MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
SISTEM PERUSAHAAN DIRETAS


__ADS_3

             


    Mobil Agnes dihentikan di depan pintu masuk lobby.Padahal itu menyalahi aturan manajemen gedung. Namun tidak ada yang berani melarang, mengingat kedudukannya yang kuat di kantor ini. 


Bahkan saat dia menaiki lantai gedung, beberapa staf keamanan menyapa hormat padanya.


     .Diana memandangi dengan takjub bangunan kantor Blue Stone.Sudah tiga tahun dia tidak lagi datang ke sini.Sehingga mendapatkan cukup surprise dalam bangunan kantor yang pernah dia kunjungi setiap hari beberapa tahun yang lalu.


     Namun dia tidak bisa berlama-lama diam dan mengaguminya. Karena David sudah gelisah menunggu kedatangan mereka.Pria itu bahkan sudah beberapa kali menelpon, menanyakan keberadaan mereka.


     Tidak menunggu lama, mereka langsung berjalan memasuki lift menuju ruangan David.Untuk kedua kalinya Diana kembali terpesona dengan desain interior seluruh lantai menuju ruangan David.Bahkan ada air mancur buatan dengan taman-taman buatan dengan berbagai jenis batu-batu permata yang masih belum dibentuk dan berwarna warni. Apalagi saat cahaya lampu menerpa permata-permata itu.Suasana menjadi semakin romantis. Diana jadi ingin tahu, dari mana sumber ide membuat taman permata seperti ini.


      Tapi rasa terpesonanya buyar seketika saat mendapatkan David di sana. Pria itu duduk dengan tampang kusut seperti orang kalah taruhan.Wajahnya yang tampan ditekuk, diikuti banyak lipatan di keningnya.


      Begitu melihat Diana memasuki ruangan bersama Agnes, pria itu langsung berubah.Seperti mendapatkan energi baru, dia melonjak gembira. Bergegas menyongsong kedatangan wanita itu


      " Oh my baby…long time no see.."


     Dia bergerak langsung memeluk tanpa dapat dicegah.Diana bahkan tidak diberi kesempatan untuk bicara apalagi menghindar.


      Wanita itu menjadi gugup dan gelagapan.Dia tidak pernah dipeluk pria manapun selain mantan suaminya dulu.


Tapi pria ini begitu santai melakukan seakan memastikan Diana juga menyukai pelukannya.


      Agnes menyadari kekikukan sikap Diana, langsung turun tangan.


      "Eh jangan peluk-peluk gitu ah.!!.Ingat..Kamu suami Andita sekarang.."


      David melonggarkan pelukannya.Lalu mencibir pada Agnes.Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. 


      "Kamu kali yang cemburu.Andita ku malah lebih pengertian. Ya kan honey..?"


     Agnes dan Diana otomatis menoleh kaget pada arah pandangan David.Ternyata  Andita sudah berada di belakang mereka dengan senyum lembutnya.Terakhir kali bertemu adalah saat mereka baru saja menikah.Sikap wanita itu masih sama.Lembut dan tak banyak bicara. Wanita itu tak lupa menyalami mereka.


     Salut dengan pengertian wanita yang telah menjadi istri David itu. Ternyata dia adalah wanita yang santun dan sangat pengertian.Mungkin itulah yang menyebabkan David sampai ngotot untuk segera menikahi dia.Walaupun tahu keluarganya pasti menentang.


      "Selamat sore mbak Agnes dan mbak Diana.Maaf saya tidak mengetahui kedatangan mbak-mbak  tadi. Soalnya sedang ada urusan ke luar.


      Walaupun  hanya pernah bertemu beberapa kali, tapi wanita itu seperti sudah biasa melihatnya.Mungkin David seringkali menceritakan   tentang diri dan kehidupannya.


     Andita  juga menawari mereka untuk makan sesuatu sebelum melanjutkan pembicaraan dengan David.Namun kedua wanita itu menolak dengan halus .Dengan tujuan supaya mereka cepat membahas permasalahan yang sedang dihadapi  dengan David.


      Akhirnya Andita minta izin mengundurkan diri, karena harus melanjutkan pekerjaan. Ketika mereka hanya tinggal bertiga, Diana segera bertanya.


      "Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan Dav..?"


      "Ya..Karena itu ku minta kamu ke sini.."


       "Mengapa tidak di wa saja." Tanya Diana lagi.


        "Aku tidak puas hanya chat di wa atau bicara di telepon. Karena jangan-jangan hp ku pun sudah diretas mereka. Sesuatu telah yang membuatku jengkel lagi..Mereka bahkan  tidak ada kapoknya.."


       "Maksudmu, perusahaan kena masalah..?"


       "Ya…Kamu benar.Sistim komunikasi telah di retas.Sehingga banyak sekali informasi penting yang bocor.Mereka sungguh mengatakan kehancuranku melalui  peretasan sistem.pada komputer perusahaan.."


        "Kapan terjadinya..?"


        "Satu hari yang lalu.Sehingga untuk sementara kegiatan dihentikan.Kamu bisa bayangkan besar kerugian yang ku derita…" Tutur David lagi


        Pria itu  tidak berhenti menghisap rokok di tangannya.Sementara kantung matanya semakin jelas.Bisa di lihat betapa gelisahnya dia sehingga tidak bisa tidur nyenyak.


        Diana kemudian diam sesaat.Mengarahkan pandangannya sekeliling.Ruangan kantor David begitu nyaman dan mewah. Beberapa hiasan tergantung di dinding. Diana menjadi  iseng ketika  melihat sebuah lukisan baru di dinding kantor. Sebuah lukisan yang sangat unik.


       "Itu lukisan baru ya Dav..?"


        "Mmh..ya..Cinderamata dari seseorang..Aku sendiri tidak mengerti makna lukisan itu.."


        "Ooh..begitu ya.."


     Diana menghampirinya.Meraba lukisan dan pinggiran.Bukannya tidak mengerti seni, cuma merasa ada yang membuatnya ingin lebih meneliti bidang lukisan ini.


     Setelah puas dengan lukisan itu, dia berbalik melangkah kembali ke posisi semula.


     "Apakah kamu mengerti dengan lukisan abstrak..?" Tanya Diana pada David.


     "Tidak.."


     " Lalu kamu memajangnya untuk apa..?"

__ADS_1


      "Ya..Karena rekomendasi  salah satu karyawanku , bahwa itu adalah lukisan yang sangat berharga.."


       "Oo…Tapi kamu sendiri malah tidak tahu nilai seni dari lukisan ini David.." Ejek Agnes yang dari tadi hanya memperhatikan.David mendelik jelek pada Agnes. Sepupu nya itu malah senyum mengejek.


     Akhirnya percakapan tentang lukisan disudahi.Dan  kembali fokus pada topik semula.


    Sepanjang percakapan, Andita hanya sekali datang sambil membawa makanan .Dia tidak banyak bicara dan.lebih sering hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum .Karakternya sungguh tenang, berbeda dengan David. Ketika merasa sudah cukup lama menemani, akhirnya dia melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda.


     Ketiga orang itu kembali pada topik masalah yang sedang diperbincangkan. 


      Getaran hp pada saku, mengalihkan perhatian Diana.Dia melihat nomor yang dikenalnya di sana.Agnes berseru nakal.


     "Aku bisa menebak itu dari siapa."


      "Sok tahu deh " Diana mencibir..


      ".Baru ditinggalkan sebentar ini, dia sudah berpikir untuk menghubungimu."


      "Memangnya itu siapa  ?" Tanya David penasaran.


      "Tebak aja.." Kata Agnes sambil melirik nakal.


    Diana hanya menggubris dengan senyum, pembicaraan di depannya.Dia ragu akan menjawab telepon atau tidak.     Namun, ketika melihat gelagatnya ,Agnes semakin yakin tebakannya benar.


       "Angkat saja Dy.."


     Ragu-ragu Diana menempelkan benda pipih.Dia tidak mau mengakui terus terang, bahwa tebakan Agnes benar.Adnan sudah menghubunginya.


     "Ya..Hallo..?"


     "Kamu di mana..?"


    "Di ruang David.."


     "Sama siapa..?"


      Diana menahan geram, ketika Adnan mulai menunjukkan intimidasi nya. Melirik pada Agnes yang sedang membicarakan masalah perusahaan saat ini.


     Merasa tidak nyaman berbicara dekat Agnes dan David, Diana memutuskan berbicara di.luar ruangan yang dia rasa agak tenang.


     Kembali melanjutkan percakapannya tadi. Nadanya menunjukkan kekesalan yang ditahan.


      "Urusanku adalah menanyai keberadaan ibu anak-anakku.Jam segini masih di luar "


      "Aku ada urusan.."


      "Masih lama..?"


      "Baru juga mulai.."


    Beberapa saat kemudian, tak ada tanggapan. Hanya samar-samar suara anak-anak yang ceria. Dan suara Adnan yang membujuk mereka. Tak berapa lama kembali menyapanya.


      " Dy.."


      "Ya..?"


      "Anak-anak sekarang ada di rumah baru.."


      "Apa..?"Tanya Diana kaget.Tapi hanya ditanggapi santai oleh pria itu.


      "Kamu tenang saja.Mereka happy kok.Malah sudah ku perkenalkan kamar untuk masing-masing mereka."


       "Tapi.."


       "Apalagi Diana..? Kamu kira aku bisa tenang kalau mereka berada di paviliun kecil itu..?" Adnan mulai jengkel.


        "Setidaknya , kamu harus bicara dulu denganku.." Protes Diana.


        "Aku sudah kamu izinkan bawa mereka keluar kan..?"


        "Tapi cuma jalan-jalan.."


        "Aku tidak janjikan itu.." Jawab Adnan cuek.


        Beberapa saat keduanya hening.Diana akhirnya mengalah.Mengingat akan lembur saat ini.


        "Apakah mereka akan menginap di sana malam ini..?"


        "Tentu saja. Supaya mereka lebih mengenal rumah ini.Rumah baru mereka.." Jawab  Adnan bangga.

__ADS_1


        Diana sampai heran, mengapa Adnan lebih ceria sekarang.Mengingat sifatnya yang dingin dan kaku, hal itu mencuri perhatian Diana.


      Akhirnya dia mengambil keputusan yang menurutnya cukup bijak.


      " Halo..Mas Adnan.."


      "Mmh.."


      " Bisakah menitipkan mereka sementara denganmu."


       "Kamu mau kemana.? Jangan katakan pergi kencan dengan pria"


        "Jangan lebay..Aku kerja.."


        "Kamu tidak perlu kerja lagi.."Sungut Adnan dari seberang.


         "Aku lebih bangga memakan hasil keringatku sendiri.."


          "Kamu tidak akan kekurangan uang.."


      Ucapan pria itu mengingatkan Diana pada transferan uang yang sering tiba-tiba di rekeningnya.Dan jumlahnya cukup besar bagi Diana.


       Tapi dia pikir lebih baik pura-pura tidak mengetahuinya. 


        "Dy..?" Terdengar lagi suara Adnan.


        "Ya..?"


        "Aku tidak suka kalau kamu terlalu sering bersama David Nero, atau siapapun pria itu.." Katanya penuh tekanan.Membuat kejengkelan Diana hampir melewati batas kesabaran.


        'Kamu jangan mendikteku mas." Kata Diana memperingati.


        "Aku tidak mendiktemu.Hanya warning saja.Kamu milikku..!!" 


       Telepon langsung diputuskan sebelum Diana sempat membantah. Dia menghembuskan nafas pelan-pelan mengurangi kejengkelannya.Selalu berakhir sama kalau selesai berbicara dengan mantan suaminya itu.


      Dia berjalan kembali menuju ruangan David.Terlihat ketiga orang itu minum kopi.


Ketika melihat kehadiran Diana mereka seperti meneliti wajah wanita itu kalau-kalau ada yang salah.Namun wanita itu baik-baik saja ketika berkata.


      "Apa bisa kita mulai sekarang..?Sepertinya kita akan lembur.."


      "Kamu tidak ingin minum dulu kah..?"


      "Nanti saja.."


      "Oke..Mari kita mulai kalau begitu.." Tukas  David kemudian.


      Namun kemudian tetdengar suara Diana kembali.


       "Aku butuh ruangan yang sangat tenang dan sendiri, tanpa gangguan apapun.


      "Oke siiip.."


       " Jangan bilang begitu dulu.Kita belum melihat kemampuan hacker tetsebut .Semoga saja kelihaiannya tidak terlalu jauh di atasku.."


        "Aku tidak pernah meragukan kepandaianmu baby.."


     Diana memutarkan bola matanya.Bagaimana mungkin pria ini begitu santai memanggil baby wanita lain dekat istrinya. 


     Namun saat melirik wajah Andita, Diana tidak melihat kegundahannya.Wanita itu malah geleng-geleng kepala pada suaminya.Ternyata dia sudah paham tabiat. suaminya.


     "Apa kabar dengan si kecil..? Sehat-sehat saja bukan..?" Tanya Diana basa-basi.


     "Yah..begitulah..Sehat seperti papanya.." Sahut David tak tahu malu.


      "Gak nanya kamu .." Sentil Agnes.


      "Gak nanya pendapatmu juga.." Balas David.


      "Kalian gila.." Omel Diana.


     Beberapa saat kemudian , Diana sudah berada dalam ruangan tersendiri .Seperti biasa memulai pemeriksaan berbagai sistem.Bahkan webcam yang kemungkinan juga sudah diganggu.


      " Sesaat kemudian, dia merasakan pergerakan yang mulai ingin menerobos sistem yang terkunci.Ibarat maling yang ngotot memanjat pagar tinggi rumah orang.


      "Mmh..Namanya juga maling.." Guman Diana kemudian.


      Sementara di luar ruangan yang berbatas kaca.David dan Agnes memantau kegiatannya dalam diam.Mereka menyadari wanita itu butuh waktu sendiri dan sunyi dalam goa yang dia ciptakan sendiri.

__ADS_1


      


__ADS_2