
Lastri sudah memundurkan Motornya dan segera menyalakanya.
"Pak saya duluan ya..."sampai ketemu besok." kata Lastri, walau sebenarnya Ia masih ingin lama dekat dengan pak Arman. Tapi lagi lagi yang ada di pikiran Lastri inikan sekolahan, harus menjaga kebaikan bersama.
"Eh tunggu! kamu tinggal di mana? aku boleh minta alamatnya tidak?" Armanpun sebenarnya sama, masih ingin memandangi Lastri lebih lama.
"Nanti saya kirim lewat WA saja ya Pak." jawab Lastri. Berapa bulan yang lalu, Ibu Lastri memberi nomor Arman kepadanya.
"Pak Arman..saya boleh nebeng tidak?" sebab, Mobil saya mogok.
Bu Inggrit tiba tiba datang di tengah berbincangan Pak Arman dan Lastri. Entah modus atau memang benar benar mogok hanya Bu Inggrit yang tahu.
"Hehe.. Maaf ya bu..."Arman ingin menolak tapi tidak enak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Biar bagaimana Pak Arman harus menjaga perasaan Lastri.
"Saya terburu buru, ada kepentingan mendadak," biar murid saya ini yang mengantarkan ya bu.." Armam menunjuk Lastri. Tidak sepenuhnya Arman berbohong karna setelah ini lansung ngajar di tempat lain.
Lastri bersorak dalam hati, Ia pikir Pak Arman akan bersedia mengantarkan Bu Inggrit, tapi ternyata menolaknya. Tututuuh...Pak Arman memang jempolan. Suara Lastri dalam hati. Tidak Lasri sadari dia tersenyum dan tidak luput dari perhatian Pak Arman.
"Mari bu Inggrit..."saya antar ya." Lastri menawarkan diri.
Bu Inggrit mlengos kesal, segera melenggang meninggalkan Lastri dan Pak Arman. Sebenarnya tadi dia hanya ber alasan supaya bisa pulang dengan Pak Arman, Tapi kenyataanya Pak Arman menolaknya secara halus.
Arman tidak mau mengantar Bu Inggrit, ada hati didepanya yang harus dia jaga. Wanita di depanya ini sudah lama Arman nantikan keberadaanya, maka Ia tidak mau merusak momen ini.
Sesaat Arman dan Lastri saling diam di tempatnya, memandangi kepergian bu inggrit. Lastri segera menyalakan motornya. Ingin cepat pulang karna masih canggung dengan keberadaan Guru di depanya. Belum lagi Lastri takut keberadaanya di dekat Pak Arman menjadi perhatian teman temanya, dan juga Guru Guru yang lain.
"Saya duluan Pak Arman.." Lastri mencium punggung tangan Gurunya itu, kemudian melezat pergi meninggalkan Pak Arman.
Arman terpaku menatap kepergian lastri, Pak Arman masih mengendus telapak tangannya, masih wangi bekas tangan Lastri , Aroma Parvum melati masih menguar. Arman berpikir harus mencari cara bagaima bisa cari waktu ngobror dengannya, Arman akhirnya melanjutkan perjalananya, sore ini harus ngajar di SMP Negri.
*****
Tidak lama Lastri tiba dirumah, membuka garasi dan memarkirkan motornya.
"Assalamu alaikum." Lastri mengetuk pintu.
"Waalaikumussallam." Mbok Sarintem membukakan pintu.
__ADS_1
"Kok sepi mbok.." Mas Bayu kemana?" tanya Lastri.
"Sekarang kan kampus sudah mulai masuk Tri," jadi dia mulai ngajar." jawab mbok Sarintem sambil mengunci pintunya kembali.
Bayu selain punya usaha Resto dan Cafe, Ia menjadi Dosen di kampus Pelita, dimana Adnan saat ini kuliah.
"Makan dulu Tri, nanti baru isrirahat." titah simbok.
"Iya mbok saya salin baju dulu,." Lastri kemudian naik keatas ganti baju, lalu kembali lagi ke bawah. Lastri menyantap makan siang dengan lahab.
"Baru pulang Tri?" Mbak Narsih tiba tiba ada di dekat Lastri. Mbak Narsih heran sebab nggak biasanya Lastri pulang agak terlambat, Mbak Narsih tidak tahu bahwa ada pertemuan Romeo dan Juliet, walaupun belum saling memberikan perhatian kusus.
"Iya Mbak," Yoga Mana?" tanya Lastri sambil menyendok nasi ke dalam piringnya.
"Yoga bobok lah! kan biasa kalau jam segini waktunya dia bobok." Mungkin Lastri agak ngebleng otaknya gara gara pertemuanya dengan Pak Arman, hingga lupa jadwal boboknya Yoga.
" Hehe iya lupa Mbak, Mbak Narsih sudah makan belum?" Tanya Lastri sambil menyusun lauk pauk di piringnya.
"Belum sih." Jawab Narsih sambil mencuti dot bekas minum susunya Yoga.
"Ya udah kita makan yuk.." Mbak Narsih melangkah duduk di kursi sambil menyiapkan makananya.
"Mbak, Pak Arman kan ngajar di sekolah aku." Lastri cerita sambil mengunyah.
"Masa, kok bisa sih?" Narsih menatap Lastri yang sedang hah hih huh, menahan pedas. Hari ini menu makan siangnya Ikan goreng, tempe tahu, lalap dan sambal trasi.
"Ya bisalah! itu buktinya dia ngajar di situ." Lastri menggigit tempe hingga mulutnya penuh.
"Trus gemana?" tanya mbak Narsih tanpa menatap Lastri sebab, Netranya fokus sama sambal.
"Gemana apanya ?" Lastri menatap Narsih dengan seksama.
"Maksudnya, bagaimana reaksinya ketika pertama kali bertemu sama kamu?" Mbak Narsih nyomot timun dan di cocol dengan sambal.
"Ya gitu dech, suka lirak lirik gitu," sambil menyampaikan materi". Lastri tidak fokus dengan makanannya, bibirnya tersungging, menatap kesembarang arah, pikiranya mulai menggembara, bayangan Pak Arman seolah ada di mana mana. Sejenak melupakan makanan di piringnya.
"Tapi ya sambil di makan dulu atuh," jangan jlalatan gitu matanya, nggak ada Pak Arman di sini kan walau di cari juga." Sloroh Mbak Narsih.
__ADS_1
"Hihihi...kalau ada mbak Nina," makan sambil ngomong gini! di omeli pasti." Kata Lastri. Memang benar mbak Nina selalu menerapkan jangan bicara ketika sedang makan. Tapi memang dasar orang kalau makan hanya sendiri tidak mengindahkan tata tertip seenak polah yang penting nyaman.
Selesai makan mereka melanjutkan tugasnya masing masing, hingga malam telah tiba.
Setelah makan malam seperti biasa Lastri langsung belajar, untuk saat ini Ia harus lebih giat lagi supaya tetap mendapatkan bea siswa.
Selesai belajar Lastri segera kekamar mandi sikat gigi, membersihkan muka, ambil air wudhu, kemudian menjalankan kewajiban shalat Isya. setelah selesai ritualnya, Lastri melangkah ambil hpnya di atas bufet dan membawanya rebahan di tempat tidur.
Lartri segera membuka WA dan mencari Nama Pak Arman, kedua jempolnya sudah mulai mengetik kata kata tapi urung, mencoba lagi, kemudian di hapus, ketik hapus, ketik hapus hinggak 15 menit. Akhirnya Lastri memantap kan diri.
"Assalamu alaikum Pak Arman?"
"Walaikumsallam," siapa ini?"
"Lihat profil dong." Lastri cekikikan sendiri.
"Eh Arti.." thanks ya..." sudah mau chat aku?"
"Sama sama Pak," tadi saya sudah serlok alamatya.." Sebenarnya pertanyaan macam apa itu pikiran Lastri, ya jelas Pak Arman sudah tau alamatnya kan sudah di buka serloknya. Lastri mentertawakan dirinya sendiri.
"Kamu lagi apa?" tanya Arman.
"Lagi chating sama bapak," hehe.
"Terus apa lagi lagi?" cecar Arman.
"Tiduran saja sih," nggak ngapa ngapain soalnya sudah belajar." Jawab Lastri sambil guling guling di kasur.
"Pak Arman sendiri lagi apa?"
"Lagi mikirin kamu?" bayangin kamu," terus lagi chat kamu." Guru tampan itu mulai menggombal.
***Happy reading
Mohon dukunganya .
Like
__ADS_1
Comen
Vote***.