
Malam semakin larut kedua laki-laki sibuk dengan pikirannya, tidak mereka sadari bahwa mereka mencintai orang yang sama.
"Gue sudah ada Incaran nanti gue kenalin dech" Dimas mengukir senyum.
"Siapa,? temen kerja lo?" tanya Arman.
"Bukanlah, belum saatnya, nanti gue kenalin sama lo."
"Memang lo sudah tembak dia?: tanya Arman.
"Belumlah kan gue baru ketemu sekali." Jawab Dimas.
"Baah hahaha" kali ini gantian Arman yang meledek. "Apa bedanya sama gue lo? masih mendingan gue sudah samar samar." Armam mencebikkan bibirnya.
"Niat gue nembak nanti kalau dia sudah lulus" kata Arman.
"Yah... elo, nanti keburu di ambil orang." ucap Dimas.
"Paling tidak biar fokus sama ujian dulu" sambung Arman.
Adimas berpikir memang betul apa yang di katakan Arman.
*****
Diruang rawat siang ini masih penuh dengan keriwehan, siapa lagi? kalau bukan Yanti, Resty, dan Widodo.
"Lastrii... maaf ya, kita baru bisa datang." kata mereka. Mereka meletakan buah yang ia bawa di atas meja kecil.
"Nggak apa - apa lagi, lagian kalian pada repot." jawab Lastri.
"Eh kok kalian sudah pada pulang sih?" tanya Lastri, sebab hari ini masih belum jam sebelas. Pasalnya, biasa jam dua baru keluar.
"Iya pulang cepat, gurunya ada rapat." Jawab Widodo.
"Oh" Lastri hanya ber oh ria, ia berpikir berarti nanti Pak Arman bisa datang, sebab sudah dua malam, Pak Arman belum berkunjung, mungkin ia marah. Lastri mau minta maaf, dengan kejahilan dia dengan Doni.
"Pak Arman tadi masuk ya?" tanya Lastri kemudian.
"Masuk lah, kenapa, kangen ya?" tanya Widodo. Sebab cowok yang satu ini paling seneng meledek.
"Wiih, ada yang kangen."
Resty yang dari tadi hanya diam berkomentar.
"Hahaha... iya tuh" Yanti dan Widodo terkekeh. Jangan ngaco kamu! nanti jadi fitnah" kilah Lastri.
"Betul Las, dari kemarin pak Arman kaya yang bete gitu, sedangkan kita tau, Pak Arman kan, orang nya humoris"
"Terus... dari kemarin setiap ngajar Pak Arman terlihat kaku, nggak semangat, yang beliau lihatin kursimu terus." mereka sama menceritakan pak Arman.
__ADS_1
Lastri tersenyum getir, benarkah Pak Arman menyukainya? jika iya, pantaskah gadis kecil dan miskin sepertinya disukai seorang Arman yang sudah dewasa, kaya, dan tampan. Sungguh tidak selevel dengannya. Namun jika tidak? mengapa tiap Lastri dekat dengan Doni Pak Arman selalu marah.
"Las, kok kamu malah bengong sih, hati - hati nanti kesambet arwah rumah sakit tau!" kata yanti. Yang sedang ngupas jeruk untuk sahabatnya itu. Secepatnya kepala Yanti mendapat hadiah toyoran oleh Resty.
"Iiihh, sakit tau! Res!" Yanti bersungut sungut.
"Hati-hati kalau bicara, kata-kata tuh doa lo." Nasehat Resty. Pasalnya dirumah sakit percandanya ngawur.
"Hehe maaf bercada." Yanti terkekeh.
"Aku heran sama sikap Pak Arman, tiap aku ngobrol sama Mas Doni dia selalu marah." "Sekarang malah sudah dua malam ,nggak jenguk, padahal kemarin bilangan mau jagain aku." Lastri tampak sedih, curhat dengan ketiga sahabatnya itu.
"Nah, nah. Benarkan? itu sih, gak perlu di ragukan lagi, Pak Armam mulai klepek-klepek sama kamu tuh" Widodo meyakinkan.
Yanti menatap sahabatnya tak berkedip. "Ah enak banget jadi kamu Las."
"Maksudnya?" Lastri melirik Yanti .
"Kalau yang nabrak orang macam Pak Arman aku juga mau ditabrak, di perhatikan, di tungguin, malah sampai jatuh cinta lagi?" Yanti menggerutu. Kepala Yanti di toyor lagi oleh Widodo.
"Ih mulut yang satu ini dari tadi gak bisa di jaga." kata Widodo. "Ya kalau doa mu dicatat malaikat. Ya kalau yang nabrak Pak Arman, kalau yang nabrak paijo gemana?" hahaha Resty dan Widodo tertawa.
"Kalian kan tau, siapa coba yang nggak suka sama pak Arman, tapi aku senang sih, hati Pak Arman berlabuh ke hati sahabatku yang satu ini" Yanti tersenyum melirik Lastri. yang di lirik masih sibuk dengan pikiranya sendiri.
"Kalian kenal gak sama Tantri?" tanya Resty.
"Hanya sekedar kenal sih, tapi belum pernah ngobrol" jawab Lastri.
"Sudah bukan rahasia lagi dia tuh ngebet sama Pak Arman, dia lumayan cantik juga sih, tapi masih cantikan sahabatku" hehe, Resty tersenyum kearah Lastri..
Ketika mengalami patah hati, tentu akan merasa rapuh, semua perasaan sedih, kecewa, sakit hati, akan bertumpuk menjadi satu, tetapi kita harus ikhlas, karna akan mengalami hidup kembali untuk hari esok, ketika hal buruk menimpa pasti Allah mempunyai rencana, jalani dengan tabah menjadi jiwa yang kuat.
*****
Sulastri PoV.
Hari ini, hari ke empat aku dirawat, menurut dokter, aku sudah di perbolehkan pulang.
Sejak Pak Arman kemarin marah, ia belum lagi menjengukku.
Andai saja aku punya ponsel, mungkin aku bisa menghubunginya, dan setidaknya aku tau kabarnya.
Tadi malam bapaku bilang akan menjemputku hari ini, barang-barangku sudah di beres kan sama bapak.
"Supaya besok tinggal berangkat nduk" gitu katanya.
"Nduk besok bapak sewa mobil ya"
"Nggak usah pak, kita naik bus aja" kataku. "Sewa mobilkan 100 rb pak, mending kita naik bus hanya 10 rb" jawabku.
__ADS_1
"Ya sekali-kali kan, gak apa-apa nduk, kamu kan lagi sakit" titahnya.
"Gak apa-apa pak, yang sakit kan tanganku, kakiku masih bisa jalan kok" hiburku.
Bapak mengangguk. "Yo wes sak karepmu nduk."
Jam delapan pagi pagi.
Tak, tak, tak. Suara alas kaki terdengar riuh.
"Selamat pagii." Sapa dokter.
"Gemana cantiik? sudah lebih baik?" seorang dokter memasuki ruangan bersama suster, di ikuti Pak Arman dari belakang.
"Masih ada yang di rasa?" tanya dokter mendekati aku.
"Tangan yang di gips masih suka berdenyut dok."
"Oh, kalau itu memang agak lama dek, nanti seminggu lagi kontrol ya, kamu jangan dulu banyak aktivitas," pesan dokter. "Mungkin hanya bisa di gerakan sedikit supaya tidak kaku nantinya." Nasehat dokter.
"Kira-kira berapa lama dok tidak boleh aktivitas?" tanyaku.
"Oh itu sih tidak bisa di tentukan waktunya tergantung individunya, tapi karna kamu masih muda Insyaallah lebih cepat." jawab dokter, sambil membenahi peralatan.
Suster melepas infus, setelah selesai mereka pamit keluar.
"Permisi ya dek, semoga cepat sembuh" ucapnya. "Terimakasih dok." Aku menjawab.
Aku perhatikan dari tadi Pak Arman hanya diam berdiri dibelakang dokter.
"Oh ini, kakaknya mau jemput ya?" tanya dokter melirik Pak Arman, ia hanya mengangguk tersenyum..
Aku perhatikan Pak Arman sama sekali tidak melirik aku, terlihat wajahnya muram.
"Pak Armam tidak mengajar hari ini?" Aku mulai memberanikan diri bertanya memecah suasana kaku.
"Izin mau jemput kamu!" mukanya datar masih tidak mau menatapku.
"Tidak usah repot Pak, katanya bapakku kok, yang mau jemput." Aku sebenarnya tidak enak merepotkan Pak Aman.
"Kamu pikir saya setega itu" ia meliriku kemudian membuang muka, ia mengangkat tasku yang sudah rapi.
Aku hanya geleng-geleng, mengikuti langkahnya yang cepat dari belakang, setengah berlari aku ngos-ngosan, mengejarnya. Katanya nggak tega, tapi buktinya malah gak peduli. Nggak tau apa aku lagi sakit, uch, dasar gak peka. Orang yang lagi ngambek kaya gini, musti di kasih coklat biar bisa tenang sedikit. Aku menggerutu sendiri.
Aku berjalan jauh dari Pak Arman, meskipun aku coba menyejajarkan langkahnya, tetap tidak bisa aku kejar, badanku berkeringat, karena dari tempatku di rawat menuju parkiran lumayan jauh. Sesekali aku seka keringat di wajah tenggorokanku terasa kering. "huh!" rasanya ingin menangis.
******
Menuju konflik readher, nanti Dimas dan Dian yang akan menghibur kita..
__ADS_1
TETAP DI SINI YA
Mohon kritik, saran dan tinggalkan jejak.