
Selama perjalanan pulang pak Arman sangat kesal hanya gara gara Mas Doni, Ia cemburu lagi. aku hanya diam, biar saja dia marah, paling juga nanti baik sendiri.
"Pak Arman cemburu ya...? Aku memiringkan kepalaku ingin menatap wajahnya yang sedang serius menyetir.
"Awas menghalangi spion.." katanya. Tanpa menoleh ke arahku. Huh, kalau sudah marah jadi gemas sendiri, susah untuk membujuknya. Aku tersenyum jail, aku cabut bulu tangan kekarnya.
"Ihh sakit..! ngerti nggak sih..! orang lagi nyetir juga!!" Mukanya datar serperti tidak expresi.
"Iya dech maaf "saya salah, saya gak lagi bilang sama Mas Doni!. saya mau mencurahkan perhatianku untuk Guruku yang ganteng tapi ngambekkan" hehe. aku meledeknya.
"Mulai, ngledek...! Aku tuh kesel, sama kamu" apa apa Mas Doni, Jadi aku ngrasa seperti tidak di anggap." ia mulai serius.
"Iya, sudaah..." saya sudah minta maaf kan..! jawabku. Ia terdiam, sampai di Rumahku tidak ada yang kami bicarakan. Aku turun dari mobil dekat Rumah. Terimakasih ya Pak.." lain kali.. kalau tidak ikhlas jangan mengantarku. Ia menatapku kaget.
"Tidak mampir dulu pak..? tanyaku basa basi.
"Tidak usah, mukanya masih datar, aku mencium punggung tanganya dan melihat ia melajukan mobilnya sampai hlang dari ujung gang.
"Assalaamualaikum.."
"Waalaikummussalam.."
Aku melihat keluargaku, berkumpul di ruang tamu, sudah siap makan malam rupanya. mereka menungguku.
"Tadi nggak usah nunggu pak, Bu, Lastri sudah makan kok.." Aku ikut duduk di samping Mbak Dwi dan Mas Eko.
"Jalan - jalan ke mana aja Las..? Tanya Mas Eko.
"Ke embung Mas.." Jawabku.... Bagus tidak..? Mas Eko bertanya lagi..
"Lumayan sih mas, cocoknya untuk remaja seperti kita" kalau untuk anak anak, tidak ada yang menarik. jawabku.
"Iya..! Cocok untuk orang pacaran..!! jawab Mbak Dwi sinis.
"Emang.! ajak dong Mbak, Mas Joko.." sekali kali jalan jalan, biar pacaranya gak stak..jawabku singkat tapi membuat Mbak Dwi makin bersungut sungut.
"Terus aja, pacaran sama Gurumu itu.." paling juga nanti kamu nangis darah.! Mbak Dwi tambah marah.
"Heh, jangan nyumpain dong mbak," kata - kata itu doa, berarti kalau aku sama pak Arman kenapa kenapa" itu karna doa Mbak Dwi.Aku mulai tersulut.
"Sudah sudah, kok jadi malah pada ribut sih.." Nasehat bapakku, yang tadi hanya diam menyimak obrolan anak anaknya.
__ADS_1
"Yang di bilang Mbakmu itu benar nduk.." kamu masih kecil ,kejar dulu cita cita kamu..! Nak Arman itu sudah dewasa, sedangkan kamu masih belum mengerti apa apa.." kalau boleh bapak kasih saran, pikirkan lagi nduk.
Kalau Bapak sudah memberi nasehat kami semua kicep tidak ada yang bersuara Bapak memang tegas berkarisma.
"Apak kamu tidak mau...? terima tawaran Om Bambang nduk..? Bapak sepertinya ingin sekali aku ikut Om Bambang yang tinggal di Bekasi. sekolah disana dan membantu Tante Sri. Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bapak.
Waktu sudah jam 22, tapi aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku membuka pintu depan dan duduk di saung, pikiranku kacau, kalau aku menuruti kata kata Bapak, berarti aku harus berpisah dengan Pak Arman. sedangkan aku tidak mungkin akan bisa berpisah denganya.
Aku mendesah frustasi menatap bulan yang berpancar cerah dan Indah tapi hatiku justru meredup saat ini.
"Puk... seseorang menepuk pundaku dan membuyarkan lamunanku, aku menoleh ternyata Mas Eko orangnya.
"Kok belum tidur sih..."dek.!
"Iya Mas, aku tidak bisa tidur." Jawaku.Mas Eko sendiri kenapa belum tidur..?
"Aku sudah biasa kali..?? Tidur lewat jam 11" hehe... Mas Eko terkekeh.
"Kenapaa...? Kamu masih mikir nasehat Bapak tadi..? Tanya Mas Eko. Aku mengangguk.
" Menurut Mas Eko gemana ..? Tanyaku balik.
"Kalau menurut Mas, terserah kamu aja dek" yang njalani kamu." Mas hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Adek..." Kalau memang kamu mau mempertahankan Pak Arman...," Mas dukung kok.." yang penting kamu bisa bertanggung jawab untuk dirimu sendiri... Tapi kalau kamu memang pengen Ikut Om Bambang" ya terserah kamu" tapi kok felingku kurang baik ya, kalau kamu ikut tinggal di Besikasi. Mas Eko seperti tidak rela berpisah denganku.
"Nggak boleh gitu sama Mbak Dwi " sebenarnya dia baik kok..." hanya cara penyampaian aja yang selau mendahulukan emosi.
"Sudah yuk, kita masuk..." angin malam tidak bagus untuk kesehatan," kamu tiduryaa..." jangan mikir yang macem macem nasehat Mas Eko.
Aku masuk kedalam , di ikuti Mas Eko. Kami masuk kamar masing - masing.
Aku membuka celengan yang aku tabung selama 2 tahun. Uang gajian kuli nyuci dari Ibu Susi, Aku menabung sebulan 100 ribu sisa untuk bayaran di SMP dan menambah uang belanja Ibu. Sebenarnya Ibu tidak mau terima, tapi aku selalu memaksanya. Keluargaku tidak ada yang tahu tentang tabunganku. Aku menghitung uang ternyata ada 3 juta. dan yang koin receh ada 300 ribu. Aku bahagia bukan main..Untuk masuk sekolah berarti aku tidak usah merepotkan orang. Masuk SMK Muhamadiyah kurang lebih sekitar 3 juta, sudah termasuk seragam Almamater, berarti aku hanya tinggal beli seragam yang umum semua sudah cukup.
Besok aku akan mengambil formulir berarti aku harus menyiapkan uang seratus ribu.
Kalau bisa, aku akan mengajukan Biasiswa. Seandainya tidak bisa paling tidak, aku hanya tinggal mencari uang bulanan dan membantu Ibu Susi menjait.
Keesokan harinya.
Tok.. tok..tok.
Ceklek
__ADS_1
Assalaamualaikum..
Waalaikummusallam..
"Oh Bapak sudah sampai..? Aku membukakan pintu ternyata Pak Arman yang datang.
"Pada kemana..? kok sepi.! Tanya Pak Arman.
"Ibu lagi ke Pos yandu Pak" nimbang adek, sedangkan Bapak ,Mbak Dwi sama Mas Eko kan! kerja.
"Bapak mau minum apa..?
"Tadak Usah" kita berangkat aja. Jawabnya masih datar. berarti ngambeknya masih on. aku membatin.
"Bapak! Bapak...! Memang aku Bapak kamu" Jawabnya ketus.
"Oh iya saya lupa..." Mas Arman yang ganteengnyaa..." nggak ketulungan, selalu di gandrungi cewek cewek cantik..hehe, aku menggodanya.
"Lebay.." Akhirnya dia tersenyum.
"Ayo.." keburu siang, dia menarikku ke motornya.
"Aku bawa motor ya, biar romantis, biar kita bisa lebih dekat... ia tersenyum menggoda.
"Tuh kalau lagi senyum gantengnyaa..." Wuih bikin klepek - klepek. tapi sayang... orangnya ngambekan..Kalau udah ngambek pengen aja nyabutin bulunya satu satu. slorohku.
"Memang kamu pikir aku ayam sayur apa..? dicabutin bulnya.
"Bukan! tapi ayam jago tua" rasanya alot... hub. aku menutup mulutku. Ia menatapku tajam.
"Iya memang, aku tidak semuda Doni! tapi jangan salah" tua itu santanya lebih kental.
Iya bersloroh tanpa menatapku, sepertinya ia merapikan mantel di masukkan kedalam jok.
Happy reading
Jangan lupa
Like
Coment.
__ADS_1
.