
Wajahnya tampan dan mempunyai tubuh sempurna seorang pria. Namun berbanding terbalik dengan karakternya yang dingin dan kaku.
Apalagi saat melihat pandangan matanya yang suram. Menandakan bahwa dia bukan orang yang mudah didekati.
Namun ada kalanya mata itu berkabut, dan menerawang jauh dan sangat jauh
Adnan memejamkan matanya rapat beberapa saat.
Saat membuka lagi, mata itu tidak bisa menutupi kesedihannya.
Adnan tidak pernah berpikir lagi untuk bahagia. Karena kebahagiaannya sudah dihancurkan.
Dia sudah berusaha menyembuhkan dirinya dari masa lalu yang buruk dan menyakitkan.Akibat dari kesalahan dan kebodohannya.
Matanya terpaku menatap lockscreen di Gadgetnya.Tidak pernah bosan meneliti masing-masing wajah di sana.Kadang dia tersenyum sesaat kemudian akan berubah sendu.
Dia menoleh cepat ketika tiba-tiba seseorangmenghampirinya.Memperhatikan tingkah Adnan dalam diam.
"Ehm..pak Adnan..?"
"Mmh..ya..?*
"Saya mendapat informasi kalau bu Diana sedang ke luar rumah.."
"Anak-anak dengan siapa..?
"Dititipkan pada seorang ibu ?"
"Baby sitter kah ?"
"Kalau itu kurang jelas pak..Soalnya beliau adalah pemilik rumah kontrakan tersebut..".
Adnan terdiam dan menatap orang itu.Seperti ada yang akan dikatakannya.Namun kemudian hanya kalimat pendek yang diucapkan.
"Oke..Terima kasih.."
Orang suruhannya itu kemudian diam menunggu perintah selanjutnya. Adnan kembali membuka locksreen di hpnya.Wajah dua orang bayi dalam pelukan seorang wanita. Diana.!!
Mereka adalah bayi gembul yang menggemaskan.Adnan tidak menyangsikan sedikitpun bahwa itu adalah darah dagingnya. Ternyata Diana sedang hamil saat dia menceraikannya.
Penyesalan kembali mengusik hatinya. Seperti mimpi buruk yang menghantuinya setiap saat.
Kesedihan seperti meremas jantungnya.Apalagi mengingat kejadian hari itu.Hari di mana dia membuang istrinya dengan sadar.Hanya karena ingin menyelamatkan perusahaan keluarga .
Pria itu mendesah.Adnan berharap ada satu kesempatan baginya untuk menebus semua ini.Walaupun ada rasa pesimis selalu hadir di hatinya.
Namun ketika Tuhan masih berbaik hati padanya, Adnan bersumpah akan menggunakan peluang ini sebaik-baiknya.
.Pertemuan dengan Diana beberapa hari yang lalu membuktikan doa-doanya mulai didengar.
Dia mulai menyuruh orang-orangnya menyelidiki tentang Diana dan kehidupannya di sini.Hingga pada satu berita yang mengejutkan dan memukul pangkal otaknya.
Diana sudah melahirkan bayi kembar tanpa diketahuinya..!!
Adnan memastikan itu anak-anaknya.Dan dia meyakini dengan nalurinya. Rasa bersalah semakin hadir .
Dia kemudian membeli sebuah rumah baru untuk tinggal di kota ini. Supaya bisa melihat mereka dari dekat dan berharap bisa bersama lagi, berusaha melupakan kenangan pahit masa lalu..Memperbaiki semua kesalahan kesalahannya.
Adnan ingin memulai lagi rumah tangganya dari awal dengan Diana dan anak-anak mereka.
__ADS_1
Tidak peduli sesulit apapun.Adnan akan berjuang untuk itu. Tujuan hidupnya sekarang hanya satu.Walaupun menyadari tentang Diana yang sudah terlalu membencinya..
Adnan menutup hpnya dan memberi perintah pada orang suruhannya itu.
" Ed..Aku punya rencana kunjungan hari ini.Kalian persiapkan hadiah yang harus kubawa.."
"Maksud anda pak, kita akan berkunjung ke tempat nyonya ?"
"Ya..Kurasa ini sudah saatnya.."
"Betul pak Adnan.Apalagi hari ini mereka berulang tahun.."
"Apa..??" Teriak Adnan.Lagi-lagi dia diberi kejutan.
"Ya pak..Bayi-bayi kembar itu merayakan ulang tahun yang pertama.."
Adnan menghitung waktu di dalam hati.Dadanya semakin bergemuruh.Nalurinya semakin kuat mengatakan bahwa itu adalah anak-anaknya.
Dadanya perih. Membayangkan Diana melewati semua sendirian. Hamil dan melahirkan tanpa dukungan dari suami.
Namun kemudian menyadari.Ini adalah akibat perbuatan yang pernah dia dan keluarga nya lakukan pada Diana.Sungguh tak termaafkan.
"Ya Tuhan..Jahatnya aku.."Ratapnya pilu.Tangannya memukul-mukul kepala tiada henti.
"Bodoh..Idiot kau Adnan.."
Sementara orang suruhannya yang bernama Edwar hanya menunduk.Dia sudah mendampingi tuannya sejak lama.Bahkan semenjak Adnan muda.Tuannya adalah figur yang kuat, tenang, bahkan cenderung dingin.
Namun semenjak dua tahun terakhir, kesan itu perlahan-lahan retak.
Adnan telah berubah menjadi pribadi yang terkesan lemah dan rapuh.Bahkan sering kepergok sedang melamun dan bengong sendiri tanpa diketahui penyebabnya.Pria itu sudah menjadi pribadi yang berbeda.Walaupun kesan dingin tetap menempel di dirinya.
Sementara itu di rumah Diana,suasana terlihat bahagia.Sesekali terdengar suara bayi yang tertawa dan merengek.Disusul suara ibunya yang membujuk.
"Ma..ma..ma.."
"Iyaa….anak mami.."
Diana sangat menikmati saat-saat bermain bersama anak kembarnya . Said dan Savana, sudah dari subuh dimandikan dan disuapi.Sekarang hanya bermain menjelang waktu tidur mereka datang.
Bu Ida terdengar sedang menyapu pekarangan.Selama musim kemarau, daun-daun pohon mangga banyak yang berguguran.
Diana masih asyik bercanda dengan dua bocah gembul kesayangannya ketika getaran hp terasa di saku dasternya.
Ogah-ogahan menggeser layar on.Tertera sebuah nomor asing. Diana merasa ragu sejenak.Entah kenapa perasaan jadi tidak nyaman.
Dia menempelkan benda itu ke kupingnya.
"Halo Diana.."
Diana terbelalak , tangannya akan menggeser tombol off namun urung ketika suara itu terdengar lagi.
"Diana, tolong jangan ditutup dulu.."
Diam sejenak menenangkan diri.
"Mau apa lagi kamu..?"
Terdengar tarikan nafas berat di seberang sana.
__ADS_1
"Diana..Aku tahu kamu sudah melahirkan anak kita..Aku minta maaf..Aku.."
"Stop..!! Jangan bicara lagi.Dan jangan mengusikku lagi.Anak-anak itu adalah anakku sendiri.."
"Aku bapaknya Dy.." Suaranya mulai parau.
"Aku tidak peduli.."
Terdengar isakan yang ditahan di seberang sana.
"Dy..Aku sadar kesalahan dan dosaku sangat banyak padamu..Tapi. Jangan korbankan anak-anak kita."
"Ciih..Kamu sudah mengorbankan kami dari dulu.Jadi berhentilah untuk berusaha terlihat peduli di mataku..'
"Mereka butuh orang tua yang lengkap Dy.."
"Oh ya..? Kamu kira aku bodoh soal itu ? Tapi aku akan mendidik anakku dari dini..Bahwa dalam hidupnya hanya ada ibu"
"Diana..!!!"
"Hai.. .Tuan Adnan.!! Menyingkirlah dari hidupku. Kamu tidak lebih dari pecundang sampah di mataku.!"
Di Seberang telepon,Adnan memejamkan matanya yang basah saat mendengar kata-kata hinaan itu Dia memang pantas mendapatkannya.
"Diana..Aku hanya ingin bertanggung jawab untuk kamu dan mereka.."
"Apa..??? Haa..haa..ha..Kamu hampir saja membuatku tersentuh Adnan.."
"..."
"Tapi sayang sekali..Kenangan buruk yang kudapatkan dari manusia-manusia busuk dan licik seperti kalian terlanjur mengalir dalam darahku lalu tersimpan dalam memori otakku .." Ucapnya pedas
"Aku harus bagaimana Diana..?"
"Menyingkirlah..!"
"Jangan itu..Aku tidak sanggup lagi.."
"Kalau begitu, aku dan anak-anakku yang akan menghilang.."
"Tidak..!! Tidak Diana..tolong..jangan.."Suara Adnan semakin menghiba dan gelisah.
"Kamu semakin menjijikkan Adnan…cih..!!"
Tanpa basa-basi lagi Diana menutup teleponnya. Kemarahan membayang di wajahnya.Saat matanya melihat ke arah si kembar.Mereka menatap heran dengan mata bayinya. Bahkan Savana agak mencebik ingin menangis.
"Mm…mm.."
Diana segera meraup kedua buah hatinya. Dia menyadari kesalahannya karena bersuara keras dan marah-marah di depan mereka.
"Shh..shh…Gak pa-pa..Mami gak marah kok.." Bujuknya.
Kedua bayi itu mendongak dan meneliti wajah ibunya.Mencari-cari sesuatu di sana.Tangan Said menepuk-nepuk pipinya.Saat melihat senyum dan pandangan sayang di wajah ibu mereka.Tawa ceria mulai terdengar lagi dari mulut-mulut mungil yang menggemaskan itu.
Diana menghela nafas. Sempat terpikirkan untuk pindah dari tempat ini.Ke mana saja asalkan jangan bertemy Adnan apalagi keluarganya.Namun kemudian dia membatalkan niatnya.Karena Adnan sudah mengetahui kehadiran anak-anaknya. Bisa dipastikan dia akan mati-matian mencarinya.
Diana akhirnya memutuskan untuk menghadapi saja.Walau apapun yang terjadi, si kembar adalah miliknya. Dia mulai berencana untuk membangun perlindungan untuk dirinya dan anak-anaknya.
__ADS_1