
Kekompakakan empat sekawan makin solid, kekonyolan Widodo, dari dulu tidak pernah berubah selalu memberi warna tersendiri. Mereka membakar ayam dan membuat nasi liwet , tidak lupa mereka mengabadikan dengan ber foto foto.
"Tapi kamu disana saat ini, baik baik saja kan Las?" selidik Widodo.
"Maksudnya bagaimana? Lastri tidak mengerti.
"Maksutnya tuh kamu di sana di tempat yang aman gitu," kemana sih otak cerdasmu selama ini?" Ledek Widodo.
"Alkhamdulillah kok aku baik baik saja di sana?" Jawab Lastri, sambil menggigit paha Ayamnya.
"Mending pindah kesini lagi saja Las biar kita bisa berkumpul lagi." usul Resty dan Yanti.
"Nggak bisa" sekarang tuh aku di sana mendapat biasiswa. Alhamdulillah aku mendapatkan juara umum, jadi untuk biaya sekolah aman sampai enam bulan kedepan." Jawab Lastri.
Ketiga temanya hanya ber oh Ria. Selesai menikmati bakar ayam mereka menuju Pantai. Widodo berboncengan dengan Lastri, Kemudian Yanti berboncengan dengan Resty.
Tibalah mereka kepantai empat sahabat itu berenang, sambil jejeritan menikmati deburan ombak. Puas berenang dan berfoto foto mereka membeli oleh oleh pernak pernik laut dan makanan seafood goreng tepung, untuk oleh oleh di Rumah masing masing. Hingga sore hari tibalah mereka di Rumah masing masing.
Sampai di Rumah Lastri sudah di hadang Catur adik laki laki Lastri yang saat ini sudah kelas enam.
"Mbak Lastri.." bawa oleh oleh apa?" Catur membuka buka tas jinjing milik Lastri.
"Cumi goreng tepung" ambil saja di tas." jawab Lastri setengah berteriak , karna saat ini sedang berada di sumur di luar Rumah.
Lastri, Mas Eko, mbak Dwi dan Juga Catur menjalankan Shalat Magrib di Masjid, karna letaknya hanya berselang satu Rumah dari Rumah Lastri.
Bu Santi tersenyum bahagia melihat ke akraban anak anaknya, walaupun sering ribut mulut mereka selalu ke hilangan jika salah satu dari mereka tidak ada di dekatnya.
Selepas magrib keluarga Pak Suryo menikmati makan lesehan di ruangan keluarga.
"Las uang yang dari bosmu buat masuk sekolah Catur tahun depan ya.." Bu Santi minta izin sebab itu uang pemberian Mbak Nina.
"Nggak usah bu," uangnya buat keperluan Ibu saja, masalah Catur Ibu tidak usah pikirkan toh masih tahun depan," Lastri masih bisa nabung kok." Jawab Lastri.
"Iya Bu.. Eko juga bisa bantu." Eko menimpali.
"Dwi juga nanti bantu bu." tenang saja. Dwi pun siap membantu kesulitan Ibunya.
"Kamu nggak usah repot Wi..." kamu kalau punya uang buat ikut sekolah paket C ya.." nasehat Ibu Santi.
__ADS_1
"Apa perlu Dwi melakukan itu bu," Dwi saat ini sudah 20 tahun?"
" Jangan nyerah dong Wi belajar nggak ada ruginya dan tidak ada batasan usia kok." Contohnya Mas Eko bisa punya Ijazah SMA timpal Eko.
"Memang benar, berkat dorongan Ibunya setelah kepergian Lastri Eko bersemangat kejar paket.
"Mas, nanti Lastri coba bilang sama Mas Bayu," siapa tahu ada lowongan." Mas Bayu soalnya punya usaha tiga Cafe. Lastri memberi Usul.
"Kenapa nggak sama Pak Arman?" katanya buka Steam pasti Mas Eko cocok kerja di situ?" timpal Dwi.
"Iih ngaco! mana berani aku mbak" orang selama ini nggak pernah ketemu kok." ujuk ujuk minta kerjaan." Jawab Lastri.
"Nanti bapak mau bilang Pak Burhan ya.." siapa tau Nak Arman ada Lowongan. Pak Suryo menyarankan.
"Yeee..asyiik..nanti kerja sama calon adik Ipar." ledek Eko. oww.." tiba tiba Lastri mencubit perut Mas Eko. Eko meringis kesakitan.
"Lagi nih..." aku tambahin cubitanya..Eko mundur menjauh tapi Lastri mengejar, akhirnya kakak beradik Itu saling serang, keluarga itu penuh canda ria. Pak Suryo da Bu Susi tertawa bahagia.
"Pak... Mas Eko sudah ada yang naksir loh." Mbak Tika anaknya Bu Marni." goda Lastri.
"Masa sih" kok Dwi nggak pernah denger ya..Dwi akhirnya penasaran.
"Oh kok Mas Joko nggak pernah cerita sama aku ya.." Dwi heran kok pacarnya nggak pernah bilang soal ini.
"Sekarang kamu mau mantap nikah? apa mau cari kerja?" kalau sudah mau nikah ya..Bapak nggak usah bilang sama Pak Burhan." sarkas Pak Suryo.
"Eh nggak lah pak.." Eko target nikah umur 28 kok sekarang baru 23 cari tabungan dulu lah.." Jawab Eko tegas.
"Eh trus kamu mau menggantung anak orang gitu?" sarkas Bu Santi.
" Lah memang selama ini, di antara kami ada komitmen kan nggak Bu...ya mungkin dia hanya sekedar mengagumi," kalau jodoh toh nggak akan kemana." tutur Eko panjang lebar.
"Tapi Mas Eko suka kan..? Lastri menaik turunkan alisnya.
"Ah nggak taulah" Eko bersungut sungut.
"Yach! kalian pada pergi, trus Dwi di kampung sendirian." keluh Dwi.
"Sudah Wi, mantapkan dulu kejar paket yaa.." kalau sudah selesai, lalu kamu di lamar..Ibu dukung biar bagaimana Joko kan lulusan SMA." supaya kamu bisa mengimbangi pemikiranya, tapi kalau belum di lamar lalu kamu ingin ke jakarta Ibu sih mendukung saja."
__ADS_1
"Iya buu.." Jawab Dwi.
"Iya dengerin tuh! jangan dikit dikit ngambek, belajar dulu biar dewasa sedikit supaya di sayang mertua! cibir Eko.
"Ih sirik aja Mas Eko kerjaanya." Duwi mlengos kesal.
"Mas.. Lastri anterin ke Bu susi ya.." Pinta Lastri.
Sekarang?" tanya Eko.
"Ya sekarang Mas.." kalau siang kan Bu Susi kerja paling ketemu Mbak Dwi lagi..??
Mereka tertawa bersama,
"Aku ikut juga ya..timpal Dwi.."
"Ya sudah ayo.." jawab Lastri.
Eko, Dwi, dan Lastri mereka bergandengan tangan menuju Rumah Bu susi yang mereka anggap seperti keluarga sendiri.
Dua keluarga ini menjalin silaturhahmi yang baik. Si kaya dan si miskin tidak saling menzolimi, mereka saling membutuhkan. Bu susi memang dermawan maka riskynya selalu mengalir walaupun sering di bagi bagi.
Pak Suryo dan Bu Santi sangat bahagia melihat anak anaknya saling rukun dan saling membutuhkan, walaupun mereka sangat kekurangan, tapi untuk keluarganya tidak kekurangan kasih sayang.
Menjaga keluarga harmonis dan bahagia tentu tidaklah mudah, karna bukan tidak mungkin keluarga yang mengalami ujian kesabaran hidup dalam kekurangan seperti Pak Suryo dan Ibu Santi.
Dalam Islam keluarga Samawa atau bisa di artikan dalam keluarga yang damai, tentram, penuh cinta dan kasih sayang, seperti keluarga Pak Suryo dan Ibu Santi. Hal ini bisa menjadi landasan dalam berkeluarga agar senantiasa mendapatkan keridoanya dari sang pencipta.
Pasangan yang mencintai karna Allah juga akan semakin membuat rumah tangganya bahagia dan harmonis, hubunganya yang baik kepada Allah mempengaruhi hubungan keluarga dan pasanganya.
Pak Suryo dan Ibu Santi itulah contoh yang kongkret hidup dalam kehangatan dan selalu support dalam segala hal.
***Bersambung
Semoga bermanfaat
Like
Coment***
__ADS_1