
Tiga hari sebelumnya di kota B
Siang hari di ruang keluarga Djaelani yang mewah.Seorang pria usia enam puluhan menatap tajam pria muda yang duduk di depannya.Di sampingnya, Marlena sang istri juga tak kalah gusar menatap sang putra yang tak lain adalah Adnan Djaelani. Sementara Adnan hanya duduk tenang menunggu.
"Kamu serius ingin meletakan jabatan Adnan..?" Tanya Marlena
"Ya..kurasa sudah waktunya ku serahkan kembali. Ayah bisa mengangkat Nero sebagai penggantiku.." Jawab Adnan kalem.
"Apakah karena ada hubungannya perceraian dengan Risa..?"
''Tidak…"
"Mereka bahkan menarik investasi dari perusahaan kita.." Sela Marlena.
"Itu sudah resiko yang harus kita antisipasi dari dulu.Lagian saat ini perusahaan kita sudah stabil.."
"Tapi kita masih butuh suntikan dana.."
"Perusahaan kita akan selalu butuh suntikan dana. Dan itu tidak akan pernah berhenti.Salah satu hal yang membuatku menghancurkan rumah tanggaku dulu.." Kata Adnan getir.
Djaelani dan Marlena saling bertukar pandang.
"Apakah kamu menyesali itu..?"
"Aku tidak ada hak untuk itu.."
"Berarti masalahnya sudah selesai bukan Adnan..?"
Adnan terdiam mendengar kata-kata ibunya.Kemudian menerawang ke langit-langit ruangan. Matanya berkaca-kaca.
"Kami minta maaf karena menyulitkan kamu dalam beberapa waktu ini .Tapi hanya kamu yang paling bisa diharapkan"
"Mmh.."
Djaelani mengambil cangkir tehnya, lalu menyeruput. Matanya mengawasi Adnan dengan seksama.Dia menyadari bahwa Adnan selalu menahan beban di pundaknya.Wajahnya tidak pernah bahagia dalam dua tahun ini.
"Adnan..Kita ini keluarga. Bisakah kamu membagi bebanmu kepada kami..?Itu bisa akan melegakanmu nantinya.."
Adnan menatap ayahnya lalu ibunya. Dia tersenyum datar.
"Bukankah aku memang selalu dalam masalah..?" Jawabnya sarkas.
Djaelani dan Marlena terdiam.Mereka mengerti maksud anaknya itu. Berapa banyak pengorbanan Adnan demi perusahaan ini mereka juga mengetahui.
Namun mereka masih berharap anaknya itu tetap menjabat sebagai pimpinan. Karena selain pintar, Adnan lebih memahami bisnis perusahaan.Namun mereka tidak bisa memaksanya.
"Apa rencanamu ke depan Adnan..?"
"Aku akan pindah ke tempat lain. Bekerja sebagai dosen di sebuah Universitas swasta.
"Pindah..?"
"Ya.."
"Apakah itu luar daerah..?"
"Ya.."
"Mengapa begitu jauh..?"
"Karena ku ingin di sana…"
Lama Adnan menimbang kata-kata yang akan diucapkannya.
__ADS_1
"Aku menemukan Diana.."
"Apa..?..Hei ..Mengapa perempuan kampung itu juga yang kamu pikirkan. Kamu bahkan bisa mendapatkan perawan
cantik di luaran sana.."
Adnan memandang nanar kedua orang tuanya. Dia mencintai mereka.Tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin menjauh.Mengingat wajah Diana terakhir kali di ruangan ini.Mantan istrinya sudah mendapat perlakuan yang tidak adil dari dia dan keluarganya. Adnan meringis pedih.
" Tidakkah pernah kalian berfikir di sisinya.? Kita sudah sangat kejam pada dia.."
"Mengapa itu dipermasalahkan sekarang..?Bukannya dia juga sudah kita pelihara dan mendapat makan selama dua tahun dari kita.Anggap saja sebagai tanda terimakasih.."
"Itu adalah haknya sebagai istriku ibu. Kalau ibu mengatakan itu, bukankah posisi ibu dan dia tidak berbeda ?"
"Kamu …Jangan lancang pada ibumu..!" Seru Marlena.
"Aku minta maaf.
"Oke..Sekarang sudah berakhir bukan..?"
"Ya..Sudah berlalu.Tapi itu untuk kalian. Tidak untukku maupun Diana. Aku sangat menyesali semua yang telah ku lakukan padanya.."
"Hidup harus terus berjalan Adnan.."
" Ayah benar…Aku juga ingin menjalani hidupku.."
" Adnan..Apakah wanita itu juga tinggal di sana..? Maksudku Diana..?"
Adnan memejamkan matanya sejenak.
"Ya..Dia bahkan sudah melahirkan dua orang kembar tanpa ku sadari.."
"Anakmu..?"
"Ya.."
"Aku tidak menyangsikan itu.Kalau pun bukan anakku, aku tetap akan menyayanginya.."
"Kalau begitu, Risa lebih baik dong..Sayang sekali kamu menceraikannya.." Kata Marlena tanpa beban.
Adnan berusaha menekan rasa marah. Tiba-tiba ada sesal di hatinya karena punya ibu seperti ini.Tidak punya perasaan dan egois.
"Risa sudah menginjak harga diriku dengan pengkhianatannya.Bahkan dia sedang hamil saat menikah denganku..Apakah itu kriteria wanita baik menurut ibu..?"
Marlena terdiam. Sulit sekali baginya untuk mengakui kesalahan Risa.Karena sudah terlanjur membanggakan wanita itu pada orang lain terutama pada Diana.Marlena bahkan menolak kemungkinan karma yang akan diterimanya di kemudian hari, atas pe
berlaku kejam kepada Diana.Dia berusaha mencari alasan yang membenarkan tindakannya.
Sementarara itu, Djaelani justru berpikir dari sisi lain. Dia memikirkan kemungkinan merebut kedua anak Diana, sehingga tidak ada alasan bagi Adnan harus kembali kepada perempuan kampung, yang pernah jadi menantunya.
Adnan memandang kedua orang tuanya dengan mata curiga.Keningnya berkerut ketika mendengar suara ayahnya kemudian.
"Ehem..Bagaimana kalau kita ambil saja kedua anak itu dari tangan Diana.Dia kan anakmu.."
"Maksud ayah , merampasnya begitu..? " Sindir Adnan.
"Kalau dia tidak mau menyerahkan, kenapa tidak ?"
"Ku mohon jangan lagi melakukan hal-hal yang kejam kepada Diana ayah.Cukuplah sampai di sini. Aku bahkan tidak bisa membayangkan akibatnya suatu saat , jika kita terlalu memojokkannya"
"Ibu rasa itu bukan kejam.Tapi menyelamatkan masa depan mereka.Kedua anakmu . Mereka akan lebih terjamin bila bersama kita, dari pada dengan ibunya yang tak punya apa-apa.." Terang Marlena kemudian.
Adnan menatap tak percaya wanita yang sudah melahirkannya itu. Bagaimana pikiran ibunya begitu santai saat akan memisahkan Diana dengan anak-anaknya..?
__ADS_1
Dia kemudian menghembuskan nafas kesalnya.
" Anak-anakku pasti akan lebih terjamin di bawah pengasuhan aku dan Diana…"
"Maksudmu, kamu akan menikahi Diana kembali..?"
"Aku sangat berharap untuk itu.."
"Kau bodoh Adnan.."
"Aku tidak keberatan dikatakan idiot sekalipun.Karena aku memang idiot.." Katanya tegas. Mereka terdiam. Baik Djaelani maupun Marlena tidak menyangka suara Adnan begitu tegas.
Dalam hati menyalahkan Diana karena ini.
Sementara itu dari ruang depan, terdengar langkah-langkah sepatu wanita mendekat. Tak lama kemudian,sesosok tubuh wanita berbalut dress merah muncul di sana. Dara adik perempuan Adnan memandang sumringah kepada yang hadir.
Adnan bahkan tidak berniat untuk menyapa.Hanya memandang sekilas, lalu kembali ke posisi semula.
"Halo semua..lagi ngobrol apa an nih..?"
"Semalaman tidak pulang, dari mana kamu..?" Tanya Marlena pada Dara.
"Ya..biasalah bu..namanya juga anak muda.."Jawabnya santai.
" Biasa bagaimana katamu..?.Kamu wanita..jangan liar.." Bentak ayahnya tiba-tiba.
Dara yang tidak menyangka akan di bentak ayahnya mencari pembelaan pada Marlena.
"Ibu…"
"Shh…"
"Tapi ayah memarahiku.." Rengeknya.
Marlena mengusap kepala putri kesayangannya .Kemudian menatap jelek kepada suaminya. Karena tidak terima memarahi Dara. Semua itu tidak lepas dari pantauan mata Adnan. Dia mendengus keras .
"Sepertinya kamu bahagia sekali Dara.Bahkan saat bersalah pun, ibu bersedia menjadi tamengmu. "
"Adnan.sudahlah..!" Seru Marlena.
"Sudah…?Apanya yang sudah ibuku yang sangat penyayang. ?" Tanyanya sinis.Dara semakin mencari perlindungan di dekat ibunya.
Adnan adalah sosok yang paling di segani dan di takutinya dari seluruh anggota keluarga. Dara hanya bisa berharap dari pembelaan ibunya saat menghadapi kemarahan Adnan.
Marlena mencoba menenangkan situasi.
"Tidak usah diperbesar Adnan..!"
Adnan semakin kesal dibuatnya.Matanya menatap tajam pada Dara.Menelisik dari rambut sampai ujung kaki.Rambut berantakan, baju kusut dan kurang bahan serta sepatu high heel warna mencolok.
"Dari penampilannya saja orang bodoh juga tahu dari mana dia.Tapi ibu selalu saja membelanya.Aku takut jika suatu saat nanti anak kesayangan ibu ini akan melempar kan tai ke wajah keluarga kita.."
"Adnan.!!Jaga bicaramu.." Teriak Marlena. Disambut tangan ke atas tanda menyerah dari Adnan.
"Oke..Aku tidak akan ikut campur lagi.Namun mulai sekarang, jangan libatkan aku lagi dengan masalah keluarga ini.."
Seiring dengan itu dia beranjak ke pintu ke luar. Tanpa menoleh lagi. Meninggalkan tiga orang yang menatap kepergiannya dengan bisu.
__ADS_1