
Sementara itu di rumah bu Ida juga tidak kalah berdukanya.Wanita itu terisak isak di kursi rodanya.Dia tidak menyangka kalau akan mendengar berita yang menyedihkan ini. Perasaan putus asa karena kondisinya dan kondisi Diana membuat mentalnya drop. Berbagai pikiran buruk mengganggunya.
Hingga beberapa hari kemudian, wanita itu lebih banyak melamun. Art bahkan bingung karena makan apapun tidak beliau sentuh lagi. Setiap hari hanya menelpon Agnes, atau Adnan. Pria yang pernah jadi suami Diana ini malah tidak pernah sekalipun menjawab panggilannya.
Dalam keterbatasannya karena duduk di kursi roda, dia selalu ingin mengetahui kondisi terkini wanita yang sudah dianggap anak kandungnya itu.
Tidak pernah ada firasat sebelumnya. Ketika dia sudah berharap Diana cepat pulang karena semalaman tidak pulang.Bu Ida tidak mengetahui alasan Diana sebelumnya.Dia hanya menyangka karena pekerjaan lembur bersama Agnes dan David.
Ketika mendapatkan berita sehari setelah kejadian naas yang menimpa Diana.Wanita itu sangat keras kepala hendak menyusul ke rumah sakit segera.Walaupun harus mengayuh kursi rodanya sekalipun.Art tidak kehilangan akal, lalu meminta bantuan dua orang tetangga untuk mencegahnya. Semua juga tahu kondisi bu Ida tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Diana saat itu berada dalam keadaan koma, dan masih dalam penanganan ketat . Selain anggota medis yang menangani, siapapun tidak diizinkan berada dalam ruangan emergency itu.
Namun bu Ida bukanlah wanita yang gampang dibujuk dan emosinya jadi berlebihan. Sehingga membuatnya terkulai pingsan.Kejadian itu membuat art kalang kabut minta pertolongan pada tetangga.
Kondisi hampir sama terjadi pada Adnan. Dia hampir tidak bisa menahan emosinya, apalagi ketika teringat bajingan itu melakukan perbuatan jahatnya pada Diana.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, pria itu terus menggenggam tangan Diana.Namun ketika akan memasuki ruangan langkahnya ditahan.Dia dilarang masuk.Padahal Adnan yang terus mendampingi hingga ke sana.
Dengan berat hati dia melepaskan genggaman tangannya.Bagaimanapun juga, dia harus menahan diri untuk tidak menerobos masuk ke ruangan penanganan khusus.
Namun saat dia melakukan itu, tiba-tiba Diana membuka matanya.Menatap sayu pada pria itu.
Adnan tercekat.
"Mas…"
"Ya. Sayang…Ya..Mas di sini.." Sahutnya sambil berlinangan air mata.
Diana berupaya mengumpulkan kesadarannya yang perlahan-lahan mulai menghilang.
"Mas ..tolong…Titip anak-anak..tolong…!" Ucapnya yerbata-bata.Selanjutnya kedua pelupuk mata wanita itu terpejam. Sebutir air mata jatuh di pipinya.
Adnan menjadi sesak seketika.Dia mencoba memanggil walaupun suaranya tercekat .
"Diana…"Panggilnya dengan tangisan.
Pria tinggi yang biasanya kalem dan dingin itu bahkan melupakan kharisma yang selalu melekat di dirinya selama ini. Adnan tidak mengacuhkan penampilannya yang awut awutan. Beberapa percikan dan tumpahan darah Diana yang menempel di baju dan tangannya.Apalagi kalau melihat ke wajahnya.Orang akan bergidik ngeri.Mata pria itu merah disertai linangan air mata yang dibiarkan mengalir begitu saja. Adnan tidak peduli apa arti pandangan orang-orang kepadanya Mereka yang selalu ingin tahu tentang dirinya. Tapi Dia tidak peduli..
Seorang perawat kemudian mendorong Diana menuju kamar operasi.. Dilepas tatapan pilu pria itu.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka selesai. Tapi belum diizinkan menjenguk. Diana berhasil diselamatkan untuk sementara waktu, walaupun berkantong-kantong darah,inpus dan selang oksigen di salurkan ke tubuhnya.Tapi dia masih harus di pantau setelah operasi pertama.Tulang rusuknya patah dan mengenai organ dalam.Namun pada operasi pertama belum bisa menuntaskan seluruh nya.Mereka harus berhenti sejenak.Karena tidak mungkin melakukan bius total terlalu lama pada pasien. Mereka menunda dulu untuk operasi kedua.
Namun ketika melewati operasi kedua, tubuh Diana sempat mengalami drop lagi.Alhasil membuat orang-orang dekatnya diliputi kecemasan kembali.Adnan, Erick, Agnes dan David. Mereka hampir histeris seketika, ketika tekanan darah wanita bermata indah itu turun secara drastis hingga mendekati 70/60 mm hg.
Keadaan menjadi begitu menegangkan.Saat itu semua orang-orang itu sudah merapalkan doa-doa mohon keselamatan pada Allah.Hampir semuanya berada di ambang cemas dan putus asa.
Adnan beberapa kali berjongkok, lalu berdiri lagi .Pada puncak kekhawatiran, dia memukulkan kepalan tangan nya ke dinding. Kejadian masa lalu kembali membayang di matanya. Bayangan wajah Diana yang menderita mengiris ulu hatinya.
"Maafkan aku Diana…maafkan aku..hiik..hiik.."
Berkali-kali menyesali atas kejadian-kejadian yang telah lalu, membuatnya membuatnya telah banyak kehilangan waktu dan kesempatan.Dia tidak layak disebut lelaki. Pria itu sangat membenci dirinya. Dia merasa selalu terlambat dan lalai melindungi orang yang dicintainya.
__ADS_1
Lama terduduk di ruangan tunggu, beberapa kali matanya melihat ke ruangan operasi tempat Diana dibawa.Pikiran Adnan hanya terfokus pada ruangan itu dan seseorang yang dicintainya, terbaring tak berdaya di sana. Dia bahkan tidak berani berandai-andai pada suatu kemungkinan terburuk. Hanya akan membuatnya menangis kesakitan
Pikirannya hanya berfokus pada Diana. Dia bahkan hampir mengabaikan panggilan telepon dari ibunya saat itu.
Adnan tidak merasa ingin tahu.Entah dari mana ibunya mengetahui berita kecelakaan yang menimpa Diana. Agak enggan dia menyahut panggilan ibunya itu.
"Adnan..Ibu mendengar bahwa wanita itu kecelakaan. ."
"Ya.." Jawabnya menahan suaranya agar tidak bergetar.Emosi yang susah payah di tahan kembali bergemuruh.
Adnan menyangka bahwa ibunya akan menyampaikan keprihatinan dan rasa sesal atas apa yang telah terjadi.Namun beberapa percakapan selanjutnya,membuat darah di kepalanya hampir mendidih.
Wanita yang dia panggil ibu dan selama ini sangat dijunjung berkata dengan sengit.
"Kamu tahu Adnan..? Itu akibat kekurang ajarannya pada keluarga kita.Wanita itu kualat.."
Adnan menggeram kuat. Dia hampir saja membanting telepon, jika tidak ingat saat itu berada di rumah sakit.
"Adnan..?Halo..? Mengapa suaramu aneh begitu..?"
Beberapa saat dia mencoba menahan ledakan yang akan sia tumpahkan. Namun suara di seberang sana seperti berbahagia atas kemalangan Diana.Sedangkan dia di sini setengah mati berdoa ,agar Tuhan menyelamatkan orang yang dia cintai itu.
"Hallo..Adnan..? Kamu masih mendengar ibu. Sebaiknya kamu bawa saja anak-anakmu.Biarkan dia dengan nasib sialnya. Dia hanya akan membawa masalah pada kita…"
"Cukup ibu..Sudah terlalu sering diperingatkan.Jangan lagi mengatakan hal-hal yang buruk tentang Diana.Bahkan untuk mengatakan satupun kata .. Kalau ibu tidak akan membantu sedikit juga"
'Loh..loh ..Adnan , ibu kan hanya mengatakan hal yang benar.."
"Benar dimana..? Benar apa..??" Bentaknya keras.
"Kalian…Kalian adalah manusia-manusia kejam dan merasa benar menurut versi kalian.Demi Tuhan…Aku benci sekali karena telah menjadi bagian dari kalian.Keluargaku yang egois, tak berperasaan dan angkuh.Aku tidak tahu..Sampai kapan Tuhan akan menunda hukumannya untuk keluarga kita .Yang ibu jelek-jelekan itu adalah wanita yang kucintai..Ibu dari anak-anakku.Dia wanita baik-baik tang pernah kunikahi.Tapi demi baktiku pada keluarga kita, aku menyingkirkan .Padahal saat itu sedang hamil. Dia sangat menderita disaat kita berpesta ."
Beberapa saat pria itu jeda. berbicara.Karena isakan tangisnya tak bisa ditahan lagi. Sementara di seberang hanya terdengar hening. Adnan sudah kepalang tanggung.Pria itu menuntaskan beban perasaan yang ditanggungkannya.
"Aku tidak tahu sebesar apa ibu tidak menyukainya. Aku tidak peduli. Tapi disaat sekarang dia bertarung dengan maut, ibu masih saja mengeluarkan umpatan untuknya. Tanyalah dirimu ibu..?!! Kamu manusia atau bukan.." Adnan tersendat menahan tangisnya.
"Adnan..Mengapa bicara seperti itu pada ibumu. Kamu seperti kehilangan akal karena wanita itu.."Teriak Marlena.
"Berhentilah mengoceh apapun tentang dia.Ingat ibu.!.Engkau juga punya anak perempuan.Bagaimana kalau dia mendapatkan perlakuan buruk dari mertua dan suaminya.?"
"......" Tidak ada jawaban dari seberang.
Adnan hampir mematikan segera hubungan telepon. Dia tidak sanggup meneruskan percakapan ini lagi.Di saat emosi sedang tidak terkendali dari kepalanya.Bagaimanapun Marlena adalah ibunya.Wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.Walaupun begitu, sedikit perasaan muak dan benci mulai dirasakan pada wanita itu.Pada akhirnya dia berkata.
"Ketahuilah ibu…Jika saat ini dia tidak bisa diselamatkan.Maka aku bersumpah akan menghilang selamanya dari kalian.."
Dia segera menutup telepon.Untuk sesaat menekankan dahinya pada dinding. Pria itu melampiaskan kesedihan hatinya dengan menangis tersedu sedu.
Cukup lama dia bertahan pada posisi itu.Setelah berhasil menguasai dirinya,lalu duduk di kursi ruangan tunggu.
Dia baru saja hendak melangkah menjauh.Tapi kesibukan yang tidak biasa membuatnya jantungnya terasa berhenti berdetak.
__ADS_1
Apalagi ketika kesibukan itu terlihat semakin terlihat di ruang tempat Diana dirawat.Beberapa ahli medis terlihat berlarian. Masuk ke sana.Adnan ingin mereka memberitahukan sesuatu padanya.
Namun wajah mereka terlihat sangat tegang.
Adnan merasa mulutnya kelu dan wajahnya semakin pucat.Susah payah menahan diri agar tidak menerobos ke dalam .
Cukup lama waktu berlalu.Dan Adnan terlonjak dari duduknya ketika salah seorang dari tenaga medis itu keluar.Pria itu mencoba menenangkannya.
"Kami akan melakukan yang terbaik tuan Adnan. Jadi tolong tenang lah."!Katanya kemudian.
Adnan hanya diam menatap terluka.Tiba-tiba pria tampan berkharisma itu luruh bersimpuh ke lantai.Pemandangan ini cukup mengejutkan bagi Agnes dan Erick yang baru saja sampai di sana.Dokter itu menjadi salah tingkah.
"Tuan Adnan..??" Tanya dokter itu canggung.
Adnan mengumpulkan semua isi pikirannya.
"Dokter..Saya mohon..Tolong selamatkan dia..Selamatkan orang yang sangat saya cintai. Ibu anak-anak saya..Saya berjanji , akan membalas kebaikanmu sampai ke anak cucu saya nanti.."
Adnan tidak menutupi lagi sisi paling lemah dirinya.Dia menangis pilu .Tubuh tingginya bergetar menahan perasaan takut dan cemas yang hampir membunuhnya.Suara tangisannya sangat jelas terdengar.
Dokter itu berdehem.Pria klimis berpakaian medis itu berusaha me etralkan suaranya.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin tuan Adnan. Tolong bantu dengan doa, selagi kami bekerja. Saya tahu bahwa wanita itu sangat berharga .Tapi tolonglah mengerti, kami hanya manusia.Di samping berusaha kita juga harus berserah pada yang di atas…" Kata dokter itu takzim.
Semua orang di sekitar mereka manggut-manggut mengerti. Erick mendatangi Adnan. Pria itu terlihat sangat kacau dan mengenaskan.Bahkan Erick tidak yakin kalau dia sudah makan satu hari ini.
Walaupun dulu sangat membenci pria busuk ini, namun dia tidak bisa menutup mata akan keseriusan Adnan dalam menebus rasa salahnya pada Diana.Seandainya bukan demi si kembar Said dan Savana, Erick akan tegas menjauhkan Diana dari Adnan .Apalagi keluarga toksiknya yang memuakkan
Namun di saat ini, dia harus berkompromi dengan egonya. Tidak ada gunanya memberi pelajaran pada orang yang sedang menderita..Di saat ini adalah titik terendah dari pria itu. Adnan tanpa malu,menunjukkan sisi lemah dari dirinya.Yang selama ini terbungkus dengan rapi di balik wajah dingin dan angkuhnya.Melihat perwujudannya saat ini, pria dingin dan kaku itu sudah berubah sangat lembek.Bahkan seandainya Erick menghajar, dia yakin tidak akan ada perlawanan dari Adnan.
Dokter itu pun tidak kalah kaget.Mungkin kalau orang biasa yang bersimpuh di kakinya, dia bisa memaklumi. Tapi seorang Adnan yang berasal dari keluarga Djaelani yang sangat memuliakan diri? Sungguh ini adalah pemandangan yang langka.
"Bangunlah Adnan..Biarkan dokter dan perawat bekerja.Bagaimanapun kita harus mempercayakan Diana pada mereka.Sebaiknya kamu pergi dulu istirahat dan bersihkan dirimu.." Tegur Erick.Walaupun dia pria, namun tangisan Adnan membuatnya tersentuh juga.
Adnan masih terisak-isak.Bahu kekarnya terlihat lunglai. Mata merahnya sudah hampir tertutup sembab .
Beberapa saat kemudian mulai menguasai dirinya..Dia baru ingat bahwa semenjak Diana dikabarkan kritis, dia belum mandi sampai sekarang.Ini sudah memasuki hari ke dua.Bahkan dia lupa apakah sudah makan atau belum. Namun anehnya ,dia tidak merasakan lapar sedikitpun. Dia hanya mengkonsumsi air dan jus yang rutin dibawakan oleh orang-orangnya.
Adnan bangkit pelan dari posisi bersimpuh. Berusaha mengangkat wajah dan Agnes masih terpana. Walaupun juga terasa sembab di mata sahabat Diana itu.
Dalam sedih dan kecemasannya, Agnes merasa hari ini adalah pemandangan yang sangat langka.Di mana seorang Adnan yang dingin dan berwajah datar, merendahkan dirinya. Bersimpuh dan memohon demi mantan istri yang telah dia buang beberapa tahun yang lalu.Seandainya bukan dalam situasi yang tegang ini, Agnes sudah pasti akan mengejek nya habis habisan.
Tak cukup sampai di situ. Mungkin dia bisa menjadi youtuber . Lalu tanpa kasihan akan merekam momen-momen ini dan memviralkan ke media sosial.
Sayangnya Agnes bukanlah seorang wartawan gosip atau seorang konten kreator. Dia bahkan tidak tahu cara mendapatkan cuan dari menyebarkan berita-berita langka di media sosial.
Lagi pula siapa yang berani datang ke lantai ini hanya untuk cari gara-gara .Tidak akan ada yang dibolehkan menginjak lantai ini selain mereka yang punya hubungan dengan Diana.
.Bahkan beberapa bodyguard sudah siap sedia di pintu lift ataupun di ruangan khusus perawatan Diana. Kalau ada yang sampai nekat, sama saja mengantarkan nyawa. Karena Adnan tidak main-main dengan ancamannya.Dia sudah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk bertindak sangat tegas.
Di samping itu, beberapa orang juga sudah disebarkan mencari informasi tentang penabrak sadis itu.Adnan punya firasat bahwa seseorang yang telah memerintahkan dari belakang layar. Dari beberapa informasi, dia sudah bisa menebak orangnya.Hanya tinggal waktu untuk menjebak dan menghancurkan bangsat itu.Adnan akan mempertaruhkan hidupnya demi melindungi Diana dan anak-anak.
__ADS_1