MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
KETIKA SAID DALAM MASALAH


__ADS_3

   Sementara itu di tanah air kehidupan terus berjalan. Percakapan dua mantan suami istri seminggu yang lalu, meninggalkan kesan yang susah dilupakan.


      Diana berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja demi menutupi kegundahannya. Semakin hari , dia merasa  semakin ragu dengan pendiriannya sendiri, untuk tidak lagi memberi peluang pada Adnan . Apalagi jika mengingat sikap keluarganya pada dia yang cenderung tidak menghargainya.


     Namun setelah beberapa kejadian akhir-akhir ini  yang membuatnya merasa terlindungi, sehingga cukup bergantung pada sosok pria itu .


     Adnan sangat berkuasa ketika mengatakan bahwa dia lebih berhak mengurus Diana dan anak-anaknya.Sehingga membuat Agnes dan Erick hanya mengalah.Walaupun mereka tetap memantaunya.


       Diana tidak bisa memungkiri kalau rasa cinta pada Adnan tidak sepenuhnya hilang di hatinya. Hanya tertutupi selubung kabut hitam dendam masa lalu.Sehingga hanya memberikan wajah ketus setiap kali dia berkomunikasi dengan pria itu.


      Sekian lama tidak berjumpa, Adnan sudah menjelma menjadi pria keras hati dan gigih. Dia bukan lagi hanya seorang pria pendiam yang biasa patuh dan rela berkorban  demi keinginankeluarga. Terbukti dengan kerasnya dia menentang kehendak keluarganya sekarang.Salah satunya ketika Marlena dan Djaelani menghendaki agar si kembar diambil dari Diana.Namun dibantah keras oleh Adnan.Karena dia tidak ingin Diana semakin membencinya.


      Walaupun sudah pernah diajak rujuk sebelumnya, namun Diana  tidak menyangka kalau Adnan akan semakin gigih mendekatinya.  Bahkan akhir-akhir ini dia  hampir tidak diberi peluang untuk mengelak pagi.Sampai bosan rasanya mengeluarkan kata-kata pedas dan sarkas. Namun Adnan ibarat samsak yang menerima begitu saja apapun perlakuan mantan istrinya itu. Diana hampir kehabisan akal .Apalagi melihat sikap anak-anak yang sangat bahagia bersama Adnan.Hubungan batin mereka sangat kuat.


      Lalu kalau sudah begini..Masih adakah peluang Diana untuk menghindar..?


       Diana sudah hidup selama bertahun-tahun dalam dalam amarah dan dendam kepada Adnan. Tapi di saat dia dalam keadaan tak berdaya waktu kecelakaan yang lalu. Dia tidak bisa memungkiri pengorbanan Adnan dalam menjaga dan merawatnya .Dalam keadaan pasrah dia hanya bisa tenang ketika si kembar bersama daddy nya.Waktu itu Diana hanya berpikir bahwa kematian sudah sangat dekat.Namun Adnan tidak pernah jauh dari sisinya.


      Mantan suaminya yang pernah memberikan luka dalam di hatinya bahkan. sudah keluar dari karakter aslinya. Diana belum pernah melihat tatapan Adnan yang putus asa menatapnya kala itu.Semwntara air mata tidak berhenti jatuh ke pipinya.


     "Bertahanlah Diana..Kamu harus bertahan..Jangan berpikir untuk pergi..Ku mohon…." Ratapnya sebelum Diana benar-benar tidak ingat apa-apa lagi.


     Ucapan-ucapan bernada putus asa itu kembali terngiang di telinganya.


     Tidak menyangka setelah kejadian itu, Adnan berubah sangat possesive.Sehingga Diana tidak berdaya ketika hidupnya mulai diatur kembali.


      Walau begitu dia tidak bisa menghindar dari perasaan terlindungi dan tenang. Apalagi ketika anak-anak pun sudah terjamin hidupnya. Didukung oleh nasehat-nasehat yang diberikan bu Ida. Dia mulai menghargai kehadiran mantan suaminya itu.Walaupun dengan alasan kepentingan demi anak-anak mereka. Dia memang selalu merasa tak berdaya jika disangkut pautkan dengan si kembar buah hatinya.


       Seperti siang itu di dalam dapur keluarga. Diana sedang sibuk meracik bumbu masakan yang sedang dia masak.


     .Dia sudah lama ingin membuat masakan kesukaan kedua anaknya.Walaupun sudah ada  pelayan dapur, tapi rasa tidaklah sama.Dan si kembar selalu protes, dan menolak setelah suapan  kedua.


     Sekarang masakan semur ayam sudah menunggu matang.Diana tersenyum membayangkan kedua buah hatinya bersantap.Apalagi Savana yang paling menyukai semur buatan maminya.Bocah itu bahkan hampir menjilati piring karena saking sedapnya.


        Dia sedang membersihkan tangan ketika mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya. Disertai  suara nyaring milik Savana.


     " Mami…"


     " Ya sayang…"


   Dia mengangkat wajah, mempelihatkan senyum menyambut buah hatinya. Namun beberapa saat tiba-tiba senyum itu tertahan, lalu berubah heran..Ketika memperhatikan sesuatu yang janggal pada anak lelakinya. Karena penampilan  tidak tapi seperti khasnya seorang Said.


     Said berjalan lesu di belakang Savana.Seragam yang tadinya sangat bersih dan rapi, sekarang menjadi  kumal .Rak hanya itu, ada beberapa luka di siku dan lututnya. Juga di leher dan wajah ada bekas cakaran.Diana bergidik ngeri membayangkan sakit pada luka anaknya


     Diana agak heran sendiri .Karena Said adalah anak yang sangat mencintai kebersihan dan kerapian. Apalagi setelah menginjak bangku sd Bagaimana mungkin buah hatinya itu menjadi sangat kotor dan kumal..?


    Dia mencuci tangannya lalu mendekati bocah kelas dua sd itu. Said seperti ingin mengelak.Namun Diana menahannya.


    " Said kenapa sayang. ?"


     "Dia berantem di sekolah …"Teriak Savana memotong pembicaraan.Bamun Said masih setia dengan diamnya.


       "Savana..Kan mami udah bilang. Gak sopan kalau memotong pembicaraan orang "


       "Iyaa…maaf mi.."


     Savana cengengesan sambil memilin kunciran rambutnya.Savana kembali menoleh pada Said.


       " Sekarang coba Said terangkan sama mami ya..!"


        Bocah itu hanya menatap nanar ibunya.Ada berbagai hal yang ingin dia katakan dan juga ingin diketahui dari wanita yang melahirkannya itu. Namun  anak itu mempunyai sedikit segan dan kasihan di hatinya.Hingga kemudian dia hanya mampu menjawab.


      "Said khilaf mami..maafkan Said yaa..!"


      Dia menjawab lesu lalu bergegas mencium tangan maminya dan langsung ngeloyor pergi. Diana menatap punggung Said menuju kamar menyisakan tanda tanya dan keheranan pada Diana.Pandangan matanya dialihkan pada Savana yang sedang mencuci tangan di wastafel.Bertanya sedikit membujuk


      "Apakah Savana mengetahui kejadiannya sayang."


      "Mmh…Sedikit tahu sih mami.." Sahut Savana ringan.Namun Diana kembali mencecarnya.


      "Said punya musuh di sekolah.?"


      "Gak juga…Said justru kesayangan bu guru. ."


      "Yang benar nih.."


      "Iyaa benar.  " Kata gadis cilik itu meyakinkan ibunya. Namun pura-pura sibuk demi menghindari kontak mata dengan wanita yang melahirkannya itu. Bukankah Said dan dia sudah berjanji.?


      "Tapi kok berantem..Mana babak belur lagi. ?"


      "Ooo itu Savana kurang jelas masalahnya. Mami coba tanya Said aja  ya..!" Jawab Savana kemudian.


      "Mmh..okelah.."


    Gadis kecil itu menatap punggung ibunya yang berjalan menjauh. Saat hampir tak terlihat lagi, Savana menghela nafas lega.Pelan-pelan berjalan menuju laci di mana terdapat handphone istimewa yang diberikan Adnan untuk dia dan kembarannya.Dengan lincah jari mungil itu bergerak lincah di layar.

__ADS_1


        "Harus telpon daddy.," Gumamnya pelan.


    Adnan baru selesai melaksanakan pertemuan dan penandatanganan dokumen , ketika seseorang menghubungi telepon genggam di nomor khusus miliknya.


      Adnan menatap nomor tersebut adalah milik Savana dan Said. Dia buru-buru mengangkat dan melupakan pekerjaannya sejenak.


       "Daddy.,." Terdengar suara Savana menyerupai rengekan.


        "Ya sayang…Apa kabar..?"


        "Daddy kapan pulang..?"


      Adnan berusaha menahan getaran suaranya. Ini adalah kali pertama anak-anak menanyakan kepulangannya.Dia merasa bahagia karena merasa dirindukan.


        "Iya sayang…Segera daddy akan pulang.."


         "Bener.?"


         "Iya sayang.."


     Adnan menjawab sambil membujuk.Namun tiba-tiba terdengar tangisan Savana.


         "Daddy bohong…hik .hik..hik.."


      Adnan menjadi gelagapan seketika.Dia tidak menyangka buah hatinya akan menjadi sedih begini.


        "Hallo sayang..Jangan nangis ya..Janji..Daddy janji akan pulang dalam waktu dekat"


         "Tapi udah lama sekali daddy gak pulang..huu.huu.."


      Adnan berusaha membujuk buah hatinya, walaupun hatinya ikut gelisah.Karena tidak seperti biasa, sikap Savana menjadi cengeng .


       "Sayang…Dengar daddy..Savana kenapa nak..?"


       "Huu…huu…"


    Adnan terpaksa membiarkan sesaat. Hingga  tangis Savana mereda.Walaupun masih terisak-isak dia mengutarakan isi hatinya. Mungkin receh bagi orang umum.Tapi cukup berarti bagi Savana untuk mengadu padanya.


      "Said berantem.Dia luka-luka..Hik.hik.."


       Savana berbicara tak ada ujung pangkalnya.Adnan berusaha menenangkan


       "Oke..oke.,Iya nak..Apa  Said bisa bicara dengan daddy sekarang..?"


       "Dia gak mau keluar kamar….hik..hik.Mami juga sedih..Coba kalau ada daddy..Mereka tidak akan berani nyakitin Said.."


       "Oke..Vana tenang dulu ya sayang…Daddy janji pulang dalam waktu dekat oke..?"


        "Benarkah..?"


        "Iya..Daddy gak bohong sayang.."


        "Hore.."


        Adnan tersenyum haru ketika melihat bidadari kecilnya sudah ceria lagi.Namun dia masih penasaran dengan masalah anak lelakinya.


       "Vana sayang..Bisa kah Vana panggil om Supri ?"


       "Daddy mau bicara..?"


       "Iya..Vana makan dulu yaa.."


       "Oke…by daddy.."


       "By..sweety…"


     Beberapa saat kemudian tersengar suara Supri berbicara.


     "Hallo..Selamat siang tuan.."


     "Siang..Kamu mengetahui ada apa dengan anak lelaki ku..?"


     "Ooh..Itu tuan…"


     Supri tidak langsung menjawab, tapi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Karena takut kena damprat.Bagaimanapun keselamatan tiga orang kesayangan Adnan sudah diserahkan padanya selama tuannya tidak di tanah air.


     Adnan mulai tidak sabaran.Dengan sedikit membentak di bertanya.


      "Hallo…Ada apa..? Mengapa kamu diam Supri..?"


      "Itu tuan…Tuan kecil pulang sekolah kondisinya babak belur seperti habis berkelahi. Dan nyonya disuruh datang ke sekolah senin depan.


      Setelah itu tidak terdengar lagi tanggapan dari seberang.Hingga kemudian telepon di tutup secara sepihak.


    Supri menghela nafas lega.Karena yang dia cemaskan tadi tidak terjadi.Bagaimanapun tuannya adalah orang yang tidak dapat diprediksi.Bisa tiba-tiba baik atau marah seketika.

__ADS_1


     Supri adalah sopir dan orang kepercayaannya yang diperintahkan Adnan menjaga dan  Diana dan anak-anaknya. Karena semenjak kejadian tabrakan Diana beberapa bulan lalu membuatnya lebih waspada.Karena bisa jadi kejadian yang sama akan terulang lagi.


       Dia baru saja akan meletakkan benda pipih itu ke atas meja.Ketika deringan kembali berbunyi.Supri hampir terlonjak seketika.


      "Ya tuan.."


     "Coba kamu berikan telepon pada Said..Aku inhin bicara dengannya.


      "Baik tuan…"


    Supri tidak bertanta lagi, langsung berlari menuju lantai atas ke kamar majikan kecilnya.Di lorong bertemu Diana yang sedang menuju tangga.


     "Ada apa..?"


     "Ini…Tuan ingin bicara dengan Said bu.."


     "Oh..Oke.Kamu masuk saja..!"


     Supri menganggukkan kepala.Lalu bergegas masuk kamar.Sementara Adnan menunggu dengan sabar.


    Tapi dua harus menelan kecewa.


     Tidak berapa lama kemudian, Supri memberitahu bahwa Said tidak ingin bicara.Perasaan Adnan menjadi semakin gundah.Ketika diam-diam kemudian Supri berhasil menampakan wajah anak lelakinya sedang terbaring lesu di atas ranjang , Dia terlomjak karena mendapati wajah anaknya lebam-lebam seperti habis digebuki.Namun bocah itu selalu saja menolak bicara dengannya.


      Semenetara itu Diana sedang membuka selembar surat panggilan dari sekolah .Dia diminta datang hari senin depan, untuk menyelesaikan masalah keributan yang melibatkan Said.


     Savana yang mengawasi gerak-gerik ibunya dari tadi, tidak tahan lagi untuk bicara.Dia mengingkari perjanjian dengan kembarannya.


    "Said berantem tadi  karena diganggu , mami.." Ujarnya menyerupai bisikan. Bagaimanapun dia tidak ingin di cap pecundang oleh Said karena ingkar janji.


    "Oh ya…? Karena apa..?"


    "Karena orang-orang itu jahat..Sering mengejek kami gak punya ayah. Apalagi Thomas..Dia mengatakan kami anak haram…"


     "Apa..?"


     Dia hampir terlonjak karena kaget dan marah.Savana dengan lugu bertanya.


     "Emangnya anak haram itu apa sih mami.?"


     " Itu ucapan gak sopan sayang…Tidak ada anak yang haram. Apalagi anak-anak mami kan punya daddy dan mami…"


     "Iya..Tapi mereka selaluengatakan itu..Malah melemparkan tas Said ke halaman.Said marah dan memukul Thomas hingga jatuh ke selokan sekolah.."


     "Lalu.?."


     " Iya..bajuThomas kotor dan menjijikan..Thomas mewek…Ternyata dia cengeng juga.."


      "Eiit..Jangan ngomong begitu sayang.." Diana mencoba meperingatkan gadis kecilnya.


      Sementara perasaan tidak nyaman mulai menderanya.Rasanya terlalu lama menunggu senin.Agar bisa datang ke sekolah anakk-anaknya. Bersyukurlah keadaannya sekarang sudah jauh lebih sehat.


       Diana tidak lagi melanjutkan percakapannya dengan Savana.Melainkan mengambil air hangat yang kemudian dimasukan ke dalam  baskom kecil.Lalu membawanya bersama sehelai handuk kecil menuju kamar Said .


      Said kaget ketika menyadari kehadiran ibunya di kamar. Namun berusaha pura-pura tidur.


      Diana ter senyum melihat tingkah anaknya itu.


    "  Kalau mau tidur bersih-bersih dulu sayang..Sini mama lap wajahnya.Ganteng-ganteng gini kok babak belur..Siapa sih yang tega pada anakku..?" Diana mencoba menggugah  Said dengan sedikit candaan.Walau hatinya sakit melihat wajah anak tampannya ada luka berdarah.


      " 


      Pada awalnya bocah itu hanya diam saat  maminya membersihkan wajah tampannya.Dalam hati Diana tidak jenti-hentinya bersyukur pada rahmat Tuhan. Karena dia srndiri sering terpesona melihat wajah Said dan Savana.


      Untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara di antata mereka. Said hanya memandang wajah maminya yang sangat dia cintai. Bocah kecil itu bahkan sudah bertekat di dalam hati akan selalu menjaga mami dan kembarnya sampai kapanpun.Tidak peduli kalau dia harus babak belur sekalipun


        "Mami…?" Panggilnya beberapa sat kemudian.


      Diana menghentikan sejenak kegiatannya.Matanya menatap Said sangat dalam.


       "Ya nak..?


       "Mengapa mami dan daddy tidak bisa sama-sama seperti keluarga kawan kawan Said..?


      Diana terdiam sesaat. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.Haruskah dia menceritakan penderitaannya waktu itu dan hal-hal yang membuat mereka harus terpisah dengan ayahnya.Tidak!! Dia tidak ingin  buah hatinya membenci daddy mereka dan mendapatkan cerita buruk tentang hubungan  hubungan kedua orang tuanya di masa lalu.


      Diana hanya ingin mereka hidup dengan pengalaman masa kecil yang indah dan mendapatkan kasih sayang Walaupun daddy mereka tidak tinggal bersama  mereka


      "Mami…."


      "Oh..Eh ya…?"


     Said cukup cerdas menanggapi arti kegugupan mami nya.Bocah kecil itu yakin.Bahwa ada satu kabut dari masa lalu daddy dan mami nya, namun  mereka menutupi darinya.


     Bola mata tajam dan indah anak lelaki itu menatap wajah mami nya lekat.Maminya yang cantik dan cerdas, sepertinya selalu menahan semuanya sendiri.Said mengetahui hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Diana.Karena beberapa kali wanita tercintanya itu mengigau sedang tidur.Igauan yang menyedihkan.Sehingga sering dia melihat mami nya menangis saat sedang berada di alam mimpi.

__ADS_1


      Said dan Savana dikaruniai kecerdasan berpikir melebihi anak-anak seusianya. Namun  berpura-pura polos seperti  halnya  anak-anak biasa.


__ADS_2