MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 7


__ADS_3

ARMAN PoV


Hari ini aku memanggil salah satu muridku yang selalu menjadi perhatian para Guru. Tiap hari aku datang lebih awal dari biasa, hanya untuk memantau gadis itu.


Aku masuk kedalam kelas memperhatikan dia tidur. Duuuuh, gadis ini sangat menggemaskan, Aku perhatikan dari dekat, sangat cantik, hidung mancung, kulit putih.


Jantungku berdebar-debar, ya Allah..., rasa apa ini? Oh no...ini tidak boleh terjadi, pikirku. "Ughh... dia menggeliat aku segera mundur, takut nanti dia melihat, mau di taro di mana mukaku. Aku segera berjalan cepat menuju kantor.


"Selamat siang pak?"


"Siang!" jawabku datar menutup rasa gemuruh di dadaku.


"Duduk!" kataku. Tanpa memperhatikan wajahnya, aku masih sibuk mengoreksi soal-soal.


"Kenapa, kamu selalu tidur di kelas?" Aku perhatikan dia menunduk, seolah menanggung beban berat dalam hidupnya. Ya allah...aku jadi tidak tega.


Dengan terbata-bata dia menceritakan semua keluh kesahnya, hatiku tersentuh, Ingin rasanya aku merangkul, hanya sekedar untuk menenangkan, tapi aku urungkan niatku.


Mendengar ceritanya aku merasa tertampar, tidak pernah aku sadari bahwa, masih banyak orang di sekitarku yang masih menahan lapar.


Beda aku dan adikku yang sedari kecil mendapatkan apa yang kami mau.


Tapi tidak dengan kebebasanku, orang tuaku terutama Ibu. Selalu memaksa ke hendak kami. Dimana aku harus sekolah, ambil jurusan apa bahkan calon Istri, itu semua Ibu yang memilih.


Arshi Ananta, dia teman SMA ku yang di jodohkan denganku.


Karna orang tuanya sahabat ibu. Sebenarnya ibu ingin kami segera menikah denganya, tapi aku beralasan untuk saling mengenal terlebih dahulu.


Menjalin hubungan dengan Arshi kurang lebih 5 th tapi tidak pernah ada kemajuan, sikapnya yang mudah marah, cemburu yang berlebihan, membuat kami saling bertengkar.


Sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi, menjalani hubungan denganya, tapi Ibu selalu marah, jika aku ingin mengakhiri. Aku tidak lebih hanya sebagai ojek baginya.


Beda dengan anak ini, dengan usianya yang masih di bilang anak-anak, tapi dia tumbuh menjadi gadis yang sangat dewasa, mandiri, baik dan sopan.


Aku melihat dia terisak, hatika jadi merasa bersalah, karna aku dia jadi menangis. Aku sodorkan tisu kearahnya.


Dia selalu bertingkah konyol, ternyata hanya untuk menghibur dirinya.


Author PoV


Harta yang paling berharga adalah keluarga. Rasanya tidak ada yang peduli selain keluarga. Ayah, Ibu, kakak dan adik. Akan selalu ada di samping kita saat kita butuhkan, mereka akan membuat kita tersenyum, karna kebahagiaanya, kita akan merasakan juga.


Saat kita sakit terpuruk keluarga akan merasakan juga. Kususnya bagi seorang ibu...kecuali Ibunya Arman. hehe.


Ditengah teriknya matahari, Arman melajukan Motornya hendak menjemput Arshi, kekasih bohongan ya hehe.

__ADS_1


Biasanya Arman selalu pulang bersama karna ia mengajar di sekolah yang sama, tapi hari ini karna tidak ada jam Arman menjemputnya.


Sampai di lobbi sekolah, Arman melihat Arshi sedang berbincang dengan seorang pria, tapi dengan siapa ia tidak tahu.


Arman bersembunyi di balik tembok, pria itu terlihat dari belakang merangkul tubuh Arshi, setelah cipika cikipi pria itu menggandeng tangan Arshi, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil melaju Arman mengikuti dari belakang, kira-kira 30 menit Arshi dan pria itu sampai di salah satu cafe di kota Y.


*****


Dirumah pak Satrio


Bakdha Ashar seorang gadis melipat mukenanya, lalu menyimpanya kembali kedalam tas. Begitulah Lastri dimanapun ia berada tidak pernah meninggalkan shalat 5 Waktu.


Lastri..." suara cempreng bu susi memekakkan telinga.


Iya bu..." Lastri berlari ke arah Ibu Susi yang sedang duduk di depan televisi.


"Ada apa buu?"


"Ini kamu belanja di mini market ya" Supaya cepat pakai saja sepeda Doni".


Ibu Susi menyodorkan catatan dan uang tunai kearah Lastri.


"Baik buu."


Tapi kalau hanya sedikit Lastri yang di suruh.


Tanpa pikir lagi, Lastri buka garasi ngeluarin sepeda dan melaju menuju mini market.


*****


Di Cafe seorang gadis berambut kriting, muke up tebal sedang menyeruput jus jeruk.


Ya dialah Arshi, di sudut ruangan tampak bersama seorang pria yang saling bermesraan.


Aaaa" Arshi menyodorkan sendok ke arah laki-laki itu. Setelah 30 menit suap menyuap akhirnya selesai.


"Sayaang..."kapan dong kamu mau putusin Arman?" Kata laki laki itu. Mereka tidak tahu kalau ada sepasang mata yang menatapnya tajam.


"Sabar dulu mas" pasti aku putusin kok... tapi untuk saat ini aku belum bisa."


"Kenapa?" tanya laki laki itu.


"Kamu harus tau mas... kalau Arman itu tambang emas buatku. Jadi tidak semudah itu memutus hubungan aku denagannya"

__ADS_1


"Maksutnya?" tanya pria itu.


Arshi kemudian berbisik. Ahahaha mereka tertawa bersama.


Braaakk..


Mereka berdua menoleh langsung syok.


"Oh ternyata ini kelakuanmu di belang aku!"


Cek..cek..cekk.


Plokk..plokk ...plokk


Arman tepuk tangan.


"Jawab!" bentak Arman sangat marah, giginya gemelutuk, urat leher menegang seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


"Oh ini! ternyata, wanita pilihan ibu?" "Ini, wanita yang kata Ibu wanita berkelas? "hah!"


"Arman, aku bisa jelaskan semua, ini tidak seperti apa yang kamu kira."


"Diaaam!!" Arman berdiri telunjuknya hampir menyolok mata Arshi. Saya bukan menyesel kehilangan wanita sepertimu! bahkan, saya bersyukur bisa membuka kedokmu" tuding Arman.


"Tetapi, saya menyesal karna sudah membuang waktu, hanya untuk wanita sepertimu!"


Arshi merosot kelantai bersimpuh di depan kaki Arman, ketika ingin memeluk kaki Arman. Arman mundur. "Jangan sentuh saya dengan tangan kotormu itu!" Arman tersenyum mengejek, tidak peduli lagi mereka menjadi tontonan pelanggan Cafe.


"Hiks hiks...maaf Arman. Maafkan aku."


"Makan tuh, maaf kamu!" Arman menoleh kearah laki laki yang dari tadi hanya diam terpaku. Arman mengangkat dagu pria itu.


" Hai... kamu! Ambil perempuan sampah itu, hahaha... karena kamu tempat sampah, jadi, pasangan serasi denganya."


Arman melangkah pergi, dengan membawa kobaran api yang siap membakar siapapun.


Arshi menatap kepergian Arman, tertawa sumbang. Hahaha... kamu nggak akan bisa jauh dariku Arman! karena Ibumu akan memperjuangkan aku." ia mengepalkan tangan.


Sementara Arman membawa laju motornya, dengan kecepatan tinggi.Tidaaak aku bukan cemburu, tapi kena apa ? aku selama ini bisa di bohongi sama wanita ular seperti dia..aaachhh


Braaaaak


Aaaaachh.


Mohon dukunganya.

__ADS_1


Like


Coment.


__ADS_2