MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
BERTEMU DI KAFE


__ADS_3

      Adnan hanya ingin sekedar mampir melihat-lihat pertokoan di sekitar supermarket ini, sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke tempat Diana. 


Melihat oleh-oleh yang sudah tersusun dalam mobil , dia masih saja ingin memenuhi ruangan dalam mobil yang masih kosong.Mulai dari boneka barbie, teddy bear, winnie the pooh, mobil-mobilan, berbagai permainan kreatif untuk anak dan lain-lain.


     Membayangkan wajah Said dan Savana, membuatnya jadi ingin membeli apapun permainan dan camilan untuk kedua buah hatinya itu. Seberapa banyak pun yang ingin dia belikan,Adnan tidak akan pernah merasa cukup .


     Selain karena rindu dan sayang , perasaan bersalah di hatinya sangat besar .Mengingat dulu pernah menelantarkan mereka semenjak dalam kandungan hingga berusia satu tahun .


     Hal demikian,  membuatnya ingin memberikan semua yang bisa dia berikan saat ini. Meskipun rasa sesal kadang datang tiba-tiba jika mengingat bagaimana  menderitanya Diana menjaga si kembar melewati waktu demi waktu tanpa dampingan seorang suami. Sedangkan kala itu, dia mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada anak Risa tanpa berbatas. Walaupun kemudian harus  berakhir akibat perceraiannya  dengan Risa.Adnan tidak pernah berhenti menyalahkan dan mengutuk dirinya karena itu.Namun waktu tidak bisa dikembalikan lagi.


    Dia masih begitu bersemangat  hendak berburu barang-barang yang menarik perhatiannya. Wajahnya sumringah dan bahagia.Baran-barang hadiah yang dibeli bukan hanya menarik, tapi juga harus berkualitas dan pasti bermerek terkenal.


    Sesuai dengan perintahnya, Sopir membawa mobil berkapasitas ruangan yang besar di dalamnya. Karena tidak ingin tanggung-tanggung membawa semua hadiah yang dibelinya.Orang-orang suruhannya sudah bolak-balik  hampir memenuhi mobil dengan berbagai macam barang.Tapi pria itu tak juga puas untuk mencari lagi . Dia baru menghentikan ketika salah satu dari mereka berkata.


     Saat ruangan hanya tinggal satu kursi depan saja, Supri mengutarakan pendapatnya.


     "Mobil sudah hampir full  tuan.."Ujar pria itu. Dia tidak habis pikir dengan nafsu belanja tuannya yang melebihi ibu-ibu sosialita.Perbedaannya hanya pada jenis barang yang dibeli.Namun tidak satupun yang mewakili kebutuhan pribadi tuannya.


     Adnan yang berjongkok memperhatikan dan mengetes mobil-mobilan baterai mengalihkan perhatian.Dia tertarik karena mobil-mobilan itu  bisa dikendarai untuk anak-anak balita sekalipun.Mendengar kata-kata sopirnya itu, dia terpaksa berhenti.Meskipun matanya menyiratkan tidak puas karena harus batal membeli. Mungkin lain hari  bisa melakukannya.Walaupun begitu, dia masih bertanya satu kemungkinan juga.


     "Apakah tidak ada ruangan lagi untuk dua barang ini..? Tanya dia sambil menunjuk mobil-mobilan itu.


      "Tidak bisa lagi tuan..Kecuali hanya saya saja yang mengendarai mobil sekaligus jadi satu-satunya penumpang" Jawab Supri cengar cengir. Sopir pribadinya itu sudah kewalahan menyusun hadiah-hadiah itu sedari tadi.Tapi tuannya tidak tahu kapan mengakhiri sesi belanjanya.


     Akhirnya dia cukup lega ketika Adnan bangkit dari posisi jongkok.Sehingga tingginya terlihat mendominasi ruangan.Diam-diam Supri mengagumi kelebihan sosok tuannya.


     Adnan menoleh sekilas  kembali memperhatikan objek yang terpaksa tidak jadi dibeli.Ada rasa sesal dan tak rela di wajahnya.


     "Oh..gitu ya..Oke.Cukup sampai sini dulu.Tapi saya masih ingin melihat-lihat sekitar tempat ini.Kamu tunggu saja di mobil. Kira-kira setengah jam lebih kurang. Kalian bisa istirahat dulu.."Ujar Adnan kemudian.


      "Baik tuan.." Supri tersenyum senang.


   Hal ini adalah satu hal yang membuatnya juga sangat mengagumi tuannya. Adalah kepedulian yang tinggi  pada bawahannya. Meski mempunyai  sikap dingin dan kaku bahkan kadang membuat kesal,sesungguhnya dia adalah pribadi yang lembut dan hangat.


     Hanya sayang sekali, belum pernah dia melihat tuannya tertawa lepas dan bahagia. Seperti ada batu yang selalu menggelayuti kepala tampannya itu. Supri ingin sekali membantu jika memang dibutuhkan.Tapi jeleknya, Adnan seperti nya lebih suka memendam rahasia sendiri.

__ADS_1


Pria itu lebih suka menyendiri bergelut dengan emosi pribadinya.


    Seperti saat ini, Supri hanya bisa memperhatikan tanpa mengetahui penyebabnya.Tiba-tiba  Adnan melangkah  agak terburu-buru menuju sisi lain dan komplek pertokoan itu. Dia melanjutkan langkahnya seperti ada yang dikejar. Mau tidak mau dia menjadi ingin tahu tentang tingkah laku tuannya.Kalau bukan sesuatu yang dianggap sangat penting, mana mungkin pria yang biasanya tenang dan anggun kalau berjalan akan bertingkah seperti orang yang ketinggalan bis itu..?


      Adnan memang sedang mengejar sesuatu.Dan dia tidak ingin kehilangan sekedip pun.Perasaannya menjadi gelisah hampir tak terkontrol .


      .Pria itu sangat yakin, sekilas tadi melihat bayangan Diana sedang berjalan beriringan dengan seseorang pria.Adnan tidak bisa berlapang dada, untuk merelakannya.Dia mengakui bahwa dirinya sangat egois, tapi tidak peduli.


       Hal  yang membuat hatinya semakin tidak terima adalah ketika mengetahuit pria yang mengikuti mantan istrinya itu  adalah Nero.


Adnan sangat mengenali wajah kedua ,Walaupun jarak mereka cukup berjauhan. Dia menjadi masa bodoh dengan kenyataan, bahwa tidak ada haknya membatasi Diana dengan siapapun termasuk Nero.Mengingat hubungan mereka tidak terikat apapun lagi, selain sebagai orangtua si kembar. Adnan pun mengakui dengan bencii kalau dia lah penyebab perpisahan itu.Tidak..! Kali ini tidak ingin berlaku lembut dan mengalah lagi.Diana adalah miliknya sampai kapanpun. 


      Tinggal beberapa puluh meter lagi, Adnan akan menyusul mereka. Namun ketika melihat mereka memasuki sebuah belokan, dia sempat kehilangan jejak. Sehingga menghabiskan waktu beberapa menit untuk menemukan kembali. Nalurinya mengatakan mereka memasuki sebuah cafe. Adnan semakin mempercepat langkah kaki ketika  samar-samar mendengar suara orang-orang yang dikenalnya. 


        Dari salah satu jendela kafe yang terbuka, terdengar tawa  renyah Diana mendengar lelucon Nero.Rasanya rindu sekali mendengar tawa seperti itu. Namun ketika terdengar tawa Nero ikut menimpali, hatinya menjadi panas.Keakraban mereka  seperti mengejek dan mencibir dirinya.


     Dia berjalan melewati pintu masuk, untuk  memastikan dugaannya tidak salah.Tapi  dia terperangah ketika mendapatkan kejutan lain menyusul di sana. Sungguh membuat pria itu heran, dan hampir tidak mempercayai penglihatannya. Risa telah lebih dahulu mendekati kedua orang itu.


     Amarah dan rasa jengkel dirasakan,, ketika mendengar Risa bicara mereka. Melontarkan kata-kata pedas dan menyindir.Risa bertingkah seperti Diana telah melakukan kesalahan besar padanya. Adnan mendesah kesal.


   Pria itu urung melanjutkan langkahnya. Dia memilih mundur dan berdiri dari tempat terlindungi. Mengamati interaksi ketiga orang itu.Beberapa kali kuping dan wajahnya memerah menahan marah ketika mendengar kata-kata tak tahu malu yang keluar dari mulut mantan istri keduanya itu. 


     Tanpa malu berdiri penuh percaya diri dan menanggapi kata kata sindiran dari Nero .Di wajahnya yang angkuh selalu berusaha memasang senyum yang meyakinkan semua pasti akan baik-baik saja untuk dia.Adnan hampir saja menghajar wanita tak tahu malu itu, ketika kata-kata bohong keluar dari mulutnya.


     "Oke..oke just enough.Tapi aku hampir lupa memberitahu kalian.Mungkin tidak lama lagi ,aku dan Adnan akan rujuk. Buktinya kami sangat menikmati kebersamaan selama di Swiss….Kalian tahu kan maksudku..?"


     Demi Tuhan, wanita ini memiliki fantasi yang liar. Adnan sudak tahan lagi langsung mendekati mereka


    Dia tidak mengacuhkan sikap Nero yang tertegun melihat kehadirannya yang diam-diam sudah berdiri di belakang Risa. 


  Risa seperti dicekik tiba-tiba oleh tangan tak terlihat.Kata-kata yang sedang dilontarkan terpotong seketika.Lucunya lagi, dia lupa menutup mulutnya yang ternganga dan mata yang terbeliak.


     Berdiri tenang di antara mereka , ekspresi Adnan tak terbaca. Matanya mencuri pandang pada sosok Diana sedang fokus memandang piring kuenya.Adnan ingin memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. 


    Suasana yang tiba-tiba tenang dan suara Risa yang tidak terdengar lagi, mengusik Diana yang dalam posisi menunduk.Dia mengangkat wajahnya dan langsung mendapatkan kejutan yang mencengangkan.Diana tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat itu Yang pasti dia merasa lebih tenang karena tidak lagi mendengar ocehan tak masuk akal dari Risa .

__ADS_1


    Tatapan hangat di wajah Adnan beradu pandang dengan keheranan di wajah Diana. Lalu meneliti dengan tenang .Setelah memastikan wanita itu baik-baik saja, dia mengalihkan pandangan pada Risa yang salah tingkah di hadapannya.


     Wajah sombong tadi sudah terlupakan, dan beralih menjadi memelas .Risa berperan sebagai korban yang kena bully.


Diana tertawa dalam hati, mengakui kalau seandainya wanita itu artis,Risa pantas untuk mendapatkan trophy pemain watak terbaik. Mengingat kecepatannya berubah seperti bunglon.


     "Oh Adnan, mereka membully ku.Aku berterima kasih kamu datang tepat waktu"


     Nero mendesis geram.Dia kehilangan perbendaharaan kata untuk wanita ini.Tapi Diana malah lebih tenang .Dia mendukung ucapan Risa dengan santai.


     "Ya..Kamu tepat sekali Risa.Mengadulah pada orang yang akan membelamu.Bukankah kami sudah mengejek, menghina dan merendahkanmu.Oh ya..Satu lagi..Kami bahkan mengatakan anakmu  adalah anak haram.Padahal kamu mati matian mengatakan Adnan adalah bapaknya.Well kalau begitu aku pribadi minta maaf.Bagaimana mungkin lidah yang nakal ini mencurigai bahwa itu bukan anak biologis Adnan.."


     Nero hampir tersedak menahan tawa.Ketika Diana mengakhiri penuturannya.Namun tidak demikian dengan dua orang yang lain.Wajah Risa dan Adnan sama-sam merah padam dalam maksud yang berbeda.Mata pria itu memandang rendah wanita di depannya. 


      "Adnan..Mereka membully ku.." Suaranya mirip rintihan.


      Tapi Adnan sepertinya sudah mati rasa pada penderitaan yang dia sampaikan.Mata hitamnya semakin kelam ketika berbicara.


      "Bukankah sudah ku ingatkan padamu agar jangan mengganggunya..?Apakah kamu kira aku bercanda..? Atau kamu begitu tumpul otak..?"


      *Adnan..Aku.."


      "Cukup..Pergilah.!Jangan mengumbar berbagai kebohongan lagi kalau tidak ingin dipermalukan.." Usirnya kejam


      Risa  tergagap karena terbuka kedoknya.Dia mencoba menahan air mata yang akan tumpah.Dari sekian orang yang menghinanya, Adnan adalah orang paling tidak diharapkan. Apalagi di hadapan Diana, yang sangat di bencinya.Wanita yang tidak seharusnya hadir di bumi ini , menurutnya.


      Adnan tetap dengan postur dingin dan tak berperasaan. Risa mempertahankan harga dirinya yang terakhir kali, lalu cepat-cepat pergi dari sana.Mempertahankan ketenangannya sekian detik.Namun tidak lupa memberikan tatapan  dendam pada Diana 


      Risa sudah berjalan pergi .Untuk sesaat mereka terdiam tanpa kata-kata.Bahkan Nero sudah hampir melupakan kopinya yang hampir dingin.Hanya Diana yang berlagak cuek dan tak peduli dengan keadaan tersebut.


     "Ku kira sudah waktunya aku pulang…"Katanya sembari bangkit dari duduk. Mengumpulkan semua belanjaan, lalu mengambil langkah menuju pintu keluar.


     Nalurinya menyatakan keadaan akan tambah memanas bila masih bertahan di sana.Dan Diana tidak ingin menjadi saksi ataupun terlibat dalam pertikaian itu.Lebih baik tidak melihat apa-apa dan mendengar apa-apa.


    Pengunjung kafe seperti mendapat tontonan gratis.Tidak ada yang punya inisiatif melerai mereka. Selain kedua pemuda itu tampan, dan para wanita juga cantik-cantik.Pertentangan yang melibatkan keempat orang itu seperti drama telenovela yang sering mereka lihat di layar datar.

__ADS_1


__ADS_2