MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
TAMU DAVID


__ADS_3

      Sudah hampir jam makan siang,Diana masih bergelut dengan laptop nya. Dia bahkan tidak merasakan sedikitpun rasa lapar. Walaupun  sedang menghadapi pekerjaan yang menumpuk. Apalagi kalau sedang diburu waktu.Satu cereal ketengan sudah cukup baginya.


       Matanya masih fokus menatap monitor ketika terusik oleh bayangan seseorang yang datang mendekat ke arahnya.


      Seorang wanita menenteng sebuah tas berwarna merah. Berwajah cantik dan berpenampilan sexy. Wanita itu langsung berjalan melewatinya tanpa menyapa. Diana meringis sambil menggeleng-gelengkan kepala.


       Dia menghentikan pekerjaan, lalu mengawasi tingkah wanita itu.Gaya jalannya begitu santai dan teratur.Bahkan cenderung sombong dan meremehkan.


      Wanita itu terus berjalan membuka pintu ruangan sang bos. Diana menaikan alisnya. Dia berdiri dan beranjak hendak melarang.


      "Maaf nona…Anda ada urusan apa  ya..?" Tanya dia sopan.


      "Saya mau ketemu pak David.." Jawabnya santai.


      " Oh begitu ya.Saya sekretarisnya pak David.. Anda siapa..?"


       Dia berhenti sejenak, lalu memandang remeh pada Diana. Diana tertawa geli dalam hati. Karena memastikan, wanita ini akan menjadi orang yang kesekian yang mencari gara-gara dengannya. Entah mengapa, Diana mendapat kesenangan tersendiri berhadapan dengan jenis-jenis seperti ini.Dia sempat berpikir bahwa dia lambat laun akan berubah menjadi psikopat. Mungkin ada baik mengatur jadwal konsultasi dengan seorang psikiater profesional. Karena selama ini dia hanya mengandalkan Agnes tempat konsultasi.Dan tak jarang memberikan solusi yang melampaui akal sehat.


      Diana kembali menatap tamu yang tidak diundang itu. Mulai memahami bahwa ternyata dia  bukan jenis yang mudah diajak bicara  baik-baik.Aura angkuh dan sombong menguar dari dirinya. Diana agak sangsi jika di dalam pembuluh darahnya masih berwarna merah.


      Wanita itu masih berlaku cuek ketika Dia mulai kesal.


     "Paling tidak, ucapkanlah salam atau bertanya pada saya nona.Sebesar ini, apakah kurang jelas bagimu..?"Tanya Diana konyol menunjuk dirinya.


      "Aku hanya perlu David.Mengapa harus berurusan dengan kamu..? Huh..bikin capek tau gak..?" Ketusnya sambil melipat kedua tangan di dada.Sehingga bagian dada yang rendah menyembulkan sesuatu tonjolan.


       Diana berusaha tetap tenang.Matanya menatap lurus ke manik mata wanita itu.


      "Tidak..! Saya tidak tahu.Apa yang bisa bikin capek wanita sepertimu..? Kamu datang kesini tanpa appointment, dan langsung nyelonong tidak sopan.Attitude dasarmu sungguh menyedihkan nona.."Kata-kata Diana tak ubahnya mercon di tengah hari. 


      Wanita itu memerah menahan jengkel. Mendengus lalu memandang Diana, seperti mempertimbang sesuatu.


      "Oke..Aku minta maaf..puas..? Sekarang katakan David ada di mana..? Dia bahkan menutup telephon ku" Rungutnya kesal. 


      Diana tidak memberi angin.Dia akhirnya mengerti.Wanita ini hanya lalat yang sedang mencari tempat untuk hinggap. Sekalian makan , lalu bertelur.Yang pasti, dia adalah pembawa penyakit.


     "Dia sedang tidak berada di tempat " Jawab Diana kemudian.


     "Ke mana..?"


     "Aku tidak bisa memberitahumu nona.."


     "Hei..Kau..? Berani padaku..?"


     "Apa yang ku takutkan pada wanita tak punya malu sepertimu..? Kamu ini harus nya tahu diri.Bahkan telepon saja,David tidak sudi menjawab.Apalagi kalau bertemu..?"


      Wanita itu menatap Diana dengan wajah membunuh.Sampai di sini Diana semakin yakin kalau dia adalah wanita yang cukup mengerikan.Yang biasa harus selalu diikuti maunya.


     "Keluarlah..?" Usirnya lembut. "Orang yang anda cari tidak ada di dalam.Lain kali jangan  sembarangan masuk kesini sebelum minta izin.Ini ruangan kantor apalagi di sana adalah ruang Co.Anda harus belajar adab untuk ke mari…" Diana semakin  gencar menyemburkan lahar panasnya.Auranya dingin dan menantang.Sedikit banyak mempengaruhi mentalnya.


      Wanita menghentakkan kakinya. Menatap dengan nyalang 


       "Kau akan menyesal nanti.Berani membentakku.."Bentaknya kesal.Tapi lebih terdengar seperti ringisan.


       Diana tidak peduli.Dia bertanggung jawab di ruangan ini selama David keluar.Apalagi kali ini, David juga membawa serta sekretaris dua bersamanya. Tanpa ragu menekan tombol interkom.


      "Satpam , cepat ke ruangan Co..!"Perintahnya tegas.


     Tersengat sahutan di seberang sana.Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka , dan langsung menuju ruangan Diana yang merupakan akses menuju ruangan Co.

__ADS_1


     Pria berbaju seragam itu langsung menghadap Diana. .


     "Tolong antarkan nona ini keluar..Oh ya..Aku bahkan tidak tahu namamu nona..?"


     "Tidak perlu..Kamu bukan orang penting yang harus tahu namaku.."Cibirnya menghina.


      Diana tidak lagi menggubris.Dia melambaikan tangan, agar satpam segera mengajak wanita itu ke luar.Dia hanya memandang datar pada tatapan yang ingin menghancurkan dari wanita itu.


    " Satpam..Kamu periksa ktpnya. Kalau tidak mau, panggil polisi atas tuduhan penyusup…!" Tegasnya.


      "Baik bu.." Satpam melaksanakan perintah Diana.Dengan sedikit tekanan akhirnya dia berhasil mendapatkan ktp wanita itu.Tidak lama kemudian menoleh pada Diana.."


     "Namanya Lorena, bu..Pekerjaan…"


      "Cukup ..Kamu lanjutkan di lobby untuk menyimpan datanya..!"


     Diana menghembuskan nafas berat setelah melihat pintu ruangan ditutup kembali.


      Beberapa menit setelah mereka pergi, Diana kembali ke mejanya. Tiba-tiba menggumamkan isi kepalanya.


      "Ku kira pekerjaanku akan bertambah ke depan .Tidak ada salahnya minta kenaikan gaji .He..he.." Dia tertawa sendiri. 


      Tiba-tiba..


      "Aku sudah beberapa kali menaikan gajimu.Apakah masih belum cukup sekretaris cantikku..?" Sindir sebuah suara bariton.Diiringi pintu yang terbuka.


     Diana gelagapan.Demi Tuhan, bagaimana mungkin pria ini tiba-tiba sudah ada di sini..?Bukankah beberapa menit yang lalu seorang satpam baru saja menggiring wanita yang memuakkan itu pergi?


      "Kamu melakukan teleportasi bos..?"


     David menjadi bingung melihat kelakuan aneh sekretarisnya itu.Wanita yang biasanya  mulai bertanya tentang keperluannya setelah memasuki ruangan malah mengajukan pertanyaan aneh .Apakah Diana sedemikian shock karena ketahuan sedang mengoceh di belakangnya..?


      David memperhatikan wanita itu lebih dekat.Tiba-tiba menepuk bahunya.


     Diana tersadar dari kebingungannya.Mendehem sejenak lalu mengusap tangannya berusaha bersikap wajar.David menunggu lanjutan kata-kata darinya.


     "Seorang wanita mencarimu barusan tadi..Apakah kalian bertemu di lobby..?"


     "Wanita..? Wanita yang mana..?" Tanya pria itu lagi.Dia sepertinya bosan untuk mengingat Hanya butuh jawaban pasti dari Diana.


      Diana tersenyum penuh arti. David memandangnya curiga. 


      "Hei..Apa arti senyummu..?"


       "He..he..Aku hanya sedang bertanya-tanya dalam hati, Apakah kamu sering mengumbar janji dengan para wanita..?"


       "Gak juga…Eh.? Namanya siapa ?"


       "Lorena..Cantik tapi…yah.."Diana mengibaskan tangannya. Mengangkat kedua bahunya.


        "Lorena..?" David mengulang nama wanita itu..Tapi kemudian mengangkat bahunya tak peduli


        "Aku tidak ingat.." Ujarnya tegas.


        "Masa sih..? Dia malah berani memasuki ruangan mu tanpa izin dariku.."


       David mencibir. Dia memasukan kedua tangan ke dalam saku celana .


        "Aku yakin kamu tidak akan membiarkan!"

__ADS_1


        "Tentu tidak.."


         "Oh..Ya Tuhan..Jangan bilang kamu sudah mengulitinya..?" Tanyanya


          "Sudah ku lakukan.." Jawab Diana tak acuh.Wanita itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Dia hampir lupa bagian mana yang terakhir di editnya.


      David kembali mencecarnya.


           "Apakah kamu buat dia marah sampai berasap ..?


           "Yah..Sedikit lagi.." Jawab Diana santai.


          David geleng-geleng kepala melihatnya.Dia berkata ketika hendak berlalu.


        "Mungkin aku akan memecat para satpam dan menggantikan dengan dirimu.."


        "Aku yakin, Kamu tak akan sanggup menggajiku.." Ledek Diana. Dia menyeringai kepada David.


      Untuk sesaat pria itu terpana menatapnya. Bagaimana mungkin Diana begitu menggemaskan dengan ekspresi tersebut. Tapi kemudian dia membuang jauh pikirannya.Berganti dengan bayangan Andita dan anak bayi mereka.


         " Sepertinya begitu..Karena kamu lebih galak dari mereka.."Balas David acuh tak acuh sambil berjalan memasuki ruangannya.Pria itu menyenandungkan sebuah lagu yang hanya dimengerti olehnya sendiri.


       Diana kembali melanjutkan pekerjaan ya yang sudah tertunda. Tiba-tiba terasa getaran hp di atas meja kerjanya.Sebuah notifikasi masuk. Dari nomor yang dikenalnya.


      Diana menghela nafas saat mengetahui itu dari Adnan.Diana merasa, mantan suaminya itu sudah mengalami masalah di otaknya.Bukankah baru  beberapa hari yang lalu dia jelas-jelas tegas melakukan penolakan..? Apakah dia sudah pelupa atau tiba-tiba  idiot..?Untuk kata terakhir Diana membatalkan.Karena Adnan adalah seorang yang mempunyai otak brilian .Salah satu alasan dia diterima cepat untuk menjadi dosen di sebuah universitas besar. Mata pelajarannya pun gak main-main.Manajemen Bisnis dan Ekonomi. Mahasiswa akan mundur dari jurusan itu jika tidak kuat mental dan tak kuat otak


     Suara notifikasi kembali berbunyi.Dengan berat hati Diana membuka pesan di wa nya.


      "Kita harus berbicara.Ku tunggu sepulang kantor di rumah."


      "Ada apa lagi sih..?"Balas Diana ketus.


      "Nanti kujelaskan..Cepat pulang..!"


     Diana mencibir setelah membaca pesan itu. Gaya Adnan memerintah seolah-olah wanita itu masih istrinya.


      "Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan…"  Balasnya.


       "Nanti dibahas..Kutunggu.."


       "Kamu benar-benar memuakkan…"


       "Aku tahu"


       " Tak tahu diri.."


       "Aku tak peduli.."


     Pesan itu selesai.Diana menaruh kembali hpnya di meja. Tiba-tiba menjadi mandek untuk melanjutkan pekerjaannya.Mungkin keluar sebentar akan menyegarkan kepalanya yang mulai pusing.


     Dia berjalan menuju pintu hendak keluar.Ketika tiba-tiba pintu terbuka lebih dahulu.Sebuah wajah wanita nongol di pintu. Membuat kepala Diana  bertambah pusing karena kesal.


     "Aku ingin bertemu David..Dia di dalam kan…?" Tanya wanita itu.Tanpa menunggu jawaban,  lalu buru-buru untuk masuk ke dalam ruangan.Diana menyusul di belakang dengan menahan rasa kesal setengah mati.


     "Benar-benar bebal wanita ini " Umpatnya. Diana buru-buru mengikuti.Melihat David yang sedang fokus pada berkas-berkas di depannya.


     "Bos..Aku sudah menahannya……"Ucapan Diana terputus ketika David melambaikan tangannya.


     "Cukup Diana, kamu istirahat saja dahulu Biar aku yang menangani wanita ini.."Potong David cepat. Guratan kekesalan pun terlihat jelas di wajahnya.

__ADS_1


     Ini bukan pertama kali bagi David menghadapi wanita yang agresif padanya. Tapi sangat menyebalkan kalau dia datang mengganggu ke tempat kerjanya. 


     Wanita yang ternyata adalah Loren , tersenyum penuh gairah saat melihat pria yang  sedang diincarnya. Dia sudah membuang segala rasa malu agar bisa mendekati pria kaya berwajah tampan itu.Dan tidak mengacuhkan pandangan sinis meremehkan yang datang dari Diana.


__ADS_2