MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
ADA YANG CEMBURU BUTA


__ADS_3

          Ada kalanya saat kita bersama orang-orang tercinta, kita menolak perputaran waktu.Padahal hati kecil kita tahu bahwa suatu saar, kita harus menyerah pada sang waktu.(OktaLibra)


       Semenjak dibawa berobat ke dokter, ada yang berubah pada bu Ida .Wanita itu lebih sering melamun dan menyendiri. Diana mengerti  tekanan psikis yang mulai mengganggu  perasaan wanita itu.


       Atas rekomendasi dari Agnes, akhirnya mereka mendapatkan seorang baby sitter untuk si kembar.Bu Ida hampir menangis ketika melihat kehadiran baby sitter yang akan menggeser kedudukannya dari si kembar.


      Diana tersenyum lembut dan membelai tangannya.


      "Ibu tidak boleh terlalu lelah ..Kan  kita sama-sama mendengar saran dokter kemarin.."


      "Tapi ibu rasanya sudah gak apa-apa kok.."


      "Iya. tahu..Tapi Diana tidak ingin ibu lelah.Menurut aja ya bu..' Bujuknya kemudian 


      Diana berusaha selalu menyabarkan wanita itu.Setiap kali  protes tentang kehadiran seorang baby sitter. Dia menunjukan muka masam dan cemburu pada wanita yang direkrut Diana untuk merawat si kembar saat dia tidak di rumah. 


     Diana  sangat memahami perasaan wanita yang mulai menyongsong tua itu. Dia selalumembujuk dan tidak pernah membiarkan wanita itu sendiri. Menemani ngobrol, memasak bersama-sama, bahkan menonton tv ditemani martabak dan segelas teh manis. Tujuannya selain bu Ida  tidak merasa kesepian, juga agar nanti tidak terjadi kesalahpahaman  di antara mereka .


       "Lagian , ibu masih bisa kok bermain dengan mereka.Bukannya mereka itu cucu-cucu ibu juga. "


      Bu Ida menyusut air mata yang merembes di sudut matanya.Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Emosinya akhir-akhir ini gampang terombang ambing.


      "Apakah nanti kalian akan meninggalkan ibu sendirian..?" Tanya wanita itu pilu.


     "Tidak bu..Tidak akan..Diana janji akan menemani ibu sampai kapanpun.Kan kita keluarga"


      "Ibu sudah tidak berguna…" Rintihnya sedih.


    Diana langsung memeluknya lembut dan membelai punggung wanita itu .Sudah sangat banyak jasa bu Ida pada mereka.Diana berpikir, mungkin inilah saatnya dia  akan menjaga dan mengurus wanita yang mulai tua itu .


     Dia teringat dengan  percakapan dengan dokter, setelah beberapa hari membawa bu Ida berobat. Dokter mengatakan adanya penyempitan pembuluh jantung  bu Ida.Tindakan yang biasanya adalah dengan pemasangan ring pada pembuluh tersebut.Tapi Bu Ida menolak melakukan operasi.


    Diana tidak mungkin memaksa, mengingat usia bu Ida sudah mulai lanjut.Dia hanya berusaha menjaga perasaan wanita itu agar selalu gembira.Setiap pagi, mengajak senam-senam ringan.


     Walaupun si kembar sekarang sudah ada baby sitter, Diana tetap mengajarkan anak-anaknya agar tidak melupakan nenek mereka.Seperti mengajak duduk bersama nonton tivi atau meminta nenek bercerita berbagai hal.Selebihnya, pekerjaan-pekerjaan yang agak memakan tenaga, Diana tidak mengizinkan.Kecuali memasak saat bersama-sama.


     Mungkin karena terlalu fokus pada pekerjaan dan rumah tangga, Diana tidak terlalu ambil pusing dengan gosip-gosip mengenai dirinya yang miring yang telah sebarkan Sofia. Dia menyadari dari dahulu wanita itu tidak menyukainya.


     Cuma sedikit banyak ada rasa ingin tahu yang mengusiknya hatinya, tentang sesuatu  yang menyebabkan fitnah itu berkembang seperti cendawan di musim hujan.


    Saat cerita itu dua katakan pada Agnes, dia malah cengengesan. Tidak ada simpati atau kasihan di wajah mulusnya. Membuat Diana gemas ingin menabok kepala sahabatnya itu.


     "Mengapa kamu memberikan ekspresi busuk itu..?


     "Hee..hee..Haa..haa…." Malah ngakak gak jelas.


     "Agnes..!" Bentak Diana pelan.


      "Sorry..sorry.. Eike jadi penasaran dengan pacar si Sofia semok itu.Mengapa sahabatku yang berkelas ini sampai jadi pelakor. "


      "Sembarangan…Aku bukan pelakor dodol..Tapi dituduh. "


      "Oke.oke..Tapi gak ada asap kalau gak ada api kan..?"


      "Iya siih…Tapi lucunya , kenal juga gak tu yang laki-laki..Gimana judul ya coba, aku bisa dituduh."


 .."


      "Gak kenal bukan berarti tidak pernah ketemu..Bisa jadi dia kenal kamu, tapi kamunya gak tahu dia.


      "Mmh…Trus gimana nih..Panas juga nih kuping lama-lama.Mana urusan ku banyak lagi…"


      "Ooh..gampang itu.." Sela Agnes licik.

__ADS_1


      "Gampang gimana..? Agnes..? Mengapa aku seperti melihat iblis di wajahmu..?" Sindir Diana.


      "Seingatku, hanya iblis yang bisa melihat iblis.." Balasnya cuek.Diana langsung menggebuk bahunya.


      Agnes meringis menahan sakit. 


      "Sakit ..Dasar lu sadis.."


      "Biarin.."


      "Iblis…"


      "Mau ku gebuk lagi ya..?" Ancam Diana.


      Agnes menyerah.Beberapa saat keduanya terdiam.Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Diana berkata 


     "Aku pernah menerima rangkaian bunga mawar, dan juga taburan bunga-bunga di teras.Menurutmu, ada hubungan gak sih..?"


     "Bisa jadi..Ah sudahlah.Jangan terlalu dipikirin.Lagian si semok itu kan sudah sentimen sama kamu dari pertama kali.."


     "Mmh..Ku rasa benar..Tapi aku tetap ingin tahu siapa orang itu.." Kata Diana.


  Diana bersiap-siap untuk pulang.Tapi dia harus menyiapkan dahulu semua berkas-berkas yang akan dia kerjakan besok.Karena dia tidak suka membawa pekerjaan pulang ke rumah. Kalaupun seandainya sudah deadline.Diana lebih suka berkutat di kantor sampai pekerjaannya selesai. Seharian meninggalkan kedua buah hatinya.Diana hanya  ingin waktu bersama mereka secara khusus.Tanpa adanya embel-embel pekerjaan yang di bawa pulang.


      Agnes masih berdiri di samping meja Diana.Tiba-tiba dia bertanya.


     "Apa kabar bu Ida Dy..?"


     Sesaat Diana agak ragu untuk menjawab.Tapi dia jyga harus jujur pada sahabatnya ini Bagaimanapun, Agnes Lah yang memperkenalkan Diana pertama kali dengan mantan guru SMP nya itu. 


     "Aku bingung mau jawab apa Nes.Karena meragukan kesehatan beliau akhir-akhir ini." Terang Diana dengan wajah sendu.


     Merasakan sesuatu yang merisaukan sahabatnya itu, Agnes tertegun sejenak.


     Diana tidak menanggapi kata-kata Agnes.Dia hanya lebih dulu berjalan dan diikuti Agnes.Mereka pulang menumpang mobil Diana.


      Perjalanan dari kantor tidak terlalu lama.Apalagi sekarang jalan raya lancar.Hanya beberapa saat kemudian mereka sudah memasuki pemukiman penduduk tempat Diana tinggal.


      Ketika mereka hampir sampai di depan pintu pagar,Diana dan Agnes dikejutkan dengan pertengkaran dua orang laki-laki dan wanita dewasa.Sebenarnya Diana tidak akan ambil pusing, jika saja mereka tidak bertengkar di pintu masuk pekarangan bu Ida. Suara mereka cukup keras dan saling bersahut-sahutan.


      "Bukannya itu si Semok dan ….siapa pria ini..?" Kata Agnes heran.


      "Aku gak peduli siapa pria lawan Sofia itu.Tapi menyebalkan sekali kalau ributnya di depan rumahku.Mana anak-anak masih kecil-kecil lagi..Gak pada mikir ya..Seandainya anak-anakku lagi bobo siang. ?"


      "Yah..Kalau orang lagi emosi biasanya, otaknya  sudah berpindah ke dengkul atau ke ****** .." Cibir Agnes .Diana mencubit lengannya.


      "Ish…Bicaramu kasar amat.." Tegur Diana sambil mendelikkan matanya.


       "Ini sih belum apa-apa dibandingkan dua orang itu .." Jawab Agnes sambil meringis mengusap bekas cubitan Diana.


     Agnes benar..Dari dalam mobil mereka bisa mendengar .Kedua orang itu saling melontarkan kata-kata kotor dan makian. Mereka dua orang, Sofia dan laki-laki itu seperti hidup dalam dunia mereka sendiri. Kalau kata orang yang bercinta merasakan milik berdua.Namun kali ini Sofia dan pria itu ribut, seolah merasakan planet ini adalah kerajaan mereka .Ya..


      Mereka adalah raja dan ratunya.Raja dan ratu rusuh serta gak ada otak .Bahkan saat orang lalu lalang melewati, mereka tidak peduli. Mudah-mudahan ada yang bikin mereka viral di medsos .Mungkin saja nanti bisa jadi youtuber atau konten kreator. Yeaahh… 


      Diana tidak ingin berlama-lama lalu turun dari mobil diikuti Agnes 


      "Maaf mas, mbak..Kalau ribut jangan di depan rumah orang ya. Anak-anak saya kecil-kecil, dan ibu saya kurang sehat"


      Dua orang yang adu mulut itu berhenti sejenak.Keduanya sama-sama melihat ke arah Diana dan Agnes dengan kaget.Tak lama kemudian berubah menjadi ekspresi yang berbeda-beda . Si pria tersenyum malu dan salah tingkah.Lain hal dengan Sofia yang tiba-tiba meradang melihat Diana.


     "Kamu..?!" Desisnya marah.


     "Ya..??" Diana malah balas bertanya.

__ADS_1


     Apalagi Agnes.Dia sangat heran reaksi Sofia melihat Diana.Seperti ingin menelannya mentah mentah.


      "Kurang ajar.Semua ini karena kamu.Kalau bukan kamu dia tidak akan memutuskanku.Dasar kau pelakor.." Tiba-tiba Sofia membentaknya sambil mengulurkan. Tangan ingin menjambaknya.


      Diana yang kaget, tidak sempat menghindarinya. Rasa sakit yang menyengat memenuhi kulit kepalanya ketika tangan wanita itu, berhasil mencengkram dan menarik rambutnya.


     Masih dalam keadaan menahan sakit Diana berusaha melepaskan diri.Dia tidak bisa lagi pura-pura tidak apa-apa. Sementara Agnes berusaha melepaskan tangan Sofia dari kepala Diana. Namun hasilnya malah semakin membuat Diana semakin menderita .Jambakan yang kuat membuat rambutnya semakin tertarik saat Agnes melerai.


      Air mata mulai merembes di matanya karena panas dan ngilu.Dia mencoba menahan, tapi sia-sia.


     "Jika kamu tidak juga melepaskan tanganmu Sofia jangan salahkan aku bertindak kasar.." Katanya mengancam.


     Tapi Sofia seperti kesurupan tak mengindahkan.Dia semakin beringas menarik rambut Diana .


      Diana mulai menghitung dalam hati.Pada satu hitungan yang pas,dia mendapatkan kedua jempol Sofia dan langsung menekuk ke arah berlawanan.


     Wanita itu terpekik.Rasa sakit dari jempolnya seperti akan dipatahkan Alhasil dia otomatis melonggarkan cengkramannya.Kesempatan emas yang ditunggu Diana langsung di sodokkan ke ulu hati Sofia  Double attack..Sofia terengah menahan sakit di berbagai tempat.


     Sofia memandang bengis pada Diana.Tapi kemudian meringis  .


     "Kau..Dasar janda pelakor.." Tuduhnya terengah-engah.


     "Sekali lagi kau bilang, ku robek mulutmu.."Ancam Diana merangsak mengejar, Sofia yang mulai keok .Tapi tangannya ditahan oleh Agnes.


     "Shh..tahan..tahan.."


     Diana masih kesal.Apalagi melihat beberapa rambutnya berserakan karena rontok Disamping itu, ada luka perih di kulit kepala bekas goresan kuku dan jambakan.


      Beberapa saat dia menyadari kehadiran sosok pria yang tadi bertengkar dengan Sofia. Prua itu hanya berdiri menonton tanpa ada niat menengahi.


     Menahan kekesalan,matanya menatap tajam pada pria yang baru tersadar dengan situasi yang bisa menyulitkannya.


      "Kamu..! Kamu siapa dia hah..?"


      "Aku..aku.." Katanya beringsut hendak melarikan diri.


      "Tangkap orang itu. "Teriak Agnes cepat.Otaknya cepat berpikir, bahwa pria itulah si biang keroknya.


 Beberapa orang akhirnya muncul berkerumun, termasuk ketua rt. Pria itu sudah dipegang kedua tangannya.


     Diana tidak berniat memberi pembelaan ketika Sofia masih memakinya pelakor. Ketika Diana akan kembali memberikan pelajaran padanya. Dia melihat wanita itu mencari perlindungan di belakang orang-orang.


      Akhirnya ketua rt  berhasil menenangkan.


      "Sabar-sabar bu Diana..!"


       "Dia yang mulai menyerang saya pak rt.."


     "Ya..Saya mengerti.Mari kita selesaikan baik-baik.Daripada tambah salah paham."Katanya bijak.Namun Sofia yang berlindung di belakangnya malah mencela .     "Saya gak salah paham..Dia memang pelakor.."


      "Diam kamu..Atau kami  biarkan dia menghajar mulut besarmu itu..!" Ancam salah seorang yang mulai kesal pada Sofia.Hingga membuat wanita itu langsung terdiam.


       Pak rt menghela nafas. Kemudian memandang Diana dan Sofia.


     "Kalau tidak sama-sama dijelaskan dan diselesaikan baik-baik, akan membuat ricuh ke depannya.


      "Aku setuju..Kalau tidak si semok ini akan di hajar habis oleh kawanku ini.." Teriaknya  Agnes membenarkan.


      Kalau mau jujur, sebenarnya dia juga gemas hendak menempeleng kepala Sofia.Karena tahu persoalan yang paling sebenarnya adalah hati wanita itu yang selalu iri dan dengki pada Diana.Hal itu sudah diperlihatkan di saat kali pertama pertemuan mereka.


      Ketika mereka masih berusaha menenangkan suasana.Tanpa disadari kehadiran bu Ida yang mendatangi mereka.


      "Tangkap pria brengsek itu juga…!" Perintahnya sambil menunjuk pria yang bertengkar dengan Sofia tadi.

__ADS_1


     Diana terpana.Bagaimana mungkin wanita lembut itu bisa mengeluarkan suara membentak..?


__ADS_2