MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 25


__ADS_3

Tok tok tok.


"Noh bukain pintu, perintah Dimas pada adiknya.


"Ogah temen lo kan! ya lo lah "yang bukain pintu.


"Kan Guru lo juga.


Akhirnya Dimas membukakan pintu untuk sahabatnya itu..,


Ceklek..Arman langsung masuk, mukanya kelihatan kusut, Dimas hanya diam kalau sudah begitu Pasti sahabatnya ini lagi ada masalah.


"Gua numpang mandi ya" Arman melangkah melewati Dina tidak menghiraukan keberadaan Dina di situ..Begitulah Arman disini sudah seperti di rumah sendiri.


Walaupun sering menginap di rumah Dimas, tapi Arman tidak pernah ngobrol dengan Dina paling hanya basa basi saja.


"Buatin minuman yang anget anget, buat Pak Arman Din"


"Ogah" Dina menjawab tapi tidak memperhatikan Dimas ia asyik dengan film koreanya.


"Cepetan gak ada jatah uang jajan loh"kata Dimas...Iiiih kakak nyebelin,..Dina berdiri dan menghentakan kakinya.


"Yang Ikhlas dong biar dapat pahala" Dimas tersenyum.


"Sekalian buat gue ya".hehe.


"Tau ach bodo amaaattt !...kak Dimas nyebeliin..


Kegaduhan kakak dan adik hampir setiap hari, bibi yang membantu mereka sering terbahak bahak..Arman yang ingin mandi melihat kakak adik itu hanya geleng geleng ternyata Arman memperhatikan dari lantai dua belum masuk kamar.


Arman jadi ingat adiknya yang sudah dua bulan tidak berkunjung menjelang ujian memang Arman sangat sibuk.


Hanya keegoisan Ibunya Rani memilih untuk tinggal di rumah Omnya di kota Y..Dulu ketika Rani masih SMP, Arman sangat memanjakan adiknya, selalu tukar cerita apa yang mereka rasakan.Sebenarnya Arman ingin mengikuti Rani,tapi Ayah melarang.


Arman masuk kedalam kamar melihat figura besar milik keluarga Dimas, Dina berdiri di tengah tanganya di kaitkan di lengan Dimas, sebelah kiri Ibunya tanganya merangkul pundak anak laki lakinya dan sebelah kanan tangan ayahnya merangkul leher Putrinya.

__ADS_1


"Cek cek cek...keluarga bahagia,... guman Arman, ia merasa betah berlama lama di Rumah ini, Melihat candaan Dimas dan Dina membuatnya menjadi hangat.


Arman menuju kamar mandi 20 menit kemudian ia keluar sudah tampak segar, Arman memang selalu nyimpan baju ganti di sini jadi kalau menginap di sini tinggal pakai.


"Ceklek,..pintu di buka ternyata Di.mas yang masuk. Sudah mandi lo ,,?..tanya Dimas.


"Orang sudah ganteng begini pakai tanya lo"


"Makan malam sudah siap yuk, kebawah dulu" ajak Dimas.


Mereka berdua menuruni anak tangga , Dina sudah menunggu di meja makan, satu tanganya menopang dagu...dan tangan kananya memainkan sendok..klunting..kluntiiing...kluntiiing. Dina mendongak kedua pria itu ternyata sudah berdiri di depannya.


Dina meraih piring menyendokan nasi ke piring dan memberikan ke kakak dan Gurunya.


"Nah gitu dong jadi adik tuh harus perhatian " Itung itung latihan kalau lo nanti punya suami sudah pintar. Dimas menggoda adiknya.


"Plaak , serbet melayang di bahu Dimas, Dina bertolak pinggang dasar kakak gak tau terimakasih,..."memang siapa yang menyiapkan keperluan lo tiap hari,?..


"Giliran ada Pak Arman aja muka pura pura memelas..,Dimas nyendok nasi yang sudah terisi nasi penuh lalu di suapkan ke adiknya...Dina akhirnya kicep gak bisa bersuara lagi ...Arman hanya menggeleng melihat kelakuan kakak beradik ini.


"Kakaaaak,.. Dimas menoleh spontan sebuah jeruk masuk kemulut Dimas.


Dimas mencucu mengunyah jeruk dengan susah payah, mau di buang sayang..mau di kunyah susah.


"Ki ki ki..Dina tertawa ngikik, Impas kakakku sayaang..."Good night..muach...ki ki ki...Dina ngeloyor masuk kamar dan menguncinya.


"Cek..cek.. cek.. Itu bocah somplak, Bokap lo ngidam apa dulu ya,?..Arman heran.


"Heran gue juga, tapi nanti kalau nggak ada dia pasti gue bakalan kangen, sedangkan sekolah tinggal sebulan lagi.Dimas tampak sedih membayangkan akan berpisah dengan adiknya.


Dulu waktu Dina ingin lanjut SMP di kampung sebenarnya kedua orang tuanya tidak mengizinkan, tapi Dina kekeh pengen sekolah ikut kakaknya.akhirya orang tuanya mengizinkan tapi dengan cacatan hanya SMP saja, dan SMA harus lanjut di Jakarta.


"Kita pindah ke kamar yuk ". biar lebih santai ngobrolnya..." ajak Dimas pada Arman.Mereka ngobrol sambil rebahan, sudah biasa mereka saling curhat mengutarakan segala uneg uneg masing masing.


"Trus kenapa lagi lo, muka udah kaya baju gak di gosok selama sebulan,..? Tanya Dimas sekenanya.

__ADS_1


Arman menghela nafas panjang dan melepaskan.


Melonggarkan sesak didadanya.Masalah datang bertubi tubi menghampirinya.


"Bingung gue Dim lo kan tau,..gue sudah putusin hubungan sama Arshi..Gue batalkan menikah sama dia, Tapi dia malah nempel terus sama gue, dan anehnya dia malah sekongkol sama nyokap. yang lebih parah lagi ,dia malah sudah berhari hari nginep di rumah gue.


Arman kesal mengapa Arshi harus tinggal di rumahnya, dia meremas guling ingin rasanya melumatkan ,seperti pikiranya saat ini ingin bebas lepas sama mantan tunangannya tapi takdir tidak berpihak kepadanya.


"Watt"..yang bener Arshi tinggal di Rumah lo,?..tanya Dimas ngegas.


"Jangan bilang lo ,sudah icip icip sama tuh cewek , ? Pertanyaan Dimas seperti tidak di saring.


"Bruukk...Arman memukul badan Dimas dengan guling..Najis dech gue sumpah gak selera ,nyium aja pernah dua kali karna dia yang nyosor duluan.


Arman mengingat Arshi nyosor rasanya pengen muntah.


"Ya kali,??..biasanya kucing di kasih ikan segar masih cari ikan asin..hehe Dimas terkekeh.


"Trus, cewek yang lo taksir ,tau nggak kalau Arshi nginep di Rumah lo. ?..Tanya Dimas.


"Gak tau gue Dim, tapi kayaknya dia tau dech, sudah seminggu dia marah sama gue, Parahnya dia sekarang lagi meringkuk di rumah sakit, sore tadi gue nengokin dia,..tapi dia ngusir gue sambil nangis nangis ,gak tega gue lihatnya.


Arman sedih di saat dia sakit harusnya dia bisa menghiburnya ada di sampingnya. Ia sadar selama ini dia sering menyakiti hatinya.


Arman menunduk meremas rambutnya, dia menyesal, selalu marah dan emosi yang ia kedepankan, kadang mudah tersinggung karna tidak mendapatkan yang iya yakini.


Seharunya ia bisa menurunkan intensitas emosinya, bisa mengatasi meredakan kemarahanya. salah satu keindahan keintiman mampu menyembuhkan luka hatinya harusnya ia bisa sabar memberikan pasangan ruang aman. untuk mengรจkplorasi dan mengekpresikan respon yang tulus dari pada kemarahan.berkomitmen untuk secara aktif dan berusaha intuk memvalidasi emosi yang di expresikan secara tulus dan mendengarkan perkatanya. Arman menatap sahabatnya menghiba seolah meminta pendapat dari sahabatnya.saat ini ia butuh orang lain untuk meguatkan hati dan pikiranya.


๐Ÿ‘‡


**Maaf karyaku masih acak acakan mohon kritik dan saranya karna akan membantu author bisa lebih berkembang..mengoreksi dimana letak kekuranganya.๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jujur aku masih belajar โœโœโœ


Like**

__ADS_1


__ADS_2