MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
WANITA BERHARGA


__ADS_3

     Zurich airport jam 8 pagi waktu Swiss. Adnan sedang membeli  kopi panas di sebuah Starbuck yang  berjarak  sedikit jauh dari terminal maskapai penerbangan yang akan ditumpanginya. Saat ini masih ada waktu satu jam lagi untuk cek in tiket.Karena sengajandatang lebih cepat.


     Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang yang tersisa, dia menggunakan kesempatan melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Hitung-hitung berolahraga,sebelum menempuh perjalanan panjang lewat udara.


    Beberapa pasangan mondar mandir disekitar. Mereka hanya melewati keberadaan pria itu.Karena lebih sibuk dengan tujuan masing-masing.


    Adnan sangat  menikmati kopinya yang lezat. Rasa hangat menjalar di urat-urat sarafnya, bertolak belakang dengan suhu udara yang sangat dingin dalam suasana bandara yang cukup ramai. Dia sudah akan mengambil tegukan ketiga kali, ketika sebuah suara memanggilnya.


     "Adnan..?"


     Pria itu menoleh dan mendapati seorang wanita  berjaket woll dan rok setengah paha.Sepatu boot hitam dan berhak tinggi, mencerminkan gaya wanita sosialita wanita itu.Salah satu tangannya dimasukan ke saku jaket sementara yang lain juga memegang gelas kopi.


     Adnan  hanya diam menatap datar, walaupun dia terkejut dengan pertemuan yang tidak disangka-sangka ini.Ternyata dunia ini sangat sempit untuk dia dan Risa.


     "Lama tidak bertemu  Adnan.Apa kabarmu ?" tanya dia sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.Namun hanya dibalas anggukan .Wanita itu terkekeh.Mengibaskan rambut dengan gaya elegan, mengusir rasa canggungnya.


     "Kenapa Adnan..? Apakah bersalaman pun kamu tidak mau denganku..?" Tanya dia. Namun kembali ditanggapi Adnan dengan datar.


      "Aku baik..Kamu apa kabar Risa..?" Tanya Adnan sekedar basa-basi.Walau sebenarnya dia tidak peduli sedikitpun.Dia berpikir untuk mencari alasan pergi dari sana.


    Risa bukannya tidak menyadari keberatan Adnan. Tapi dia lebih ingin untuk berinteraksi dengan mantan suaminya itu. Tidak mudah baginya untuk melupakan pria tampan ini.Mencoba peruntungan, dia memberikan senyuman menggoda, yang biasa sangat ampuh untuk pria-pria lain.Bagaimanapun masih ada rasa yang disimpan untuk pria  tampan di depannya itu.


     "Seperti yang kamu lihat.Aku sangat bahagia" Jawab wanita itu ceria.


      Sebenarnya Adnan tidak mempedulikan jawaban apapun dari mantan istrinya itu.Karena ketika melihat sosoknya di depan mata, dia sudah tahu. Adnan hanya mengulur waktu untuk pergi meninggalkannya.


      "Syukurlah..Aku jalan duluan ya.."Kata Adnan kemudian.Dia kemudian  melewati wanita itu.


     Seharusnya semua percakapan itu selesai begitu saja.Dan mereka hanyalah dua orang yang kebetulan kembali bertemu, lalu saling melupakan.


      Namun Risa berpikir terbalik dengan semua itu. Tidak ingin mengabaikan kesempatan,dengan cepat menyusul mantan suaminya itu.


      "Kita sudah lama tidak bertemu.Apakah tidak ingin mengetahui  hal-hal tentangku..? Aku merindukanmu Adnan.."


     Adnan menghentikan langkahnya.Satu tangannya menyingkirkan tangan wanita itu. Mengingat sifat Risa yang agresif dan tak punya malu, dia tidak akan memberi hati.


     "Lalu..?"


      "Masih ada waktu untuk.kita saling mengobrol.Bukankah kebetulan yang langka untuk kita berjumpa lagi..?"


     "Aku tidak tertarik.."


     "Aku masih mencintaimu Adnan.Aku sungguh menyesali kejadian itu.." Katanya putus asa. 


     Tapi Adnan adalah pria yang sangat mengenal dengan baik seberapa hebatnya wanita itu memainkan trik-trik kotor di masa lalu. Dia adalah jelatang yang harus dihindari.


     Ketika menghentikan langkah kakinya, dia memandang sebal wajah Risa. Adnan tidak menutupi rasa tidak sukanya.


     "Mari kita saling menjaga jarak masing -masing.Kita bukan siapa-apa lagi."


     "Tapi  aku masih mencintaimu…"


     "Berhentilah Risa. Aku sudah mempunyai seseorang yang ingin ku perjuangkan.." Tegas Adnan meninggi.


     Risa tertegun sesaat. Dia bukan orang bodoh untuk tidak menangkap maksud pria mantan suaminya itu. Dia kemudian tertawa meledek.


     "Haa..haa…Adnan..Jangan katakan kamu masih berharap pada Dia.Kamu dan aku sama-sama tahu , betapa benci dan dendamnya  wanita tak tahu diri itu pada aku, kamu dan keluargamu.."


     Adnan menatap geram pada wanita di depannya itu. Pandangannya jijik dan merendahkan.


    "Berkacalah sebelum kamu memgatakan dia tak tahu diri.Jujurlah pada dirimu.Siapa orang yang tidak tahu diri itu.." Kata-kata Adnan sangat pedas dan sengit.Sehingga membuat wanita bebal seperti Risa cukup gerah.


     Dia menggigit gerahamnya kuat-kuat, sebelum menanggapi.


      "Kamu tidak harus mengucapkan kata-kata itu untukku.Bagaimanapun kita pernah bersama"

__ADS_1


       "Aku tidak pernah melupakan itu. Bahkan sangat mengingat kelakuanmu dengan jelas.." Adnan pun tak kalah pedas


       Muka Risa memerah. Dia mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak menangis 


      "Tapi kamu sangat menikmati saat bersamaku sebelum itu.Jangan katakan kamu tidak menikmati servis ranjangku.." Tukas Risa semakin berani.Dia sudah memotong urat malunya.


     Namun Adnan hanya diam dan menatapnya dingin.Pria itu kemudian mencoba melanjutkan langkahnya. Dan Risa tidak ingin mengikuti lagi. Karena menyadarI, beberapa orang di sekitar mulai terusik oleh mereka berdua.


     Tiba-tiba Adnan berhenti lalu menengadah ke langit.Matanya berkaca-kaca.Terbayang wajah Diana, saat menceraikan nya,  demi wanita ini. Rasa sesal yang dalam menusuk ke relung-relung hatinya.Dan itu sangat sakit.


    Untuk beberapa saat, keduanya terdiam.Adnan mengumpulkan semua kata-kata dalam pikirannya.Susah payah menahan getaran dalam kata-kata yang dia ucapkan .


    "Ketahuilah Risa..Aku sangat membenci diriku  atas pilihanku di masa lalu. Aku adalah pecundang yang begitu tega mengkhianati istri sendiri demi memilihmu. Kedepan, Aku bersumpah tidak akan terjadi lagi. Biarkan aku menjaga hatiku untuknya , walaupun seumur hidup tidak akan pernah dimaafkan.Ku harap jangan lagi ada cerita diantara kita berdua.Dan satu lagi, jangan pernah coba-coba menyakitinya.Aku tidak akan tinggal diam jika kamu tidak mengacuhkan ucapanku..!"


    Setelah mengatakan itu, Adnan melangkah cepat meninggalkan Risa yang terpana.


    Tatapan Adnan semakin dingin dan tersakiti. Hingga satu titik, langkahnya terhenti, dan tertegun menatap telapak tangannya . Lalu meraupkan ke wajahnya. Dia sangat lelah.Dan tidak punya keinginan untuk berlama-lama dengan wanita ini.Risa adalah salah satu bukti betapa dia pernah merasa tidak berharga sebagai pria. Perasaan itu seperti pecut yang diayunkan ke punggung. Sakit dan memalukan.


      Setelah menghabiskan waktu luangnya Adnan melakukan cek in ticket. Dan tidak lama kemudian, sudah berada dalam penerbangan menuju tanah air.Diam-diam berdoa ,semoga dalam lima belas jam lebih perjalanan ini semuanya akan lancar-lancar dan aman-aman saja.Terbayang wajah si kembar yang sudah lama ditinggalkan.Dia sangat merindukan memeluk dan mencium mereka.


     Adnan menetapkan tujuan perjalanannya akan berujung di kota tempat Diana dan anak-anak berada. Karena hanya untuk mereka dia ingin kembali ke tanah air.Dia takut sekali jika suatu saat, anak-anaknya melupakan kehadiran dia sebagai ayah kandung.Kemudian menggantikan sosok pria lain.


    Lima belas jam lebih, pesawat akhirnya landing dengan selamat di bandara kota tujuannya.Dua hari kemudian, sosoknya terlihat sudah terlihat wara wiri di kota itu.Sebenarnya ingin langsung ke tempat Diana setelah istirahat sehari.Tapi beberapa keperluan membuatnya menunda rencana.Karena ada urusan perusahaan yang harus diselesaikan.Bagaimanapun juga mempercayakan bisnis pada orang kepercayaan, tetaplah harus selalu dipantau .Agar meminimalisir resiko ke depan.


  Disisi lain, di sebuah supermarket, Diana sedang mendorong troli belanjaan.Dia tidak lupa membeli pesanan bu Ida.Yaitu susu kalsium dan sebuah buku agenda sekalian pena. Akhir-akhir ini wanita itu sangat suka menulis-nulis. Bahkan sudah jarang mengunjungi anak-anak mengajak bermain seperti biasa.Tapi sesekali akan membuatkan camilan-camilan untuk Diana dan anak-anak.


     Pada sebuah counter khusus menjual berbagai macam alat tulis.Tanpa banyak pilih ,Diana memasukan sebuah buku agenda bersampul coklat.Kebetulan saja di kasi bonus dua buah pena di dalam pembungkusnya yang terbuat dari plastik. Tidak lupa juga sebuah buku gambar mewarnai untuk anak-anak lengkap dengan krayonnya. Kebetulan si kembar juga sedang punya hobi baru .Yaitu mencoret coret dinding.


       Diana hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mereka berteriak gembira saat melihat coretannya sangat nyata, dan mengotori dinding.Namun alih-alih memarahi , Diana lebih memilih untuk mengalihkan perhatian mereka pada buku-buku gambar mewarnai yang dibelinya dalam jumlah banyak. 


     Wanita itu masih melihat-lihat barang -barang di rak.Ketika sesuatu di rak paling atas menarik perhatiannya.Satu bantalan duduk dan punggung sekaligus untuk memijat. Dia teringat dengan bu Ida yang sering mengeluh sakit punggung dan pinggang.Biasanya akan ditanggulangi dengan balsem, atau memanggil tukang pijat.Hanya akhir-akhir ini, bu Ida tidak mau lagi di pijat.


      Berpikir untuk mengambilnya, dia menyesali ukuran tubuhnya yang kurang tinggi.Dia mencoba menggapai dengan sedikit melompat mungkin akan bisa mendapatkan benda itu.


      Tiba-tiba sebuah tangan besar berwarna coklat lebih dahulu meraih benda itu.Diana ingin protes.Tapi urung ketika melihat sosok yang dikenal cengengesan padanya..Diana mau tak mau ikut tersenyum.


       "Nero..?"


       "Yup..Itu namaku.."


      Dia tertawa dengan gaya cuek seperti biasa. Matanya berbinar terang, mengingatkannya akan mata Adnan.Hanya lebih dingin dan tenang.Dua saudara berbeda karakter.


      Nero melambaikan tangannya tepat di muka hidung wanita itu.


      "Hello.."


      "Oh..eh..ya.."


      "Apakah kamu sudah menyadari ketampananku mantan kakak iparku..?" Tanya dia sambil mengejek.


      Diana serba salah.Tangannya langsung menabok lengan pria itu.


      "Kau ini ya…Tidak ada habisnya meledekku."


       "Karena aku suka kamu.."


       "Mulai deh..Skip..skip…"


       "Aku tidak akan menyerah.."


       "Kamu harus berhenti.."


       "Gak akan.."


       "Kepala batu.."

__ADS_1


       "Bodo amat.."


    Diana kehabisan bahan ledekan lalu mengalah.Tiba-tiba menjadi serius.Sementara pria itu menatapnya dengan tenang, seperti tidak pernah akan ada ledakan di depan matanya.Dia tahu wanita di depannya ini akan menanyakan alasannya berada di sini.


        "Angin apa yang membawamu ke sini Nero..?" Tanya dia kemudian.(Nah..benarkan..?)


     Nero mengusap tatanan rambutnya yang rapi. Gerakannya khas seperti foto model pria.Namun pria itu seperti melakukan hal yang biasa dalam sehari-hari.


        "Aku..? Seperti biasa lah. Sedang mengurus bisnis di sini.Kebetulan melihatmu memasuki area ini.


        "Kamu mengikutiku..?"


         "Bisa dibilang begitu.."


          "Kurang kerjaan.."


           "Hee..hee. Ya Tuhan..Melihatmu mengendarai motor mataku hampir keluar dari lobangmya.Kenapa kamu tidak mendaftar ikut lomba racing saja..?"


       Diana hanya mendengarkan dengan acuh tak acuh.Tangannya justru sibuk memperhatikan  instruksi pada pemakaian sebuah alat kesehatan. 


       Ketika Nero mencoba menjawil rambutnya, Dia hanya mencibir dan mengelak . Pria itu terkekeh.Dia suka sekali dengan tingkah wanita itu.


       "Kamu menyuruhku jadi pembalap pro..?"


      "Oh..tidak..tidak..Aku tidak mengizinkan.Bisa-bisa keponakanku menjadi piatu secara tiba-tiba.." Celoteh Nero seperti guru mengajari seorang murid.


     Namun boro-boro diperhatikan, wanita itu malah memutar bola matanya.Membuat Nero semakin gemas ingin mencubit pipi wanita itu. Namun gagal begitu  lagi-lagi Diana mengelakkan mukanya.


     "Tanganmu..!" 


     "Ups..sorry.."


     "Dasar.." Kata Diana beranjak dari sana.


     Kemudian mereka beriringan menuju kasir.Nero lebih dulu berada di depan.Langsung menyerahkan kartu debit dan  memerintahkan kasir mentotalkan belanjaannya dengan Diana. Nero bahkan tidak menggubris protes yang diajukan wanita itu.Dia merasa berkuasa dengan keputusannya.


      "Aku tidak suka kamu bayar belanjaan dengan uangmu.." Protes Diana ketika mereka berjalan menuju sebuah coffee shop. Dan sekali lagi, dia terpaksa mengikuti ketika Nero menariknya untuk mengikuti dia.Tas belanjaan yang sudah diambil alih menyebabkan Diana mengalah.


      "Hei..Itu cuma segelintir. Jangan terlalu di masalahkan.."


      Sebenarnya titik permasalahannya bukan besar kecilnya uang yang terpakai.Tapi Diana tidak ingin kembali terjerat lagi dengan keluarga Adnan.Apalagi mengingat kedatangan Marlena dan Dara beberapa hari yang lalu.


Mereka ibarat api yang selalu ingin membakarnya.


       Diana membenci mereka sebanyak mereka telah menyakitinya. Dunia akan terbalik jika mereka tiba-tiba berubah baik tanpa tujuan apapun .Tidak..! Itu tidak mungkin. Diana pun sudah menegaskan tidak akan pernah ada damai antara dia dan Marlena.


      Nero menatap dalam wanita di depannya itu.Berandai-andai jika dia lebih  cepat dari Adnan melamar Diana, mungkin wanita itu tidak akan terlalu disakiti keluarganya.Karena Nero bukanlah anak yang patuh atau anak yang diidolakan dalam keluarganya.Kehadirannya tidak terlalu penting.


      Jika waktu itu Diana adalah istrinya, lebih mudah baginya melindungi Diana dari mereka.Tapi apa daya dia,  yang selalu kalah selangkah dari kakaknya itu. Adnan yang tampan dan sangat dibangggakan keluarganya. Padahal pria angkuh itu selalu memasang wajah datar dan dingin. Benar-benar menyebalkan menurut Nero.


      Pria itu masih hanyut dalam lamunannya ketika suara Dia terdengar mengingatkan.


      "Kalau kamu ingin batalkan mentraktirku, lebih baik cepat katakan.Aku sudah harus pulang Kamu kan tahu bahwa aku bukan wanita yang santai.."


      "Mmh..sorry.."


      "Idih..Kamu suka sekali bengong seperti orang linglung.."Ejek Diana kemudian.Nero mada bodo.


       Mereka kembali melanjutkan memesan menu yang diinginkan.Satu cup kopi less sugar untuk Nero dan satu cup kopi creamer untuk Diana.Ditambah sepotong red velvet masing-masing untuk mereka. Nero tidak pernah melupakan vake kesukaan mantan kakak iparnya itu.


        Tanpa mereka sadari , sepasang mata menatap nyalang pada mereka.Wajahnya menggelap cemburu .Setelah meneguk habis minumannya, Dia Melangkah setengah berlari menuju kedua orang yang sedang asyik  berbincang-bincang itu. Ketika mendengar bunyi langkah sepatu semakin mendekati,mereka sama-sama menoleh ingin tahu.


      "Wah…Ternyata endingnya wanita yang dibuang begini rupanya. Tak dapat kakaknya, adiknya diembat.."


      Ucapan sinis dan pedas itu tak urung membuat mereka menghentikan pembicaraan.Wajah Nero dan Diana menggelap memandangnya.

__ADS_1


      Diana adalah yang pertama kali menanggapi. Dia tidak peduli akan kehadirannya hanya  menatap dengan jengah. 


       


__ADS_2