuk berdebat.."


      Terdengar tarikan nafas berat di seberang telephone.


      "Aku tidak perlu mengajakmu berdebat Diana, tapi mengertilah dengan keinginan anak-anak kita. Mereka bahkan sudah berbaring di masing-masing kamarnya.Tidak inginkah kamu melihat mereka bahagia..?"

__ADS_1


      "Tidak mungkin..Kamu pasti mengancamnya,."


      "Terserah..Aku tidak ingin berdebat denganmu.Kalau  kamu tega membiarkan gadis kecil kita menangis semalaman..Silakan mengikuti egomu.."


       "Harusnya tidak ku izinkan kamu membawa mereka ke sana..?"


       "Sayang sekali..Kamu sudah melakukan.."Balas Adnan cuek.


       "Mas Adnan.." Teriak Diana kesal.


Namun pria itu hanya menanggapi dingin.Ketika dia mengucapkan kata-kata selanjutnya.Tak ubahnya seperti tiran yang kejam.


     "Jangan berteriak padaku Diana sayang.Kamu pilih saja.Ikut Supri masuk mobil, atau biarkan anakmu tidak tidur semalaman"


       "Kamu jangan menekanku mas Adnan.Aku bukan istrimu lagi..Dasar pemaksa.."


       "Kalau begitu, berarti kamu tega  membiarkan gadis kecil kita menangis semalaman  Sehingga mereka akan menjulukimu mami yang kejam.." Tandas Adnan tak kalah marah.


       "Kamu menyebalkan sekali.Seharusnya tidak ku izinkan kamu membawa mereka ke sana.."


       "Sayang sekali..Kamu sudah melakukan.." Tandas Adnan cuek.


      Diana menggigit gerahamnya sendiri.Dia selalu dihadapkan dengan silema kalau sudah melibatkan anak-anaknya.


     "Apakah dia berkata buruk padamu..?" 


Tiba-tiba Agnes menyenggolnya. Diana menghela nafas dan menggelengkan kepala. Dia tidak  ingin membicarakan nya dengan Agnes.


      "Nes..Sepertinya Savana  membutuhkanku.Aku harus ikut bersama Supri ke rumah baru di komplek perumahan  Emerald.."


      "Maksudmu perumahan komplek perumahan elite itu..?" Tanya Agnes membelalakan matanya.


     Walaupun dia dan keluarga juga tinggal di perumahan mewah,tapi nama Emerald tetap saja membuat Agnes surprise.Karena itu adalah komplek perumahan kelas sultan, dengan harga rumah paling rendah adalah puluhan M .


     "Apakah Adnan membelikan rumah itumu  Dy ?"


      "Bukan untukku..Tapi untuk anak-anak.."Jawab Diana acuh tak acuh.


       "Sama saja .." Sanggah Agnes.


  Melihat sikap Diana yang tidak terlalu antusias.Agnes bertanya lagi.


       "Sejak kapan ya..?Kenapa aku tidak tahu ya..?"


        "Tiga tahun yang lalu.."


       "Kamu sudah pernah ke sana sebelumnya Dy..?"


       "Belum.."


       "Belum..? Sudah tiga tahun semenjak diserahkan  mengapa belum pernah mengunjunginya.? Aahh..!! Kamu ini..Itu kan rumah untukmu dan anak-anak.Milik kalian …"


       "Bukan sesuatu yang istimewa kok.."


       "Jelas istimewa lah...Mengapa tidak sekalipun dilihat sih..?Kamu kalau kesal orangnya jangan kesal sama juga sama pemberiannya dong..!" Agnes menyerocos tanpa ada remnya.


      Diana melototkan matanya pada Agnes. Matanya berkilat-kilat.


      "Apaan sih kamu…? Aku gak matre juga kali.."


      "Yah..Bukan masalah matre atau nggak. Rumah itu sudah diberikan untumu dan anak-anak.Itung-itung sebagai kompensasi pengorbananmu selama ini .Apalagi kamu harus menjaga anak-anaknya juga.."

__ADS_1


       *Aduh Nes..Kenapa kamu jadi mojokin aku ya..? Capek tau gak.Adnan selalu berusaha mencari celah menarikku kembali"


        "Mungkin dia benar-benar serius Dy.."


        "Apa peduliku..Aku masih sakit hati padanya.."


        "Dimaklumi sih..Tapi sampai kapan kamu akan sendiri begini..? Kamu seperti anti laki-laki.Bahkan semua pria yang ku perkenalkan  juga kamu tolak "


       "Ah capek deh..Kalau sudah membahas yang itu pasti tidak akan ada jedanya.." Rungutnya.


      "Kamu akan selalu capek seumur hidupmu jika tidak mengambil satu pilihan.." Kejar Agnes.


       "Pilihan..? Apa lagi tu..?"


       "Pilihan yang akan mengubah hidupmu ke depan.."


        "Alaah..Lagumu…Kebanyakan baca buku roman picisan.."


        "Terserah apapun pendapatmu..Sekarang dengarkan aku..!"


        "Mmh,"


     Kemudian Agnes belagak seperti penasehat tua.


        "Pilihan pertama.Kamu segera menemukan pria yang cocok dengamu lalu menikah.."


        "Halaah.."


        "Dengar dulu..! Pilihan kedua, kamu kembali rujuk dengan Adnan.." 


     Diana mencibir. 


     "Aku tidak memilih satupun.."


     "Berarti kamu akan capek seumur hidupmu.Karena setelah bertahun-tahun seemenjak Adnan menemukanmu lagi, dia tidak pernah berhenti berusaha mendekatimu.."


      "Hah…ribet amat.Aku kan tinggal nolak dia saja dengan tegas.." Kata Diana sambil mengibaskan tangannya.


       "Seberapa pun kamu tegas, kamu pasti akan lemah ketika ada anak-anakmu terlibat di dalamnya.Apalagi akhir akhir ini si kembar sudah sangat dekat dengan daddynya.Walaupun hak asuh ada padamu, apa kamu bisa membuat si kembar tidak lagi merindukan daddy nya..?"


       "Sebenarnya , tujuan bicara begini apa sih..? Mengapa kulihat kamu sudah mulai tidak setia padaku lagi..?" Ledek Diana.


       "Dengar dulu kenapa dodol..!" Semprot Agnes.


       "Dih..Jangan-jangan kamu sudah makan suap nih.."


       Muka Agnes langsung masam.Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan.Entah semenjak kapan, dia merasa  simpati pada hubungan si kembar dan daddynya.


        Kedua sahabat itu saling diam beberapa saat. Bahkan saat ini, masalah teror pada perusahaan David tidak lagi menjadi fokus pembicaraan mereka.


      Sebuah  Audi hitam berhenti  tiba-tiba di depan mereka .Pintu mobil terbuka dan memperlihatkan sosok  Supri yang berpenampilan rapi dan santun


    "Silakan masuk nyonya, tuan memerintahkan saya untuk membawa anda."


    Adnan kembali menghubunginya.Sepertinya pria itu  sudah memperkirakan penolakannnya .Diana mendengus kesal tanpa  ada niat lebih dulu untuk menyapa pria itu.


      "Hallo.."


      "Ya…"


      "Jangan lama-lama dan jangan mengomeli Supri.Masuklah dalam mobil dan duduk dengan tenang. Kami sedang menunggumu datang.

__ADS_1


    


__ADS_2