MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
CEMBURU


__ADS_3

      


Sudah empat hari semenjak kedatangan Adnan ke rumah, Diana baru bernafas lega.Paling tidak dia mempunyai waktu senggang untuk menetralkan emosi dan gula darahnya.


    Diana baru saja dua hari bekerja dengan Blue Stone"s.Tapi David sudah memberi beban pekerjaan yang banyak untuknya.


     "Anda ingin membunuhku David. "


      "Tandanya kamu mampu di mataku.."


     "Anda mengatakan saya di tempatkan di bagian Data.Tapi mengapa justru jadi sekretaris"


      "Aku lebih percaya kalau kamu bekerja dekatku.."


      "Ku rasa, Agnes lebih pantas untuk ini.."


      "Kamu ingin dia selalu ribut denganku..?Dia cerewet melebihi nenek kami. " Sungutnya.Diana memutar bola matanya.


      "Hei..!!Jangan memutar bola matamu padaku.."


      "Sorry.."


       "Sekarang temani aku ke luar.Aku butuh bantuanmu.."


        "Apakah ada hubungannya dengan pekerjaanku..?


        "Oh..Ayolah..Aku juga ingin membelikan hadiah ulang tahun untuk si kembar.."


       Diana tertawa sambil geleng-geleng kepala mengikuti langkah bosnya itu.


"Aku harus menghubungi bu Ida dahulu..Takutnya nanti pulang agak telat.."


" oke.."


        Di seberang jalan, Adnan menatap tak berkedip sosok Diana dari kejauhan .Seolah-olah takut jika dia  tiba-tiba menghilang tiba-tiba.Pria itu bahkan  tanpa sadar  menukar posisi duduknya. Yang semula bersandar tapi sudah terdorong ke depan. Dia baru saja sampai dikota ini setelah tiga hari di kota B. Dia telah memutuskan langkah yang akan ditempuhnya


    Sudah jam delapan lewat sepuluh menit. Tapi wanita itu masih belum tanda-tanda akan pulang.


      Diana baru saja masuk ke sebuah bangunan.Tiba-tiba keluar bersama  seorang pria di sampingnya.Mereka terus berjalan hingga menuju ke sebuah supermarket.


     Adnan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuat Diana semakin kesal padanya.


       Adnan mengakui dalam hati bahwa dia kejam saat itu.Tapi kalau boleh egois disisinya,  dia tidak punya pilihan selain perceraian mereka.Dan sekarang dia sadari itu adalah tindakan egois yang dia sesali seumur hidupnya.


     Adnan  berharap Diana memberinya maaf dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan meskipun dengan keadaan yang tidak sama seperti dulu.


    Dia sudah siap menempatkan dirinya sebagai pelampiasan kemarahan dan sakit hati Diana. Asalkan ada kesempatan untuk kembali walau satu berbanding seribu sekalipun.


     Sementara itu, Diana mengikuti  langkah David menuju sebuah toko.


     "Mengapa harus kamu yang membeli semua ini David ?Perlengkapan ibu yang mau melahirkan adalah kewajiban suaminya. Sedangkan dia  hanya mantan  sekretarismu  "


     "Memangnya kenapa..?Itu bukan masalah bagiku.Ingatkan aku juga sekalian ingin membelikan kado hadiah ulang tahun si kembar anakmu.."


     "Kamu tidak harus melakukan itu untuk anak-anakku.."


     "Ku rasa ,aku wajib.Walaupun harinya sudah telat.."


     Diana hanya geleng-geleng kepala.Bosnya ini adalah orang yang umik.Bagaimana mungkin orang yang dingin dan kaku di depan bawahan bisa begini tingkahnya di belakang.


    Melihat Diana hanya diam,Davit menaikkan alisnya.


    "Apa yang kamu pikirkan..? Cepat bantu aku memilih barang-barang itu.Oke..? Kenapa jadi lelet..?"


    Diana tidak menanggapinya kemudian berjalan menuju sebuah konter.


    "Pilih yang berkualitas.." Perintah David lagi.


    "Ya..iya.."


     Satu persatu barang mengisi troli belanja.Mulai dari selimut bayi, selimut dewasa, baju bayi ,pembalut, minyak telon, popok, kain bedong bahkan kereta bayi sekalian. Mata Diana melotot saat mengecek kasir menghitung belanjaan.Angkanya menyentuh seratus juta rupiah.Gila..Orang edan mana yang habis-habisan begini membelikan kado dan perlengkapan untuk ibu melahirkan sebanyak ini.Diana melihat kepada bosnya itu.

__ADS_1


    "Menurutmu ini tidak terlalu banyak David..?"


    "Apakah sudah cukup..?"


     "Hahh..?"


     Saat akan memasukan barang-barang ke mobil Diana bertanya.


     "David"


     "Mmh.."


     "Haruskah kamu melakukan ini..?Apakah dia tidak punya suami ?"


     "Tidak..Maksudku belum..Tapi secepatnya dia akan punya suami.."


     "Jawabanmu ambigu.."


     "Aku akan mengatakan padamu Kalau yang kamu tanyakan ayah anaknya..?"


     "Ya. Maksud itu.."


     David menatap tajam wanita di depannya itu .


     "Dengar wanita bawel…Ayah bayi itu adalah aku.."


     "Hah..?"


     "Ya ..Aku yang bikin dia hamil.."


     "Mengapa kalian tidak menikah..?"


     "Dia belum mau.."


     "Loh..?"


     "Karena dia itu kepala batu, persis kamu.."


     "Eh malah bawa-bawa aku .."


    Tingkah mereka berdua tidak lepas dari pantauan sepasang mata milik Adnan.Pria itu mengepalkan kedua tangannya.


Pada hitungan ke lima, melangkahkan kakinya menuju dua orang yang membuatnya resah itu.


     Diana dan David masih berbicara satu sama lain ketika merasakan udara membeku di sekitar mereka. Diana lebih dahulu menyadari saat melihat sosok Adnan menatap dingin pada mereka.


     Adnan  berdiri menjulang di sisi mobil. Wajahnya memandang sinis.Kedua orang itu.


    "Hebat Diana.Kamu bahkan melupakan tanggung jawabmu sebagai ibu.Lalu kelayapan dengan pria ini."


    "Hei bung..Jaga bicaramu.."


     "Kau yang diam brengsek.Apa kau tidak tahu wanita ini sudah mempunyai dua orang anak bayi.Yang saat ini menunggunya pulang."


     Nayla yang semula hanya diam, mulai terusik.


    "Apa maksudmu bicara begitu..Aku bukan orang yang harus berada dalam perintahmu.." Katanya kemudian.


    "Nayla..Kau ibu anak-anakku.Aku tidak membiarkanmu menelantarkan mereka.Walaupun kamu mempunyai hak penuh atas mereka.Aku tidak bisa membayangkan jika  kau akan tega ." Protes Adnan.


     David yang memperhatikan itu menghadang ke depan.


   "Hei apa-apaan nih.Siapa anda marah-marah di sini.." Bentaknya.


      "Bukan urusanmu.." Balas Adnan tak kalah garang


      "Kamu berani bilang bukan urusanku.? Wanita ini dari tadi bersamaku. Hei bung…Anda sendiri  siapa ? Sindiran telak.


    Adnan semakin beringas berniat menghajar wajah David. Namun urung ketika Diana balik menghadang.Tangannya melayang menampar wajah pria yang pernah jadi suaminya itu.


    Adnan terkejut.Bahkan David pun ikut terkejut.

__ADS_1


     "Diana..??" Tanyanya tak percaya.


    Diana menatap dingin.


    "Apapun  yang kau pikir tentangku..Seharusnya berpikirlah dulu tentang dirimu..!" Katanya pedas.


    Adnan terdiam sesaat.Matanya merah dan berkaca-kaca melihat ke segala arah.David yang melihat itu kemudian berkata.


     "Jangan mencari masalah bung.Kulihat kamu bukan orang yang tak terdidik.."


     Adnan terasa terbakar. Matanya nyalang menatap pria itu.


    "Dengar ..!Wanita ini adalah ibu anak-anakku. Tapi kau membuatnya lupa akan kewajibanya.."


     "Appa. .. ? Oh..Jadi kau mantan suami Diana yang brengsek itukah..?


     "Jaga mulutmu..Atau ku bikin kau terkapar di sini…! " Ancamnya..


     "Wow….Apa kau kira aku takut.? Oh ya..Mana wanita ****** yang mampu membuatmu berpaling dari kesayanganku ini..?"


     "Kau..Bukk !!!!!" Sekali pukul Adnan langsung membuktikan ucapannya.David langsung  dihajar. Tapi pria yang jadi lawannya itu bukan orang bodoh.Dia berkelit dan siap-siap akan membalas.


     Keadaan mulai kacau.Bahkan beberapa orang mulai terusik dan mendatangi mereka.


    Adnan  tidak suka menjadi pusat perhatian. Tangannya menggapai fan menarik tangan Diana  untuk menjauh dari sana.


    Diana menepis dengan kuat. .Sehingga kemudian tangannya dilepaskan.


    "Apa urusanmu mencampuri hidupku brengsek.Kau memang pria bar-bar.."


Teriaknya garang.Adnan menatap tajam.Kemudian tak kalah garang memuntahkan kata-katanya.


     "Urusanku jika itu menyangkut nasib anak-anakku…"


     Diana tertawa sinis.


      "Apa…? Kau bilang menyangkut  nasib anak-anakmu ?"


     "Ya..Dan sebagai ibu kamu harus menjaga kelakuanmu.Sehingga mereka tidak malu nantinya…"


     "Terima kasih sudah mengingatkanku…" Kata Naila sarkas


"Tapi aku tanya padamu.Apakah kelakuanmu dan keluargamu tidak brengsek..?" 


      "Diana..Aku minta maaf.Beri aku kesempatan untuk menebusnya.."


      "Ha..ha..ha..Apakah harus ku katakan.Bahwa kau dan keluargamu adalah manusia-manusia yang menjijikkan.."


      "Jangan terlalu memojokanku Dy.." Desisnya tajam.


     "Ohh..Mengapa orang brengsek berdarah dingin sepertimu merasa dipojokan…?"


    Adnan terdiam dan menatap nanar.Sementara David memperhatikan dalam diam.Namun sikapnya waspada.


 Diana melanjutkan lagi kata-katanya


    "Ingat..! Jangan lagi mengajari aku tentang apa yang harus ku lakukan.Karena kau bukan siapa-siapamu…"


    "Diana…Aku minta maaf.."


        "Cukup…..Dan ingat !


    Surat perjanjian sebelum kita bercerai masih ku simpan rapi…Jadi secara hukum kau sudah melepaskan hak atas anak-anakku.


     Wanita itu kemudian melangkah menjauh darinya.Meninggalkan Adnan yang masih tertegun tanpa kata-kata. Ucapan Diana seperti belati menusuk jantungnya.


    "Aku tidak akan menyerah Diana..Tidak sekalipun…."Bisiknya lirih.


     Diana mendengus.Tiba-tiba sangat lelah.Menoleh kepada David.


    "Tolong antarkan saya pulang.Anak-anak saya menunggu.."

__ADS_1


     David hanya mengangguk.Lalu beranjak menuju mobil.


    


__ADS_2