
Adnan menatap tak berkedip tiga orang di depannya. Dia tidak menutupi perasaan kesal di hatinya. Pria itu berkali-kali menghembuskan nafasnya sehingga memberi tekanan tak kasat mata.Meskipun ac sudah di naikan ke suhu yang lebih rendah, tidak mampu mengusir perasaan gerahnya.
Seandainya tiga orang yang duduk di depannya tidak ada orang tuanya, Adnan tidak akan repot-repot menahan marahnya.
"Mengapa kalian bertindak tanpa persetujuanku." Tanyanya langsung.
Mereka saling berpandangan sebelum menjawab. Berusaha mengusir rasa bersalah, Djaelani menunjukan kuasanya.
"Memangnya kenapa..?"Kami cuma ingin melihat cucu kami.Tapi perempuan bar-bar itu benar-benar tidak ada sopan santunnya…"
"Ya..Dia bahkan tidak menawarkan kita masuk ke rumah. Untuk kesekian kalinya aku mensyukuri perpisahanmu dengannya.." Lanjut Marlena tak mau kalah.
"Apakah cuma Diana yang tidak punya sopan , ayah ?"
"Jangan begitu pada ayahmu Adnan..Kamu bahkan tidak melihat betapa garangnya perempuan itu." Terang Marlena.
"Mengapa ibu tidak berpikir di posisinya..?Walau tidak menyaksikan, tapi aku yakin bahwa kalian telah memprofokasinya. Memangnya keramahan apa yang kalian harapkan seperti apa.? Setelah semua penderitaan dan penghinaan yang sudah kita berikan, apa kalian kira dia akan baik-baik saja pada kita ?" Kata Adnan garang.
Marlena mengibaskan tangannya dengan angkuh. Bibirnya mencibir merendahkan.
"Dia ****** yang tidak tahu diri.."
"Kita yang tidak tahu diri.."
"Kita cuma datang baik-baik.."
"Baik menurut siapa..?"
Marlena naik pitam lalu membanting tangannya ke meja. Matanya memerah menatap pada Adnan.
"Mengapa kamu selalu membelanya. Dia cuma mantan istrimu.Wanita yang tidak tahu diri.."
Adnan terpana melihat sikap ibunya itu. Apakah sebegitu bencinya dia pada Diana..?
"Jangan lagi melontarkan cacian untuknya ibu. Kalian tahu dan sadar bahwa siapa yang tidak tahu diri."
"Adnan..!!!"
"Cukup..!! Aku sudah lelah dengan semua ini. Biarkan aku yang menangani "
Adnan berbicara dingin dan tegas. Dia mulai aura permusuhan terhadap mereka.
"Tolong hargai keputusanku sekarang. Sudah cukup bagiku mengikuti keinginan kalian.."
Mereka akhirnya diam dengan pikiran masing-masing. Tidak lama kemudian Djaelani menghembuskan nafas kesal. Pada awalnya masih ingin melontarkan komentar pedas. Tapi urung setelah melihat tatapan Adnan yang membunuh.
Melirik kepada istrinya,namun wanita itu memasang muka masam. Sementara Dara hanya menunduk sesekali mengangkat kepalanya. Tapi tidak berani melihat ke arah Adnan.
Djaelani berdehem sejenak. Kemudian mencoba mencairkan suasana.
"Sebenarnya tujuan kami ke kota ini, tidak semata ingin mengunjungimu dan anakmu Adnan. Tapi juga ingin menjodohkan adikmu dengan seseorang.."
Adnan tidak langsung menanggapi. Dia masih dalam mode menahan amarahnya. Terlalu cepat baginya untuk mengalihkan topik pembicaraan. Dia mendengus mengusir rasa muak.Memperlihatkan sikap tidak pedulinya.
Beberapa menit bertahan dengan sikapnya, dia kemudian menyadari .Bagaimanapun mereka keluarganya.Walaupun jemu dia akhirnya bertanya.
"Apakah kalian yakin dengan orang itu..?"
"Dia anak pemilik Blue Stone.Kebetulan ayahnya satu SMA dengan ayah. Nama teman ayah itu Dalton John.."
"Oh ya..? ""Tanya Adnan acuh tak acuh. Djaelani melanjutkan.
__ADS_1
"Nama anaknya David John"
"David John..?"
"Ya..Apakah kamu mengenalnya..?"
"Mmh..Aku hanya pernah sekali berbicara dengan dia.." Jawab Adnan kemudian. Ingatannya melayang pada kejadian di malam itu.Dia marah sekali saat pria berjalan dengan Diana.
" Dia pewaris Blue Stone's sekarang. Perusahaannya sedang naik daun . Apalagi akhir-akhir ini. Bukankah dia punya kriteria yang baik untuk Dara..?"
Djaelani menceritakan dengan semangat. Yakin sekali akan keberhasilan niatnya.
Adnan menatap langsung ke manik mata . Mencoba menerka isi kepala ayahnya itu.
"Apakah ayah yakin dia tidak punya kekasih..? Maksudku Dara..? Terakhir kali ku ketahui dia mempunyai kekasih bernama Hamish."
"Aku tidak suka dengan pria itu. Kamu kan tahu kalau keluarga kita mempunyai standar tertentu untuk calon menantu.."
Djaelani menjelaskan tanpa beban kepada Adnnan Sementra Marlena ibunya menyetujui dengan anggukan. Saat melihat ke wajah Dara ada bayangan sendu dan tertekan di sana.Adnan menangkap sesuatu..
"Apakah kamu mencintai pacarmu itu.?
"A..aku.." Jawab Dara gugup.
"Bicaralah yang jelas.."
"Aku akan baik-baik saja.." Jawab Dara cepat.
"Hey..Kamu bahkan hampir tidak bernafas menjawab pertanyaanku.." Sindirnya.
Dara hanya diam.Matanya gelisah melihat ke segala arah. Antara bingung dan takut untuk bicara.
Buktinya, kedatangan Hamish saat bertamu, selalu disambut hangat dan ramah.
Tapi kadang takdir buruk tidak dapat ditolak saat datang menghampiri kita. Nasib sial menimpa keluarga Hamish di saat sedang jaya-jayanya. Kelakuan ayahnya yang hobi judi dan main perempuan, mulai membuahkan akibat .Di mana semua itu akan dia sesali seumur hidupnya. Saat hobi judinya mulai gila-gilaan, main perempuannya pun semakin liar . Hingga mulai pada suatu jebakan manis dari salah seorang wanita panggilan. Dia tanpa sadar mulai melangkah menuju kehancuran.
Tertantang oleh lawan judinya, dia berani mempertaruhkan saham perusahaannya.
Hingga pada suatu hari dia dihadapkan pada kenyataan pahit, yang hampir meluluhlantakkan hidup keluarganya. Saham perusahaannya hampir lima puluh persen dimiliki pihak luar. Belum lagi beberapa uang yang dibekukan bank karena penyelewengan pajak. Keluarga Hamish seperti dibantai habis-habisan.Hanya beberapa minggu sebelumnya ,sempat viral di media sosial karena gaya hidup mereka yang hedonis dan terkesan pamer.
Dara yang mengetahui itu kemudian, ikut terguncang. Bagaimanapun, dia sudah terlanjur dibesarkan dengan sendok perak di mulut. Logikanya tidak bisa menerima Hamish dengan kondisi yang membuatnya menderita kekurangan suatu saat nanti.
Untuk pertama kalinya dia mengeluarkan suaranya .Dia berkata agak tersendat.
"A..Aku tidak mau hidup menderita.."
"Ya..Itu adalah keputusan yang baik untuk mengakhiri hubunganmu dengan Hamish." Marlena pun menyela.
Adnan tersenyum miris mengingat kalkulasi keuntungan dalam keluarganya. Mereka sangat penuh perhitungan terhadap sesuatu.Tapi dia juga tahu, bahwa tidak semua orang bisa menerima prinsip yang angkuh dan egois itu.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti, jika keadaan suatu saat berbalik.
Adnan meringis mengingat nasib Diana dulu. Dia tidak heran jika kemudian
menimbulkan dendam di hati mantan istrinya itu .
Dibuang di saat tak dibutuhkan dan dicampakkan karena tidak menguntungkan. Adnan merasakan nyeri di ulu hatinya. Disadari atau tidak, dia telah menuai karma itu dan mulai mencicil satu persatu akibat dosanya pada Diana dan anak-anaknya.
Diana yang dulunya adalah sosok pengalah dan sedikit penakut sudah menjelma menjadi sosok yang angkuh dan pemberani. Adnan bahkan tidak berani membandingkannya dengan Diana yang dulu. Karena tahu bahwa dialah yang menyebabkan perubahan itu. Dia sangat berharap satu kesempatan untuknya .Walaupun kesempatan itu 0,001% untuknya. Dia akan menunggu.
Adnan kembali melayangkan pandangan kepada kedua orang tuanya. Haruskah dia mengatakan bahwa pria yang hendak mereka jodohkan dengan anaknya , bahkan saat ini sedang berhubungan dengan Diana. Mantan Menantu yang tidak disukai , bahkan pernah dihina dan dibuang.
__ADS_1
Adnan tidak bisa membayangkan reaksi mereka. Kata-kata hinaan dan merendahkan sudah pasti akan dilontarkan tanpa ragu-ragu.
"Apakah ayah sudah mengenal David..?"
"Tidak terlalu kenal juga. Tapi dia cukup familiar di antara para pengusaha muda.Wajahnya sering wara wiri ulasan tentang pengusaha sukses. Kesempatan bagus ketika ku tahu bahwa ayahnya satu SMA dulu denganku.."
"Bagaimana kalau dia sudah mempunyai seseorang..?" Tanya Adnan hati-hati.
"Dia masih bujangan, ayahnya mengatakan itu.." Jawab Djaelani pasti.
"Bisa saja dia punya seseorang yang istimewa.."
Melihat keengganan Adnan, Marlena ibunya menyela.
"Sepertinya kamu kurang suka Adnan.."
"Aku hanya ingin hati-hati.."
"Kalau hanya kekasih, itu bukan masalah. Adikmu cukup menjanjikan kalau bersaing dengan gadis manapun.." Menjawab dengan bangga. Kemudian tersenyum kepada Dara, anak gadis kesayangannya.
Dara memang cantik dan berkelas.Di luar sifatnya yang angkuh dan egois dia adalah tipe kecantikan yang diidam-idamkan oleh wanita. Wajah yang indah, kulit mulus dan body aduhai. Bukan tidak mungkin baginya untuk menarik perhatian para pria.
Dara menyambut senyum ibunya.Dan dia menerima pujian itu dengan bangga.
Dia sangat menyadari kecantikannya yang hampir tak tersaingi. Apalagi kalau dibandingkan dengan Diana sang mantan kakak iparnya. Dara akan mencibir membayangkan wanita itu.
Dara tidak pernah menyukai Diana sejak pertama berjumpa. Menurut versinya pribadi, Diana tidak mempunyai sesuatu yang bisa dipandang. Apalagi kalau disejajarkan dengannya.
Setali tiga uang, Marlena juga mempunyai kebanggaan atas putrinya .Namun seperti halnya Dara, dia pun tidak mempunyai simpati kepada mantan menantunya itu. Bagi Marlena, Diana adalah kotoran yang harus dihilangkan. Tapi sepertinya dia lupa kemarin malah jauh-jauh pergi melihat kotoran itu.
Dibandingkan dengan Dara, kulit Diana memang agak gelap. Apalagi memandang wajah Diana yang cuma dirawat sederhana, dan bukan dengan peralatan kecantikan mahal. Diana terlalu sederhana jika dibandingkan dengan Dara. Apalagi jika melihat barang-barang branded yang sering dipamerkan Dara.
Tetapi ada sesuatu yang membuat Dara semakin tidak menyukai Diana. Mantan iparnya itu mempunyai sense of inner beauty yang membuatnya banyak disukai banyak orang. Di puncak kebenciannya, adalah saat sang pacar yang juga ikut-ikutan menyukai Diana. Sejak saat itu, rasa tidak sukanya bertambah dari hari ke hari.
Memandang wajah tampan dan sosok hampir sempurna Adnan. Dara sungguh menyayangkan jika kakaknya disandingkan dengan Diana yang sederhana. Karena itulah mereka kemudian bersemangat menjodohkan Adnan dengan Risa.
Tapi di kemudian hari, muka keluarga mereka seperti ditampar .Setelah mengetahui akibat perceraiannya Adnan dengan Risa, mereka menyadari betapa tidak bermoralnya wanita itu.
"Adnan.." Tiba-tiba terdengar suara Marlena memanggil.
Adnan hanya menoleh padanya , tanpa memberi jawaban.
"Besok malam ada pesta di ulang tahun perusahaan Blue Stone di Prince Hotel.."
"Mmh.."
"Kami mendapatkan undangan ke sana.."
"Ooh.." Jawaban tak berminat.
Djaelani menyadari keengganan Adnan.
"Ku harap kamu ikut bersama kami datang kesana. Kita berkenalan dengan keluarga Dalton, sekalian untuk memperkenalkan Dara pada David.."
Adnan mengerucutkan bibirnya, kemudian berkata.Sambil bangkit berdiri berkata acuh tak acuh.
"Aku tidak ada waktu untuk itu. Karena harus mempersiapkan materi-materi untuk mengajar.."
Adnan tidak melanjutkan lagi percakapan dengan mereka.Melainkan terus berjalan menuju kamarnya. Tidak ada gunanya lagi percakapan ini dilanjutkan. Dia rasa saat ini lebih baik menenangkan dirinya dengan berbaring sendiri di kamar.
__ADS_1