MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 66


__ADS_3

"Silahkan dech, kalian pada ikut berlomba ingin mendapatkan perhatian sang Guru ganteng seperti Pak Arman", tapi perlu kalian tahu, Pak Arman sudah ada wanita lain di hatinya." lebih baik kalian mundur sebelum hati kalian terluka." Tutur Dina kepada sahabatnya.


"Haiiiss..sok bijak lo Din!" dari mana lo tahu kalau Pak Arman sudah mempunyai wanita lain?" Yuyun mencibir.


"Ya tahu lah!!" Pak Arman dulu kan Guru SMP gue?" Jawab Dina. Sontak membuat sahabatnya melotot.


"Fix..Din lo, dulu muridnya Pak Arman," sedangkan lo sama Lastri satu sekolah," berarti Lastri kenal juga dong sama Pak Arman?" Fera mulai kepo.


"Ya tahu lah." jawab Dina lagi.


"Din! lo ikut gue." Lastri menarik tangan Dina.


"Eh lo mualai nggak asyik Tri! mentang mentang sudah ada Dina sahabat lo," main rahasia rahasiaan sama kita." pekik Fera, karna Lastri sudah menjauh.


"Sudah sudah! kita makan dulu nih keburu masuk ." Perintah Tio. Mereka menikmati makan siang bersama. Sementara di tempat Lain, Lastri menceramahi Dina sahabatnya, sebab tadi hampir keceplosan.


"Din Pleas ya...biar hubungan gue sama Pak Arman, hanya kita yang tahu ya...pleas.." Lastri memohon.


"Memangnya kenapa?" Dina menatap mata sahabatnya sepertinya kata katanya serius.


"Din, Guru adalah panutan bagi muridnya," biar bagaimana pun ada kode etik , seorang Guru mempunyai hubungan dengan Muridnya."


"Tentu kita sebagai murid tidak inginkan reputasi Pak Arman jatuh hanya gara gara kami saling mencintai."


"Kita harus jaga imegs Pak Arman, pada teman teman seprofesinya dan juga di depan murid muridnya." Guru itu menjadi panutan di gugu ditiru," tentu gue juga akan membatasi kedekatan gue dengan Pak Arman ketika di sekolah." tentu kita nggak mau kan kalau Pak Arman kena masalah," apalagi Pak Arman Guru baru disini."


"Lo pinter ya Tri?" gue nggak berpikir sejauh itu."


"Makanya lo gue bawa kesini," biarin saja kalau mereka mempunyai perasaan dengan Pak Arman," itu hak dia." tutur Lastri.


"Memang lo nggak akan cemburu banyak loh anak anak yang suka sama Pak Arman." keluh Dina.


"Sepanjang Pak Arman tidak menanggapi," gue sih nggak ada masalah kok." apalagi gue saat ini nggak tau perasaan Pak Arman sama gue seperti apa?" Lastri patah semangat.


"Ya ilaah lo, memang nggak tahu! sepanjang mengajar tadi perhatiin lo terus." tutur Dina. Lastri mengangguk.


"Pokoknya pesen gue nih Din," kita jangan sampai merusak kewibawaan Pak Arman hanya gara gara Pak Arman suka sama gue."


"Tapi Guru juga manusia Tri," mempumyai perasaan, jadi apa salahnya jika Guru mempunyai hubungan dengan Muridnya," banyak kok di sekolah lain terjadi seperti itu."


"Ya bukan berarti pacaran itu tidak bermoral,". yang penting jangan lebay, dan jangan sampai rusak dengan perilaku yang tidak pada tempatnya," apa lagi SMA di anggap masa yang masih labil," dan harus fokus untuk sekolah." tutur Lasri.


"Tapi lo waktu SMP juga sudah Pacaran dengan Pak Armankan?!


"Kata siapa gue pacaran? gue hanya mencintai dalam diam kok," Pak Arman sempat ngutarain perasaanya sama gue," tapi waktu gue hampir lulus." tapi ternyata nggak lama ada calon pelakor masuk." mengiingat itu Lastri bersungut sungut kesal.


"Ah lo! sudah gue bilangkan! Tantri nggak begitu orangnya." Sanggah Dina.

__ADS_1


"Ah lo! belain dia terus, bikin mood gue hilang tau nggak?" kita samper temen yuk."


Lastri dan Dina kembali menemui sahabatnya.


"Mana teh manis gue?" Lastri menanyakan minuman sebab tadi pesan sama Reno supaya di belikan.


"Nih sudah gue minum setengahnya," kirain lo nggak balik." Reno nyengir.


"Ogah amat gue minum bekas lo." sewot Lastri.


"Nggak apa apa kali? lo pikir gue penyakitan apa?" bantah Reno.


"Tetap aja gue ogah minum bekas lo." Mereka debat soal minum saling saut tidak mau kalah.


"Nih minum punya gue Tri..." belum gue apa apain kok." yang ini biar gue yang minum." Tio akhirya menengahi.


"Nah gitu dong! ini baru temen gue namanya." Lastri tersenyum Lebar. Dina bergabung dengan fera dan Yuyun di kursi yang lain." sedangkan Lastri bergabung dengan Reno dan Tio.


"Tapi ada syaratnya." kata Tio.


"Apa syaratnya? ahh lo sih nggak ikhas." sewot Lastri.


"Salamin gue sama sahabat lo itu." Tio berbisik bisik ke telinga Lastri.


"Maksud lo si Dina ?"


"Hahaha...lo ternyata pengecut juga ya?" Tawa Lastri cukup kencang hingga Dina, Yuyun, dan Fera menoleh.


"Tio membekap mulut Lastri. "Jangan kenceng kenceng dodol!!" Tio menatap Lastri tajam.


"Hihihi..lagian! pantas lo deketin kita terus," ternyata ada maksud to?" Lastri memelantan ketawanya.


"Ayo kita ke kelas" bentar lagi masuk loh?" Lastri mengingatkan. Mereka akhirnya beriringan kekelas.


"Dina! lo tinggal dimana?" Tio memberanikan diri untuk bertanya, siapa tahu nanti bisa mengantarkan Dina, pikirnya.


"Oh gue tinggal di pondok sini kok," kenapa memang."


"Eheem..eheeemm.." deheman Lasri menggoda.


"Cieee..Cieee...Yang lagi pedekate." goda Lastri, Tio menatap Lastri kesal.


Mereka akhirnya masuk kedalam kelas, tidak lama bel berbunyi, anak anak mengikuti pelajaran berikutnya, Bu Inggrit Guru matematika yang sangat galak. Guru berusia 27 th ini sebenarnya cantik, tapi karna bawaanya mengajar sangat judes laki laki 'enggan untuk mendekati.


Guru matematika tidak usah galakpun sudah sangat di takuti, sebenarnya bukan Gurunya yang di takuti tapi pelajaranya, tentu menjadi hantu yang menakutkan bagi siswa yang otaknya pas pasan. Akan tetapi sebagian orang menjadi takut untuk berdekatan dengan Guru Matematika. karna ketegasanya kebanyakan orang beramsumsi bahwa Guru matematika terkenal galak.


Kriig... kriing..kriiing

__ADS_1


Bel tiga kali berbunyi, itu artinya anak anak harus pulang.


*******


Di kantor, pak Arman baru masuk ke dalam ruangan, sebab baru selesai mengajar di kelas akutansi.


"Eh Pak Arman, pulang naik apa?" sapa bu Inggrit.


"Naik Motor bu, dekat kok dari sini."


"Oh gitu, kalau mau bareng saya bawa mobil."


"Terimakasih bu kalau begitu, saya duluan yaa.."


"Eh ayo bareng ke parkiran," dari pada jalan sendiri." Pak Arman keluar, di buntuti Bu Inggrit dari belakang.


Sampai di parkiran, Pak Arman menarik motornya siap menyalakan. Bersamaan dengan itu Lastri pun sedang menarik motornya.


"Selamat siang Pak Arman.."


"Sel_ Pak Armah menoleh mendengar suara familiar menjeda jawabanya.


"Apa kabar Kamu Arti?"


Mendengar panggilan Pak Arman Lastri deg degan sebab Pak Arman masih memanggilnya dengan panggilan kesayangan.


"Baik Pak.." Lastri Ingin segera pergi.


"Tunggu Arti.."


"Ada apa Pak?"


"Boleh tukeran nomor Ponsel?"


"Boleh Pak, nanti saya chat saja," saya menyimpan no Bapak kok."


" Benarkah?" Arman berbinar.


Lastri mengangguk, memberikan senyum terbaiknya, jangan di tanya, dada Pak Arman berdisco, sebagai laki laki normal Ingin rasanya memeluk gadis yang dirindukan selama ini. Tapi Pak Arman hanya bisa menahan gejolak.


"Saya duluan Pak Arman.." sampai jumpa besok ya.." Lastri pun merasakan hal yang sama, tapi Ia mencoba untuk menyembunyikan.


"Pak Arman saya boleh nebeng tidak?" Mobil saya sepertinya mogok, Bu Inggrit tiba tiba datang dengan waktu yang tidak tepat.


***Mohon dukunganya


Like

__ADS_1


Coment***


__ADS_2