
Beberapa menit sebelum kedatangan Diana.
Sofia begitu takjub saat memasuki rumah bu Ida.Jika sebelumnya dia sudah mengagumi dua orang yang berdiri di luar, namun itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan sosok pria di depannya.Satu kata yang pas.Sangat berharga.
Perasaan ingin tahu yang besar tidak bisa ditutupinya..Dia terpesona saat melihat seorang pria yang duduk memangku kedua anak-anak Diana.
Seketika Sofia bahkan tega menyingkirkan bayangan Tasman, sang pacar dari ingatannya.
Pria yang tampan dan bertubuh tinggi.Yang biasanya hanya bisa dilihatnya di iklan-iklan ataupun sampul majalah .Sofia tidak ingin buang kesempatan.Bermodal tubuh montok dan wajah cantik menurut versinya, dia rasa dia cukup memadai.
"Kenalkan saya Sofia.." Dia nekat mengulurkan tangannya.Namun harus menelan kecewa ketika Adnan hanya menanggapi dingin.
"Mmh…"Sahutnya sambil menganggukan kepala.Tanpa senyum apalagi salaman.Pria itu malah sibuk membenarkan jepitan rambut Savana.
Tapi Sofia sudah kadung nekat dan tak punya malu lagi malah tebal muka langsung duduk di kursi yang kosong.Dia bahkan mengabaikan pandangan tak suka dari bu Ida.
Wanita paruh baya itu semakin risi lalu mencoba menegur Namun terlambat beberapa detik, ketika Sofia lebih dulu mencoba pe de ka te.
"Mas apanya mbak Diana ya..?" Tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya.Adnan masih tak bergeming.Bahkan tidak menyembunyikan wajah dinginnya.
"Da..da..da…pff.." Terdengar suara Savana yang melonjak-lonjak sambil tertawa. Adnan menciumnya.
Dia tidak tertarik untuk berinteraksi dengan apapun saat ini.Apalagi dengan wanita asing di depannya.
Pria itu lebih senang meladeni ocehan dan tingkah bayi-bayi gembul di pangkuannya. Walaupun bahasa bayi tidak pernah dipelajari, tapi dia mengerti maksud anak-anaknya itu.
Said nyengir senang saat hidungnya di cubit ayahnya. Adnan seperti melihat dirinya dalam versi mungil di wajah anak itu..Dalam hati tak berhenti berterimakasih pada Tuhan karena sudah menjaga anak-anaknya tumbuh sehat dan rupawan.
Sampai sejauh itu, Adnan tenggelam dalam dunia yang dia ibangun sendiri Di mana hanya ada dia dan kedua anak kembarnya .
Sementara Sofia duduk dengan gelisah .Beberapa kali usahanya untuk menarik perhatian Adnan malah tidak dianggap.Tapi lucunya, dia masih betah duduk di sana.Walaupun hanya dianggap kursi kosong oleh pria itu.
Sofia memperhatikan dengan iri.Saat melihat kemesraan Adnan dan anak-anaknya "Seandainya…seandainya..Duuhhhh..! Diana kok beruntung sekali sih..?" Sungutnya dalam hati.
Pada dasarnya Adnan adalah orang yang acuh dan tak peduli .Apalagi terhadap seseorang yang tidak ada hubungan dengannya.Jangan heran jika sikapnya sangat dingin terhadap Sofia.Apalagi kriteria yang jauh dari wanita ideal Adnan.
Sementara bu Ida pura-pura sibuk membuka media sosial.Membaca berita yang lagi booming. Soal pelakor dan pebinor. Tapi pikirannya malah semakin ruwet karena mengharapkan Diana yang tak kunjung datang.
Sopiah masih duduk di sana Dia bahkan mengabaikan deheman dan pandangan tak suka dari orang-orang di sana.Apalagi bu Ida yang mulai jengah dengan tingkah lakunya yang tidak tahu malu.
Wanita itu semakin tidak betah di sana.Karena pakaian Sopiah dan bau parfum yang menyengat membuatnya tidak nyaman.
Tiba-tiba terdengar bunyi motor di halaman rumah. Satu senyum terukir di wajah bu Ida
Diana memasuki rumah dengan tenang.Walaupun bertolak belakang dengan perasaannya.
__ADS_1
Sebelumnya dia sudah membaca pesan dari bu Ida.Namun karena buru-buru, dia tidak sempat membalasnya.
Wanita itu menatap tajam sosok pria yang sedang memangku kedua buah hatinya.Perasaan marah dan ingin memaki, terpaksa di tahannya .Karena kehadiran bu Ida dan Sofia di ruangan itu.
Adnan hanya diam dan memperhatikan dengan intens. Pandangan matanya tidak berkedip. Bagaimanapun dia harus tenang, karena ada anak-anak yang bersandar manja di pangkuannya.
Suasana tiba-tiba mencekam, dan mencemaskan.
Semua tak luput dari perhatian Sofia. Penuh percaya diri dan tebal muka masih duduk di sana
Diana mulai terusik dengan kehadiran wanita itu.Walaupun mulai kesal, tapi dia mencoba mengontrol emosinya.
Diana memperhatikan Sofia dengan baju kebanggaannya .Kaos ketat plus celana skinny. Diana mulai muak melihat tingkah tak tahu diri tetangganya itu.Bahkan bu Ida Pun tidak menutupi perasaannya pada tingkah wanita itu.Tangannya menutupi hidung dari tadi.
Diana tahu bahwa beliau tidak nyaman dengan bau parfum yang menyengat milik Sofia.Bahkan dari tempatnya berdiri dia bisa mencium baunya.
"Duduk sini nak !.Ibu mau ke belakang dulu.Kepala dan perut ibu tak nyaman.."
Ibu langsung berdiri dan masuk ke dalam.Mungkin pura-pura sibuk di dapur.
Sofia memanfaatkan kesempatan untuk menegur Diana .Dengan tujuan menonjolkan diri.
"Kemana aja sih mbak ?Lama amat pulangnya "Introgasi Sopiah seperti ibu tiri.
( Gila.!Yang tuan rumah siapa sih..?)
Tak lama kemudian menoleh pada Sofia.Menunjukan otoritasnya sebagai pemilik rumah kepada tamu.
"Mbak Sofia Ada perlu apa ya mbak..?"tanyanya kemudian
Sopiah agak kaget karena merasa ditendang dengan kata-kata.
"Iih…gimana sih kamu ya.?Mas ini sudah dari tadi menunggu.Syukur aku temani.."
Diana mulai jengkel.Sepertinya tidak bisa terlalu dibiarkan wanita ini.
"Saya bertanya sama mbak Sofia.Mbak ada perlu apa ke rumah saya..?"
"Saya…"Sopiah gugup.
Diana mulai gerah dengan tingkah tetangganya itu.
"Kalau tidak ada, saya minta maaf ya..Karena saya ada urusan yang harus dibicarakan dengan tamu saya.Jadi saya minta mbak keluar dulu..!"
Sofia jadi salah tingkah.Matanya beberapa kali melirik Adnan meminta perhatian.
__ADS_1
Namun Adnan malah berjalan ke pintu keluar. Kemudian sibuk berbicara dan memerintahkan salah seorang yang berada di luar rumah
Dia bergerak dengan santai, sementara Said dan Savana yang masih dalam gendongannya.
Kecemasan kalau anak-anaknya akan di bawa, Diana mengulurkan tangan untuk mengambil kedua anaknya.Dia melupakan kehadiran Sofia.Adnan tidak mengacuhkan.
Tiba-tiba pintu terbuka diikuti dua orang pria yang membawa banyak bingkisan di tangannya. Diana terbengong, Sopiah ternganga hingga lupa menutup mulutnya.
"Ini apa an.? Banyak sekali barang ?"Tanya Diana.
"Untukmu dan anak-anak…ada untuk bu Ida juga.." Sahut Adnan kalem.
"Ku rasa tidak perlu…"Sahutnya cepat.
"Ku rasa perlu…"
"Mengapa tak izin padaku dulu ?"
"Aku tidak perlu izinmu.."Balas Adnan sengit.
Diana balas memandang dengan sengit. Dia tidak menyadari efeknya bagi Adnan melihatnya begitu.Pria itu sesaat terpesona.
Tiba-tiba terdengar suara Sofia kembali nimbrung.Sangat bijak dan dewasa sekali.(Versi dia lagi..)
"Gak bersyukur amat sih kamu mbak.Jadi orang itu harusnya tahu diri .."
Untuk pertama kalinya Adnan menatap Sofia.Sehingga wanita itu salah tingkah. Namun dia salah menafsirkan sikap Adnan
Dari tadi sesungguhnya Adnan menganggap wanita tak tahu diri itu hanya lalat.Sehingga Adnan merasa jengkel dan ingin melampiaskan rasa jengkelnya itu.
" Aku tidak tahu tujuan keberadaanmu dari tadi di sini.Tapi sebaiknya tutup mulutmu ..Seharusnya kau lebih tahu diri untuk pergi dari sini..!! Usirnya kejam.Sofia kaget dan gelagapan.
"Aku.."
"Keluar…!!!"
Adnan meledak.
Sofia terperanjat dan ketakutan.Melirik Diana meminta pembelaan .Tapi Diana malah memandang ke tempat lain.
Merasa takut, akhirnya Sofia berjalan cepat keluar.Langkahnya tak beraturan. Sudah tidak seanggun waktu datang tadi.
Dia hanya ingin keluar secepatnya dari sana.Menyelamatkan diri lebih penting dari harga diri.Begitu kira-kira idiom Sofia.
Akhirnya dia selamat sampai ke luar pagar dan masih bernafas.eiits.??
__ADS_1
Wanita bertubuh montok itu akhirnya menghembuskan nafas lega.Seperti keluar dari lobang maut.Demi apapun dia tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi.Walaupun sangat tampan tapi sangat bengis saat marah. Lebih baik dia tetap dengan Tasman yayang bebnya.