MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
CERITA SAID UNTUK DADDY


__ADS_3

     Adnan berjalan menyusuri rumah menuju kamar si kembar. Hebat sekali kedua anaknya langsung tidur sendiri-sendiri tanpa rasa takut..Mereka begitu semangat saat Adnan memberitahukan bahwa ini rumah milik mereka.


      Savana yang paling lucu menanggapi pertama kali. Mata indahnya jelalatan melihat kemegahan rumah itu.


      "Jadi sekarang kita sudah kaya daddy..?"


      "Iya..Savana dan Said sudah kaya..?"


      "Mami..?"


      "Mami juga..Ini kan rumah mami juga.."


      "Rumah daddy juga..?"


      "Mmh.." Jawab Adnan dengan senyuman.


      Tiba tiba Said mengguncang kaki celananya.


      "Daddy..Apakah boleh pelihara anjing..?"


      "Mmh..?Said ingin pelihara anjing..?"


       "Ya..Tapi mami gak membolehkan.Karena rumah dan pekarangan kecil..Bahkan mami mengatakan kalau itu bukan rumah kami…"


     Adnan terdiam sejenak. Melihat mata bening anak lelakinya.Teringat masa kecilnya dulu, yang mempunyai kegemaran yang sama.


      "Oke..Nanti kita cari anjing untuk dipelihara.." Beritahunya kemudian.


       Mendengar itu wajah Said langsung berbinar.


      "Tidak usah cari lagi daddy..Teman mainku mau memberinya, asalkan dirawat dengan baik..?"


       "Oh..benarkah..? Bagus sekali.."


       "Iya dong.."


       "Anjing kampung ya..?"


       "Bukan…Tapi kata temanku itu jenis Husky.."


       "What..? Siberian Husky..?"


       "Mmh..ya..Kudengar itu namanya.."Jawab bocah itu tak acuh.


        "Itu kan anjing mahal.Mana mungkin diberi cuma-cuma..?" Tanya Adnan tak percaya.


     Said terdiam sesaat.Kemudian tertawa culas memperlihatkan gigi ompongnya.Adnan tiba-tiba mencurigai sesuatu yang tak beres pada putranya.


    "Sebenarnya ada rahasia dad.."


    "Rahasia apa..?"


    "Tapi janji ya..Tidak akan membocorkan pada mami.."


    "Mmh.."

__ADS_1


    "Janji..?!" Tanya bocah itu lagi.Wajahnya sangat serius ketika mengajak daddynya untuk mengaitkan kelingking .


     Adnan tersenyum masam.Anak lelakinya semakin hari semakin tumbuh dan pintar. Pria kecil ini bahkan tidak berbicara layaknya anak umur menjelang enam tahun.


     Karena penasaran, Adnan setuju untuk menyimpan rahasia.Tapi menolak ketika Said mengucapkan sumpah yang mirip kutukan.


    "Tir, dipuntir , ngacir.Siapa yang mungkir kena petir.."


    Adnan hampir tersedak.Matanya melotot mendengar kata-kata Said.


    "No..Said..! Jangan lagi mengucapkan kata-kata itu ,bahkan pada siapapun..!"


    Adnan tiba-tiba bersuara keras.Membuat bocah itu mencicit ketakutan.Dia tidak pernah sangka kalau pria pujaannya itu bisa marah padanya.


    "Daddy..?"


    Menyadari ketakutan anaknya, Adnan langsung tersadar dan langsung mendekap bocah itu..Said hanya diam meringkuk dan menyembunyikan wajahnya.Tubuhnya bergetar menahan isakan.


     "Sst..Daddy gak marah.Hanya kaget.Kok Said bisa mengeluarkan kata-kata jahat itu."


    Getaran tubuhnya berhenti dan memandang ayahnya tak mengerti.


      "Jahat..? Itu cuma janji.."


      "Iya..Boleh berjanji..Tapi tidak boleh mengutuk ya..?"


       "Mengutuk.?"


      Adnan paham bahwa bocah lelakinya terlalu polos untuk ukuran pemikiran orang dewasa.Walaupun mampu berbicara melewati ukuran umurnya.


    Beberapa saat kemudian, dia mencoba mencari kata-kata yang tepat dan mudah dipahami Said.


     "Nak..Sayang gak sama daddy..?"


     "Sayang.."


    "Mau daddy ditembak petir..?Kan tadi Said mengucapkan kutukan agar ditembak petir..?"


    Mendengar ucapan ayahnya ,Said segera paham.Dia menangis tiba-tiba.


    "Tidak..Tidak mau.Daddy tidak boleh di tembak petir..Aku tidak mau daddyku meninggal..hu..hu..hu…"


     Adnan menatap lembut wajah putra tampannya.Dia menjadi terharu karena tanpa sadar , Said sudah mengungkapkan rasa cinta padanya.Apakah itu tidak membahagiakan.? Adnan merasa maju beberapa langkah.Hanya tinggal memperjuangkan Diana.


     "Apakah Said sayang pada daddy..?"


     "Ya..Sayang.." Bocah itu menganggukan kepala.


       "Sangat sayangkah..?"


      "Ya.." Jawabnya pasti.Adnan semakin penasaran.


       "Seberapa sayang pada daddy..?"


       "Triliunan.." Jawabnya cepat.

__ADS_1


     Adnan hampir tersedak menahan tawa ketika anaknya itu mengembakan semua jari tangan dan jari kakinya.Bocah itu bahkan lupa dengan ingusnya yang keluar main, akibat tangis barusan.


      Adnan tanpa jijik menolong membuangnya. Tampilan dingin dan datar seakan pecah dari wajahnya. Adnan sadar hanya merekalah yang bisa membuatnya sedih dan tertawa .


        "Kamu sangat membahagiakan daddy nak.." Katanya lembut sambil mengusap air mata di pipi Said.


      "Tentu dong.."Gaya tengilnya keluar lagi.Adnan hanya tertawa dikulum.


     "Apakah kamu ingin melanjutkan cerita tentang husky itu.." Tanya dia kemudian.Entah mengapa sangat penasaran dengan rahasia yang akan dikatakan anak itu.


    Said mengangguk sambil menghapus pipinya.Sementara Savana terlihat sedang asyik bercakap-cakap dengan boneka barunya. Adnan menunggu dengan sabar.


    "Tapi daddy janji ya, tidak akan bilang pada mami..?"


     "Ya..daddy janji.."


  Akhirnya Said bercerita.Dia begitu bangga menceritakan hal baru yang menurutnya sangat luar biasa.


     Namun dia tidak menyadari akibat dari yang ceritanya itu,membuat ayahnya mati matian menahan amarah yang hampir meledak ke ubun-ubun. Pria itu bahkan beberapa kali harus menggigit gerahamnya sendiri.Agar dia tidak berlaku bodoh hingga mengeluarkan sebuah makian.


     Namun tanpa rasa bersalah, Said kembali melanjutkan ceritanya.


     "Toni hanya hidup bersama papanya.Karena sudah lama mamanya pergi dari rumah.


      Waktu perayaan sekolah, aku mengenalkan mami pada ayahnya.Semenjak itu ayah Toni selalu baik padaku.Bahkan menyuruhku memanggilnya papa.Dia juga baik pada mami.Bahkan juga membawakan mami kopi ketika mami ikut menghias sekolahku untuk persiapan lomba.Dia selalu duduk di dekat mami. hanya untuk  berbicara hal-hal yang membosankan dengan mami.."


     Sampai di situ, Said agak terdiam karena melihat wajah daddynya yang tiba-tiba aneh.Kadang memucat lalu memerah bahkan adakalanya hampir ungu.


      "Daddy..? Apakah daddy sakit..?" Tanya bocah itu cemas.Dia tiba-tiba takut kalau kutukan yang sempat terucap tadi akan berimbas pada daddynya yang tampan.


    Adnan tergagap seketika.Mati matian berusaha menetralkan wajah .Dia mencoba bicara, ketika suaranya yang tiba-tiba parau.


       "Oh..daddy sehat kok..Ayo son, lanjutkan lagi ceritamu..!"


        "Oke.." Jawab Said bersemangat.Dia selalu bangga kalau bersama daddynya.Daddy yang tampan dan baik hati.


      Bocah kecil itu kembali melanjutkan ceritanya tanpa rasa bersalah.Dia bahkan tidak lagi mengindahkan perubahan-perubahan di wajah daddynya.


      "Ketika aku menceritakan pada Toni ingin pelihara anjing, dia juga cerita pada ayahnya.Rupanya mereka mempunyai anjing betina yang sudah punya anak tiga.


Kata papa Toni , satu ekor akan dikasih padaku.Bahkan katanya yang satunya lagi akan di kasih untuk Savana kalau dia mau.Papa Toni mengatakan bahwa jumlah anak anjing sangat pas dengan jumlah kami .Aku, Savana, dan Toni.Jadi bisa jadi keluarga.."


      "Sudah..sudah..nak..! Ceritanya sudah cukup.!" Tegas Adnan tiba-tiba.Dadanya menjadi sesak karena amarah dan cemburu.Dia tak tahan lagi.


       Rasanya ingin segera mencari pria yang disebut papa Toni.Lalu menghajar sampai babak belur.


      Melihat itu, Said menghentikan ceritanya. Matanya menatap Adnan penuh selidik..?


     "Apakah daddy tidak suka  ceritaku..?"


    Adnan berdehem beberapa kali. Berusaha menetralkan suhu tubuhnya yang tiba-tiba memanas.


     "Suatu saat, kamu harus mengenalkan daddy pada papanya Toni..okey.!?"


    Said mengangguk .Dalam hati dia janji akan memperkenalkan daddy kebanggaan nya kepada mereka.Supaya mereka semua tahu kalau dia dan Savana juga ada daddy yang sayang mereka.

__ADS_1


      


   


__ADS_2