
Siang itu di bawah terik matahari.i Diana tertatih tatih mendorong motornya yang kehabisan bensin. Bahkan belakang kakinya sudah melepuh karena kesenggol knalpot panas.
Salahnya juga tidak melakukan pengecekan ketika akan berangkat tadi.
Dia menghembuskan nafas lega saat melihat gerbang rumah Agnes.
"Huff…Akhirnya sampai juga.."Gumamnya lega.Keringat sebesar biji-biji jagung mengalir di wajahnya
Agnes yang kebetulan sedang di halaman, bersorak gembira.Karena ini kali pertama sahabatnya itu berani mampir ke rumahnya setelah satu tahun ini.
"Ya Allah….!! Diana..Gak salah ni, mampir ke sini..?" Godanya.
"He .he…Aku mau mengantarkan makanan kesukaanmu ini ."
"Lo..Itu motor kenapa didorong..?Bocor ya..?"
"Gak.Cuma masalah bensin.."
"Duh !…Yang tiba-tiba miskin setelah menerima kompensasi besar.." Sindir Agnes. Diana terkekeh.Agnes mengingatkan uang kompensasi yang diberikan David tempo hari.
"Hee..hee..Duh.. Ada yang sirik"Godanya tak.mau kalah.
"Diih..Siapa yang sirik..Sebel sih iya.."
"Loh..? Kok sebel padaku..? Aku salah apa coba ?"
"Sebel karena kamu menolak kerjasama di Blue Stone.."
" Yah…Itu lagi..Kan sudah diterangan alasannya mbak syantiik…"
"Nantilah ceritanya Tapi sekarang mending masuk dulu.Kayaknya tega amat ya aku membiarkan kawanku begini.."
"Dikira gak akan ditawari.." Sindir Diana sambil tertawa.
"Yee…Gak gitu juga kalee.."Balas Agnes.
"Ya udahlah..Kamu menang..Sekarang berilah aku segelas air minum..! Sudah hampir garing dari tadi ,jalan sambil dorong motor.."
"Oke..oke..Sebentar ya say.."
"Mmh.."
Agnes beranjak ke dalam.Tidak lama kemudian muncul dengan dua gelas teh hangat dengan irisan jeruk lemon di salah satu gelasnya. dia hafal dengan kesykaan Diana yang menyukai teh dicampur asam lemon.
"Ayo silahkan minum Diana..!"
Agnes duduk di depan memperhatikan Diana.Sementara wanita itu sedang sibuk memerah irisan lemon di minumannya.
Agnes tersenyum melihat sahabatnya itu.Diana terlihat lemah walau berusaha kuat setelah bermacam cobaan datang mendera nya akhir-akhir ini. Namun dia tahu kalau wanita cantik di depannya ini hanya pintar membungkus luka hatinya.
Diana yang sedang mengaduk teh nya merasa diperhatikan .Dia menoleh lalu mencibir pada Agnes.
"Aku bisa melihat isi kepalamu saat ini Agnes..Bahkan dari jarak sepuluh meter sekalipun.."
"Hee…hee..Aku hanya sedang melihatmu meracik minuman " Bohongnya.
"Bahkan untuk jujur pun masih kelihatan bohong.."Sentil Diana lagi.
Agnes salah tingkah.
" Oke..oke..aku nyerah.."
"Buang pandangan prihatin itu untukku. Terlihat memuaskan.." Ucapnya lagi sambil mengangkat cangkirnya acuh tak acuh.
Agnes tidak berani ngeles lagi.Karena percuma untuk berbasa-basi dengan Diana.
__ADS_1
"Well..Aku mau mengatakan sesuatu pada mu .."
"Mmh..apa ?"
Agnes menelan ludahnya.Lalu menatap mata Diana .Ekspresinya sungguh-sungguh.Memancing keingin tahuan.
"Aku melihat Adnan mantan suamimu di kota ini."
"Oh.."
"Kamu sudah tahu ?"
"Ya..Dia bahkan bertemu denganku.."
"Lalu..?"
"Lalu apa..?"
"Ya..Gitu deh…Gimana ya ngomongnya..?" Bingung sendiri.
Diana menaruh cangkir tehnya kemudian tanpa menjawab Agnes.Kemudian mengambil kantong kresek berisi dimsum yang baru dibawanya.
"Nih kesukaanmu.." Katanya mengangsurkan pada Agnes.
Agnes menerimanya dengan diam.Meskipun kesal karena pertanyaannya tidak di acuhkan.Namun dia cukup paham tabiat sahabatnya ini.Sekarang Diana sedang berada dalam mode tak bisa senggol. Diam adalah sikap yang bijak bagi Agnes saat ini.
Dia masih sibuk dengan pikirannya ketika Diana padanya.
"Suamimu Erick dan si lucu Andre kok gak kelihatan ya Nes..?" Tanya Diana mengalihkan percakapan.
Agnes berusaha menyesuaikan suasana yang tiba-tiba di rasa canggung.
"Mereka ke luar kota karena ada acara keluarga di rumah orang tua mas Erick.."
"Kamu gak ikutan..?"
"Mmh..Acara pesta kah..?"
"Iya..Adiknya mas Erick akan menikah lusa.."
"Oo..gitu ya.."
Agnes membuka bungkusan dimsum yang di bawa Diana.Mencicipi rasa lezat kesukaannya.Mmh..kombinasi udang dengan ayam selalu menjadi favoritnya.Apalagi jika dicelup saos pedas manis. Agnes bahkan mengangkat alisnya meresapi kelezatannya.Ini salah satu kelebihan bersahabat dengan Diana.Wanita itu sangat perhatian dan pengertian.
Agnes masih asyik mengunyah dimsum kesukaannya dengan lahap.Diana memperhatikan sambil tersenyum .
"Apakah sebegitu sukanya dengan dimsum Nes.?Kamu bahkan memakannya seperti makan nasi.."
"Aku selalu suka apapun yang kamu bawa.."
"Diih..Mulai deh..haa..haa.." Cibir Diana. Wajahnya bersemu merah.
Dia kembali tersenyum menatap Agnes makan.
"Nes.."
"Mmh..ya..?"
"Terima kasih ya…Sudah mau menjadi temanku.Apalagi saat kamu menolongku di hari itu "
Agnes berhenti mengunyah. Matanya menatap Diana .Kemudian mengambil gelas, dan meminum air di dalamnya.. Diam sejenak, lalu berkata sewot. Matanya agak mendelik karena pedas dari kuah dimsum.
"Sudah berapa kali kamu berterima kasih padaku Diana.Dan ceritanya gak jauh dari kejadian itu yang itu juga.Udah gak asik tau.."
"Aku akan selalu berterima kasih seumur hidupku padamu.." Sahut Diana kalem.
__ADS_1
"Adeww. Capek dengernya tau..? Kamu lebay Diana.." Sungutnya.Sepotong kecil mentimun akan dilempari. Tapi batal.
"Sayang ah.."Katanya sambil memasukan ke mulut.
Diana tertawa melihat tingkah konyol Agnes.Walaupun begitu, dia tahu sekali betapa baik wanita di depannya ini.Pertolongan Agnes yang seringkali menyelamatkan hidupnya.
Tiba-tiba Agnes berkata sambil bercanda.
"Tapi dulu aku benci padamu.Kamu sainganku untuk memiliki Erick.."
"Diih..Yang itu ya..Haa..haa..Kamu salah beb..Erick itu sudah kumiliki dari kecil. Haa..haa. "
"Ishh…dasar..Pokoknya Erick milikku sampai nanti. Gak kamu , gak siapapun tidak boleh memilikinya .." Kata Agnes egois.Dan dia bangga dengan itu.
Diana semakin tertawa meledek sahabatnya itu.
"Oke..fine .Tenang aja..Aku tidak akan pernah tertarik pada Erick .Walaupun kami sudah berteman dari orok.Jauh sebelum kenal kamu. "
"Coba kalau kamu terus terang dari pertama waktu aku gebet dia.Kita tidak bakalan musuhan waktu itu.."
"Ye..Yang butuh siapa oii.." Cibir Diana lagi.
"Ya eike..Tapi kamu gak respek.dasar !"
Sambil tertawa Diana membalas sahabatnya itu.
"Kan akhirnya respek juga.Buktinya kamu jadian sama Erick berkat aku juga.."
"Eh..Iya ya.."
"Haa..haa. " Keduanya tertawa ngakak.
Beberapa saat kemudian Diana kembali bicara serius pada Agnes.
"Nes.."
"Ya. ..Apa lagi sih.?"
"Aku tidak akan pernah melupakan pertolonganmu malam itu."
"......."
Diana terdiam kembali.Matanya berkaca-kaca mengingat kejadian itu.
"Saat itu aku benar-benar kacau ya. ?.Aku berjalan seperti orang linglung hingga malam menjelang. Bahkan lupa mengisi perutku saat itu.Yang ku tahu cuma menangis sepanjang jalan yang kulalui. Syukurlah kandunganku tidak apa-apa.kala itu"
Agnes menghela nafas.
"Jujur saja.Saat itu aku kurang kenal denganmu.Kamu ringkih sekali.Yang ku lihat cuma ada wanita pingsan dan ingin menolong.Syukurlah mas ku mengenalmu"
"Yah..Seandainya bukan kamu dan Erick yang menemukanku apa jadinya ya "
"Sudahlah..Jangan diingat lagi.Yang jelas kami bersyukur .Karena kamu dan kandunganmu baik-baik saja..".
"Ya bener juga sih katamu. Sebaiknya jangan diingat.Tapi gimana ya..? Gak ingin mengingat, tetap saja teringat.Hatiku jadi sakit sekali "
Agnes menyingkirkan kotak bekas dimsumnya ke samping. Dia memperhatikan sahabatnya itu dengan seksama. Wajah cantik dengan kulit eksotis.Otak jenius, dan hati yang tulus.
Hanya pria bodoh seperti Adnan yang akan membuangnya.
Agnes teringat kejadian dua tahun lalu tepatnya saat malam usai acara raker mas Erick.Mereka sekeluarga, akan makan malam di sebuah restoran.
Sekaligus menikmati malam terakhir di kota itu.Karena besok siang, akan kembali ke kota tempat mereka tinggal. Yang berada di pulau lain..
Saat mereka menemukan Diana dulu, wanita itu dalam kondisi yang memprihatinkan.Kacau dan lemah. Bisa dipastikan dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1