
Sudah hampir jam sembilan malam, saat Diana memasuki rumah. Perasaan kesal karena pertengkaran dengan Adnan tadi masih terasa.
Tapi perasaan itu berangsur-angsur hilang saat melihat pemandangan di depan mata. Wajahnya menjadi cerah melihat anak-anak sedang bermain diawasi bu Ida. Menyadari kehadiran ibunya mereka bersorak-sorak gembira..Bu Ida jadi ikut tersenyum.
"Pulangnya mengapa telat nak..?"
" Habis belanja bu."
"Ooh..
Diana kemudian meletakan tas belanjaan kado hadiah dari David.Di meja rumah.
"Bu..Tadi ada rezeki dari pak David untuk ibu.." Kata Diana sambil mengangsur sebuah bungkusan.
"Wahh…Apa ini..? Aduh..Ibu jadi gak enak hati lo.."
"Hee..he biasa kali bu.."
Bu Ida bergegas membuka hadiahnya.Sebuah jaket berwarna abu-abu.Cantik dan terkesan mewah.
Mata bu Ida berbinar melihatnya. Wajah tuanya jadi bersinar bahagia.Selang beberapa saat kemudian berkaca-kaca.
"Kok Diana tahu aja, ibu lagi perlu jaket baru.."
"Ya tahulah bu..Diana bahkan sering melihat ibu kedinginan.."
"Ibu jadi terharu nak.Terimakasih ya.."
Diana tersenyum memeluk bu Ida.
"Maaf dan terimakasih juga karena selalu merepotkan ibu .."
"Eits..Jangan bahas yang itu-itu lagi..!" Ujar bu Ida sambil menggerakan telunjuknya di depan Diana.
"Ya…iya..deh.." Sahut Diana sambil tertawa.
Tak lama kemudian bu Ida pamit dulu ke rumah induk. Tempatnya di sebelah paviliun yang bisa terhubung dari pintu belakang.
Sebenarnya Dia tidak tega merepotkan bu Ida mengasuh si kembar. Namun , saat mengutarakan niat untuk mencari pengasuh, beliau selalu adu pendapat dengannya.Yang ujung-ujungnya berakhir tidak jadi.
Diana baru sebentar bermain dengan anak-anaknya ketika melihat Said menguap.Dan Savana mulai merengek.Sadar ini sudah jam tidur, kemudian membawa kedua kembar ke kamarnya.Diana Pun sudah sangat lelah.Dan dia sangat butuh istirahat sekarang.Tak lama kemudian imutan terlelap menyusul kedua buah hatinya.
Subuh hari, bahkan nyawanya sendiri belum terkumpul.Telepon genggamnya bergetar tak berhenti. Diana mendongkol saat mendengar suara Agnes melengking, sehingga Diana terpaksa menjauhkan hp dari kupingnya.
"Wahh..budek, budek deh.." Rungutnya.
"Diana..?Apakah bajingan itu sungguh mengunjungimu..?" Tanyanya langsung ngegas.Diana tersenyum kecut.
"Wah..Ternyata berita cepat menyebar. Kamu bahkan menembak langsung tanpa menanyakan kabarku lebih dahulu.."
"Jangan mengalihkan pembicaraan Diana..!"Introgasi Agnes .
Diana tersenyum membayangkan mimik Agnes saat ini. Ternyata ini jadi alasan David tidak mau mengangkatnya menjadi sekretarisnya.
"Halo..Diana.? Kamu dengar aku kan..?"
__ADS_1
"Ya, ya, ya..Aku mendengarmu dengan jelas dan dalam keadaan sadar.."
"Oke..find..Kembali ke topik.! Apa yang diperbuat si brengsek Adnan di rumahmu.Jangan bilang dia akan merampas si kembar.."
"Belum..belum..Belum ada pembahasan ke sana.."
"Baguslah..Kalau sampai itu terjadi, kamu harus menghubungiku oke..?"
"Oke..oke…Aduh..!Kamu nyerocos seperti knalpot.Bahkan tidak memberiku ruang untuk bertanya tentang Andre.."
"Oh…Dia baik-baik saja.Hanya Erick agak demam pilek beberapa hari ini.Dia juga menanyakanmu dan si kembar.."
(diam sesaat)
"Eh sebentar..Nih dia mau bicara denganmu.."
Diana tersenyum bahagia atas perhatian mereka padanya.Tak lama kemudian terdengar suara Erick .Agak sengau, khas orang pilek.
"Halo Diana..Bagaimana si kembar ?"
"Halo mas..Mereka baik-baik saja "
"Oh syukurlah.."
"Terimakasih mas.Mas lagi demam ya..?"
"Ya.. Biasalah..Kecapek an .Tapi tenang aja.Ada orang yang setia merawatku.Bahkan memijat punggung dan kakiku.."
"He..hee..Sekalian jadi perawat pribadi ya mas.." Kelakar Diana.
"Iya..Juga teman bobo ku..Cuma aku tak tahan dengan mulut nyinyirnya. Mungkin kamu ingat mak Uthi di tempat kita dulu.Kira-kira sepuluh sebelas lah..Aww!!!'
"Bahkan di depan hidungku kamu tega menjelek-jelekan ku. Aku tidak akan memijatmu lagi.."
"Hee…hee…Bercanda sayang.."
"Bodo..Aku tidak mau sekamar denganmu.."
"Apa katamu..?"
"Aku tidak mau sekamar denganmu..jelas ?"
"Coba saja lakukan.Kamu akan ku hukum selama satu minggu .Biar tidak mampu berdiri apalagi berjalan
"Dasar cabul.."
"Biarin, gue syukaa…."
"Idih..Amit-amit.."
Diana terkekeh mendengar perdebatan suami istri itu.Dia turut bahagia mendengar rumah tangga sahabatnya bahagia. Semoga tidak bernasib seperti rumah tangganya dahulu.
Diana masih asyik mendengar perdebatan di seberang.Ketika mendengar suara Erick kembali.Kali ini lebih serius.
"Diana.."
__ADS_1
"Ya mas.."
"Bagaimana kalau balik lagi ke rumah.Di sini ada banyak orang yang bisa membantu, dan mengasuh si kembar kalau kamu kerja.."
"Terimakasih mas, tapi saya gak apa-apa kok di sini.Ada bu Ida juga yang bantu-bantu.."
"Tapi kami selalu mencemaskanmu.Apalagi Agnes.."
"Sampai saat ini masih aman kok mas.."
" Benar..?"
"Iya.."
" Okelah..Tapi kamu harus mengabari kami secepatnya kalau ada apa-apa oke.Aku akan menantang mantan suamimu kalau dia berani mengintimidasi mu.."
"Oke..InsyaAllah sampai saat ini masih bisa ku hadapi.."
"Oke..Jaga anak-anakmu baik-baik.Kamu tenang saja.Orang sepertimu tidak akan kekurangan jodoh.Relasiku banyak yang masih jomblo.."
"Hee…hee.Ada-ada saja mas..Tapi, aku harus berterima kasih dahulu sama kalian berdua.Karena kalian orang-orang baik, aku tidak merasa sendirian…"
Percakapan pagi di telepon akhirnya diakhiri dengan sedikit basa-basi.
Diana menutup pembicaraan.Ingatannya berjalan ke masa lalu saat melewati masa kanak-kanak hingga dewasa dengan Erick.Masa yang penuh cerita indah.
Kebetulan mereka bertetangga dan kedua orang tua pun berhubungan dekat satu sama lain.
Sikap Erick agak cuek dan suka bicara seenaknya pada Diana.Tapi mempunyai kepedulian yang cukup tinggi.Bahkan saat Dia mengalami kecelakaan akibat jatuh dari angkot. .Diana mengalami patah kaki kiri.Saat dirawat intensif dari rumah sakit hingga ke rumah, Erick selalu menemaninya setelah pulang sekolah.
Kedekatan keduanya terus berlanjut hingga dewasa.Saat usia mereka sudah matang.Masing-masing orang tua bermaksud menjodohkan kedua anak mereka.
Tapi tidak disangka sangka,mereka berdua menolak dengan tegas.
Bahkan dengan lantang Erick mengatakan.
"Aku tidak akan menikahi adikku.."
Pupus sudah harapan kedua orang tua masing-masing untuk berbesan.Ternyata perasaan yang unik di hati manusia tak bisa diprediksi apalagi dipaksakan.Bersama dari kecil belum tentu menimbulkan benih-benih cinta.Bahkan bisa jadi benih saudara yang selalu bertahan sampai nanti.
Hingga kemudian Erick berjodoh dengan Agnes, dan Diana tetap jadi adiknya .
Ketika kemudian Adnan menikahi Diana.Erick dan Agnes sudah pindah ke tempat lain.Komunikasi mereka mulai terputus.
Kejadian malam naas itu adalah kali pertama setelah lima tahun perpisahan mereka.Bisa dibayangkan kemarahan Erick pada Adnan.Atas perlakuannya pada Diana. Apalagi mengingat Diana sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.Perasaan kekeluargaan membuat Erick berani tampil di baris pertama untuk melindungi 'adik' nya.
Diana Pun mengakui betapa rapuh dan papa dia malam itu. Tidak bisa membayangkan jika tidak bertemu dengan Erick dan Agnes.Mungkin Diana akan berakhir mengenaskan.
Diana menyudahi lamunannya pagi itu.Menatap kedua buah hatinya yang masih lelap dalam box mereka. Tidak akan pernah cukup waktu bersama memandang dua balita gembul itu.
Tapi Dia harus bekerja demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Berdoa untuk mereka, agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan.
.
__ADS_1