MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 14


__ADS_3

Arman pov


Hari ini jadwal muridku keluar dari rumah sakit,sebenarnya , Bapaknya melarangku untuk menjemputnya.


"Tidak usah nak Arman takunya merepotkan katannya,..


"Tidak apa - apa pak." jawabku.


Sudah 3 hari ini aku tak lagi menjenguknya, setelah aku melihat dia bercanda ria dengan anak bosnya hatiku serasa terbakar.


"Sebenarnya aku kemarin ingin curhat dengan sahabatku Dimas. tapi dia malah selalu meledeku hingga membuatku kesal..


Kemarin malam aku ingin menjenguk sudah sampai di depan ,aku intip dari kaca ,Ach," lagi - lagi ada dia sedang berdua, aku kembali keparkiran dengan rasa sesak di dadaku, aku pergi menuju Rumah Adimas.


Aku menjemput hanya sendiri, tadi keluarganya ada yang ingin ikut, tapi kali ini aku ingin menenangkan diriku..Aku jalan cepat ingin ngerjai dia, kulirik mukanya merah berkeringat, kesel campur kasihan rasanya campur aduk..ingin aku tertawa tapi takut dosa..


"Pak sebenarnya ada apasih" ok! kalau saya salah minta maaf, memang kenapa?" kalau saya dekat sama Mas Doni," toh saya sama bapak kan tidak ada hubungan apa - apa, selain murid dengan Guru, aku melihat wajah sayunya memelas..


Disitu aku sadar, kenapa aku harus marah sama dia, seolah aku membatasi dia untuk berteman.


Aach Gadis kecil itu memang sudah membuatku gila,"


Tidak aku pungkiri kalau aku memang menyukainya, tapi selama ini kami belum ada kepastian, aku hanya ingin dia bisa fokus untuk belajar tapi lagi-lagi malah aku yang membuatnya tidak berkonsentrasi..


Aku mendengarkan kata katanya sepanjang jalan dia selalu tampak dewasa untuk menyikapi suatu masalah.


Padahal usianya masih terlalu muda malah beda 8 th sama aku.


"Pak, gang depan itu belok kiri yach, tapi hanya muat satu mobil kalau sampai papasan bapak harus mutar balik hehe.


"Anggap aja kalu bapak lagi memperjuangkan gadis seimut dan semanis saya hehe.


"Memperjuangkan seseorang itu memang sulit ya pak harus nahan emosi, yang sudah sampai ubun ubun hehe, rupanya dia sedang menyindirku.


Dia terus tersenyum sepanjang jalan, aku meliriknya haduuuh,...senyumnya itu menggemaskan, sabaaar.,... Armaaan, tunggu sampai 5 th lagi..waaa,..masih lama ternyata..aku terus bergumam..


"Eh pak tuh sudah sampai gangnya,..itu belok kiri, kalau Rumah besar di pinggir jalan itu Rumah Ibu Susi Ibunya Doni, tempat saya bekerja pak.


Aku menoleh ke tepi jalan Rumahnya memang besar dan paling menonjol diantara Rumah penduduk lainya memang orang berada, Pantas dia sekolah di sekolah favorit.


Sepanjang jalan gang aku melaju pelan, jalanan tampak sepi untung tidak papasan dengan mobil yang lain.

__ADS_1


"Las kalau kamu mau kerja ketempat tadi kan ada sekitar 4 kg terus kalau berangkat kamu naik apa,? aku melirik ia sedang mengelus tanganya yang masih di bungkuskus gips, melihat tangannya yang masih dalam gendongan aku makin bersalah.


"Jalan kaki " jawabnya seolah tanpa beban.


"Deket itu sih" malah kalau berangkat sekolah bisa 6kg..Ia melirikku..tapi kalau ke Ibu susi keseringan gak pulang dulu, langsung kerja..lebih hemat waktu.


Aku hanya geleng - geleng, bocah ini memang luar biasa, pantas saja kalau sampai sekolah tidur dulu ternyata karna dia kelelahan cek cek aku berdecak kagum sama anak ini. Tambah lagi selama ia mengenalku bukan aku meringankan bebanya tapi malah menambah masalah.


"Ar..." Panggilku, ia hanya menoleh tanpa menyahut..Nanti kalau sudah masuk sekolah aku antar jemput ya?"


"Gak mau,! jawabnya tegas.


"Kenapa?"


"Ya gak enak lah pak."


"Tidak enak sama siapa?" Tanyaku.


"Gak enak sama semua, sama tunangan bapak,sama keluarga bapak, sama Guru lain, belum lagi sama teman - teman, rasanya kok tidak adil dimata mereka, banyak anak murid kok, kenapa hanya saya yang di perhatikan."


Ia nerocos seperti kecemasan menumpuk di raut wajahnya.


"Sudah kamu tuh, jangan pikirkan orang lain terus, sekali kali pikirkan diri sendiri, kamu ini cedera karna ulahku , jadi tidak ada yang salah kalau aku ingin membantu, sudah ya" tidak ada penolakan..jawabku.


Aku tidak lagi menimpalinya, aku memarkirkan mobilku di tepian gang, mudah mudahan tidak ada mobil lewat pikirku..kami turun dari mobil mengikutinya dari belakang, aku tenteng tas baju ganti miliknya, seperti suami istri saja ya hehe, aku tersenyum mudah mudahan 5 th lagi kami berjodoh..hih 5 th, masih lama ternyata..


"Kami sampai dirumah bilik bambu miliknya..


Rumah ini tampak asri tertata dengan rapi, di halaman rumah banyak di tanami apotik hidup, di pinggiran ditanami buah buahan memutar, mangga, belimbing ,jambu jeruk bali dan di belakang di tanami pisang..


"Waah..adeeem bikin betah duduk lama lama di sini, di terasnya banyak tanamam hias, hampir semua jenis bunga ada semua, rupanya pemilik rumah ini senang kehijauan..


"Pak ini tanaman, saya yang tanam loh, dia mengejutkan lamunanku.


"Oh gitu ya..." anak ini makin buat aku klepek klepek.


Ia memetik setangkai marah merah, lalu di serahkan kepadaku.


" Nih hadiah buat bapak, karna sudah perhatian hari ini" mawar merah di tempelkan di hidungku, jantungku berdegup sangat kencang. Ya Allah...baru kali ini aku merasakan ini.


"Aku sentil tanganya kamu mulai nglunjak ya?" Kataku.

__ADS_1


"Hehe bukan nglunjak pak tapi ini," tuh ro man tis ia mengeja kata romantis kami terkekeh.


Kami masuk ke dalam rumah Assalamualaikum...Waalaikum sallam...aku lihat keluarganya sudah berkumpul, menyambut kedatangan Lastri..


" Masing masing kami memperkenalkan diri, ternyata ada paman bibi dan sepupu sepupunya juga..


"Wah kamu siapa?" tanya paman Lastri.


"Maaf, Bapak Ibu..saya kemarin yang menabrak Lastri." Jawabku


"Oh jadi ini Putranya Tuan Burhan?"


" Iya pak..."Nama saya Arman,..aku menangkupkan kedua tanganku.


Aku mengantarkan Lastri ke dalam kamarnya, kamarnya berpapan triplek, ada 5 kamar kecil kecil hanya satu kamar yang besar mungkin ini kamar utama pikirku..


Meskipun hanya tertutup Hordeng tanpa pintu, tapi sangat rapi..di kamar Lastri, ada ranjang kecil yang hanya muat satu orang, Lastri segera berbaring disitu..di sudut ruang ada meja dan lemari kecil.


Buku - bukunya tersusun rapi, aroma farvum jeruk menyeruak padahal kamar ini sudah tidak di tiduri selama hampir seminggu, tapi masih bersih dan rapi..


Setelah Lastri berbaring aku pamit pulang, Ia mencium punggung tanganku, padahal ini sering di lakukan anak yg lain tapi ini rasanya beda..


Sampai di Rumah aku sudah di hadang sama Ibu, kedua tangannya bertolak pinggang, Ini yang selalu Mama lakukan, jika aku tidak menururuti peritahnya..


"Darimana kamu Arman sampai tidak kesekolah hari ini?"


"Jemput muridku yang kemarin kecelakaan Bu."


"Hebat ya kamu hanya karna gadis miskin itu sampai putusin tunangan kamu!,


Kenapa Ibu bisa tau pikirku?, oh tidak salah lagi mungkin Arshi sudah menceritakan pada Ibu dan memutar balikkan fakta..


Ibu sangat emosi, aku mencoba untuk sabar biar bagaimanapun dia Ibuku..


Ketika orang tua sedang marah, kita pasti sangat tertekan atau kesal, terlepas dari kita melakukan kesalahan atau tidak dengarkan saja jangan sampai membantah..


Semoga bermanfaat


Mohon


Kritik saran.

__ADS_1


Like


__ADS_2