
Seminggu berlalu menjelang persiapan Perpisahan kelas 3. Lastri dan Arman belum pernah bertemu, semenjak Arman marah di sekolah SMA tidak berusaha menemui Lastri.
Lastri lebih baik diam, mengikuti permainan Arman, kadang Lastri merasa capek, apa ini? yang sering di lakukan sepasang kekasih bentar marah, bentar benci, bentar merayu, rasa cemburu dalam satu hubungan adalah bumbu, tapi kalau terus menerus tentu bukan hubungan yang sehat.
"Puk, Mas Eko menepuk pundak Lastri dari belakang membuyarkan lamunanya. Lastri mendongat menatap Mas Eko, kakak yang selalu kompak, saling mendukung apa yang adik kakak itu lakukan.
"Ihh kaget Mas," Mas Eko duduk di samping Lastri, di saung depan Rumah menatap bunga bunga mawar. Karna sudah Lulus, Lastri lebih banyak menghabiskan Waktu di saung depan Rumahnya. Bersama Mas Eko bila sudah lepas Magrib.
"Las, tadi Ibu sulis titip pesan" katanya besok jam 11, kamu di suruh nemui dia di Resto dekat Kantor kabupaken. kata Mas Eko.
"Ada apa ya Mas?" Mas Eko hanya menggeleng.
"Aku kok jadi takut ya Mas," Lastri sudah pasti degdegan sebab Ibu sulis yang selama Ini membencinya, tiba tiba memanggilnya.
"Bapak sama Ibu tau tidak Mas kalau aku di panggil bu Sulis?"
"Nggak kok" nggak yang tau! jawab Mas Eko.
"Jangan beritahu" Bapak sama Ibu Mas, aku akan menemuinya besok.
"Kok firasatku gak enak ya dek?" Apa perlu Mas temani besok?" Mas tidak Usah bekerja!.
"Tenang saja Mas, aku tidak apa apa kok," kita berpikir positive aja, siapa tau Bu Sulis merestui aku jadi Menantunya. Hahaha Lastri tertawa menghibur dirinya, menutupi rasa takutnya. padahal hatinya Was was.
"■■■■
Keesokan harinya di Restaurat, Seorang wanita setengah baya, sudah duduk di sudut Ruangan . Sedang sibuk dengan Ponsel di tanganya.
"Assallaamualaikum..."
"Waalaikumsallam..."
"Jam berapa ini?" Ibu sulis menatap jam mahalnya di tangan kirnya.
Lastri menatap wajah datarnya Ibu sulis sudah sangat ketakutan, sudah 10 menit berdiri, tapi belum juga di persilahkan duduk.
"Hampir Jam 12 bu," Jawab Lastri.
__ADS_1
"Lalu," aku suruh kamu datang jam berapa ?, Pertanyaan Ibu Sulis semakin meninggi.
"Maaf bu tadi...Lastri tidak berani melanjutkan bicaranya karna Ibu Sulis Rupanya tidak mau dengar orang memberi alasaan.
"Kamu disuruh temui saya saja sudah tidak tepat waktu, bagaimana kamu mau menjadi mantu saya.
Deg
Lastri berpikir, darimana ibu Sulis tau hubunganya dengan pak Arman, yang baru sebulan jadian, ia tidak ingin Ibu sulis tau. Walau bagaimana Lastri sadar diri, Walaupun ia berusaha untuk memantaskan diri berhubungan dengan Pak Arman, Tetap saja tidak akan selevel denganya.
"Apa yang kamu mau dari Arman?. Bu Sulis menatap Lastri tajam.
"Maksut Ibu apa?.
"Plak..Ibu sulis melemparkan Amplop di meja depan Lastri.
"Inikan!" yang kamu mau?" kalau hanya ini yang kamu mau" tidak usah mendekati Arman.Saya tau kamu pengen sekolah, lalu kamu memanfaatkan Anak saya. Agar bisa untuk mendapatkan biaya sekolah.
Lastri sakit didadanya bagai tertusuk belati. Air matanya luruh tak tertahan. Walaupun ia berusha menutupi didepan Bu Sulis tapi terap tidak bisa.
Tidak mereka sadari seseorang memperhatikan mereka. seseorang itu segera keluar meninggalkan Restaurat.
"Baik Bu" saya akan pergi dan berjanji tidak akan menemui pak Arman kembali... Lastri kemudian pergi meninggalkan Resto meninggalkan Ibu Sulis dan Amplop didepanya. penghinaan Ibu Sulis tidak pernah Ia lupakan. Dengan derai Air mata Lastri keluar tidak peduli tatapan orang di sekitar Resto.
"Ayo naik," seseorang membukakan pintu mobilnya.
"Ibu Susi...? Lastri menatap Ibu Susi dan segera membersihkan Air Matanya. Ibu Susi tersenyum tapi dalam hatinya sedih, anak perempuan didepanya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri tapi ada yang tega menghinanya.
Ibu Susi merengkuh tubuh mungil Lastri ke dalam pelukanya. ia berharap bisa melegakan sesak dalam dadanya.
"Menangislah..." jika itu bisa membuatmu lega." Lastri menumpahkan tangisnya di pelukan Ibu Susi.
"Maaf bu saya jadi cengeng, Lastri melepas pelukanya dan menghapus air matanya. "Kenapa Ibu bisa ada di sini..? Lastri heran menatap Ibu Susi yang tiba ada di depanya, sudah Tidak terhitung Ibu Susi menolongnya.
"Ibu lagi ada perlu di daerah sini," Ibu Susi memberi alasan, padahal waktu Lastri menunggu angkut di depan Rumah Ibu susi.. Bu Susi merasa heran, tidak biasanya Lastri pergi leluar Rumah. Bu Susi segera melajukan Mobilnya yang masih berparkir di halaman. Mengikuti Lastri dari belakang.
"Bu, maaf...., jangan sampai Bapak dan Ibu saya tau ya bu" saya tidak mau membebani mereka.
__ADS_1
Ibu Susi Shalut dengan anak di depanya ini. selama ini Lastri selalu memendam rasa sedihnya. Tidak mau berbagi dengan orang lain. Ibu Susi sering memberi pekerjaan pada keluarga Lastri. karna tipe keluarga Lastri tidak akan mau terima jika di bantu secara terang terangan.
Bu Susi membelai kepala Lastri dengan sayang.
"Sudah tidah usah menangis lagi" makanya Ibu melarang Doni sama kamu berpacaran, bukan berarti Ibu tidak merestui kalian. Kalian masih terlalu muda ... jangan dulu pikirkan yang macam macam. yang penting fokus belajar... kejar Ilmu selagi masih muda, Banggakan orang tuamu, Jika Suatu saat nanti, Kamu dengan Doni berjodoh, Ibu akan merestui kalian.
"Terimakasih ya Bu.."
"Ya sudah ayo pulang " Bu Susi menjalankan mobilnya. Kamu pulang kerumah aja ya... gak mungkin kan! kamu pulang dalam keadaan begini. Apa yang di katakan Ibu Susi benar adanya. ia tidak mau pulang dalam keadaan yang menyedihkan.
"Tapi kan, dirumah Ibu" ada Mbak Dwi bu..." yang ada bukanya saya terhibur malah dia nyap nyap. keluh Lastri.
"Terus menurut kamu bagaimana?,
"Saya turun di depan Rumah Yanti aja bu... saya akan kesana nanti sore saya baru kerumah Ibu.
"Ya sudah, dimana Rumahnya?.
"Tidak jauh dari sini kok bu."
Lastri turun di depan Rumah Yanty, sebelumya Lastri telpon Mas Eko, agar tidak memberitahu keluarganya, kalau hari ini ia bertemu dengan Ibunya Arman. Yanty juga berpesan kalau sekarang ia sedang berada di Rumahnya Yanty.
"Assaalamualaikum..
"Waalaikumusallam..
Yanty membukakan Pintu, Yanty kaget, tidak biasanya Lastri sengaja main kerumahnya karna Lastri biasa kerja dan tidak ada Waktu untuk main.
"Eh tumben Las kamu main" ada apa nih?.
"Hiks hiks...huuu...huuu... Lastri menangis tersedu sedu di pelukan sahabatnya itu. Yanty tak bergeming, terpaku menatap sendu, sahabatnya yang sedang tidak baik baik saja. Yanty menenangkan menepuk nepuk punggung sahabatnya.
***Haapy reading
Like
Coment***
__ADS_1