MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 9


__ADS_3

Langit senja berkabut ,Arman mengerjabkan mata sayup-sayup terdengar Adzan magrib berkumandang. Arman melangkah ambil air wudhu bersujut berserah diri kepada sang Illahi.


Selepas magrib, Arman kembali keruang rawat, tampak beberapa orang berkumpul, Suryo bapak Lastri, Santi ibu Lastri, kedua orang tua Doni, dan juga mbak Dwi, Mas Eko kakak Lastri.


Wanita berusia 33 th menangis terisak memeluk anaknya, Lastriii...bangun nduk, kenapa bisa seperti ini nduk...hiks hiks, mencium pipi anaknya, mengusap tanganya telungkup di perutnya.


" Tenaang buu,...sabaaar.. " pak suryo menenangkan istrinya.


Bu Susi memandangi Lastri dengan mata berkaca-kaca "Lastrii... maafkan Ibu nak, kalau Ibu tadi tidak menyuruhmu ke Mini market, tidak akan terjadi seperti ini.. kamu anak baik nak, Ibu tidak mengizinkan Doni mencintai kamu, bukan berarti ibu tidak restu nak. Tapi kalian masih terlalu muda, Ibu tidak ingin Doni tidak bisa menjaga kamu. Jika suatu saat nanti kalian sudah dewasa Ibu akan mendukung kalian. Seandainya kalian tidak berjodoh Ibu tetap akan menjadikan kamu putriku."


Ibu Susi menyeka air matanya, mundur memeluk Doni.


Mas Eko dan mbak Dwi juga menangis, melihat adiknya yang biasa ceria itu tidak berdaya, sejail jailnya kakak terhadap adiknya, sering nertengkar merebutkan suatu, mereka tetap saling menyayangi.


Sementara Arman hanya terdiam, melihat kepiluan di ruang rawat, maju mendekati pak Suryo dan Ibu Santi


"Maaf kan saya pak, bu... Lastri jadi seperti ini karna saya.


"Sudahlah nak Arman, semua sudah terjadi, kita doakan saja Lastri supaya cepat sadar..." begitulah kelurga pak Suryo mereka selalu bersikap tenang dan tidak mengedepankan emosi.


Setelah drama beberapa saat tadi, Mas Eko menggelar tikar mereka ngrobrol bersama..


"Arman akan bertangung jawab Pak, Ibu, sekali lagi saya minta maaf." Pak Suryo menepuk-nepuk pundak Arman menenangkan.


"Makanya, lain kali kalau bawa kendaraan itu jangan ugal ugalan!" Doni tampak emosi.


"Doni!. Ibu susi ngode anaknya agar tetap tenang.


Tidak terasa waktu sudah jam 9. Jam besuk sudah habis, Pak Satrio dan ibu Susi pamit pulang, sebenarnya Doni tidak mau pulang tapi ia harus menyetir mobilnya..


Mas Eko, mbak Dwi, Ibu Santi ikut pulang, Ibu Santi tidak mungkin meninggalkan 3 anak balitanya, dirumah. Sebenarnya Mas Eko ingin menemani bapak menginap, tapi Arman melarang, karna hanya dua orang yang di perbolehkan, Arman tidak mungkin meninggalkan Lastri.


"Nak Arman, sebaiknya pulang, biar bapak sama Eko yang jaga, Kasihan nak Arman belum istirahat dari tadi pagi." titah bapak.


"Tidak apa-apa pak, biar bagaimanapun Lastri tanggung jawab saya, mungkin besok pagi saja mbak Dwi gantian jaga, soalnya saya harus ngajar, itu juga kalau Lastri nanti sudah sadar ,kalau belum mungkin saya akan izin." tutur Arman menatap Lastri sedih.


"Kita doakan Lastri cepat sadar ya pak" Arman menatap Lastri tampak di balut kesedihan.


Arman pov


Hari ini serentetan kejadian, membelenggu aku, tapi di balik itu Allah mendengarkan doa doaku, Allah membuka jalan yang selama ini aku tunggu tunggu, mengakhiri hubunganku dengan Arshi. Calon istri pilihan ibu yang tidak pernah aku cintai.


Andai Ibuku tau, bagaimana tabiat Arshi selama ini, tapi setiap aku menceritakan hal ini pada ibu, pasti akan di bantahnya.

__ADS_1


Dan hari ini, gadis kecilku, tidak berdaya karna perbuatanku, sesak terasa dada ini..


Aku yakin perasaanku pada gadis ini, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya, aku betah berlama-lama berada di dekatnya, aku selalu rindu padanya jika jauh darinya. Andai nanti aku berjodoh dengannya. Aku akan menunggu hingga dia dewasa. Jalannya masih panjang biar dia meraih cita- ciyanya.


Tapi Doni tadi bilang kalau ia kekasih Lastri, dadaku terasa sesak mendengarnya, semoga semua ini tidak benar.


Arman pov and


"Sebaiknya nak Arman tidur di sofa nak, biar bapak tidur di tikar." Pak Suryo membuyarkan lamunan Arman.


"Oh saya di sini saja pak, kalau nanti Lastri sudah sadar, biar saya cepat menghubungi dokter."


"Nanti nak Arman kecapek an loh." Kata bapak.


"Tidak apa-apa pak, sebaiknya bapak istirahat." pungkas Arman.


Akhirnya Pak Suryo tidur di sofa, sementara Arman telungkup di sisi ranjang pasien. Arman mendoakan Lastri semoga Lastri cepat sadar.


"Allahumma robbannaasi Asdzibil ba, sa Wasy fihu,wa antas syaafi, Laa Syaa- a Illa Sifaauka Sifaan Laa YughaadiruSakaama..


Artinya: Ya Allah Robb manusia..hilangkan penyakit dan berikan dia kesembuhan Engkau Dzat Yang maha menyembukan.


Malam berlalu pagi menjelang, sekitar jam 3 pagi Lastri sadar dari pingsanya. "Dimana ini? ughh badanku sakit semua..." ia mengucek matanya memandang sekeliling tampak asing, tanganya berdenyut sangat kaku, Selang infus menempel di lengannya.


Akhirnya ia sadar kemarin ia kecelakaan tapi ia tidak tau siapa yang menabrak.


" Ya allah...Pak Arman... apa aku bermimpi...?dengkuran lirih menyapa relung hatinya. "Mengapa pak Arman yang menunggu aku?" monolognya. Ia mendongak ke atas menatap langit - langit. Sakit yang ia rasa seolah sirna. Ia menoleh lagi, kali ini, aku bisa melihat wajah pak Arman dari dekat. Lastri bergumam.


Lastri terus bergumam.


"Pak Arman..." ternyata gumanan Lastri di dengar Pak Arman


Arman membuka matanya menatap gadis didepanya ternyata sudah siuman. "Astri, kamu sudah sadar? Ya Allah... Alhamdulillah, kamu pingsan dari kemarin sore" tutur Pak Arman.


"Pak Arman, apa yang terjadi? kenapa pak Arman yang nemani saya di sini?"


Pak Arman ingin memeluk Lastri, tapi ditahan olehnya. Lastri mendorong dada Arman pelan.


:Kenapa?" tanya Pak Arman.


Lastri menggeleng.


"Bukan muhrim Pak."

__ADS_1


Armam mundur, menyentuh hidung Lastri.


"Pak"


"Ya"


"Apa yang terjadi?" Lastri sebenarnya dari tadi ingin bertanya.


"Maafkan aku Lastri, aku yang sudah buat kamu seperti ini" Armam menceritakan semua yang terjadi. Termasuk menceritakan kalau yang mengantarķan kerumah sakit ini..adalah Doni.


"Oh jadi Mas Doni yang mengantar?"


Iya, kenapa? Sepertinya kamu seneng banget."


Mengingat Doni. Arman jadi merasa iri di dalam dadanya.


"Pak Arman disini sendirian?"


"Tidak, sama Bapak kamu tuh di sofa." Jawab Arman.


"Kalau gitu, tolong bangunkan bapak." Rengek Lastri.


"Eh. mau apa? ini masih jam tiga kasihan bapak." Arman melarang Lastri membangunkan Bapak.


"Pak tolong, saya mau ke kamar mandi."


"Oh ya sudah, aku antar ya." Arman ingin mengangkat Lastri.


"No! bangunkan bapak." Lastri merengek manja kepada Pak Arman.


Arman bangkit membangunkan pak Suryo. Sebenarnya ia tidak tega. Tapi bagaimana juga Arman tidaklah pantas untuk mengantar Lastri ke kamar mandi.


"Pak, pak. Maaf sudah mengganggu tidur bapak." Arman membangunkan Pak Suryo sopan.


"Oh Lastri sudah sadar nak? Gurat bahagia terpampang jelas di wajah pak Suryo.


"Sudah pak dia minta di antar ke kamar." Jawab Arman.


Pak Suryo bangun dan memapah anaknya ke kamar mandi.


□□□□□□□□


Ini dulu ya..semoga bermanfaat.

__ADS_1


Like


Coment.


__ADS_2