MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 10


__ADS_3

Selesai melakukan ritual di kamar mandi, Pak Suryo membaringkan Lastri keranjangnya.


"Las?" tanya pak Arman.


"Kemarin pacarmu ikut ngantar kesini."


"Pacar?" Lastri mengernyitkan dahinya.


Siapa pak Arman? saya tuh belum punya pacar..


Arman menggelengkan kepalanya.


"Itu yang kemarin aku bilang siapa tuh namanya?" Armam mengingat-ingat.


"Doni. yah itu namanya" kata Arman.


"Hehe bapak, kalau itu sih bukan pacar pak."


"Tapi, dia bilang kamu pacarnya, malah ngacem lagi?"


"Awas kalau pacar saya di pegang-pegang! gitu kata dia." Arman menirukan kata-kata Doni.


"Pak Arman" Panggil Lastri..


"Apa" jawab Arman.


"Terimakasih ya..."


"Terimakasih untuk apa?" Arman melirik Lastri.


"Untuk semua... Karna pak Arman sudah menolong saya, menunggui saya, sampai rela tidak tidur." Arman menatap Lastri, mereka saling tatap, ada rasa yang lain di relung hati mereka.


Arman dan Lastri sama-sama memalingkan wajah, mereka salah tingkah.


Arman menarik napas, "justru aku minta maaf Ar, karna sudah membuat kamu menjadi seperti ini." Arman menunduk meremas rambutnya, ada rasa bersalah di sana. Arman berpikir hanya karna mantan tunanganya, sampai ia membuat anak orang terluka.


"Tapi saya malah seneeeng banget, Pak".Lastri berbinar.


"Maksutnya?" Arman kembali menatap Lastri.


"Karena, saya bisa dekat sama Pak Arman, ditemani, diperhatikan" Lastri menatap langit langit senyumnya mengembang, hub. Lastri menutup mulutnya baru sadar apa yang ia ucapkan.


"Astri"


"Ada apa Pak?


"Kamu belum jawab pertanyaan saya."


"Pertanyaan yang mana?"


"Iiiih..." Arman menatap Lastri, geram. "Beneran, kamu sama Doni tidak pacaran?"


Lastri ter kekeh. "Hehehe... ya bukan! lah pak, Doni itu anaknya bos saya, Bapak kan tau, kalau saya kerja. Mas Doni tuh, sudah seperti kakak sendiri.


"Oohh" Armam manggut-manggut ada kelegaan di hatinya.


"Trus... kalau memang Doni pacar saya, kenapa?" Pertanyaan konyol Lastri seperti orang bodoh. Padahal sudah tahu kalau Arman sedang cemburu.


Arman mendongak terkejut dengan pertanyaan Lastri.


"Hehe..Bapak cemburu yaa?"


"Eeh, bukan gitu maksut aku, jadi kejar dulu prestasimu, jalanmu masih panjang, jangan sampai pacaran dulu." titah Arman. Walaupun sebenarnya bukan hanya itu maksut Arman.


"Kalau pacaranya sama bapak gemana? hehehe" Lastri tersenyum, alisnya di angkat ke atas..Arman terkejut, mendengar pertanyaan Lastri. Tetapi hatinya sungguh senang senyum manis terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Memang kamu mau sama aku?" tanya Arman.


"Hehehe... pecanda pak, mani serius banget nanggapinya."


"Serius nih Las aku seneng dengar ucapanmu tadi."


"Idiih... Mau di kemanakan tuh, tunangan bapak, orangnya cantik, anggun, langsing, tinggi, tapi kriting ya pak jadi kelihatan galak." hehehe.


"Sudah, jangan ngomong masalah itu." Arman melirik jam tanganya.


" Sudah siang aku berangkat ya."


"Oh ya, hati-hati ya pak jangan ngebut lagi," pesan Lastri.


"Iya, kita seperti suami Istri ya" kata Arman terkekeh.


Lastri menyalami Arman dan mencium punggung tanganya. "Jaga diri ya, Mbak Dwi bentar lagi datang kok," Arman mengangkat tanganya ingin membelai kepala Lastri yang tertutup kerudung.


"Haiit... stop pak! kita bukan muhrim." Kata Lastri mereka terkekeh lagi.


Arman melangkah pergi, tapi ia menoleh kembali. "Nanti malam aku kesini lagi yaa.."


"Eh eh, gak usah pak, nanti repot." Lastri tersenyum. "Ya Allah... aku bisa sedekat ini, dengan Pak Guru tampan, seperti mimpi saja aku. Seandai ini hanya mimpi, aku tak ingi cepat bangun." monolog Lastri.


Lastri sedang asyik melamun.


"Dirumah sakit di larang melamun, nanti kesambet loh." Mbak Dwi mengagetkan lamunan Lastri.


"Eh, mbak sudah sampai?" tanya Lastri.


"Gemana dek, sudah enakan belum?"


"Tumben mbak, perhatian, biasanya kalau di rumah ngajak perang terus" Lastri menggerutu.


"Aku heran ya dek, diperhatikan salah, nggak di perhatikan apalagi? huh" mbak Dwi bersungut-sungut.


"Eh, mbak jangan pergi, mbak mau kemana? maaf mbak, aku hanya percanda kok." Mbak Dwi pun mendekati adiknya.


"Mbak Dwi."


"Apa an."


"Mau kekamar mandi" Lastri merajuk kepada mbak Dwi, soalnya dari tadi Lastri sudah menahan pipis, sejak pak Arman masih ada.Tapi, Lastri tidak mungkin bilang kepada pak Arman. Sebenarnya tadi waktu subuh sudah pipis sih sama bapak. Karena diruangan ber AC Lastri ingin pipis terus.


Mbak Dwi memapah Lastri ke kamar mandi. Setelah selesai, Lastri direbahkan di ranjang kembali. Ternyata mbak Dwi sangat perhatian, ia menyeka tubuh Lastri, mengganti baju. Selama ini Lastri menilai mbak Dwi hanya dari sisi negatifnya, kadang manusia kalau sudah kepentok baru sadar, bahwa mereka pasti akan membutuhkan seseorang.


Sekitar jam tujuh suster membersihkan luka Lastri.


"Adek cantik, apa yang masih dirasa?" tanya dokter.


"Alhamdulillah... sudah lebih baik dok" jawab Lastri tersenyum.


Dengan cekatan suster membersihkan luka Lastri membersihkan dengan alkohol, di olesi betadin.


Dokter kemudian memeriksa, suster memberikan obat.


"Ini di minum setelah makan ya dek?"


"Baik sus...terimakasih." ucap Lastri.


Setelah kepergian dokter Mbak Dwi menyodorkan makan pagi, yang belum sempat aku makan.


"Sini mbak suapi ya."


"Nggak usah mbak, aku makan sendiri aja." Tolakku.

__ADS_1


"Jngan sok kuat, bagaimana mau makan, sedangkan kedua tanganmu saja sakit!" Omel Mbak Dwi.


"Hehe iya juga ya mbak."


"Huh cengengesan terus!" Mbak Dwi kesal, akhirnya nyuapi Lastri.


"Dek..."


"Apa mbak."


"Kayaknya pak Arman suka deh sama kamu."


"Ah masak sih mbak? ya enggak lah, mana mungkin pak Arman suka sama aku."


"Soalnya dia tuh perhatian banget sama kamu."


"Nggak tau mbak, ya wajar, kalau dia perhatian, mungkin dia merasa bersalah gitu" jawab Lastri.


"Iya, tapi ini perhatiannya beda dek, gini gini mbak kan juga punya pacar jadi, taulah perhatianya orang jatuh cinta, sama orang yang hanya sekedar membantu."


"Tapi sebelum terlalu jauh mbak ingetin, lebih baik jangan deh pacaran sama dia."


"Memang kenapa Mbak? jangan bilang Mbak iri yaa," kata Lastri.


"Kamu tuh! kalau di bilangin suka ngeyel," "Siapa juga yang iri!" Mak Dwi mlengos kesal


"Terus kenapa? Mbak Dwi melarang aku pacaran sama dia."


"Keluarganya tuh sangat kejam, apalagi ibunya, biuuuh... mani galak bangettt!" Mbak Dwi cerita sambil bergidik.


"Oh kalau gitu, harusnya bukan Pak Arman yang pantas jadi anaknya"


"Terus siapa yang pantas jadi anaknya?" mbak Dwi mengernyitkan dahi.


"Harusnya mbak Dwi, yang pantas jadi anaknya, soalnya mbak Dwi 11 12 sifatnya hahaha" Mbak Dwi menoyor kepala Lastri.


"Duh sakit mbak, kepala masih di perban juga main toyor."


"Ya udah lah mbak, kok kita malah jadi gibah sih!"


Malam harinya, aku shalat magrib hanya Tayamum, sebab, mbak Dwi aku suruh pulang jam lima sore. Kasihan kalau kemalaman, gang yang aku lewati ketika malam sangat sepi.


"Assalamualaikum." salam seseorang yang di nantikan datang.


"Waalaikumsallam"


"Eh pak Arman sudah sampai" kata Lastri basa basi.


"Memang bapak tidak cape?"


"Demi gadis kecil seperti kamu rasa capekku langsung hilang" katanya sambil tersenyum. Lastri menjadi salah tingkah. Pak arman duduk di samping Lastri. Lastri mencium punggung tanganya.


Pak Arman datang wajahnya tampak segar, memakai kaos hitam, celana jins biru, jaketnya di ikat di pinggang, kaca mata hitamnya masih bertengger. Ya Allah... ciptaannya yang sempurna." Batin Lastri.


"Kok belum makan? aku suapi ya" katanya.


Tidak usah pak, saya bisa sendiri kok" sahut Lastri.


"Sudah... jangan menolak, harusnya kamu seneng di suapi sama guru ganteng sepertiku" Pak Arman terkekeh.


Akhirnya aku makan di suapi pak Arman sampai habis, sungguh momen yang indah menurutku.


Tidak lama setelah makan. Mas Doni datang. Pak Arman tampak kecewa. Begitu juga Mas Doni menatap pak Arman dengan tajam. Aku menjadi ngeri. "Waahh... sudah pasti ini sih? akan ada perang." Batinku.


■■■■■

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak..like..okyy.


__ADS_2