MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 13


__ADS_3

Sampai di mobil aku berdiri sejenak, mengatur napas yang terengah engah,aku lihat Pak Arman sudah duduk di kursi kemudi, tanpa melihatku.


Aku membuka pintu mobil niat ingin duduk di belakang, tidak ingin mengganggu orang yang lagi marah, ia menoleh ke arahku.


"Memang aku sopirmu?"


Suara bariton membuat ku terkejut.


Aku menghela napas panjang. "Huh" ternyata Pak Arman orangnya kalau sudah marah awet seperti formalin. Lebih baik aku segera kedepan. Aku sudah tau maksud dia apa. Orang lagi marah mah, biar aja gak usah di tanggapi. Kalau aku ikutan marah itu artinya mengajak perang..


Didalam mobil kami saling diam larut dalam pikiran masing-masing. Aku menatap pepohonan di pinggir jalan. Memikirkan apa yang di katakan dokter tadi, tidak boleh aktifitas terlalu berat sampai waktu yang tidak bisa di tentukan. Itu artinya aku harus berhenti bekerja, lalu bagaimana sekolahku? "Aachh.." Aku pusing dengan masalahku tetapi Pak Arman membuat aku semakin pusing. Aku menunduk, memijit mijit kepalaku.


"Besok kamu tidak usah kerja lagi, biar aku yang biayai sekolah kamu" rupanya dia tau apa yang ada di pikiranku.


"Tidak usah pak saya tidak enak sama kelurga bapak." kataku.


"Ini bagian dari tanggung jawabku, karna aku. Kamu tidak lagi bisa bekerja, lagian ini uang saya sendiri bukan uang keluarga..


Rupanya bicaranya sudah agak melunak, waah... ini kesempatanku untuk meluruskan permasalahan ini. Walaupun sebenarnya di antara kami tidak ada masalah.


"Pak Arman"


"Heeemmm"


"Bapak marah sama saya ya?" Aku menoleh menatapnya yang sedang menyetir.

__ADS_1


"Tidak!" sahutnya. Aku lihat mukanya mulai datar lagi.


"Itu buktinya, dari tadi ketus terus"


"Ciiiittt..


Arman menepikan mobilnya dengan kasar. "Heem ini sih amarahya mulai meledak lagi, menghadapi orang dewasa ternyata sangat sulit, orang dewasa belum tentu bisa bersikap lebih dewasa.


"Iiihh bapak kenapa sih? kasar banget! baru saya keluar dari rumah sakit, sudah mau celaka lagi. atau kita mau mati bareng?" aku mulai tersulut.


"Kamu yang kenapa? mentang-mentang sudah ada yang jagain aku gak di anggap, pakai mesra - mesraan lagi, di pegang-pegang, di pijit-pijit. Tapi kalau aku sentuh sedikit saja, kamu seperti jijik!" .aku lihat matanya merah, uratnya menegang. "Huh" sudah kepalang tanggung biar aja kalau aku mati di tangan pak Arman sudah rela. pikirku..


Aku mencoba untuk tenang, tidak seharusnya, api di lawan dengan api, kalau ada air di sini sudah aku guyur kepalanya biar adem.


"Pak sebenarnya ada apa sih ini?! okay! kalau saya salah minta maaf. Tapi kalau permasalahannya karena saya dekat dengan mas Doni, saya juga minta maaf. Tapi, kalau saya di suruh jauh dari mas Doni terus terang saya tidak bisa."


"Ya... memang pak, Mas Doni pernah mengutarakan perasaanya sama saya, tapi bagi saya hubungan kakak adik akan lebih baik, bagi kami."


"Saya sudah dua tahun bekerja sama ibunya, kami saling bagi cerita, tapi bagi saya Mas Doni bukan orang yang bisa menggetarkan hati saya, lagian untuk apa saya harus pacaran, bukanya kata bapak juga jalan kedepanku masih panjang."


"Trus kalau di pikir-pikir kenapa bapak harus marah sama saya, toh selama ini antara saya dengan bapak kan hanya hubungan antara murid dengan Guru, tidak lebih."


Pak Arman menghela napas panjang menjatuhkan badanya di kursi kemudi, mungkin setelah mendengar aku nyerocos, jadi berpikir secara cerdas kembali , mood nya juga sudah mulai on. "Maaf, tapi aku minta peka sedikit."


"Nah nah saya baru tahu nih, jangan-jangan pak Arman cemburu ya,"

__ADS_1


Aku tersenyum, memutar badanku menatap pak Arman lebih dekat kedua kakiku bersila di kursi.


"Nggak!" Jawabnya tegas.


"Nggak apa maksunya?"


"Waduuhh, kalau cemburu bilang dong pak! mani emosinya makin meledak gitu. Untung saya tidak punya penyakit jantung" aku diam menunduk rasanya lelah jiwa ragaku, rasa berdenyut di lenganku tidak lagi aku rasakan..


Aku mendongak menatapnya, ia masih diam membisu. Aku merapat mendekat, membuang rasa gengsi entah dia mau menilaiku seperti apa. "Masa bodo" pikirku yang penting Pak Arman tidak marah lagi.


"Sudah Ya Pak, marahnya. Saya minta maaf ya kalau saya salah." Pak Arman masih diam. "Pak pleass..." Aku colek lenganya yang berbulu dengan jemariku.


"Haiis... bukan muhrim!" beliau menoleh cepat kemudian kami terkekeh bersama.


Pak Arman mulai menjalankan mobilnya, kami sudah kembali ke mode awal, candaan receh pak Arman sudah kembali, setelah terjadinya, ngambeknya Pak Arman. Membuat hatiku bertanya-tanya, apa maksutnya marahnya meluap-luap.


Maksutnya apa coba, kalau dibilang pacar dia tidak punya komitmen.


Guru menjadi elemen yang sangat penting di sekolah, namun mungkin tidak semua Guru tidak sesuai dengan karakter anak.


Bagi beberapa anak, hubungan murid dan Guru dapat dikatakan, hubungan cinta benci hal ini wajar karna setiap hari menghabiskan waktunya bertemu hingga 6 sampai 7 jam..


Yang penting anak tetap harus bertanggung jawab, dengan nilai akademiknya supaya tidak merosot.


"Readher yang budiman, terimakasih sudah mampir ke certaku, mohon bijak untuk menyikapi yach... mengapa anak SMP sudah mencintai Guru, tapi ini hanya sekedar mengagumi, tidak ada yang fulgar kok, jadi aman untuk di baca anak SMP. Kalau pun ada adegan fulgar tapi bukan anak SMP nya.

__ADS_1


Thanks..


Mohon like kritik saranya.


__ADS_2