
Pada saat itu di sebuah rumah mewah di komplek bergengsi, seorang wanitasedang melatih otot-ototnya berjalan. Sesekalu dia harus istirahat ,ketika nafasnya mulai terengah-engah.
Sementara dua orang perawat khusus selalu siap-siaga di dekatnya.
"Istirahatlah dulu nyonya. Jangan terlalu memaksakan diri..!".
"Aku masih belum leluasa melatih otot-otot kakiku …"Katanya terengah engah.
Wanita perawat itu tersenyum.Kemudian mengambil tisue untuk melap keringat di wajah Diana.
"Anda harus sabar nyonya..Karena anda baru bangun dari tidur panjang.Wajar saja kalau otot-otot anda masih kaku.."
Diana hanya menyerah ketika secara spontan, didudukkan kembali di kursi rodanya…"
Dua bulan lebih tidak berjalan, membuat otot-otot kakinya terasa berat.Dan sesuatu yang memegang di bagian rusuknya sehingga adakalanya terasa tegang dan mengganggu.
Namun dia harus terus melatih otot-ototnya jika tidak ingin semakin kaku dan bergantung pada kursi roda.
Diana merasa harus aecepatnya mandiri. Karena tidak ingin menjadi beban untuk selamanya pada Adnan dan kawan-kawannya.
Sudah hampir satu bulan semenjak dia diperbolehkan turun dari kursi roda. Perlahan+lahan mencoba menapaki jalan-jalan di sekeliling taman. Sementara di kanan kirinya dua orang perawat selalu mengawasi dan siap sedia membantu.Mereka adalah orang-orang yang berada di bawah perintah Adnan. Setelah mengetahui arti wanita itu bagi majikan mereka, tidak ada yang berani lalai dalam tugasnya.
"Anda sudah banyak kemajuan nyonnya.."
"Ya… Syukurlah , akhirnya aku sudah mulai bisa menapaki jalan ini sedikit demi sedikit. Ku kira aku tidak akan pernah sehat lagi.."
"Jangan bicara begitu nyonya Tuan Adnan tidak akan pernah membiarkan anda.." Ucapan perawat itu terputus ketika Diana mengibaskan tangannya.Sang nyonya memang senaitif jika obrolan sudah menyinggung nama Adnan tuannya.
Sesungguhnya dalam hati perawat itu ada sekit penasaran tentang kisah tuannya dan Diana plbeberapa tahun lalu sebelum perpisahan.
Di mata mereka yang bekerja di rumah itu.Adnan adalah sosok yang memenuhi kriteria seorang wanita tentang seorang pria idaman.Begitupun perawat yang bekerja pada Diana.
Selain tubuhnya yang gagah dan berwajah tampan, dia adalah pria yang mapan. Melihat perhatian dan kasih sayang yang diberika. Untuk Diana dan anak-anak mereka.Tidak ditemukan celah kekurangan Adnan yang menyebabkan sulitnya sang nyonya untuk rujuk kembali.
Perawat itu mencibir dalam hati pada nyonya majikannya.Mengingat tidak tahu dirinya wanita mereka rawat ini. Kalau saja tuan mereka bisa dengan mudah dirayu p, diia tidak akan segan-segan berjuang untuk memiliki pria itu. Namun dia kemudian sadar bahwa tatapan datar dan acuh tak acuh dari pria itu.Menjelaskan apa arti merela di matanya.Mereka hanya orang-orang gajian.Dan Diana adalah majikan setelah Adnan.Tuan yang menggaji mereka.
Perawat itu larut dalam lamunannya hingga tidak menyadari pandangan sang nyonya yang sudah lama mempelajarinya. Pandangan yang .Lembut dan menyentuh hingga ke relung relung hati. Tidak ada sinar kemarahan dalam tatapannya.
Diana tersenyum penuh arti pada perawat itu.
__ADS_1
"Aku bisa menangkap isi pikiranmu sekarang.." Katanya menggoda.
"A..apa nyonya..?" Tanya dia gugup.
"Ah tidak..Hanya bercanda.."Sahut Diana sambil mengulum senyum.Memebuat wanita muda itu salah tingkah.Meluhat mukanya yang merah, Diana yakin bahwa tebakannya tidak meleset. Wanita itu diam-diam mengagumi Adnan. Walapun dia tidak berani langsung menduga bawa diam-diam dia juga jatuh cinta pada Adnan. Apalagi melihat rona merah di wajah wanita itu.
Diana tidak heran akan hal itu. Perawat itu hanya sebahagian satu daribanyak yang lain yang memendam perasaan dalam pada sosok Adnan. Dia sangat tahu arti pandangan seseorang pada Adnan. Mungkin ada yang berharap agar dia cemburu. Bukankah pria itu mantan suaminya yang berusaha dekat lagi dengannya. Namun Diana seperti merasakan sesuatu yang hampa di hatinya.Dia tidak tahu bagaimana membalas kepedulian pria itu padanya.
Trauma masa lalu membuatnya takut mencintai siapapun juga. Bahkan rasa curiga lebih mndominasi pada dirinya. Sehingga tanpa dia sadari sosoknya sudah menjelma menjadi wanita dingin dan acuh tak acuh. Bukan lagi wanita ceria dan suka bercanda seperti dulu.
Namun sikap ini di sisi lain memberi keuntungan untuk dirinya. Mereka yang pernah kontak dengannya, agak sungkan. Diana memberikan rasa segan pada orang-orang di sekitar yang ingin berhubungan dekat dengannya. Wanita itu ibarat mawar hitam dengan duri-duri yang tajam di tubuhnya. Cantik, anggun , misteri.
Namun sejauh ini setelah kejadian naas menimpanya, Dia mulai dihinggapi suatu perasaan yang tidak bisa ditolak .Perasaan yang kadang kala mengusiknya bila saat senggang. Terbiasa dengan kehadiran Adnan di sisinya, sekarang merasa bingung setelah pria itu tidak ada.
Sudah dua minggu ini Adnan tidak melakukan kunjungan.Pria itu sedang berada di Swiss mengurus perusahaan yang di sana.Sebelumnya sejak Diana kecelakaan,dia hanya melakukan meeting atau hal-hal yang bersangkutan dengan perusahaannya di sana.
Diana merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya.Seperti mengharapkan kehadiran pria itu. Padahal dia sudah membentengi perasaannya sendiri,agar jangan berpikir lebih pada Adnan. Namun ada sesuatu di relung hatinya yang lama membeku, sekarang mulai menghangat. Dia tidak bisa memungkiri bahwa dia dan anak-anak merasa aman dalam lindungan pria itu.Apalagi dalam kondisinya saat ini. Ibarat tongkat pegangan bagi orang buta.
Namun ketika ingatan kelam masa lalu terbayang kembali, seperti hantu yang mengikuti nya. Dia tidak bisa sembuh secara total. Walaupun berusaha keras melupakan, tapi memori otaknya kadangkala tidak sejalan dengan kemauan hatinya. Sungguh sangat meresahkan.
Dia sudah memaafkan kesalahan Adnan pada dirinya. Melihat ketulusan pria itu merawatnya di kala sakit.Dan memastikan anak-anak aman dan terjaga.
Bahkan detik-detik kesadarannya akan hilang dia masih merasakan usapan kasih sayang di sela-sela kecemasan pria itu. Benar-benar memberikan ketenangan padanya walaupun saat itu Diana sudah merasakan malaikat maut berada di sekitarnya. Namun Diana merasa tenang menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.
Namun saat dia mulai sembuh dan berangsur-angsur kuat, dia kembali merasakan risih jika berhadapan dengan mantan suaminya itu. Walaupun dia hanya mampu menerima segala keputusan yang berikan Adnan untuknya.
Terbukti dengan kepindahannya langsung ke rumah ini. Diana bahkan tidak diberi kesempatan untuk kembali sebentar ke kediaman lama.Walaupun sudah menjadikan bu Ida sebagai alasan.
Namun Adnan dengan cerdik menggunakan anak-anak sebagai senjatanya. Dalam hal ini tidak bisa dipungkiri, bahwa dua buah hatinya pasti lah sangat merindukan kedatangannya. Hampir dua bulan tidak bertemu bukan hal yang mudah untuk mereka anak beranak , yang biasanya selalu melewati hari-hari bersama. Namun tiba-tiba harus dipisahkan keadaan. Adnan tidak pernah membolehkan Said dan Savana mengetahui kondisi ibu mereka yang sesungguhnya. Sehingga tidak pernah ada kontak selama itu. Kecuali di saat-saat Diana sudah dibolehkan mencabut segala selang-selang ajaib di tubuhnya.
Ketika Adnan mengutarakan keinginannya untuk langsung pindah ke rumah baru, Diana bingung menanggapi.
Namun pria itu seperti sudah membaca algoritma otaknya. Termasuk kegundahan hatinya tentang kondisi bu Ida. Adnan telah lebih dahulu menyediakan jasa seseorang yang bisa dipercaya menjaga dan merawat beliau. Sehingga menutup keinginan Diana untuk mencari alasan lagi.
Sekarang setelah berada di rumah baru mereka, Diana tidak mengingkari bahwa ini adalah tempat tinggal yang menyenangkan untuknya. Merupakan perpaduan suasana pedesaan dan kota. Dia Taman belakang yang luas , dibuatkan sungai buatan yang mengalir dengan rumpun bambu kuning di beberapa sudut.Aliran sungai seperti melingkari taman, dan di isi dengan berbagai makhluk penghuni sungai. Ikan, kodok, kura-kura mini, bahkan juga kepiting dan udang. Burung-burung di biarkan hidup dan bersarang di pohon buah-buahan.Ada sekitar dua puluh batang yang selalu berbuah di kala musimnya. Sementara bunga tabebuya berjuntai-juntai dengan warna ungu pink yang cantik.Seperti tirai kelambu yang sangat indah.
Adnan sudah menempatkan orang kepercayaannya di sana.Tapi dia tetap melakukan video call sewaktu-waktu.
Diana masih larut dalam pikirannya sendiri, ketika melihat dua orang bocah kesayangan berlari menuju arahnya.Di belakang mereka dua orang mengikuti. Supri dan pengasuh mereka.
Namun sungguh surprise bagi Diana yang melihat Agnes dan bu Ida mengekor tidak jauh dari belakang.
__ADS_1
Bu Ida begitu sumringah di atas kursi rodanya didorong Agnes dari belakang.
Air mata Diana berkaca-kaca melihat wanita berhati luhur itu. Hingga tidak dapat dibendung lagi akhirnya luruh di pipi.
"Ibu..Diana rindu…"
" Sama…Ibu juga..Kangen sama kalian semua.."
Agnes yang berada di antara merwka hanya bisa tersenyum haru.
"Sudah kutebak sebelumnya..Kamu pasti merindukan ibumu ini.." Katanya kemudian. Diana tersenyum di antara isak tangisnya.
"Kamu memang sangat mengerti sekali padaku Nes..Mengapa tidak sekalian bawa anak-anakmu..?"
"Nanti kalau datangnya sekalian sama mas aku. Soalnya tadi kan kebetulan mampir sehabis pertemuan bisnis dengan David.Cuma David harus langsung ke kantor karena sudah ditunggu tamu.."
"Oo gitu ya…
Diana kembali mengalihkan perhatian pada bu Ida. Dia memperhatikan perubahan fisik bu Ida yang semakin tua.Ternyata hanya sekian bulan tidak bertemu telah membawa banyak perubahan pada wanita yang sudah mulai beranjak tua itu.
"Ibu kesehatannya bagaimana..?" Tanya dia kemudian.Kedua tangannya menggenggam tangan wanita itu. Dan Diana merasakan betapa lembut tangannya seperti tangan bayi. Tapi tidak hangat seperti biasa.
Bu Ida seperti menangkap kecemasan Diana. Masih tersenyum balas menggenggam juga.
"Ibu sehat kok nak..Dan kamu juga harus sehat selalu ya.."
. "Iya bu..Insya Allah.."
Kemudian wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Ternyata Adnan tidak mengingkari janjinya pada ibu. Dia benar-benar merawat dan menjaga kalian. Sekarang ibu sudah tenang.."
" Hee…hee.. iya bu..Terima kasih.."
"Sudah saatnya kamu bahagia.Jangan lagi dibelenggu masa lalu mu nak..!"
Mata Diana memanas.Entah mengapa dia selalu gampang mewek jika sudah di hadapan wanita bermata teduh ini.
Sementara Agnes memperhatikan interaksi kedua orang itu dalam diam.Dia bahkan tidak berniat untuk bergabung dalam obrolan mereka.
__ADS_1