MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
PROVOKASI DAN ANCAMAN


__ADS_3

      Seandainya semua manusia sadar.Bahwa  dunia tidak selalu berputar menurut kehendak sendiri. Karena ada pemilik kehidupan yang selalu menampakkan kekuasaannya.Tentu tidak akan  ada manusia egois yang suka berbahagia diatas derita orang lain.Paling tidak,mereka punya hati untuk berbuat jahat pada orang lain. 


     Mungkin mereka akan selalu berusaha menciptakan kebahagiaan di bumi ini, tanpa harus merampas hak yang lain.Tapi masalahnya mereka suka lupa hingga pada titik kesadaran mereka dibenturkan kembali.Namun terpulang pada manusianya kembali.Apakah dia akan insaf atau tidak.


      Seperti halnya wanita ini. Ketika perbuatan bejatnya  diungkapkan ke publik, dia mulai panik.Karena tidak menyangka bahwa alur jalan cerita akan melenceng dari rancangan pikirannya.Apalagi selama ini semua aman-aman saja bila sudah diatasi dengan uang.


     Dia hampir gila karena kepanikan.Sehingga menghembuskan asap rokok dari bibirnya dengan kuat. Gumpalan-gumpalan asap nikotin menari-nari dalam ruangan.Berusaha mengikis habis sisa-sisa oksigen di sana.


       Namun tidak cukup menenangkan bagi Risa.Pikirannya semakin gelisah.Ini adalah satu hari menjelang besok berakhirnya peringatan itu.


    Dia sudah cukup marah ketika menyadari kebodohannya.Seharusnya tidak melakukan provokasi pada Diana.Kalau saja meminta maaf baik-baik  bisa meluluhkan hati wanita yang sangat dia benci itu.Namun kemarahannya selalu lepas kontrol setiap kali berhubungan dengan Diana..Apalagi saat mendengar nada  suara lembut wanita itu, justru mengingatkan kekalahannya dalam menaklukan hati Adnan. 


      Risa benci setengah mati pada Diana. Mengingat wanita itu tetap berhasil memegang hati Adnan sampai saat ini.


Walaupun secara terang Diana sudah mementahkan hatinya. Bahkan bersikap  ketus dan tidak peduli. Namun membuat Adnan tidak pernah berhenti mengejarnya. Dia bahkan berhasil membuat Adnan bertahan menunggunya sampai sekarang.Sungguh menyebalkan.


     Dulu dia sangat merasa bangga sekali karena berhasil menyingkirkan wanita kampung itu. Dia bahkan tersenyum puas melihat wajah terluka wanita itu yang frustasi karena diceraikan tanpa perasaan. Risa merasa dialah yang lebih pantas menjadi istri Adnan.Sedangkan Diana tak ubahnya  itik yang kebetulan nyasar ke kandang merak. Dia  yatim piatu, dan tak mempunyai harta. Berbanding terbalik dengan Risa yang merasa lebih cemerlang dan kaya. Dua mendapatkan celah keberuntungan ketika menyamar sebagai peri yang baik hati yang ikut menyelamatkan perusahaan keluarga Djaelani. Berperan sebagai investor dan langsung membuat perangkap pada pria itu.


       Tapi kemudian dia harus menelan rasa kecewa yang tidak sesuai dengan angan-angannya.Adnan hanya menerima pernikahan tapi tidak pernah memberi hati padanya.Dan pria tampan pujaannya itu kemudian  mendapat restu dari penguasa kehidupan untuk melepaskan diri darinya.Bukan dengan cara baik-baik, tapi sangat menghinakan.


      Beberapa saat setelah perceraian mereka, Risa tidak kaget lagi kalau kemudian Adnan mencari keberadaan mantan istri pertamanya. Dia bahkan pernah melihat betapa gilanya Adnan melacak keberadaan Diana. Hal yang tidak akan dialami jika  wanita itu adalah  Risa. Karena Adnan sangat dingin dan benci padanya.


     Diana….Diana…Ah. Wanita sialan itu..Apa sih istimewanya dia..? Bahkan  Nero, David dan beberapa pria lain menaruh hati padanya. Risa semakin jengkel ketika memperhatikan wajah dan tubuhnya yang terawat, namun tidak mampu mengikat hati pria pujaannya.


     Untuk kesekian kalinya, dia menghembuskan asap kental dari bibir merahnya. Pikirannya semakin gundah dan tertekan. Diakui atau tidak, dia mulai menyadari ketidak bahagiaan atas semua kelebihan fisik dan harta yang dimiiliki.


    Namun disamping itu semua. Saat ini ada yang lebih diprovokasi oleh ancaman seseorang yang berkaitan dengan Diana.   


Dia bisa saja berlagak tidak masalah seandainya tidak akan menyerempet pada perusahaannya. Namun kemarahan ayahnya yang tidak biasa sudah memberikan warning yang tegas .Hasil perbuatannya kali ini sangat memberikan resiko yang tidak sedikit.


    Ancaman berbau teror yang sanggup membuatnya tak berkutik. Bisa saja melaporkan pada polisi.Tapi apakah tidak akan membuat perbuatannya semakin terungkap…? Risa hampir gila rasanya.


      Bunyi deringan telepon genggamnya berhasil menambah kegugupan wanita. Dia tahu bahwa akan kembali mendapatkan ancaman.


      "Halo.."


      "Waktu hanya sampai besok…!!" 


      "Tapi…"


      "Kau hanya perlu mengakui perbuatanmu ke polisi.."


      "Tapi.."


      "Beep….."


      " Halo..?? ..halo..halo…!!"


     Peringatan singkat itu kembali  berhasil memporak porandakan emosi Risa.Dia membanting benda pipih itu ke ranjang.   


       'Brengsek..brengsek,." Umpatnya.


      Perasaan tertekan semakin dia rasakan. Seperti bernafas dalam lumpur, hal itu yang Risa rasakan sekarang.


   Segalanya tidak berkembang baik untuknya saat ini. Risa mulai berpikir pada kemungkinan dia bisa lari sejauh mungkin dari resiko buruk untuknya.


      "Tidak..tidak..Aku tidak ingin dipenjara. Bukankah perempuan itu baik-baik saja sekarang..?"


        Risa semakin gelisah ketika sebuah notifikasi muncul.


       "Kamu ingin menganggap ini candaan..? Silahkan habiskan waktumu menjelang besok..!"


       "Kau siapa..?"


        "Jangan buang waktumu untuk bertanya siapa aku Risa…!"


        "Kau..bajingan.."


        "Lalu sebutan untukmu apa hah..******..?" Tanya orang itu kembali.


      Risa kembali menutup teleponnya.Namun tidak berapa lama kemudian dia mendapatkan kiriman sebuah video.


      Rekaman  gambar dan suaranya yang sedang melakukan tawar menawar dengan seseorang  yang diyakini adalah Alex.


     "Kau sangat berpotensi mencoreng nama besar Danuarta Risa..sangat..sangat berbakat.." Notifikasi bernada sinis kembali terbaca.


     Perasaan dingin merayapi punggungnya. Wajahnya menjadi pucat seketika. Tak berapa lama kemudian sebuah dering telepon terdengar.Risa ragu-ragu menjawab.Karena itu dari ayahnya. Perasaan buruk semakin merayapinya.


      " Seseorang mengirimkan video tentang konspirasi rencana jahatmu..Apalagi yang sudah kau lakukan anak brengsek…?" Suaranya menggelegar.


       "Ayah..Itu hanya editan…"Kilahnya cepat. Tapi tidak sanggup menutupi getaran suaranya.


       "Editan atau tidak…Kamu lah yang pasti tahu. Kelakuanmu sudah semakin memperkeruh perusahaan.."


        "Ayah…"


         "Demi Tuhan Risa..Mengapa kau memberi banyak masalah untukku.Aku tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan para investor lagi. Belum lagi nilai saham perusahaan yang terancam anjlok.."

__ADS_1


         "Aku.."


         "Dasar bodoh.."


    Beberapa saat setelah menelan ludahnya berkali kali, Risa berbicara.


        "Ayah Tolong selamatkan aku..!"


        "Menurutmu apa yang bisa ku lakukan dengan bukti-bukti yang sudah terpapar nyata bodoh.."


        "Aku tidak mau di penjara…Ayah..Tolong aku…!"


      Danuarta mendengus kesal. Kemarahan terlihat pada wajahnya yang memerah sampai ke mata. Dia mulai merasa tertekan oleh tangan-tangan tak terlihat.Yang  diyakini sedang mengincar kejatuhan perusahaannya.Tangan-tangan tak terlihat itu mulai mencekiknya.


      Pria berkepala sedikit plontos itu mengusap wajahnya. Matanya terpejam sesaat, lalu menghembuskan nafas kuat. Bagaimanapun marahnya dia, Risa tetaplah anaknya.Danuarta mulai memutar otak ingin menyembunyikan Risa ke suatu tempat. Agar dapat menghindar dari jeratan hukuman percobaan pembunuhan.indari tuntutan hukuman penjara.


      Sebenarnya dia ingin menggunakkan kekuasaan dan uang.Seperti biasa yang selalu dia lakukan di saat Risa terlibat masalah.Namun saat ini, dia tidak tahu siapa orang tersebut.Bahkan orang-orang suruhannya tidak berhasil melacak situs-situs yang mengirim video-video yang meresahkan itu.


      "Apakah kamu sudah menemui wanita yang ditabrak tersebut..?..Siapa namanya..?..Oh ya ..Diana mantan istri si Adnan itu.."


     "Aku sudah bertemu dengannya.."


     "Lalu..?"


     "Dia sungguh tak tahu diri ayah. Perempuan itu bahkan berbicara buruk padaku.."


     "Maksudmu..? Dia tak tahu diri bagaimana…?"


     "Aku sudah memohon perdamaian padanya dan segera membujuk orang yang telah mengancamku itu.."


     "Lalu..? Kamu mengajaknya bertengkar..?"


     "Ayah..Wanita itu yang tidak tahu diri dan kampungan…"


    Beberapa saat  Danuarta terdiam dan menatap dingin wajah anaknya dari layar ponsel.


     "Apakah menurutmu masuk akal kalau dia akan baik-baik saja padamu, setelah perbuatan jahatmu padanya..?"


     "Tapi…ayah.."


     "Belajarlah menggunakan otakmu Risa..Kamu bukan anak kecil lagi.."


     Sementara itu pada suatu tempat, wanita yang sedang mereka bicarakan , menikmati hidangan camilan  yang disajikan di atas meja. 


   Diana baru saja meminum satu tegukan susu yang dihidangkan untuknya.Tapi dia tersedak tanpa terkendali. Terbatuk batuk sambil kembali memuncratkan sisa susu dari dalam mulutnya.


      Kesehatan Diana pasca penyembuhan adalah tanggung jawabnya sekarang.Karena perawat yang  biasanya merawat Diana sudah dipulangkan.Karena Diana sudah merasa cukup sehat tanpa dampingan mereka.


      Art itu bergegas mendekati.


      Namun Diana segera mengibaskan sebelah tangannya pertanda dia baik-baik saja.


     "Aku baik-baik saja.."


      "Anda yakin nyonya..?"


     Art itu sebenarnya lebih mencemaskan nasibnya jika tidak sungguh-sungguh menjaga nyonya mereka. Karena perintah dari Adnan berbau sedikit ancaman. Selain itu, gaji bekerja di sini sangat memuaskan untuk mereka sekelas art.


      Namun melihat wajah Diana yang tersenyum , segera memberi kelegaan baginya.


     "Pergilah..Tolong dimsum ayam dan udang kesukaan si kembar kukus sampai matang.Tadi sebelum berangkat sekolah , mereka memintanya padaku. Ambil yang frozennya di kulkas." Katanya cepat. Namun art masih bertanya lagi.


      "Apakah anda yakin baik-baik saja nyonya..? Mungkin ada yang harus saya lakukan untuk anda..?


       "Tidak apa-apa.Cuma tersedak biasa"


       " Baik nyonya…"


     Diana mengusap lembut dadanya yang terasa perih karena ada beberapa air yang ikut masuk ke paru-parunya.


      "Sepertinya ada yang membicarakan buruk tentangku…" Gumamnya kemudian.


     Wanita yang jadi art itu melongo heran padanya.Dia mencoba menanyakan sesuatu.Sekedar memastikan keadaan wanita itu.


     "Apakah  hal lain  yang anda inginkan nyonya..?"


      "Mmhh…Saya rasa belum ada lagi. Tapi ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu dan juga sampaikan kepada yang lain.."


       "Ya..nyonya..?"Art itu menaggapi dengan santun.


       "Oh ya..Lain kali panggil saya ibu..Saya kurang sreg dipanggil nyonya.


       "Oh.maaf..Saya sudah terbiasa panggilan itu.."


       "Tapi aku tidak suka.."


       "Baik bu.." Jawabnya .Lalu berjalan pergi

__ADS_1


        "Oke…Jangan lupa siapkan makan siang ya.."


       "Baik bu.."


     Diana kembali menikmati kesendiriannya. Dua ekor angsa sedang berenang di kolam  mendampingi dua ekor anaknya yang baru belajar berenang. Diana sangat terpesona karenanya. 


     Tidak lama kemudian dia mengalihkan pandangan  ke sungai buatan yang mengalir diiringi bunyi gemericik saat jatuh pada tempat yang rendah dan bebatuan.


Berpuluh ekor ikan  koi berenang  kian kemari dengan warna-warna mencolok. 


     Diana tidak pernah puas menikmati pemandangan itu. Apalagi saat dia lebih melebarkan pemandangan ke arah pohon buah-buahan di mana ada yang sedang berbuah lebat.  Ada sekitar sepuluh pohon jeruk mandarin dari varietas unggul . Buahnya menguning seperti merayu agar di petik . Pohon jambu madu, kelengkeng, mangga.  baru memperlihatkan putik-putiknya. Tapi tiga buah pohon durian yang  tidak terlalu tinggi, sedang memamerkan buahnya yang besar-besar dan berduri.


        Namun   ada beberapa pohon buah berry yang membuatnya takjub. Mengingat kepiawaian pekerja taman membuat tanaman negara seberang itu justru berbuah lebat di sini. Membuat sangat penasaran ingin mencicipinya. Dia kemudian melangkahkan kakinya ke sana.Buah-buahnya yang berwarna biru keunguan sangat menggiurkan. Diana sudah bisa merasakan wangi dan rasa segar di mulutnya.Percampuran antara manis dan asam yang sangat dia sukai.


     Rumah huniannya dibangun di tempat yang luas .Dan mempunyai taman yang luas menyamai lapangan bola. Sebagian besar tanaman buah-buahan di sana adalah hasil peninggalan penghuni yang lama. Sehingga walaupun baru dihuni, rumah mereka sudah dikelilingi berbagai macam tanaman yang berusia puluhan tahun . 


     Diana baru saja memasukan segenggam bluberry kedalam mulutnya.Rasanya pecah dan menyegarkan. Tidak cukup hanya sekali dia mulai meraih beberapa buah lagi.Namun sebuah suara kecil yang menggemaskan membuatnya urung sesaat.


      "Mami…"


       Savana berdiri beberapa meter di belakang menuju ke arahnya.Wajah cantik dan imutnya memerah karena berlari. Diana sangat menikmati moment itu. Melihat gadis kecilnya  yang cantik berlari kecil di taman indah rumah mereka.Tidak ingin kehilangan , Diana langsung merekam video detik-detik Savana semakin mendekat ke arahnya. Sangat cantik dan menggemaskan.


        Gadis cilik akhirnya mencapai tempat mami nya dan langsung memeluk.Diana membalas dan menciumi bau keringatnya sampai puas.Asam,asam gurih yang membuat nagih.


        "Haahh…Vana capek…huuff.." Ujarnya begitu sampai.Diana tertawa kecil menanggapi.Tidak ada kata puas bila melihat wajah anaknya yang menggemaskan.


         "Eh…Gak apa-apa…Kan itung-itung olahraga biar lebih sehat.."


          "Hee..hee…Mami bener juga" Jawabnya cengengesan. Diana tersenyum sambil menghapus keringat di dahi putrinya.Savana tertawa kecil memperlihatkan gusi depannya yang ompong.


       Gadis kecil itu menempelkan pipi ke perut ibunya dengan manja.Dia membalas dengan pelukan hangat lalu menciumi puncak kepala Savana.


         "Bagaimana sekolahnya sayang..?"


         "Asyik mami.Vana dapat pujian sama bu guru.."


         "Oh ya..? Memangnya Savana habis melakukan apa..?"


          "Vana cuma bantu  bawa alat-alat tulis ke ruang guru.Lalu bantu bu guru juga menyusun kertas-kertas hasil ulangan tadi.." Anak umur tujuh tahun itu begitu sumringah seolah-olah adalah prestasi baginya.


   Diana memaklumi pola pikiran bocah itu.Namun tak urung membuatnya jadi tertawa geli. Ternyata kebahagian anaknya sangat sederhana. Padahal kalau di rumah, Savana sangat malas kalau disuruh bantu-bantu.


         "Bagus..Oh ya..Ulangan bahasa Savana dapat berapa..?


         "A+"


         "Wow..Kalau begitu mami juga akan kasih kamu hadiah.."


         "Oh ya..?Apa itu mami..?"


         "Jalan-jalan ke mall, mau..?"


         "Mauu…"


         "Oke..Tapi harus tidur siang dulu ya..!"


          "Oke.."


          "Sekarang ganti baju dulu, lalu makan siang.Kebetulan tadi mbak Ani mami suruh masak dimsum kesukaan kalian.Mungkin sekarang sudah masak.."


          "Wahhh…Mami memang hebat..Tahu aja kesukaan kami.."


       Diana tersenyum menanggapi ucapan buah hatinya.Matanya teralihkan pada kehadiran Said yang menuju padanya.


      Ternyata dia sudah bersalin pakaian.Said memang disiplin dalam berpakaian.Diana mengulum senyum bangga pada jagoannya itu.


      "Assalamualaikum mami.." Sapanya sambil  ibu kandungnya.


      "Waalaikumsalam sayang…"


      "Saya melihat ada dimsum di atas meja .Enak sekali baunya.."Katanya sopan, lalu menciumi kedua tangan ibunya. 


       Dua anak kembar lain jenis dan dua kepribadian yang unik.


Diana sangat bahagia dengan kepribadian kedua anaknya.


      "Oh..Ternyata mbak sudah menghidangkan.Kalau begitu ayolah , kita sama-sama makan.."


       "Oke mami.."


     Mereka beriringan memasuki  sebuah pintu yang langsung terhubung dengan ruang makan semi outdoor.Memberikan kesan yang nyaman dan menyejukan bagi penghuninya.


      Ponselnya kembali bergetar. Diana menghela nafas kesal saat melihat nama penelpon.,...


              


          

__ADS_1


       


__ADS_2