MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

     Diana baru saja selesai edit data yang akan disusun, Penyerahan laporan sudah ditunggu di meja David. Namun konsentrasinya tiba-tiba buyar. Ketika benda pipih di mejanya bergetar.


     Pada layarnya tertera nama bu Ida. menelpon. Suaranya agak gugup dan tidak sabaran saat mengucapkan salam.


     .Diana mengerutkan kening.Karena tidak biasanya  beliau menelpon di jam kerja.


      "Halo bu..Ada apa ya..?"


      "Diana..Ibu minta maaf sudah mengganggu di jam kerjamu. Habis ibu bingung dengan kedatangan tamu-tamu inj.Mereka mengatakan bahwa mereka, adalah oma dan opa nya si kembar.."


       " Apa..?"


       "Ibu bingung nak.Mereka adalah orang-orang yang angkuh dan tidak sabaran.


       "Oke..Ibu tenang ya..Diana akan pulang.Tolong jangan bawa masuk rumah dulu ya..Tunggu Diana ya bu..!"


       "Ya nak..Tapi jangan lama-lama ya.."


        "Baik bu..Ini Diana sudah langsung jalan.Ibu yang sabar ya.."


         "Ya nak..Ibu tunggu.."


           Turun ke lantai satu dia berjumpa dengan Agnes. Wanita itu terlihat sedang menunggu seseorang.


     "Buru-buru amat..Kamu mau kemana  Diana..?"


    "Aku izin hari ini pulang cepat.Sesuatu terjadi di rumah.."


   "Hah..?Ada apa di rumah ?" Tanya Agnes semakin penasaran.


     Diana terdiam sejenak.Menatap seriua wajah Agnes.


     "Kamu mau tahu Nes..? Aku lagi bersiap untuk perang. Kedua orang tua Adnan saat ini sedang di rumahku.Dari cerita yang disampaikan bu Ida, aku punya firasat tak baik.."


      "Hah..?."


      "Eh..Oh..Tunggu dulu aku harus ikut.Aku juga lagi mau tahu nih wajah mereka.Sekalian jaga-jaga.."


       "Eh..? Aku gak mau merepotkanmu.Sudahlah..!Biar kuhadapi sendiri.."


       "Tidak bisa..Aku harus ikut juga.."Tegas Agnes keras kepala.


       "Kerjaanmu gimana Nes.."


       "Aku juga akan izin hari ini.."


       "Kamu ini..Kenapa jadi ikut sibuk sih..?"


       "Bodo ah..!! Yuk ..Pakai mobilku saja..!"  Perintah Agnes dalam mode jagoan. Diana  menggeleng-gelengkan kepalanya .


       "Mengapa kamu yang lebih ngotot dari aku Nes..?" Gumamnya.


       Memasuki halaman rumah terlihat sebuah fortuner putih terparkir di sana.Sementara tiga orang penumpangnya duduk di balai-balai teras.Mereka adalah orang-orang yang tidak disukai dan ingin dihindarinya.Wajah masam dan angkuh melihat pada kedatangannya.


     "Ha..Akhirnya datang juga kamu.." Sbut Marlena sinis.


    "Ada apa kalian ke sini..?" Tanya Diana tanpa basa-basi.Dia membuang segala kesopanannya.


    "Sikap  seperti apa itu..?Pantaskah kamu berlaku demikian..?"


     "Ku rasa pantas untuk kalian.."


     "Kau.." Desis Marlena.


     Sementara Djaelani semakin menampakan sikap sok kuasanya.Diikuti Dara yang berwajah ketus.

__ADS_1


     Diana tidak mempersilahkan mereka masuk ke rumah.Kecuali Agnes yang langsung masuk dan menutupnya kembali.


     "Apakah begini sikapmu terhadap tamu yang sudah lama menunggu.Bahkan tidak menawari kami minum.." Dara mulai mengeluarkan cakarnya.


      Diana hanya tidak mempedulikan.Dengan santai tetap menatap mereka satu persatu.Kemudian berkata dengan nada kalem.


     "Aku tidak menerima tamu seperti kalian..pergilah.."


     "Kau mengusir kami.."


     "Yup..go away..!"


     "Kami ini opa dan oma anaknya Adnan yang ada padamu. Mereka keturunan kami.."


     "Oh..Aku tidak merasa demikian.."


     "Kau tidak berhak mencegah kami untuk menemuinya.."


     "Kamu yang bilang begitu perempuan tua..Aku bahkan tidak ingin ada hubungan apapun antara kalian dan anak-anakku.."


      "Cukup kamu Diana..Mereka darah daging kami.." Djaelani mulai menggelegar.


       Diana teringat waktu dulu betapa segan dan takutnya dia pada pria yang notabene adalah ayah Adnan.Tapi perasaan itu sudah tergantikan kini dengan benci dan dendam. Dia bahkan berani menatap mata pria itu dengan tatapan membunuh.


      "Lalu apa mau kalian.."


      "Ehm.."


      Djaelani melonggarkan kerah kemejanya yang terasa agak mencekik.Sikap Diana yang menantang tidak sesuai dengan prediksinya. Di masa lalu mantan menantunya ini begitu penurut dan  lembut.Namun sekarang dia seperti menghadapi wanita yang siap untuk merobeknya.


      "Apakah si pengecut Adnan yang mengirim kalian ke sini..? Cih..Benar-benar anak manja..Anak mama.."


      "Kami kesini karena kesadaran kami.Dan..heii..Jaga mulutmu.


Mas Adnan bukan pria pengecut. Dia pria jantan kebanggaan keluarga kami.." Jawab Dara sengit.Diana mencibir.


      "Tutup mulutmu ..perempuan kurang ajar.Beraninya menghina anakku." Teriak Djaelani.


       "Kamu bahkan tidak ada apa-apanya.Tapi lancang bicara.." Marlena pun tak ketinggalan.


       Lagi-lagi Diana memandang remeh tiga orang itu.Sementara Agnes berjaga di balik pintu. Diana melanjutkan.


       "Ku rasa kalian sudah cukup lama bertamu.Pergilah..! "


       "Kamu mengusir kami..?" Tanya Dara marah.Wajah wanita itu memerah.Dia yang umurnya beberapa tahun lebih muda tidak pernah menaruh hormat pada Diana dari dulu.Dan Diana  menyadari itu.


      Matanya menyipit memandang dan mengancam. 


      "Kenapa masih bertanya bodoh..?Apakah otakmu tidak mengerti bahasa manusia..?"


      "Kamu..?"


      "Keluar..!!!"


      "Tidak sebelum kami melihat cucu kami.." Teriak Marlena gusar.


       "Mereka  bukan cucumu perempuan tua..Mereka hanya anak-anakku.Kalau kalian mau cucu, suruh anak gadismu bunting dengan orang lain.." Maki Diana.


        Wajah Dara berubah kelabu.Amarah membuatnya  kalap , lalu menerjang ke depan hendak memberi pelajaran.Karena  menurutnya dia yakin akan mampu menghajar Diana.Bukankah dia pernah melakukan dulu..?


       Namun dia lupa, waktu dan keadaan bisa merubah karakter seseorang suatu saat.Ketika dia mengangkat tangan kanannya bernafsu untuk menampar Diana mengelak cepat ke kiri dan mengakibatkan tubuh Dara terdorong tak terkendali.  Sehingga tersungkur ke depan dan mengenai sudut dinding.Dia meringis ketika menyadari hidungnya tergores.


      "Ooh hidungku..hidungku.."


      "Diana..!!! Kamu jahat sekali.." Teriak Marlena. Wajahnya memerah menahan marah.

__ADS_1


       " Jahat..? Memangnya ku apakan si tolol itu..?" Jawab Diana acuh tak acuh.


       "Kau..?!"


       "Apa..? Masih belum pergi juga.Apa perlu aku berteriak biar orang-orang pada ke sini.?"


       "Kami ini berhak atas anak Adnan.."Teriak Marlena sambil berjalan ke luar.


       "Cium pantatku dulu.."


       "Kami akan menuntutmu.."


       "Silahkan kentut.."


     Akhirnya orang-orang itu berangkat dengan mobilnya.Meninggalkan sisa-sisa kemarahan di hati Diana.Dia bahkan berusaha menahan emosi untuk tidak melemparkan sesuatu ke kepala mereka.


     Cukup lama dia menatap kepergian mereka.Tanpa menyadari kehadiran bu Ida dan Agnes di sampingnya.


     "Orang-orang yang mengerikan.." Gumam bu Ida.


      "Kamu gila juga ya Dy..?" Agnes ikut-ikutan menyela.


      Diana menatap galak padanya.


     "Aku bahkan bisa lebih gila dari ini bila anak-anakku di usik.."


     "Woow..wooww..!!.Jangan aku..jangan aku..!"  Kelakar Agnes sambil mengangkat kedua tangannya.Bu Ida hanya tersenyum melihatnya.


     "Sebaiknya kalian masuk dulu.Mari kita makan siang walau sudah terlambat.."Ajak bu Ida kemudian.


     Agnes langsung memperlihatkan wajah laparnya.Diana  mencibir.


    Mereka kemudian beriringan masuk ke dalam rumah.Disambut wajah ceria dua balita yang berjalan tertatih-tatih ke arah ibunya.Kemarahan Diana seketika sirna berganti baha


      Sementara itu di sebuah Fakultas swasta, diruangan pribadinya Adnan sedang  mempersiapkan bahan untuk mengajar.Sudah beberapa hari ini menikmati karir lamanya sebagai dosen bidang study Ekonomi dan Manajemen. 


     Dia kaget dengan kedatangan mendadak anggota keluarganya kemarin.Dari percakapan mereka, ibunya mengutarakan niat ingin bertemu baik-baik dengan Diana.Sekalian melihat anak kembar Adnan. 


      Adnan tidak begitu saja mengizinkannya.Dia kemudian mengatakan belum saatnya mereka bertemu.Mengingat hubungannya dengan Diana masih memanas. Dia berjanji akan membawa mereka bertemu suatu saat nanti, bila keadaan sudah memungkinkan.


      Getaran hpnya menghentikan kegiatan Adnan di keyboard. Nomor Diana terpampang jelas di sana. 


      Adnan baru saja akan mengucapkan kata "halo"..Namun sudah didahului percakapan tanpa basa-basi.


      "Mas Adnan yang terhormat, tolong jangan biarkan keluargamu mengusik kehidupan saya lagi.."


      "Diana…?Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.."


       "Ooh…Tidak mengerti kah..?.Biar kuperjelas.Ayah ibumu serta adikmu yang memuakkan itu mendatangi rumahku.Bagaimana mungkin mereka tahu rumahku kalau bukan darimu..?"


       "Ya Tuhan..Aku tidak pernah menyuruh merela menemuimu.Malah aku menghalangi.."


       "Cukup.!!!.Antara aku dan kalian , terutama kamu, sudah selesai mengerti..?Apakah perlu kuingatkan surat perjanjian yang sudah di sepakati dan di tanda tangam di atas segel..? Ingat.!!! 


Jangan jadi bagian dari orang-orang yang tak punya malu..Menjilat ludah yang sudah dibuang.."


      "Diana..!"


      "Cukup..Jangan sebut namaku lagi ..!" Bentak Diana. 


      Adnan termangu tidak tahu harus berkata apa.Dia tidak menyangka bahwa ayah dan ibunya tidak mengacuhkan larangannya. Adnan mulai berfikir untuk bertindak tegas sekarang. Walau mungkin sudah terlambat, dia berharap antara Diana dan dirinya mulai berbaikan demi kedua buah hati mereka.Karena Adnan tidak ingin mereka menjadi korban dari keadaan ini.


      


      

__ADS_1


      


     


__ADS_2