
Seharusnya dia tidak mengacuhkan lagi telepon dari wanita itu. Namun wanita itu tidak pernah bosan menarik perhatiannya. walaupun tidak ada pembicaraan yang santun dan baik di antara mereka. Membuatnya terpaksa mengalah menghadapi wanita yang sangat menyebalkan itu .
Diana sedang bersiap santap siang dengan kedua buah hatinya .Rasa dimsum yang manis pedas dan gurih meluncur di tenggorokannya . Sehingga membuatnya menaikan kedua alisnya ketika menemukan sensasi rasa yang dia cari.
Namun telepon genggamnya kembali bergetar.Mengetahui siapa penelponnya, dia berusaha tak mengacuhkan. Namun ketika deringnya berulang dan berulang lagi, dia terpaksa mengangkat juga.
"Kamu mau apa lagi Risa…" Tanya dia tanpa basa basi. Ekspresi jijik tidak disembunyikan dari wajahnya.
Namun si penelpon membalas tak kalah galak. Seperti meletakkan kesalahan di pundaknya.Dan harus menerima konsekuensi.
"Heh…Mengapa lama sekali baru angkat telepon ku…Kamu takut padaku…?" Sindirnya kemudian. Masih dengan gaya khas seorang Risa.
Diana tersenyum masam menanggapi. Bagaimanapun tenangnya dia.Risa adalah satu-satunya manusia yang selalu ingin membuatnya kehilangan kontrol emosi.Yang sebaiknya harus dihindarkan sekarang. Mengingat setiap melakukan kontak selalu berakhir tidak baik.
"Ternyata hidupmu sangat kesepian Risa. Begitu gigih menghubungiku setiap saat.Padahal kamu tahu kita bukan dia orang teman yang saling menyukai.."
"Cih..Aku Pun tidak akan sudi bicara denganmu kalau tidak terpaksa.."
"Oke Sekarang katakan apa maumu sebelum rasa mualku melampaui dada.."
Dia sudah berusaha melatih dirinya untuk tenang dan sabar dalam menghadapi setiap gangguan pada dirinya. Tapi sekarang, perasaan kesal mulai menguasainya. Kesabarannya selalu menipis jika berurusan dengan ular beludak ini. Diana bahkan sempat berpikir seandainya dia lebih sehat dan berada langsung di hadapan wanita ini. Agar dia bisa menampar mulutnya.Atau setidaknya menendang tulang kering wanita tak berotak satu ini.
"Haa..haa.. Entah mengapa saat kamy kesal padaku aku sangat menikmatinya.."
"Siapapun akan kesal dengan manusia menyebalkan sepertimu.."
"Apakah kamu takut merebut kebahagianmu kembali..?"
"Deg.." Susuatu yang menyakitkan mengingatkan Diana pada peristiwa tahun-tahun silam.
Berusaha mengontrol getaran suara karena kekesalannya. Diana menanggapi ucapan tajam wanita itu.Sesaat menghela nafasnya lalu membalas sapaan yang mencela itu.
"Mengapa aku harus takut pada manusia busuk..? Apakah kamu sesuatu yang pantas ditakutkan…? "
"Buktinya, kamu bahkan berusaha mengelak pembicaraan denganku.."
"Karena kau tidak penting Risa…Aku angkat atau tidak teleponmu, itu urusanku. Memang sejak kapan sampah sepertimu penting bagiku hah..?"
"Oh ya..? He..he..Aku kasihan denganmu Diana.Ternyata kecelakaan naas itu membuatmu jadi sensitif sekali.."
"Sebaiknya berhentilah mengoceh kalau tidak perlu.Kau hanya buang-buang waktuku.." Kata Diana mulai jengah.
"Oke..Kalau begitu cepat lakukan yang ku suruh..!"
"Eh..Manusia tak ada otak Kamu benar-benar kotoran yang mengganggu .Membuat orang sesak bernafas. Mengapa kamu tidak menyingkir dariku secepatnya..hah..?"
"Kamu takut padaku..Diana..? He..he..Memang sudah seharusnya kamu takut dan tahu diri.."
"Aku..?? Aku takut padamu. Aku hanya sadar bahwa jelatang sepertimu harus dijauhi secepatnya. Karena hanya brengsek seperti kamulah yang membuat orang tidak nyaman menjalani hidupnya.."
Diana mulau mengeluarkan kemarahannya.Hingga Risa meradang dan melupakan niatnya semula yang harus membujuk Diana baik-baik.
"Kau kira kau siapa berani menghinaku sialan ..?"
" Aku siapa..? Apakah belum jelas juga aku ini siapa..? Dasar idiot.."
"Tutup mulutmu..Apakah kau ingin ditabrak lagi..?!" Pekiknya meradang.
Rasa sakit hati mempengaruhi Diana.Seberapapun mencoba memahami , tetap tidak pernah mengerti dengan pemikiran egois seorang Risa.Dia seolah-olah berlaku seperti korban di sini.
Diana tidak ingin menjaga lagi ucapannya.Baginya sudah tidak perlu lagi bertenggang rasa pada seorang Risa. Wanita itu sudah tidak ada obat lagi untuk berubah baik.
"Apakah kamu yang jadi dalang di balik tabrak lari yang ku alami..?"
"Hee…hee. Menurutmu..?"
Rusa cengengesan tanpa rasa bersalah.Diana menghela nafas menenangkan kemarahannya.Beberapa saat kemudian dia mulai melemparkan kata-kata berapi-api dari mulutnya.
"Kau memang luar biasa Risa..Aku salut dengan mental setanmu. Kau tahu hukuman yang pantas untukmu..? Kau bahkan pantas dikremasi dalam keadaan hidup-hidup.Agar setan di tubuhmu juga ikut hangus terbakar.."
"Kurang ajar.Beraninya kau..." Pekik Risa marah.
"Terima kasih.."
"Kau menghinaku..Sepertinya sudah lupa dengan rasa sakit yang kamu derita saat terbaring sekarat di aspal panas"
__ADS_1
Namun Dia hanya menanggapi dengan santai.Dia sudah berhasil krmbali mengontrol emosinya.Bahkan dengan gembira seperti menemukan sesuatu untuk mempermainkan emosi Risa.Sebagai pelampiasan kekesalan dan marah akibat kejahatan Risa padanya.
"Oh.Mengapa merasa terhina..??Mengapa baru merasakan sekarang..?Seharusnya dengan karakter manusia jahat dan bejat sepertimu , kau sudah tidak lagi merasa terhina.Karena otakmu bebal. "
"Cukup.!" Teriaknya.
"Kalau sudah cukup , maka tutuplah telepon mu bodoh.." Bentak Diana tak mau kalah.Tangannya bergerak ingin mematikan telepon.Namun urung ketika terdengar lagi suara di seberang.
"Tunggu..!"
Diana tersenyum sinis.Risa benar-benar memuakkan.
"Apalagi..?"
Risa terdiam sebelum melanjutkan sesaat.Tak lama kemudian terdengar suaranya agak lembut.
"Oke..Aku ingin kompromi denganmu.."
"Tak tertarik.."
"Hei..Dengarkan dulu..?"
"Kau berisik.."
"Diana..!!" Serunya buru-buru.
"Apalagi maumu..?"
"Kau harus membujuk dia atau siapapun itu agar tidak lagi mempersoalkan kejadian penabrakan itu. "
"Apa..?"
"Anggap saja sedang sial.Toh kamu sekarang baik-baik saja.."
Diana mendengus sinis saat mendengar gaya manipulatif khas Risa. Jangankan minta maaf, menunjukan rasa bersalah pun tidak.
Diana tidak bisa menahan tertawanya yang ngakak kencang.Walau sesungguhnya di dalam hati sangat panas.
"Haa…haa….Risa..Risa..Tahukah kau? Saat ini aku ingin sekali membelah tengkorakmu lalu mencuci otakmu sampai benar benar bersih.Agar cara berpikirmu lebih manusiawi.."
"Mengapa kurasa semakin kesini, kamu semakin lucu Risa. Aku jadi ragu..Sebenarnya kamu itu normal atau tidak hah..?Atau kamu memang dilahirkan dengan kepribadian bebal dan egois?" Sindir Diana.
"Aku tidak peduli.Pokoknya kamu harus mengatakan pada orang itu untuk menghentikan aksinya.."Kata Risa semakin ngotot.
"Kamu kira siapa kamu memerintahku..?Bagaimana kalau aku menolak..?"
"Kamu harus melakukannya..!"
"Siapa kamu.."
"Berpikirlah secara luwes Diana..!"
Tekanan suara Risa yang mencoba mengintimidasi Diana. Hatinya semakin gelisah ketika menyadari pribadi Diana yang sangat keras .Namun Diana melanjutkan tanpa peduli.
Akan halnya dengan Diana, semakin lama semakin kesal berbicara dengan Risa. Wanita ini sangat mahir mengelak dati kesalahan, lalu berusaha memojokkan seseorang yang telah jadi korbannya. Cukup membingungkan juga menghadapi wanita ini.
"Terserah..Tapi perlu ku ingatkan kamu lagi.Jangan coba-coba menyudutkanku Risa Bukankah seharusnya kamu harus menyerahkan diri pada polisi..?
Dia semakin tidak mengerti dengan pola berpikir wanita yang pernah menghancurkan pernikahannya dulu.
"Aku tidak butuh nasehatmu. .."
"Kalau begitu berhentilah menghubungiku..!"
"Sebaiknya kamu laksanakan apa yang ku suruh..!"
"Mengapa..? Apakah kamu mengaku sekarang bahwa kau adalah iblis yang merekayasa kecelakaan untukku kala itu.? Ciih…"
"Sudahlah..!!..Tapi kamu baik-baik saja sekarang, bukan ?Jadi seharusnya tidak perlu diperpanjang lagi. Aku akan mengganti dengan uang semua biaya pengobatan.."
"Apa katamu ,baik-baik saja…?? Haa..haa…Risa.Aku belum pernah bertemu dengan manusia angkuh dan tak punya perasaan sepertimu…"
"Sebaiknya kamu lakukan saja itu. Lagian kamu tidak punya bukti tentang keterlibatanku..Bisa jadi perbuatan orang iseng.."
Diana benar-benar dibuat geleng-geleng kepala dengan wanita satu ini. Sungguh membutuhkan energi dan kesabaran tingkat dewa dalam menghadapi kekurang ajarannya.
__ADS_1
"Lalu apa yang kau gelisahkan.Apa jangan-jangan kamu sekarang sedang dihantui dosa-dosamu.? Kau hanya mengganggu ketenanganku setelah berbuat kotor padaku. Ingat Risa…Ada sisi gelapku yang belum kuperlihatkan padamu…Jadi ,selagi aku masih bersabar, Kamu kontrol kelakuanmu..!"
"Kau… "
"Kamu tahu apa pandanganku tentang dirimu Risa..?"Diana menjeda perkataannya sejenak.
"Kamu picik, kirik dan egois.Bagimu cuma kamu yang berhak bahagia.Tidak peduli penderitaan orang akibat ulah. "
"Jangan sok menilaiku..Kamu sendiri bahkan dibuang oleh suamimu.."
" Oh ya…? Aku justru berterima kasih sekarang. Aku bisa membuktikan kalau aku bisa bahagia tanpa suamiku.Dan satu lagi kamu catat.Aku bahkan bisa membuat Adnan menyesal melepaskanku dan mengemis ingin kembali padaku.Dia tidak mungkin melakukan padamu bukan..?"
"Cuih…Sok berharga..Kamu hanya melakukan untuk menyenangkan hatimu sendiri.Kamu bahkan tidak ada satupun yang bisa untuk bersaing denganku.."
"Haa..haa..Aku memang berharga Risa..Mau bukti..? Cobalah tanyakan pada mantan suamiku atau mantan suamimu itu. Mana yang berharga antara kamu dengan aku.Hee..hee..Bahkan setelah seringkali ku tolak Adnan tidak juga jera mencoba dekat denganku lagi. Tapi bagaimana dengan dirimu…? Apakah terakhir kali ini pernah dicari mantan suamimu kembali…? Haa..haa..Yang ada kamu mencari-cari jalan untuk dekat kembali dengan dia. Padahal dia jijik dan sudah melupakanmu.Ternyata kau tak ada harganya di mata dia Risa.Tapi sayang sekali.Manusia yang tidak punya urat malu sepertimu tidak tahu diri.Selalu merasa hebat padahal orang-orang sudah menghinakanmu.."
"Brengsek. ."
"Teruslah memaki.! Karena itu cocok dengan manusia bejat sepertimu.Kamu jelmaan siluman ular.Jangankan pada orang lain.Bahkan untuk anakmu saja kau tidak pantas disebut ibu.." Cecar Diana tanpa ampun.
Tidak ada jawaban.Risa seperti kehilangan kata-kata untuk menjawabnya. Tidak ingin berlama-lama, Diana langsung menutup telepon. Dia sudah memuntahkan isi hatinya , dan tidak ada gunanya diteruskan lagi.Karena meladeni Risa hanya akan membuat gula darahnya melonjak.
Risa merasakan kekurangan oksigen sesaat. Sekilas otaknya mencerna. Ada sedikit kesadaran bahwa semua ucapan Diana itu benar adanya.Tapi sebentar kemudian dia mementahkan lagi pikiran itu.Tidak ada waktu lagi untuk berpikir banyak.Karena batas waktunya sudah hampir tiba.
Risa memutuskan bahwa dia harus mendapatkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.Apalagi sekarang, menemukan jalan cepat untuk melarikan diri lebih baik daripada merasa menyesal. Dia harus terus melangkah.
Dia memejamkan matanya rapat-rapat mencoba memikirkan cara yang tepat.Dia harus segera memutuskan sesuatu jika tidak berakhir konyol di sini.Bagaimanapun perbuatannya sudah terendus oleh seseorang.Seseorang yang pasti mempunyai hubungan dengan Diana. Dan dia sudah memastikan kalau hal ini akan digunakan untuk semakin menekan mentalnya.
Dua tiba-tiba tersenyum cerah. Wanita itu menemukan solusi dari semua ini.Uang..Ya..Uangnya selalu bekerja untuknya.Hanya perlu ke luar dari negara ini secara diam-diam, lalu hidup di luar negeri beberapa tahun .Setelah sebelumnya melakukan plastic surgery pada keseluruhan wajahnya .Menukar identitas dan bersikap seolah-olah Risa yang lama sudah tiada.Bukankah beberapa situs hitam banyak menyediakan jasa untuk itu..?
Beberapa saat kemudian ,dia mengangkat telepon menghubungi ayahnya.
"Ayah ..Aku akan ke luar negeri…"
Terdengar tanggapan singkat dari ayahnya. Risa juga tidak ingin berpanjang-panjang cerita. Karena beberapa ekspos tentang dirinya semakin ramai diperbincangkan.Membuat kuping panas dengan komentar-komentar pedas tak berperasaan..Bahkan ada diantara komentar yang tidak beretika.Meski kalau dipikirkan kembali, sesungguhnya komentar -komentar itu pantas disematkan untuk orang yang mempunyai kelakuan seperti Risa.
Seperti beberapa komentar yang sempat terbaca olehnya. Mau tidak mau menimbulkan rasa sakit hati.
"Apakah sensasi permainan ranjangmu begitu menggairahkan seperti di video nona.? Aku ingin menjajal mu segera..Tinggalkan nomormu.Atau kamu Inbox aku.
"Aku bahkan bisa membayangkan rasanya, jika bagian-bagian tertentu dari tubuhmu jika ku sentuh..Mungkin aku tidak akan cuci tangan selama seminggu"
" Sangat liar,.Aku tidak tahu apakah harus memanggilmu nona atau nyonya. Karena kamu ternyata wanita beranak satu yang tak bersuami.Bahkan kamu tidak tahu siapa ayah anakmu…"
Risa tidak ingin lagi melanjutkan membaca komentar-komentar tak bermoral menurutnya yang merasa lebih bermoral (he..he..hee).
Tapi tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha.Dia segera menyiapkan koper dan surat-surat penting.Termasuk pasport, berbagai kartu uang dan beberapa gepok uang. Tan menunda lagi langsung hengkang ke bandara.
Sebuah notifikasi kembali terdengar.Membuat Risa terlonjak panik.Suara dingin dan menyeramkan itu kembali terdengar.
"Apakah kamu sudah memutuskan sekarang..Seharusnya pakai otakmu untuk melakukan tindakan yang bisa memprovokasi.Aku tidak bercanda denganmu.."
"Kau..brengsek…Berhenti menekanku..".
",Kalau begitu aku akan menghancurkan perusahaanmu"
"Kamu kira , kamu itu siapa brengsek..!"Makinta kemudian.
"Kamu hanya boleh mengikuti perintahku wanita sialan.." Pria di dalam telepon balas memakinya.
Risa sangat geram Namun dia sadar bahwa posisinya tidak memungkinkn untuk belagak sebagai nona besar pada orang tersebut. Dia pikir mungkin lebih baik memblokir nomornya.Tapi kemudian menjadi ragu apakah cara tersebut lebih efektif atau malah akan menghancurkan untuknya.
Risa Pun terdiam.Karena bagaimanapun dia akan kalah jika terus menentang orang itu Namun berbekal keyakinan diri, dia yakin akan segera berhasil menyembunyikan diri. Masalah perusahaan Danuarta biarlah ayahnya yang menangani.Sebelumnya, dia menonaktifkan semua jaringan komunikasi di perangkat gadget mahalnya.Untuk sementara akan memutuskan kontak dengan siapapun Termasuk ayahnya.
Dia bergegas menyeret kopernya menuju jalan keluar. Dia cukup lega begitu sampai di bandara tidak ada satupun gangguan untuknya. Bahkan saat take off menuju negara S untuk transit menjelang sampai di negara tujuannya.
Dia cukup leluasa dan nyaman saat dia membeli beberapa cemilan di te
beberapa toko makanan. Namun sesekali dua memperhatikan sekeliling, dan merasa lega karena tidak ada yang mencurigakan. Hanya kebetulan hampir bertabrakan dengan seorang pria yang berlawanan arah dengannya.Selebihnya hanya pergerakan biasa dan tidak terlihat seorang pun yang mengikutinya.Risa menjadi lega.
"Ternyata hanya gertakan mereka saja.." Gumamnya kemudian.
Dia pun berjalan santai menuju gate terminal tujuannya.Dengan kacamata hitam dan maskernya, dia sangat percaya diri karena tidak akan ada yang mengenalinya. Risa merasa lega seketika.
__ADS_1