MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 5


__ADS_3

Pagi ini setelah berbincang dengan Guru tampan anganku melayang terbang damai mencari sesercah harapan.


Penat lelah kantuk di pagi hari kini telah terobati, Senyum Guru tampan, bak kopi bercafein tinggi.


Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Bujangga mengakatakan, cinta di usiaku hanyalah cinta monyet, dan seklebat akan mengilang.


Dooor!...


Widodo datang membuyarkan lamunanku,


"Hah! widoo? kamu tuh bikin kaget tau!" Aku memandangi Widodo bersungut-sungut.


"Lagian, pagi-pagi sudah ngalamun,lagi mikir siapa sih?" Tanya Wido.


"Dari tadi aku panggil-panggil, malah senyum-senyum nggak jelas gitu" gerutu Widodo.


"Keppo!" Aku mbrengut kesal sama Widodo.


"Jangan bilang ya Las, kalau kamu sudah punya pacar, trus... gak bilang sama kita-kita."


"Bodo!" Aku mlengos memunggungi widodo.


Tak lama kemudian, anak-anak satu persatu memasuki kelas, tak kecuali Yanti dan Resty.


"Wuiiih tumben! kamu pagi ini segeer, gitu las? hehe lagi dapat lotre ya?" Yanti cengenhesan


"Bukan dapat lotre Yan, tapi dapat pacaaar," jawab widodo, mengedipkan matanya.


"Ngapa Wid, kedip-kedip, jangan-jangan lagi kremian ya?" hahaha. ledeku. kami terkekeh.

__ADS_1


"Beneran Las, kamu sudah punya pacar?" tanya Yanti dan Resty bersaman.


"Iiiih... apa sih kalian? Widodo kamu dengerin."


Tidak lama kemudian Pak Arman memasuki kelas, wajah tampanya terhias senyum Indah. Membuat mata ngantuk menjadi melek. Sudah pasti kaum hawa banyak yang menyukainya.


"Selamat pagi, Anak-anak..."


"Selamat pagii, pak."


"Bagaimana pagi ini, sehat semua?"


"Sehaaat..." jawab kami semangat.


Alhamdulillah puji syukur kita ucapkan kepada Allah karena telah memberi kita sehat, sehingga kita masih bisa berkumpul pagi ini.


"Huuuu! ada yang tersindir tuh," keadaan kelas semakin riuh seperti sporter sepak bola.


"Ya sudah, kita mulai pelajaran ya."


Akhirnya kami para siswa bisa melanjutkan pelajaran dengan serius. Bawaan Guru mengajar meskipun serius, namun tetap santai menyampaikan materi. Tidak perlu tegang seperti rapat pleno, sesekali ada candaan receh, akan membuat murid semakin bersemangat.


kring..kriiing


Bel istirahat berbunyi, anak-anak berlarian menuju kantin. "Las... ngomong-ngomong, kamu kenapa sih... sepertinya hari ini beda?" Ternyata Yanti masih membahas yang tadi pagi, penasaran juga ini bocah.


"Ho oh, tadi pagi tuh pas aku sampai, dia gak tidur loh, eh... malah senyum-senyum, aku tegur aja gak nyaut" Ternyata widodo sudah ngintil di belakangku,


Uh ini anak cowok satu, nggak pernah mau gabung sama cowok lain. Sukanya ngintilin kita, tapi ada enaknya juga sih, bisa bantu angkat- angkat barang kalau lagi ada acara. Contohnya saat kami lagi kemping biuh dia yang paling semangat. hehe bukan manfaatin karna memang dia yang mau.

__ADS_1


"Widodo... kamu tuh ya? anak laki-laki tapi mulutnya ember, sono main sama teman cowok!" omelku.


"Nggak mau lah, nanti kalau aku keluar dari trio kwek kwek, kalian gak ada yang jagain tau!"


"Ya udah kita kekantin yuk" aku mengalihkan pembicaraan.


Di kantin sudah terlalu ramai, hingga kami tidak mendapat tempat duduk, Widodo pesan bakso, Yanti pesan siomay, Resty pesan soto, sedangkan aku hanya pesan teh manis, karena ibuku selalu menekankan untuk sarapan pagi, meskipun hanya nasi goreng, jadi waktu istirahat aku masih terasa kenyang.


Karena nggak ada lagi tempat duduk, kami memilih duduk lesehan di rerumputan samping pagar gedung SMEA.


"Kalian lihat tuh, Guru SMEA yang cantik" Widodo mengarahkan telunjuknya. Kami serentak menoleh, seorang Guru wanita yang rambutnya kriting, tapi lumayan juga penampilanya.


"Itu kan calon Istri pak Arman" kata widodo. Mendengar kata itu aku langsung tersedak. "Uhuk...uhukk" Widodo meskipun anak laki-laki rupanya selalu tau berita apapun.


"Ihh, pelan pelan dong Las, gak bakalan aku minta juga kali? jadi gak usah terburu-buru..." Yanti menyodorkan tisue ke arahku.


"Kamu tau dari mana wid?" tanyaku menyelidik,


"Ih itu sih bukan rahasia lagi kali las? itukan, pacarnya dari SMA"


"Yaah patah hati berjamaah kita dong," celetuk Yanti, langsung di toyor sama widodo.


"Makanya, nggak usah mikiran yang begituan dulu, yang penting kita semangat mikir ujian..." kata Widodo sok dewasa. Setelah mendengar cerita Widodo hatiku terasa sakit. Kalau di pikir apa sih... hubungannya sama aku?"


Mohon dukunganya


Like


Coment

__ADS_1


__ADS_2