MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 61


__ADS_3

Selesai bagi oleh oleh Lastri beranjak ke saung depan Rumah, inilah tempat favoridnya dulu ketika sedang senang maupun susah. Kemudian Mbak Dwi langsung masuk kamar. Sedangkan Mas Eko ke depan menemui adiknya.


"Masih ingat rempat terindahmu ya?" hehe." Mas Eko tiba tiba duduk di sebelah Lastri.


"Iya Mas dulu kalau duduk di sini suka betah sampai jam 11 malam.." Mas suka nongkrong sini nggak?"


"Iyalah, Mas kalau kangen sama kamu suka nongkrong sampai dini hari.." trus Ibu suka nyariin gitu." suruh tidur..."


"Hehe.. Ibu suka lucu ya Mas" nganggap kita kadang masih kaya anak balita pergi sedikit saja di cariin."


"Iya, apa lagi waktu kamu nggak ada, Ibu sering nangis, apa lagi waktu Om Bambang telepon katanya kamu kabur," Ibu suka histeris, Bapak di marah marahin."


"Masak sih Mas" Ibu sampai marahin Bapak? Biasanya Ibu nggak bisa marah sama Bapak."


"Ya gitulah namanya orang panik," Mas aja suka panik sendiri , terus duduk di sini hingga larut sambil berdoa supaya kamu nggak kenapa kenapa."


"Kamu di Jakarta masih lama ya dik?" Mas suka kesepian, entah harus apa" bingung nggak ada yang bisa di ajak ngobrol." Dwi kalau di ajak ngobrol nggak asyik ujung ujungnya ngajak ribut. Curhat Mas Eko.


"Mas Eko belum niat mau nikah?" atau cari pacar gitu? supaya Mas nggak kesepian, Mas kan sudah 23 th."


"Iih kamu ini...Apa yang perlu di banggakan Mas Eko dik? rasanya minder, hanya untuk sekedar berdekatan dengan wanita, Mas nggak pernah sekolah, kerjaan hanya kuli, lalu bagaimana Mas Eko bisa menghidupi keluarga nantinya." Mas Eko sedih membayangkan masa depanya.


"Ih Mas Eko harus oftimis dong," jangan menyerah, Mas Eko tuh ganteng, Mas Eko memang hanya lulusan SD, ya cari jodoh yang kira kira pantas. Manusia sudah ada jodohnya kok! Mas Eko hanya tinggal menjemput jodoh itu."


"Mudah mudahan ya dik..." tapi si Tika itu suka sih dik sama Mas.. sering titip salam sama Joko pacarnya Dwi."


"Oh Tika anaknya Bu Marni ya?" kalau itu sih Lastri cocok banget! orangnya baik, rajin Ibadah, dulu sering barengan ke Masjid. Pokoknya Lastri dukung dech." Lastri meyakinkan kakaknya.


"Kamu sendiri sudah telepon Pak Arman belum ?"


"Waktu itukan Mas titip nomer ke Ibu," sudah dua bulan kan Pak Arman ke Jakarta."


"Iya Mas Eko.." dunia ternyata sempit, Mas Bayu adiknya Mbak Nina, ternyata sahabatnya Mas Arman, dia buka usaha di pasar rebo dekat banget sama tempat tinggal Lastri."


"Oh gitu ya.." Terus kamu sudah ketemuan sama Pak Arman?" Tanya Eko.


"Nggak tau Mas.." aku kaya ngrasa makin nggak pede gitu" kalau dekat Pak Arman." Lastri menunduk lesu.


"Lah tadi nasehati..." sekarang dirinya nyerah bagaimana sih kamu? nih kamu tuh beda sama Mas," kamu cantik, pintar, bisa ngimbangi Pak Arman." jadi jangan hawatir dech ya?!

__ADS_1


Kakak beradik itu saling support, saling menasehati, memang begitu setiap kumpul Lastri dan Eko, saling mengerti dan saling menyayangi.


Tanpa tersa malam telah Larut mereka akhirnya tidur di kamar masing masing, kamar yang dulu Lastri tempati masih tetap rapi dan bersih sepertinya ibu Santi selalu merawatnya.


Keesokan harinya mereka berkumpul sarapan bersama.


"Bu, Lastri nanti main sama teman teman ya.. sudah lama nggak ketemu mereka..." pengen kumpul sekali kali." Lastri minta izin.


"Sama siapa nduk?" tanya Ibu.


"Yanti sama Resty Bu" sekarang kan liburan sekolah pasti ada di Rumah."


"Ya sudah hati hati saja," terus kapan kamu mau ketemu Ibu Susi?" Ibu susi sama Doni sudah tanyain terus. Kata Ibu.


"Isyaallah lusa ya bu Lastri kesana."


"Eh Mbak Dwi masih bekerja sama Bu Susikan?"


"Masih lah, dari pada mau ngapain.." mau kerja di jakarta nggak boleh sama Ibu." Dwi mbrengut kesal. Memang waktu itu Dwi pengen kerja di Jakarta jadi ART tapi di larang sama Ibu.


"Bener kata Ibu Mbak," di Jakarta kalau nggak punya pengalaman lebih baik nggak usah" lebih baik Mbak di Rumah saja sama Ibu biar Lastri di Jakarta lebih tenang.


"Halah orang ngambekan begitu sih mau nikah." yang ada mertuanya nggak akur sama menantunya?" Sindir Eko.


"Iiiih enak saja..! Ibunya Mas Joko sayang banget sih sama Dwi..! wlee..! Dwi nggak mau kalah.


"Memang beneran Mbak sudah pengen serius sama Mas joko?" tanya Lastri.


"Ya iya lah!" nanti takut keduluan sama kamu," di langkah lagi sama adik ihh..nggak mau aku sih." Dwi mengedikkan pundaknya. Dwi ngrasa punya adik lebih cantik, jadi merasa gelisah sedangkan adiknya banyak yang suka.


"Ya kalau sudah berniat mau nikah benar benar harus memantapkan hati Wi.." jangan hanya karna takut di langkah sama adikmu," pernikahan bukan main main jadi harus serius." titah Bapak.


" Iya Pak kemarin Dwi sudah di kenalkan sama orang tuanya Joko..doakan saja mudah mudahan Lancar."


"Aamiin


Mereka mengaminkan.


Bapak sama Mas Eko berangkat kerja..mbak Dwi juga berangkat ke Ibu Susi. Kemudian Lastri ingin bertemu teman temanya."

__ADS_1


"Assalamualaiku?"


"Waalaikumussalam."


"Lastriii..ini beneran kamu?" Lastri berkunjung kerumah Yanti.


"Ya iyalah memang kamu pikir siapa?" Jawab Lastri.


"Ya Allah kamu makin cantik aja sih.." kata Yanti muach...muach..Mereka cipika cipiki.


"Sekarang hubungi Resty sama Wido kita kumpul yu bakar ayam atau apa gitu? Kata Lastri.


Yanti segera menghubungi kedua sahabatnya, mereka saat ini sekolah di SMK Negri, dan masih tetap bersahat, tapi kurang satu yaitu Lastri. Tidak lama kemudian mereka datang membawa perlengkapan areng dan obo rampenya.


"Rerty...Widodo.." apa kabar kalian? Resty segera memeluk Lastri sedangakan Wido hanya cukup bersalaman. saja.


"Kabar aku baik Las kamu makin cantik aja dech." puji Resty.


"Sialan kamu Las! kamu membuat geger tau nggak sih?! sarkas Wido lebay.


"Geger? maksudnya apa?" Lastri menatap temanya satu persatu bingung.


"Tau nggak waktu perpisahan SMP, saat picnic semua nyariin kamu! sampai pake toa segala? "Semua panik! huh kesel..! kamu malah enak enakan di jakarta. Sergah Widodo.


"Ngacok kamu Wid! enak enakan darimana?" kamu nggak tau aja penderitaanku selama di Jakarta." sampai aku rela nggak makan, badanku kurus, kering," sampai rela jadi gelandangan." Lastri Netranya menatap ketiga sahabatnya berkaca kaca.


"Maksudnya bagaimana?" Ketiga sahabat Lastri mendekat, kemudian Lastri menceritakan semuanya penderitaanya selama di Jakarta.


Ketiga sahabat Lastri mendengarkan dengan seksama. Mereka menunda menyalakan areng larut dalam penderitaan sahabatnya.


"Sudah Lanjut nyalakan areng kita mulai bakar bakar. Lastri mencairkan suasana.


"Tapi kamu sekarang di sana baik baikkan Las?" Tanya Yanti.


***Bersambung


Mohonn dukunhanya.


Like

__ADS_1


Coment***


__ADS_2