MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 19


__ADS_3

Flashback on


Pagi itu di Ruang Guru SMEA..


"Bu Arshi, bahan rapat untuk nanti siang apa sudah siap? tanya pak Kepsek pada Bu Arshi.


"Karna siang nanti akan di adakan rapat pembahasan tentang UN.


"Semua arsip ada di Pak Arman Pak," jawab Arshi.


"Kalau bisa tolong mulai di siapkan ya Bu..."titah Pak kepsek..


"Baik Pak.."jawab Bu Arshi kemudian melenggang menuju gedung SMP menemui Pak Arman.


"Pak Arman, "dipanggil Pak kepsek"..kata Bu Arshi..


"Ada apa...." jawab Pak Arman tanpa menoleh ke sumber suara.


"Pak kepsek menanyakan bahan untuk rapat nanti siang,..jawab Bu arshi.


Oh baiklah"


Pak Arman walaupun secara pribadi hubunganya dengan Arshi kurang baik, tapi ia selalu bersikap profesional ketika sedang bekerja.


"Di SMEA Pak Arman kemudian berkutat di depan komputer, Setelah jam satu siang acara rapat di pimpin Pak kepsek segera di mulai.Acara rapat baru selesai Bakdha Ashar.


Usai rapat pak Arman menjalankan Ibadah Ashar, selesai shalat, Pak Arman kembali ke depan komputer, ia lupa kalau saat ini sudah waktunya menjemput Lastri..


Keadaan sekolah saat ini memang sudah sepi karna sudah jam 5 sore..hanya ada dua orang muda mudi yang tak lain Arman dan Arshi.


"Pak Arman saya ikut pulang bareng ya". Arshi mendekati Pak Arman.


"Maaf saya tidak bisa! soalnya sudah ada janji." Jawab pak Arman dengan raut wajah datarnya.


"Mas Arman..."panggil Arshi Manja, aku ikut pulang ya "soalnya aku mau nemui ibu..pintanya. "kemarin beliau mengundangku." Arshi merajuk.


"Gak bisa.!!! jawab Arman ketus.


"Mas, pleas! aku ikut ya" soalnya sudah bulan aku tidak mengunjungi ibu, aku kangen sama Ibu." Arshi terus merengek menghiba.


"Tidak perlu!!" Ibu bukan anak kecil yang harus di turuti kemauanya" jawab Arman kesal.


"Sudah saya bilang tidak! ya tidak!!" kamu kenapa ngeyel sih" Bentak Arman, suaranya memenuhi ruangan.


"Mas beri aku kesempatan sekali lagi, aku minta maaf." Arshi ingin menyentuh tangan Arman tapi ditepis dengan kasar. Memang dasar Arshi sudah di bentak tapi masih juga berani merengek.

__ADS_1


"Stoop, !!" saya tidak mau debat lagi, diantara kita sudah tidak ada apa apa lebih baik kamu pulang." jawab Arman tegas.


"Mas kita mulai dari nol! kita perbaiki semuanya." Ibu juga sering telepon aku, supaya kita cepat nikah!!" Suara Arshi ikut meninggi dia lupa kalau saat ini berada di mana."


"Cukup Arshi." Arman berdiri mukanya merah padam , giginya gemelutuk, saya sudah tidak mau lagi bahas tentang pernikahan! ngerti,!!!..


Arman kembali duduk menghempaskan badanya di sandaran kursi, ia mengacak rambutnya dengan kasar.


"Hapir 15 menit mereka saling diam, kemudian Arshi kembali mendekati Arman dan memeluknya dari belakang.


Tidak di sangka bahwa Lastri akan menyusul Arman. melihat kehadiran Lastri Arman tersentak, dan beranjak menyusul Lastri.


"**Flashback of


"Hiks hiks..."Kenapa sakit sekali hati ini." apa salahku?


Lastri pulang berjalan kaki, tapi ia tidak mau melawati jalan yang biasa ia lewati.untuk sementara ia hanya ingin sendiri.


Lastri yang biasa kuat kini ia mulai menyerah, benarkah pak Arman mendekatiku hanya karma balas dendam dengan tunanganya.


Flashbanck on


Sore itu selesai bimbel Lastri ingin ketoilet ia samar- samar mendengar ribut - ribut. sebenarnya Lastri didak mau keppo dengan urusan orang lain, tapi Lastri mendegar suara itu sangat Familier. Terpaksa ia menguping.


oh aku tau' karna bocah kecil itukan?" Arshi bertanya dengan nada tinggi.


"Hahaha...."Aku tahu! kamu mendekati gadis kecil itu hanya untuk balas dendam padakukan?! Arshi tertawa mengejek.


"Iya dulu aku memang hanya memanas manasinya tapi tidak untuk sekarang ," Armam menjawab dengan suara tidak kalah tinggi.


"Jangan bohong kamu Arman ," Arshi mendekat, dengan kasar merengkuh tubuh Arman dan ******* bibirnya.


Lastri terbelalak, sebagian jiwanya runtuh, menutup bibirnya dengan telapak tangannya..Oh no !!!...Kemudian ia berbalik dan lari pulang dengan berjalan kaki.


"Flashback of


Hiks hiks...ternyata aku hanya di jadikan alat untuk balas dendam? hahaha...Lastri tertawa getir, ia mentertawakan dirinya sendiri akan kebodohanya selama ini.


Lastri terus berjalan, sesekali menghapus air matanya. Sebuah sepeda motor berhenti di sampingnya.


"Laki - laki itu memperhatikanya wajah Lastri dengan intens, sepertinya aku pernah bertemu tapi di mana ya? laki - laki itu mencoba mengingat, lalu iya manggut2 ia baru ingat gadis ini yang ia cari - cari selama ini ,waktu bertemu di Mini Market.


"Hai, apa kabar?" Laki laki itu menyalami Lastri.


"Kamu ingat kan," siapa aku? Lastri membalas tatapan laki laki di depanya ini, hanya menggeleng.

__ADS_1


"Namaku Adimas yang waktu itu pernah bertemu di mini market" Dimas memberikan senyum terbaiknya.


Adimas memperhatikan Lastri masih pakai seragam SMP. ia tersenyum kembali, ia sering meledek Arman mencintai anak SMP, tapi ternyata dirinya juga mengalaminya.


Ternyata gadis ini masih SMP, tapi kalau tidak memakai seragam, kenapa sudah seperti dewasa.


"Lastri pov


Aku perhatikan laki - laki di depanku ini, sepertinya ia bukan dari kampungku.


Walaupun agak hitam , tapi kulitnya tampak bersih dan terawat, badanya gempal sepertinya sering angkat besi.


Ganteng sih..."tapi masih gantengan pak Arman, hehe, heemm laki - laki itu walaupun sering buat aku nangis tapi tidak pernah hilang dari pikiranku.


"Woy! kok malah bengong, mikir apa sih? Pria ini menepuk pundaku. Aku hanya tersenyum.


Pria ini dengan tingkah konyolnya bisa menghiburku.


" Eh kamu hanya sendirian jalan kaki mana sepi lagi, kamu tidak takut? Aku hanya menggeleng. ia membrondong pertanyaan.


"Rumahmu di mana? aku antar ya?" ia seperti semangat ingin mengantarku. Aku tatap matanya sepertinya pria ini serius. aku hanya menggeleng.


"Ach," kamu dari tadi hanya gelang geleng."


"Ayo" dia menarik tanganku tapi aku masih berpikir apa iya aku harus di antar pria yang baru aku kenal.


"Kamu nangis berapa lama" sampai matamu kubil begitu? aku baru sadar ternyata mataku sampai susah di buka.


"Oh Iya, dia menepuk jidatnya. kita ngobrol dari tadi tapi aku belum tau namamu? ia menyodorkan tanganya kembali.


"Dari tadi kenalan melulu, kataku. Aku berlalu. tapi ia menarik tanganku kembali.


"Kalau tidak tau nama masing - masing terus kita mau panggil apa dong?" Panggil aja apa yang Mas mau, kataku singkat.


"Ya udah aku panggil adik aja ya," soalnya kamu panggil aku Mas," kemudian ia menyalakan motornya, tapi aku masih ragu untuk naik.


"Ayoo, Kamu seperti tidak percaya sama aku." katanya.


"Tenang aja tidak akan aku bawa kabur" hehe iya terkekeh.


Aku pikir kalau aku berjalan kaki sampai rumah kemalaman, takutnya ibu kebingungan mencari aku. Akhirnya aku putuskan ikut sama dia.


**Maaf ya judulnya Buna ganti sepertinya kemarin judulnya kurang nyambung sama ceritanya.


Minal Aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin**.

__ADS_1


__ADS_2