MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
PESTA DUA


__ADS_3

     Suara mc acara tiba-tiba terdengar melalui microphone, Diana tidak lafi menggubris pembicaraan sekelompok tukang gosip itu.Dia lebih antusias pada suara mc yang mempersilahkan David naik ke panggung.


     David melangkah dengan tenang.Sungguh satu orang yang berbeda jika dia bersama Agnes dan Diana. 


     "Selamat malam semuanya.Seperti yang sudah kita semua ketahui, malam ini adalah peringatan hari lahirnya Blue Stone yang lima puluh tahun.


      Sekilas tentang Blue Stone ,pertama kali dirintis  oleh kakek saya dari pihak ibu. Hingga setelah sekian kali berganti kepemimpinan, akhirnya diteruskan kepada saya. Nah sekarang sayalah pewarisnya…"


     Diana hanya memperhatikan dari sudut terlindung saat David memberikan sedikit pidato dan ucapan terima kasih bagi mereka yang telah memberikan kontribusi selama ini kepada Blue Stone. Perusahaan besar yang bergerak du bidang real estate, keuangan dan juga proyek-proyek pembangunan lainnya Termasuk para ob dan bagian perawatan gedung lainnya. Atas instruksi David perusahaan akan memberikan bonus untuk semua pegawai berprestasi.


       Pidato itu disambut dengan aplaus membahana, sehingga memberikan getaran pada ruangan tempat pesta berlangsung.


       Diana menyadari bahwa dia sudah lebih dari dua jam berada di sana.Melirik pada jam di pergelangan tangannya, dia memutuskan akan bertahan setengah jam lagi. Kemudian akan  secepatnya pamit pada David. Dia adalah seorang ibu yang selalu menyematkan anaknya dalam pikiran.Dan dia tidak mau kembar kesayangannya, menunggu terlalu lama 


    Mereka terbiasa tidur malam dalam dekapan Diana. Dan sampai saat ini belum pernah sekalipun Diana ingkari kebiasaan itu.


     "Dari tadi kamu gelisah Diana..?"


     Suara bariton milik Adnan terdengar dari belakang.Memberikan efek kejutan listrik kecil di punggungnya. Diana memutuskan akan bersikap sedikit easy going. Mengingat tempat mereka berada.


     "Apakah ada sesuatu yang mengganggumu..? Jika itu mengenai si kembar tolong beritahu aku..!"


     Diana memandang wajah hampir sempurna di depannya.Tak menyangka jika soal anak mereka akan berada dalam satu frekuensi yang sama. Namun wanita itu sudah memutuskan tidak akan membawa Adnan dalam urusannya.


     "Kamu tidak perlu merepotkan diri.Aku sudah biasa menangani.."


     "Ternyata dugaanmu benar.Kamu hanya akan gelisah jika menyangkut seseorang yang kamu cintai.."


      "Mmh..Aku tidak tahu bahwa kamu selalu memantauku.." Kata Diana..


     Adnan tersenyum. Adalah momen langka berbicara secara damai dengan Diana. dan dia akan memanfaatkan waktu ini sebaik baiknya.


    Dia bersyukur bahwa Tuhan menciptakan si kembar di antara mereka. Sehingga cukup banyak alasan bagi Adnan untuk selalu dekat dengan Diana.


     "Apapun keadaan Said dan Savana , tolong kabari aku.."Pintanya kemudian.


     "Sebaiknya kamu menyibukan dirimu pada hal-hal yang lain.Apakah tidak lelah untuk selalu saja mendekatiku..?" Tembak Diana langsung.


      Adnan mengangkat bahu tidak peduli.


     "Aku sudah tidak peduli lelahku lagi.Selagi masih bisa melihatmu dan anak-anak.."Ucapnya sendu.


     Diana tidak menanggapi. Pandangan matanya tiba-tiba terfokus pada satu titik.


     Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat lorong menuju toilet wanita. Dua orang wanita yang sama-sama cantik  sedang berhadapan satu sama lain.


     Sebenarnya pemandangan itu biasa saja, namun ada hal yang menarik untuk dia  perhatikan. Dalam redupnya warna lampu, dapat dilihat tangan wanita yang satu sedang bergerak menampar wanita di depannya. 


     Wanita yang mendapat tamparan, tidak terima dan langsung membalas dengan   bogem mentahnya..


    Adnan mengikuti arah pandangan mata Diana.Seketika bola matanya membeku karena terkejut bercampur marah.


     "Dara..?" Desisnya..

__ADS_1


     Diana mengalihkan pandangan saat mendengar suara Adnan di dekatnya.Dia tersenyum sinis.


      "Hee…he…Luar biasa bukan..? Adikmu yang akan jadi kandidat nyonya Blue Stone.Apakah menurutmu, dia kan memenuhi kriteria seorang David John..?"


      Adnan tidak menyahuti.Dia menjadi gusar. Jarak antara mereka dan toilet wanita lumayan jauh kalau mengambil jalan memutar.Tapi kalau mengambil jalan tengah ruangan, dia akan susah bergerak cepat tanpa menarik perhatian orang-orang. Bukan tidak mungkin akan menyebabkan masalah baru nantinya.Melihat  meja-meja hidang , dengan tamu-tamu yang berjibun. Adnan benar-benar dongkol sendiri.


      "Maaf, aku harus pergi.." Katanya pada Diana.


     Dia tidak mau membuang waktu lagi.Karena pertengkaran itu sudah berkembang menjadi perkelahian. Adnan tidak habis pikir,Bagaimana mungkin Dara begi gegabah dan bertindak bodoh begitu..?


      Sementara di sisi lain, Dara dan seorang wanita  sudah semakin memanas. Wanita itu bernama Tita, yang tak lain adalah wanita yang barusan bergosip dekat Diana  Ternyata ada dendam tak terbalas, yang membuat dua akhirnya bentrok dengan Dara.


       "Dasar ****** tak punya malu.." Maki dara Dara sambil memperbaiki tatanan rambutnya .Dia berusaha menahan nyeri di tulang keringnya karena tendangan Tita .      "He..he..Lalu bagaimana denganmu..?Kamu bahkan tidak beda dengan *****.."


       Tita tak mau kalah, walaupun mukanya terasa panas dan mati rasa.Bekas tamparan tangan Dara.Dia mengusap pipinya.


       Dara mengusap tulang kakinya. Saat melihat warna merah keunguan, matanya berkilat tajam pada Tita.


      "Kurang ajar..Kau berani menendangku. Apakah kamu tidak tahu siapa aku  sialan.." Kutuknya.Tapi Tita bahkan tidak gentar sedikitpun.


       " Kau Dasar brengsek.Kau perempuan kotor .Bagaimana mungkin kau tega membuangnya setelah kau kuras kantongnya.."


     "Itu urusanku..Kalau kamu masih suka dia ambilah. Aku tidak peduli ."Dara membela diri.


     "Urusanmu kepalamu. Ingat..! Kamu akan menanggung akibatnya suatu hari nanti  Bahkan saat sakit pun kamu tidak menjenguknya.."


     "Ku bilang aku tidak peduli.Tutup mulutmu. Ini bukan urusanmu bodoh. !"


      "Dasar wanita  ******..Sekarang mulai mencari mangsa baru lagi.."


      "Matilah kau.." Tita kembali menerjang. Tangannya terulur mengincar rambut Dara.


      Tapi satu tangan kuat tiba-tiba menahan tangannya. Dia mencium. Au mint di udara.


      "Cukup.."Perintah pria itu.


     Dara yang melihat kehadiran kakaknya Adnan ,merasa gembira.


     "Dia menyakitiku duluan mas.."Adunya.


     "Diam kau.." Bentak Adnan.


     Dara langsung diam.Berurusan yang salah dengan Adnan, adalah hal yang paling dihindarinya. Apalagi dalam dua tahun ini hubungan mereka sangat renggang.Adnan selalu memberikan muka masam untuknya.


      Adnan mengalihkan pandangan pada wanita di hadapannya.Tita melihat Adnan tanpa menyembunyikan rasa terpesonanya . Pria di hadapannya sangat tampan dan gagah. Apa yang dia dengar tadi..?Dara memanggil mas. Apakah artinya mereka dekat..?


     Adnan  jadi muak dipandang begitu.Ternyata wanita ini satu karakter dengan Dara.Tiba-tiba menyesal memisahkan mereka.Adnan  sempat berpikir, seharusnya membiarkan  saja bertarung sampai babak belur.Paling ujung-ujungnya ke rumah sakit atau ke kantor polisi. 


     Tapi kemudian menelan kembali pikiran buruknya. Mengingat resiko belakang yang akan menyusul. Belum lagi akan menjadi berita viral di media sosial. Sebagai seorang pengajar di sebuah Universitas, dan juga pengusaha, dia harus memikirkan dampak buruk dari berita miring yang akan menyangkut namanya.


      Adnan melepaskan cekalan tangan wanita itu perlahan. Kemudian memandang lurus padanya.


     "Maafkan kesalahan adikku nona.." Ucapnya santun.

__ADS_1


     Dara menjadi geram saat melihat kakaknya mau merendahkan diri untuk wanita yang tidak ada nilai di matanya. Tapi saat melihat tatapan  dingin Adnan padanya.Dara menelan kembali kalimat protes yang akan diucapkan.Selanjutnya mengikuti Adnan melangkah dari sana.Tanpa menoleh lagi ke belakang. Pada lorong yang agak terlindung, Adnan menghentikan langkahnya. Tatapannya tajam menghunus.


     "Aku tidak tahu sampai kapan bisa bersabar dengan tingkah lakumu.." Ketusnya tajam.


      Dara memberengut. Dia tidak suka dipersalahkan.


      "Kok mas menyalahkan aku..? Dia yang mulai.."


      Adnan mendecih. Ekspresi muak dia perlihatkan.


      "Aku tidak heran kamu akan mengatakan itu.Karena seumur hidupmu selalu merasa benar dan dibenarkan ayah dan ibu.."


      "Tapi..Aku.."


      "Cukup Dara..Aku melakukan tadi bukan demimu ..Kedepan aku tidak peduli lagi.Berfikirlah dahulu sebelum melakukan sesuatu.Kalau kamu menyesalinya..!" 


    Dara mencibir.Matanya mengikuti langkah-langkah Adnan  yang menjauh.


     "Kamu bersikap seolah-olah kamu peduli denganku.." Bisiknya sinis.


     Sementara David sudah bersama kembali dengan Diana. 


      "Kurasa sudah waktunya aku pulang Dav…" Ujarnya.


      "Apakah tidak bisa lebih lama lagi.." Rajuk David kemudian.


     Mereka adalah bos dan bawahan.Tapi bagi David, lebih suka berteman dengan Diana.Ada sesuatu perpaduan yang sempurna antara Diana dan Agnes di mata David. Dan dia membutuhkan mereka sebagai partner yang kuat di sisinya. 


     "Aku punya balita di rumah.. "


     "Oke lah..Aku akan menyuruh sopir mengantarmu.."


     "Tidak usahlah Dav..Aku bisa mencari mobil sewaan.."


      "Tapi ..Aku harus memastikan kamu tiba di rumah dengan selamat.Karena kalau terjadi apa-apa denganmu,Agnes bisa membunuhku.."


       "Ah..sudahlah. aku bukan anak kecil..Sana kamu temui tamu-tamumu.Aku melihat ikan besar yang minta di pancing.."


       "Hee..he…Matamu ternyata jeli juga. Okelah…Bagaimanapun terima kasih atas bantuanmu. Senin ku kasih libur kerja.Biar puas tidur siang dengan si kembar.."


      Diana tersenyum sambil mencibirkan bibirnya yang tipis.


     "Aku tidak percaya kamu akan sebaik itu padak. Nanti juga kamu telepon"


     "Hei..Ini serius.."


     " Coba kulihat buktinya nanti di hari senin"


      "Oke.."


     Diana akhirnya berjalan ke pintu. Dia bahkan tidak melihat Agnes untuk ditemui dahulu.  Namun di pintu keluar dia melihat Adnan .


     "Ayo..Kuantar pulang.."

__ADS_1


    


__ADS_2