MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
KEJUTAN DI PAGI HARI


__ADS_3

      Ketika matahari pagi sudah mennadakan jam 8 teng.Diana langsung berangkat ke gedung Blue Stone.Tidak sempat lagi balik ke rumah.Syukurlah kemarin sudah sempat memberikan arahan dan wanti wanti pada art rumahnya.


Khususnya dalam memperhatikan kebutuhan bu Ida.


     Diana melangkah ke luar mobil yang dikemudikan Supri.Sementara Adnan juga ikut duduk di samping mengantarkannya.


     "Seharusnya kangan bertindak seolah kamu begitu peduli denganku.."Sindir Diana.


     "Aku memang peduli denganmu.Salah satunya menyediakan kebutuhanmu ketika bangun tidur tadi.Dari urusan sikat gigi, pakaian kantor bahkan hingga pakaian dalam.Aku bahkan masih hafal semua ukuranmu.."


      "Stop..stop..Jangan lagi membahas seauatu yang tidak pantas di bahas.."Balas  Diana jengkel.


      "Mengapa tidak boleh? Bukankah aku hanya mengatakan apa yang harus ku katakan.."


       "Sudahlah..Aku tidak ingin membahas apa-apa pun denganmu pagi ini.Bisa-bisa kehabisan  mood untuk bekerja…"


       Adnan kemudian diam. Tapi tangannya meraih beberapa untaian rambut Diana yang tergerai.


      Diana merenggutkan segera.


      "Hei .Apa yang kamu lakukan. Itu tidak sopan.."Bentak Diana ketik dengan santainya pria itu menciumi rambutnya.


      "Cuma menciumi rambutmu kok.Sepertinya shampo itu cocok untukmu."katanya santai.


     "Dasar .." Makinya lagi.


     "Terimakasih atas pujianmu.."


      "Aku tidak memujimu.Dasar bebal tak punya malu…"


     Tiba-tiba Adnan menyentak kuat lengannya dan menarik kuat hingga membentur dadanya.Matanya menyala tajam.Seperti elang yang akan memangsa.


     "Aku akan mbuktikan betapa  tak punya malunya aku…"


    Seiring dengan itu menempelkan bibirnya dan  langsung menguasai mulut Diana .Percuma mencoba memberontak.Pelukan pria itu seperti jerat besi yang memerangkapnya tanpa kasihan.


      Adnan semakin memperdalam ciumannya dan  memporak-porandakan pertahanan bibir wanita itu.Diana berhasil melepaskan diri hanya karena pria itu telah memuaskan hasratnya.Walaupun Diana sudah berkali-kali mukul-mukul dadanya untuk melepaskan diri.


     "Kau bajingan  Adnan.." Kata Diana dengan nafas sesak.


     "Terimakasih.Tapi bajingan ini adalah ayah anak-anakmu.." Sahutnya cuek..


     "Kamu menyakitiku.." Dengus Diana sambil melihat bilur merah pada tangannya.Adnan menatap dengan sesal.


     "Maafkan aku.Aku tidak berniat menyakitimu lagi Dy.Karena aku tahu kamu sudah sangat menderita di masa lalu.."


   Diana hanya mendiamkan ucapan pria itu.Dia  melangkah keluar tanpa menoleh  kebelakang lagi.Dan Adnan hanya melihatnya tanpa kata-kata hingga menghilang di balik lobby.


      Adnan masih di posisi semula,lalu perlahan lahan mengubahnya.Dia bergumam sendiri


 "Aku tidak akan menunda waktu lagi Diana..Bagaimana caranya .Demi kamu atau demi anak-anak aku harus  mendapatkan kembali keluarga kecilku.." .


     Supri yang melihat dari balik spion hanya  bisa meng aminkan dalam hati.

__ADS_1


     Dia sangat mengharapkan kebahagian tuan dengan keluarga kecilnya. Supri tidak terlalu mengetahui penyebab tuan dan nyonya berpisah.Tapi karena terlalu mengidolakan , dia lebih memilih berpihak pada Adnan  .


       Sementara itu, Diana telah keluar dari lift.Dia berjalan gontai menuju ruangan David.Kebetulan sekali ruangan Agnes juga berada  di lantai yang sama.Jadi, nanti dia tidak akan terlalu jauh jika akan menemui sahabatnya itu.


      Namun dia menemui kesunyian saat melewati ruangan Agnes.Tidak ada siapapun di sana.Bukankah jam sekarang sudah lewat dari jam delapan pagi.?


     "Kamu tidak akan menemukan dia di sini.."


    Diana terlonjak ketika mengetahui David sudah di belakangnya.


    "Oh..benarkah.Apakah Agnes terlambat hari ini..?"


    "Mungkin juga tidak datang.Dia tadi menelponku ,katanya ada urusan mendadadk.."


    "Ooh…gitu ya.."


    "Ya…"


     Untuk beberapa saat Diana sibuk dengan pikirannya sendiri Dia merasa aneh , karena sahabatnya itu tidak mengabari apapun padanya.


     "David..?"


     "Apakah dia sakit..?"


     "Gak pasti juga..Cuma pas ku dengar dia menelepon, suaranya seperti terburu-buru."


     Diana tidak merasa nyaman di hatinya.Bagaimanapun mereka bukan sehari dua hari saja berteman.Hubungan sudah seperti saudara kandung.


    "Ah…sudahlah.Nanti aku telepon dia.Sekarang aku ingin meninjau pekerjaanku kemarin.."


    Tiba-tiba Diana teringat sesuatu sehingga membatalkan langkah kakinya pergi.


     "Bolehkah aku melihat-lihat ruangan David..?"


      "Oh..tentu saja..Tapi jangan kamar istirahat pribadi ku ya..?"


      " Oh..oke.." 


   Tanpa menunggu lagi, Diana langsung memasuki ruangan David.Di tangannya ada sebuah alat detektor yang dirancang khusus untuk melacak sinyal atau gelombang elektromagnetik yang tak biasa.


      Dari mulai sofa, kursi kerja, meja dan berbagai hiasan atau pernak-pernik yang ada di ruangan. Untuk sementara dia tidak mengacuhkan bunyi gemerisik dari kamar istirahat pribadi David.


      Pada akhirnya, Diana berjalan mendekati lukisan baru yang di pajang di bekang meja David.Tiba-tiba Diana melihat sesuatu yang berkedip dan hampir tidak terlihat.


      Karena sudah kepalang gemas, dia langsungemcongkel dengan kukunya.Teriakan tertahan dari David tersengar di belakangnya.


       "Ya Tuhan ..Diana..Itu lukisan berharga…" Serunya menekan amarah.


       Diana tidak peduli.Ketika menemukan apa yang dia cari, wanita itu tersenyum puas.Matanya berkilat bengis. 


      "Apakah kamu sangat menghargai lukisan jelek ini hingga setinggi langit, ketika perusahaan sudah hampir diporak porandakan..?


      " Maksudmu..?"

__ADS_1


      Diana hanya memperlihatkan benda kecil hampir sekecil upil..


       "Itu apa..? Kutu kah..?"


        "Ya kutu.Kutu yang bisa bergerak kesana ke mari tanpa kamu sadari.Bahkan mempunyai daya sebesar gajah merusak perusahaanmu.." Jawb Diana sinis.


      "Apa yang kamu maksud..?"


      Diana menghela nafas.Dia mulai paham kalau David hanya pintar dalam dunia usaha dan jual beli.Tapi tidak akan menyangka kalau kantor sudah disusupi alat pemindai jarak jauh.Yang mampu merekam suara-suara dan gambar.


      "Demi Tuhan..Diana..Ini mengerikan.." Katanya kemudian. Wajahnya yang biasa arogan tiba-tiba pucat.


     "Sangat mengerikan.." Tambah Diana acuh tak acuh.


     "Apakah kutu itu juga terbang menuju kamar istirahat pribadiku..?*


     "Bisa jadi…"


      "Ya Tuhan.." 


    Pada mulanya Diana tidak.memahami maksud dari pbicaraan pria itu.Namun sebuah suara berasal dari kamar istirahat tersebut mengalihkan pandangannya.


     "David, Kamu harus pesankan aku baju baru.Ini benar-benar tidak pantas lagi,."


     Seorang wanita dengan pakaian awut-awutan keluar dari sana.Matanya masih menyipit menahan kantuk.Belum lagi tanda tanda merah yang bertebaran hampir si di seluruh dada dan lehernya yang tidak terlihat jelas.Karena tidak ada kancing lagi yang menutupinya . Dia bahkan ternganga ketika menyadari tidak ada pakaian dalam wanita itu.Sehingga menampilkan pemandangan yang mencengangkan.


     Ketika menyadari bahwa bukan hanya Adnan di ruangan itu,Andita langsung memerah seketika.Wanita itu sangat gugup sehingga kehilangan kekuatan untuk berbalik kembali.Karena semua yang sudah diketahui sangat percuma untuk disembunyikan lagi.


       David tertegun,Diana terpana.Tidak ada yang bersuara.Apalagi Andita hanya bisa salah tingkah saat diperhatikan mereka.


      "Woww…Ternyata pagii-pagi kamu sarapan enak di kantor David..?" Terdengar sindiran tajam tanpa belas kasihan.


      Itu bukan dari dari Diana.Namun Agnes tiba-tiba sudah berada dalam ruangan.Tampangnya sangat tengil dan mengejek. Dia seperti seseorang yang menikmati tomtonan gratis.


      David sangat dibuat kalang kabut.Dia buru-buru membungkus tubuh Andita dengan badannya.Kemudian berjalan pelan-pelan kembali kedalam kamar pribadi itu.Sepanjang itu, dia tidak melepaskan sedikitpun dekapannya.David sangat pencemburu.Jangankan pada pria.Wanita seperti Agnea dan Diana juga tidak diizinkan melihat ketelanjangan istrinya.Walaupun dia sadar bahwa itu adalah hasil perbuatannya sendiri.


    Andita tergagap malu karena tidak menyangka akan berada dalm situasi yang memalukan saat ini.


      Diana  hanya tertegun Namum Agnes tanpa perasaan, mengeluarkan suara tawa yang sangat kencang.Bahkan mengalahkan suara David yang mengusir mereka segera keluar dari ruangan.


      Dua wanita itu tidak ingin berdebat dan mempertanyakan kesopanan pria itu terhadap tamunya. Mereka adalah orang-orang dewasa yang segera memahami kejadian panas apa yang beberapa jam lalu terjadi dalam ruangan itu.


     Hingga sampai di luar, Agnes belum juga menghentikan tawanya.Diana hanya tersenyum geli.Tapi bukan karena kejadian barusan.Dia lebih terpengaruh pada tawa Agnes yang gampang menular.


     Tiba-tiba David sudah berdiri di dekat mereka.Pria itu menatap datar dan acuh tak acuh.


     "Kalau kalian sudah selesai, ayo ikut ke ruangan meeting" Katanya kemudian.


     "Ooh..oke-oke.." Jawab Agnes cepat.Wajahnya masih tersirat kegelian yang gampang sekali meledak menjadi tawa yang berkepanjangan.


      ,"Jangan kalian tertawakan lagi istriku.Apa kalian.mau menanggungkan jika dia tidak punya muka lagi untuk datang ke kantor..?"


     Agnes dan Diana langsung terdiam.Apapun itu bentuk tawa, terpaksa di hentikan dulu karena wajah David yang cemberut.

__ADS_1


   


__ADS_2