MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA

MEMELUK KASIH SEBELUM SENJA
CERIA DI WAJAH SI KEMBAR


__ADS_3

        Jam menunjukkan pukul dua siang.Matahari sedang garang garangnya menyinari bumi.Hampir semua orang lebih suka berdiam dalam rumah daripada berada di jalanan. Seperti di satu pemukiman penduduk pinggir kota.Suasana   agak sepi dari orang-orang yang biasanya berlalu lalang.


      Namun ketenangan itu bertolak belakang dengan kesibukan di tempat Diana. Ketika berbagai barang diturunkan dari mobil.Said dan Savana berteriak kegirangan .Sangat bahagia ketika mendapatkan berbagai hadiah yang sangat banyak.


     Diana dan sahabatnya memperhatikan dalam diam..Wanita itu lebih memikirkan ,hendak disimpan di mana barang -barang itu. Bahkan tanpa tambahan barang, ruangan rumahnya sudah agak sesak. Salah satu penyebabnya adalah hadiah-hadiah dan barang-barang yang sudah dibelikan tahun-tahun lalu.


       Namun ketika Adnan melihat keluhan di wajahnya.Pria itu malah berkata cuek.


     "Salahmu tidak mau juga pindah ke rumah baru.Aku bahkan tidak mengerti keistimewaan tempat ini bagimu..'


      "Aku masih nyaman di sini.Lagian itu bukan rumahku.."


      "Terserah..!.Yang pasti itu rumah anak-anak. Bukankah kuasanya ada padamu..?..Dasar keras kepala.."


     Diana malas menanggapi.Ketika berjalan menemui Agnes yang sedang berbincang-bincang dengan bu Ida.Dia nyeletuk.Ketika bu Ida tertawa mendengar kelakar Agnes.


     " Asyik sekali, sampai lupa sama aku.."


     Agnes menoleh , lalu memeletkan lidahnya.Sepertinya dia  sudah lupa tadi minta makan pada Diana.


     Diana mengambil salah satu kursi untuk duduk. Melihat bu Ida tertawa dia juga senang.Tapi ada yang harus dibahas dengan Agnes.Sehingga tak sabar mencubit lembut tangan wanita itu.


      Ketika melihat pandangan ingin tahu dari Diana.Agnes menjadi ingat akan tujuannya datang ke sana. Namun sebelumnya dia menolehkan sedikit kepalanya ke arah kesibukan anak buah Adnan yang bolak-balik mengantar barang.


     "Apakah ada hadiah untukku juga..?" Candanya berkelakar.


      "Ada lato-lato kalau kamu suka.." Jawab Diana asal.


       "Ohh AKu kira kamu menawarkan dildo.." Balas  Agnes tak mau kalah.


        "Lu memang deh…Agnes.." Kata Diana sambil geleng-geleng kepala.


         "Gak pa-pa..Aku ikhlas kok.."


         " Dih..Jawaban apa an tuh.Gak nyambung banget..error lu.." Ledek Diana.


          "Haa..haa..Sudah tahu…Kamu nanya..?"


           "Ahh..sudah deh.Lama-lama aku bisa  ikutan error nih .."


       Diana memutuskan dengan cepat kegilaan Agnes.Karena tidak akan menang kalau adu mulut dengannya. Dia seperti dianugerahkan banyak kosa kata di bibirnya.Yang akan keluar bila sedikit dia ingat .


       "Aku penasaran deh.Bagaimana cara Erick menghadapi kegilaanmu..?"

__ADS_1


       "Hampir sama dengan caramu menghadapiku.."


        "Duh…Lama-lama bisa kecipratan gilamu Nes.."


         "Gak pa-pa.Anggaplah itu anugerah.."


          "Parah lu..parah.." Kata Diana tersenyum masam. Walaupun dia sudah tahu sebelumnya edannya sahabatnya ini.


       Agnes tertawa ngakak dan kencang sekali.Sehingga mengundang perhatian orang-orang sekitar.Supri malah tersedak minuman yang barusan disediakan untuknya.Termasuk dua orang tetangga yang masih betah berdiri di depan pagar halaman. Hanya Adnan yang tidak memberikan reaksi apa-apa.


       Diana tertawa dalam hati ketika melihat tingkah Sofia dan Sulli.Namun tidak diacuhkannya.Dia tetap menjaga jarak sampai sekarang dengan mereka.Kejadian dulu masih membekas di hatinya. Katakanlah Diana pendendam. Namun dia sudah terlalu sering disakiti orang-orang terdekatnya. Menurut Diana, Sofia adalah orang yang berbahaya. Mungkin menjaga jarak lebih baik.Karena sejahat-jahat tetangga adalah orang-orang yang memfitnah tetangganya sendiri dengan yang keji dan kotor .Namun tidak merasa bersalah sedikitpun.


       Sementara itu, suasana semakin heboh, ketika Adnan mulai membuka hadiah bersama anak-anaknya. Sementara tumpukan bingkisan yang belum dibuka menggunung disekitarnya. Bisa dibayangkan kerepotan Diana bila akan membenahinya sampah-sampah bekas bungkusannya  nanti .


      Savana berteriak kegirangan dan berlari menuju Diana.


       "Wow…mami..mami..! Lihat apa yang kudapatkan dari daddy..Ini lebih bagus dari yang pernah ku lihat di tivi.." 


     Wajah Savana memerah mengeluarkan kegembiraannya. Gadis kecilnya memamerkan boneka barbie edisi terbaru.


        Diana tidak bisa memungkiri kalau hatinya turut bahagia jika melihat anak-anaknya bahagia.Walaupun masih jengkel dengan daddy mereka.Tangannya membelai kepang indah milik putrinya itu.


       "Kamu senang sayang..?"


      Diana tersenyum.Lalu mengalihkan pandangan pada Said yang sedang sibuk memasang rel  kereta api mainan.Sesekali daddy nya membantu membetukan pemasangannya.Sungguh pemandangan yang diidam- idamkan kebanyakan rumah tangga normal.


      Diana bukannya tidak bersyukur.Namun kunjungan Adnan  yang terlalu lama, membuatnya tidak nyaman dengan pandangan tetangga.Meskipun dia selalu diperlakukan dengan baik selama ini.Namun hal itu tentu saja tidak berlaku pada Sofia dan sohibnya. Wanita itu sudah terlanjur julid semenjak  bertemu pertama kali dengan Diana.


      Ketika kembali mengalihkan pandangannya kepada Agnes, ternyata wanita itu juga sedang terpesona dengan tingkah laku anak-anak Diana dengan daddynya. Ketika tangannya disenggol dengan sengaja, barulah dia sadar.


       "Nes..Katanya ada yang mau dibicarakan..?" Tanya Diana tiba-tiba.


     Agnes menoleh ,lalu dengan sengaja menghadap padanya


     "Apakah David pernah menghubungimu Di..?" Tanya dia kemudian.


     "Gak pasti juga sih.." Jawab Diana sambil mengecek hpnya. Dia ingat kemarin tidak terlalu mempedulikan keberadaan hpnya.


     Dia kaget melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari David dan Agnes.Kalau bukan sesuatu yang sangat penting, tidak mungkin dia akan dihubungi pria super sibuk itu. Merasa bersalah dia bermaksud menghubungi kembali.


     Teringat kemarin terlalu sibuk mengejar deadline. Sehingga lupa mencharge hpnya.


      "Mmh kamu benar Nes..David beberapa kali menghubungiku.Ada apa ya..?"

__ADS_1


      "Ya..Dia mengutusku untuk mengajak datang ke Blue Stone.."


      "Apakah ada sesuatu yang penting..?"


       "Penting..Sangat penting.Tapi terlalu beresiko menerangkan di hp atau bercerita di sini.."


      "Kapan..?"


      "Kalau bisa sekarang.."


     Diana menatap heran.


      "Tapi sudah hampir sore.."


       "Gak masalah.Justru jam-jam begini lebih bebas.


      Diana berpikir sejenak.Perasaannya  mengatakan,bahwa hal ini tidak akan sebentar.Dia tidak mungkin meninggalkan rumah begitu saja.Apalagi jika bu Ida dan anak-anak yang sudah terbiasa di rumah dengannya beberapa tahun ini


      Agnes yang membaca keraguan Diana.Wanita itu berpikir licik .Mungkin ada baiknya mempergunakan sumber daya manusia  Adnan sekarang.Walaupun di matanya pria itu menyebalkan.


      Beringsut mendekati sahabatnya itu, Agnes berbisik.


       "Tidak ada salahnya kali ini anak-anak menginap di tempat daddy nya.Bukankah mereka masih kangen kangenan…?"


      Diana tersentak.Bagaimana kawannya yang kelewat "cerdas" ini bisa mendapatkan solusi yang membuatnya jadi serba salah..?


       "Tapi..?"


       " Tidak ada salahnya kamu beri dia kepercayaan sekali lagi.Ku kira dia cukup cerdas untuk bertindak bodoh berulang kali padamu.Bukankah dia sudah berjuang sejauh ini mengambil hatimu..?"


     Perasaan Diana agak bimbang ketika memikirkan usul Agnes.


     "Apakah tidak ada usul lain..?"


     "Titip di rumah saja.."


     "Mereka akan membuat kewalahan art..Apalagi ada bu Ida yang harus ditangani.Oh tidak..Aku tidak bisa membayangkan yang buruk nanti.Apalagi mereka sedang aktif-aktifnya.." Jelas Diana.


     Keduanya begitu sibuk berembuk dan hampir tidak menyadari seseorang sudah berdiri di dekat mereka. Tepatnya di samping Diana.


     "Aku akan mengajak anak-anak jalan-jalan ke luar rumah.Apakah kamu ikut..?"


     Adnan berdiri acuh tak acuh ketika mengutarakan keinginannya.Tidak jelas apakah itu minta izin atau sekedar pemberitahuan.Tapi apa bedanya dengan pria itu.Dia pasti akan melakukan apa yang dia ucapkan dan inginkan.Tidak ada pengaruh pada  izin siapapun.

__ADS_1


      Untuk sesaat Diana kehilangan kata-kata.Sementara Agnes belagak bego, seperti itu bukan idenya.


__ADS_2