
Sudah 3 hari Lastri tidak masuk sekolah. Sebenarnya Pak Arman sudah tidak tahan lagi ingin menengok Lastri, tapi tidak pernah ada kesempatan, sebab Arshi tidak pernah memberikan ia kesempatan.
Di Kelas kegelisahan Arman terjawab, karna yanti tadi menyerahkan surat Izin tidak masuk sekolah.
Selamat pagi Pak," Yanti kedepan menyerahkan Amplop, di tanganya.
"Selamat pagi " jawab Arman.
"Ini ada surat izin dari Lastri pak" Kata yanti.
"Lastri sakit apa?" Tanya Arman hawatir.
"Belum tahu Pak, saya sendiri belum nengok".. jawab yanti, sebab rencananya yanti dkk akan menjenguk pulang sekolah nanti.
Dirumah Lastri.
Pagi adzan subuh berkumandang, Lastri mengerjabkan mata. Hawa dingin menggigil menusuk pori pori kulitnya.
Ugghhh, kepalaku sakit sekali ..Ya Allah...
"Dengan susah payah ia melangkah menuju sumur, mengambil air wudhu dari padasan. Selesai shalat subuh, Lastri meringkuk kembali dengan selimutnya.
Di dapur Ibu sedang memasak. "Jam segini kok Lastri belum bangun ya lee?" Apa jangan jangan dia sakit? Tanya Ibu Santi sama Mas Eko.
Oh Iya" coba aku lihat bu".
Setelah meneguk air hangat yang dituang dari termos. Mas eko menuju kamar adik kesayanganya itu.
Sedangkan mbak Dwi jangan di tanya selesai subuh pasti ia tidur lagi.
Mas Eko mendekati adeknya. "Dek bangun dek" Mas Eko nepuk nepuk pipi Lastri.
Mengguncang tubuh lastri tapi hanya melengkuh. Mas Eko meraba dahi adiknya. "Ya Allah....Kok panas sekali ya?"
Mas Eko kembali kedapur ambil Air panas dan handuk kecil guna mengompres adiknya.
Mas Eko sangat penyayang apa lagi sama Lastri. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, tapi ia sangat dewasa.Tapi nasip baiknya belum berpihak karna hanya mengenyam pendidikan SD.
"Lhoh mana adikmu lee?" Tanya ibu.
"Adek sakit bu, badanya panas sekali, ini mau di kompres".
Jawab Eko sambil menuangkan air termos kedalam baskom.
"Duh anak itu pasti tadi malam gak mau makan jadi masuk angin." Kata ibu menggerutu.
Ibu Santi mengikuti Eko masuk kedalam kamar, pandangnya tertuju ke atas meja kecil, ternyata benar, makanan yang ia siapkan tadi malam tidak di sentuh.
Ibu Santi berdecak kesal. Bu santi melihat keadaan anak gadisnya memang sangat panas. Ia kembali ke dapur untuk membuatkan bubur.
__ADS_1
Mas Eko sangat telaten mengompres adiknya. "Ugghh,..Mas Eko..."
Lastri melenguh.
Lastri membuka matanya. Mas aku mau bangun, suaranya lirih hampir tidak terdengar.
"Sudah tidur aja mau ngapain?" Tanya Mas Eko dengan kompres yang masih dia pegang.
"Tapi aku mau sekolah Mas.."
"Sudah, jangan bandel" nanti aku suruh Dwi buat surat Izin." Kata joko.
Mas Eko sebenarnya tau apa yang di rasakan adiknya.Tapi untuk saat ini ia tidak ingin bertanya dulu, Ia tidak ingin menambah beban pikiran adiknya.
Tidak lama, Ibu masuk membawa bubur dan obat turun panas buat anaknya.
" Ini nduk, makan dulu ya..." Terus minum obat." Titah ibunya.
Lastri menggeleng. "Mulutku pahit bu." Gak mau makan, rengek Lastri.
"Sudah jangan bandel," Ini Ibu suapi, dari tadi malam perutmu kosong loh." Omel ibu.
Ibu menyuapi lastri dengan telaten, setelah sarapan minum obat, Ibu Santi keluar.
"Ibu keluar ya..."Mau menyiapkan makan buat yang lain." Kata Ibu.
"Tidur ya..."Nanti setelah bangun Insyaallah sudah enakan". kata Ibu Santi.
Diluar Dwi sedang menggelar tikar. Sebab keluarganya kalau makan hanya lesehan di bawah. Karena untuk membeli meja makan jelas mereka tidak mampu.
"Pak e ?" Panggil Bu Santi pada suaminya.
"Ada apa buk e..."Jawab Pak suryo.
"Sepertinya Lastri lagi ada masalah Pak"
"Loh memang ngopo buk e..."Tanya Pak Suryo pada Istrinya.
"Tadi malam ia pulang kemalaman pak" terus kelihatanya habis nangis..."Matanya aja sampai sembab." Malah sekarang dia sakit lagi," Cerocos Ibu Santi pada Suaminya.
Ibu Santi menjelaskan panjang lebar pada suaminya.
"Alaah..."Paling berantem tuh sama Gurunya" tiba tiba Dwi nimbrung obrolan orang tuanya.
"Apa maksudnya nduk" Tanya pak Suryo pada anaknya.
"Sepertinya Pak Arman suka banget sama Lastri." Jawab Dwi, kesal.
"Siuuut..."Ibu Santi meletakan jarinya di bibirnya.
__ADS_1
"Jangan bicara begitu Wi" mana mungkin Pak Arman suka Sama Lastri." Kata Ibu.
"Ya sudah kalau Ibu tidak percaya" Kata Dwi.
"Dwi kan tau waktu Lastri dirumah sakit waktu itu bu".
"Pak Arman ada perhatian kusus sama Lastri." Dwi menjelaskan pada Ibunya.
Dwi menyusun makanan di Tikar.
"Waah aku dukung tuh, kalau adikku yang cantik itu di sukai sama Pak Arman," Mas Eko yang baru dari sumur menimpali.
"Lastri kan baik, cantik..."Ya wajar kalau Pak Arman mencintai dia." Eko membanggakan adik kesanganya.
"Huh, lebay...."Dwi menatap Mas Eko bersungut sungut.
"Biasa aja kali,?? Dwi sepertinya tidak suka Eko memuji Lastri.
"Yach, ngiri bilang Wi" Mas Eko tau kalau Dwi sedang cemburu pada Lastri.
"Waduuh, ini tidak bisa di biarkan bu..."Kalau sampai anak kita suka sama Arman. Pak Suryo menatap Istrinya hawatir.
Sebab Pak Suryo tau, kalau sampai anaknya suka sama Arman pasti akan di tentang keluarga mereka. Pak Suryo sadar siapa dirinya.
Pak Suryo geleng - geleng membayangkan reaksi Ibu Susi Ibunya Arman.
Mas Eko tampak sedih mendengar penuturan Bapaknya.
"Iya pak, malah sudah beberapa hari ini" tunangan Arman menginap di situ terus." Jawab Eko kesal.
"Nah kan" makanya jangan bilang aku iri" Dwi menimpali kakaknya.
"Apa kita terima saja, tawaran Mas Bambang bu."
Mas Bambang kerabat Pak Suryo, pernah menawarkan kalau Lastri mau sekolah di jakarta biaya akan di tanggung. Asalkan Lastri mau bantu bantu disana. Istri Mas Bambang mempunya Warteg di beberapa tempat.
Ibu Santi bingung kalau dia menyetujui usul suaminya, itu artinya ia harus pisah dengan Lastri. Untuk saat ini ibu masih belum bisa pisah dengan anak - anaknya.
Bu Santi berpikir saat ini dia tidak mempunyai apa apa, selain anak anaknya. Anak harta yang paling berharga. Titipan Allah yang harus selalu ia jaga.
"Nanti kita pikirkan lagi ya Pak" Ibu Santi sangat sedih menatap Suaminya.
"Sudah sudah, tidak usah pada sedih, kita makan dulu ya." Pak Suryo menenangkan keluarganya.
**Mohon
Like
Coment**
__ADS_1