
Diana menyibakkan tirai jendela pagi itu.Suasana yang masih terang temaram.Hanya ada sesekali kendaraan atau orang jalan kaki.Diana ingat hari ini adalah minggu.
Dia membuka pintu rumah untuk merasakan udara pagi di tempat terbuka, Seperti yang diharapkan, udara segar langsung menyerbu masuk begitu pintu di buka. Diana menghirupnya sampai puas.
"Aah..segarnya. "Gumamnya.
Diana melangkah menuju teras.Bermaksud untuk menyapu halaman.Itung-itung olahraga pagi yang hampir tidak pernah dia lakukan.
Dia sudah memegang sapu , dan bermaksud menyelesaikan bagian teras dahulu.Karena biasanya banyak daun-daun kering yang ikut tersapu angin. Apalagi di musim kemarau begini.
Dia sudah akan melangkah ke luar pintu ketika sesuatu menarik perhatiannya. Sesuatu itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk melangkah ke halaman.
Diana bahkan hampir terlompat kaget. Perasaannya menjadi tidak nyaman.
Di sudut pintu masuk, dia melihat sesuatu yang tidak biasa.Taburan aneka macam kelopak bunga dari pintu teras hingga pintu rumah. Ada tambahan yaitu rangkaian bunga mawar merah.
Walaupun pada dasarnya dia adalah wanita penyuka bunga.Tapi kehadiran kuntum-kuntum yang berserakan dan juga rangkaian bunga mawar, malah membuatnya heran dan bingung.
"Ini ada apa ya..? Siapa menaruhnya..?"
Diana masih bingung untuk langsung bertindak..Bu Ida yang kebetulan sudah berada di teras, juga ikut melihat .Beliau malah memberikan peringatan.
"Awas..! Jangan disentuh dulu..!"
"Oh..ya bu..?"
Diana masih bingung antara penasaran ingin menyentuh dengan larangan bu Ida.
Wanita yang sudah seperti ibu sendiri bagi Diana, kemudian pergi ke pekarangan rumah.Ketika kembali di tangannya sudah ada beberapa daun bidara dan daun kelor.Tidak cukup hanya itu, kemudian masuk ke rumah dan kembali membawa sejumput garam dan panci. Diana semakin penasaran.
" Itu buat apa ya bu..?
" Sst..Tenang aja.."
"loh.??."
Bu Ida tidak menjawab lagi.Tapi lebih fokus kemudian membaca doa. Kemudian mencampurkan garam dengan daun kelor, daun bidara.
Tak lama kemudian , bu Ida mulai melempar-lemparkan campuran garam dapur dan daun-daun ke setiap penjuru teras yang ditaburi bunga-bunga tadi.Sambil terus komat-kamit membaca doa-doa. Suasana menjadi sedikit tegang dan serius.Apalagi aroma wangi tak biasa yang menguar dari bunga-bunga itu.
Diana terus memperhatikan tapi ragu untuk bertanya, Matanya tidak lepas dari bu Ida yang sedang komat-kamit.
Akhirnya bu Ida menyudahi kegiatannya dengan mengucapkan Alhamdulillah. Tak sengaja mata tuanya melihat sebuah amplop surat putih tersemat pada rangkaian bunga.Dia memungutnya dan memberikan pada Diana.
"Buka aja bu..Diana kok jadi serem ya.."
__ADS_1
"Udah gak apa-apa.Tadi itu ibu jaga-jaga aja.Mana tahu ada manusia musyrik ingin berbuat jahat padamu.."
"Iih…masa sih bu..?".
"Yah mana tahu..Coba kamu lihat isi surat ini .."
Diana menerima surat dari tangan bu Ida .Bau wangi semerbak keluar saat amplop warna biru bergambar hati itu dibuka.Bahkan bu Ida sampai bersin.
"Waduh.!!.Wanginya gini amat, bikin ngap.."
"Tau...Numpahin minyak wangi sampai sebotol kaya nya nih.."
"Coba baca nak..!" Perintah bu Ida.
"Ibu aja yang baca deh..Malas ah.."
"Baiklah..Sini biar ibu yang baca.."
Akhirnya Diana mengembalikan surat yang sudah di bukanya ke bu Ida.Dengan antusias ,bu Ida membuka lipatan kertas wangi itu.
Salaam..
"Teruntuk wanita tercantik dunia dan akhirat..
,Setiap siang dan malam selalu teringat akan dirimu.
Di wajahmu kulihat ada bintang dan bulan yang bersinar indah. Sungguh tidak dapat dibendung lagi perasaan abang yang kesengsem sama kamu.
Wassalam
Aku yang mencintaimu
Abang ganteng..
Mata Diana hampir melompat keluar mendengar bu Ida membaca surat cinta itu. Bu Ida pun tak kalah kaget.Bahkan pipinya memerah menahan malu. Dia bukanlah wanita modern yang biasa dengan kata-kata yang romantis. Dalam pemahamannya sebagai wanita sederhana dan mantan seorang guru, kata-kata gombalan adalah hal yang berbau tipuan.
Hingga selesai surat itu dibacakan.Diana dan bu Ida tidak tahan lagi menahan tawa hingga terkekeh geli.
"Ternyata ada yang suka padamu Diana. Dari suratnya sepertinya orang itu gombal sekali…"
"He..he..Ibu ini..Ada-ada saja ya bu.."
"He..he..Rupanya isi surat cinta seperti ini ya..Ibu baru kali ini baca surat cinta seperti ini.Bukannya jadi suka, malah eneg.
"He. Hee…Sudah ah.!.Diana ambil sapu dulu.Gak enak melihat sampah berserakan ini. Walaupun itu hanya kelopak-kelopak bunga.."
__ADS_1
"Ya..Harus cepat disingkirkan.Biar gak menimbulkan reaksi heran kalau ada yang bertamu.."
Selang beberapa menit kemudian, bu Ida dan Diana sudah sibuk bekerja membersihkan kuntum-kuntum bunga itu.Begitu melihat rangkaian bunga mawar merah Diana agak ragu. Dia bukan tipe wanita yang sangat menyukai bunga.Tapi melihat rangkaian bunga yang begitu cantik, dia merasa sayang juga.Tidak mau mengambil resiko terhadap sesuatu yang tidak jelas sumbernya. Apalagi teringat apa yang dilakukan bu Ida dengan garam, daun kelor dan daun bidara tadi. Mau tidak mau Diana berpikir juga kalau ingin mengambilnya.
Sementara itu di tempat yang terlindung di seberang rumah, seorang pria memperhatikan mereka hampir tak berkedip.
"Aduh..! Apa sih yang dilakukan perempuan tua itu. Dia malah menyebarkan daun-daun di sana. Bikin kacau saja.." Rungutnya dalam hati
Pria itu tidak lain adalah Tasman, pacar Sofia.
Perjumpaan tak sengaja pertama kali dengan Diana beberapa hari yang lalu, ternyata meninggalkan kesan yang dalam di hati Tasman.Hari-harinya sering dihiasi fantasi yang gila-gilaan dengan Diana.
Tasman bahkan sering membanding-bandingkan antara Sofia dan Diana. Dimana seharusnya tidak dilakukannya mengingat hubungan mereka sudah terjalin lebih setahun lamanya.
Tapi bagi Tasman yang lagi kasmaran dan ingin mendua hati (ceilee..), apa sih tidak mungkin..? Tapi hatinya kemudian kecewa dengan sikap Diana yang tidak terlalu sumringah mendapat kiriman karangan bunga mawar indah.
Apalagi saat melihat apa yang diperbuat bu Ida pada bunga-bunga yang ditaburkan. Tasman ngedumel dalam hati.
"Sialan tuh mak tua.Ikut campur aja urusan orang "
Lain lagi dengan kejadian di sebuah rumah sederhana berjarak dua rumah dari tempat Diana terlihat Sofia yang uring-uringan.Karena baru saja diputuskan oleh Tasman.Air mata bercucuran di pipinya yang semok.
"Tega kamu mas Tasman..Tega kamu..Apa salah Dedek..?" Katanya di sela-sela isak tangis.
Kedua orang tua Sofia hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sampai segitunya kamu nak..Apa sih hebatnya si Tasman..? Tampang kaya gitu aja.."
"Iyaa..kaya gak ada laki-laki lain aja.." Sela bapaknya.
Sofia melihat kesal pada kedua orang tuanya.
"Kaya yang ngomong cakep aja.."Rungutnya.
Bapak dan ibunya saling melihat satu sama lain.
"Loh..Memangnya kita salah bicara..?"
"Ya salah..Aku lagi sedih karena putus cinta sama mas Tasman.Bukannya di baik-baikin, atau hibur kek.Malah diejek..Bapak, ibu tega amat deh.."
Kedua suami istri itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak gadisnya itu. Di usianya yang sudah dua puluh enam tahun harusnya sudah menikah.Tapi gadis keras kepala ini sering ngeyel dan lebih suka berpacaran dengan pria yang tidak ada niat untuk menikahinya. Saat dia diputuskan oleh Tasman, kedua orang tua Sofia bukannya sedih, malah bersyukur. Karena mereka sudah menyadari tujuan Tasman berhubungan dengan Sofia tidaklah serius.Di samping itu pernah terdengar kabar kalau laki-laki itu adalah pria mata keranjang.
__ADS_1