MENCINTAI GURUKU

MENCINTAI GURUKU
Part 42


__ADS_3

Pagi ini aku mengikuti langkah Tante menuju warteg. Salah satu usaha yang di geluti tante Sri. Aku pernah mendengar cerita orang di kampung kalau tante mempunyai Restaurat dan tiga kios warteg. Tapi ironisnya, sudah tiga hari aku tinggal disini hanya untuk membeli sepotong tempe kesukaanku pun beralasan. Aku menjadi berpikir negatif dan meyakini gunjingan tetangga tante.


30 menit kemudian aku sampai di warteg. Sampai disini aku di suruh bersih bersih lagi. padahal keringatku belum kering.


"Bu maaf, saya makan roti dulu ya," tadi saya belum sempat sarapan,, soalnya terburu buru," kataku. Sebelum berangkat aku tadi membeli sebungkus roti seharga dua ribu di warung depan.


"Makanya kalau kerja tuh jangan lelet," sekarang sudah nggak ada waktu buat makan..!!


"Cepet kerja! nanti keburu pelanggan datang!! ucapnya sinis. Aku segera mengerjakan tugasku. Perutku lapar sekali sebab dari tadi malam aku tidak makan.


Ya Allah... kuatkan aku, jika pekerjaanku ini salah satu ibadah aku ikhlas, kuatkanlah ya Allah..


" Bu Sri, ini siapa? tanya Ibu Ibu gendut yang melintas di depan warteg. Ini tukang cuci gosok dirumah, saya bawa kesini aja. lumayan dari pada bayar orang. jawab Tante tidak berdosa. Aku berjalan kedapur ada 2 orang ibu ibu yang bagian memasak.


"Eh neng siapa? tanya salah satu Ibu.


"Saya Lastri bu.." aku mengulurkan tanganku bersalaman. Saya keponakan Om Bambang bu." kataku memperkenalkan diri.


"Saya Ijah neng dan ini teman saya Tintin."


"Oh, geulies pisan si eneng teh."


"Hehe Ibu bisa aja" aku ngobrol sambil membersihkan dapur.


"Atu si eneng teu sakola?


"Sekolah bu tapi sekarang masih libur."


"Tapi mudah mudahan si eneng betah ya," atuh Ibu Sri teh orangna galak pisaan..


"Heh heh! ngapa nih! kalian suruh kerja malah pada ngobrol !! Tante sudah mulai beraksi ternyata tidak hanya di rumah disini juga sama.


Jam delapan, para pelanggan sudah mulai rame. Para pekerja pabrik mulai sarapan pagi, dari teh manis, kopi, susu, tidak sedikit juga yang sarapan nasi. Aku seharian tidak berhenti bekerja bekal rotiku tadi baru aku makan waktu dzuhur sekalian shalat. Magrib aku sampai di Rumah masak dan menggosok pakaian.


*****


Seminggu berlalu anak SMP ada acara jalan jalan. Ini hari terakhir mereka bertemu. Ada tujuh Bus yang akan di berangkatkan. Sahabat Lastri kebingungan mencari cari Lastri, sebab sudah mau berangkat, Lastri belum juga datang.


"Wid kamu kan rumahnya lebih dekat," masak tidak tahu dimana Lastri sih? tanya Yanty.

__ADS_1


"Kalau aku tau nggak nyari dodol !! Widodo mukul pelan lengan yanti.


"Kita tanya Pak Arman saja," betul juga ya kata Resty. Jawab widodo. mereka meninggalkan parkiran menuju kantor tapi baru bebera langkah seseorang menghampirinya.


"Kenapa sih kok pada tegang? tanya Dina yang baru turun dari mobil bersama kakaknya Dimas.


"Nyari Lastri? masak jam segini belum datang Jawab Yanti. Dimas nyimak perbicangan mereka, banyak kejanggalan yang terjadi diantara Lastri dengan Arman. Minggu lalu waktu perpisahan lastri menangis, di tambah lagi saat ini Lastri tidak hadir di acara perpisahan. Banyak yang Dimas pikirkan tapi ya sudahlah! itu urusan mereka.


Usai mengantarkan Dina Dimas segera pergi saat ini ia belum ingin bertemu Arman. Selama sebulan ini entah Karna sibuk atau apa Arman tidak pernah bertandang kerumahnya begitu juga sebaliknya.


" Din gue balik dulu yaa.." hati hati di jalan, nanti sore kalau sudah sampai telpon ya.." nanti gue jemput.


"Iya kak, jawab Dina.


" Ketiga sahabat Lastri tanpa harus kekantor ternyata Pak Arman sudah sampai di parkiran. Panitia panitia masuk kedalam bus untuk mengafsen anak satu persatu.


"Maaf Pak Arman" sampai sekarang kok Lastri belum hadir ya..barangkali bapak tau Lastri kemana gitu?" tanya widodo dengan sopan.


"Justru Bapak pengen tanya sama kamu? memang Lastri tidak pernah bilang apa gitu sama kalian.


"Tidak pak," jawab mereka bertiga.


"Dia sudah pergi seminggu yang lalu, kata Arman. Sebenarnya saya Ingin bertanya pada kalian tapi ternyata kalian juga tidak tau. Arman makin frustasi.


"Saya sudah tanyakan pada keluarganya" tapi mereka menutupinya." Sudah besok kita cari sama sama.. sekarang kita naik kedalam bus." titah Pak Arman.


"Ini pasti gara gara Tatri !! Resty menatap pak Arman kesal, biar di bilang tidak sopan sama guru kalau salah ya salah pikir Resty.


"Resty ! Widodo memberi isyarat supaya Resty diam. Resty kemudian pergi meninggalkan mereka.


Anak bersuka cita di dalam bus mereka bernyanyi nyanyi padahal suaranya seperti kaset rusak. Biasanya kelas Lastri selalu dia dan Widodo yang tampil, tapi tidak adanya Lastri Widodo seperti kehilangan giginya. Boro boro bernyanyi berbicara pun malas.


****


Dirumah Lastri.


"Mbak kenapa Lastri di biarkan pergi? saya kecewa sama mbak Santi." Kalian lebih percaya sama orang yang belum di kenal dari pada sama saya." Memang mbak Santi tau keadaan Lastri seperti apa? Di jakarta itu keras mbak, Walaupun Lastri anak yang kuat, tapi tetap saja Lastri itu anak perempuan dan masih anak anak." Harusnya kita lindungi dia. Maaf, saya bukanya menakut nakuti mbak santi." tapi dengan perginya Lastri.Saya seperti kehilangan harapan" Saya sudah banyak rencana untunya. Tapi mbak Santi seperti melupakan saya, andai mbak Santi memberi tahu sebelumnya pasti saya akan gigih mencegahnya. Ibu Susi kecewa dengan bu Santi bagaimana tidak? Lastri sudah seperti anaknya sendiri.


"Hiks hiks..Maafkan saya bu" sebagai seorang Ibu, kontak batin selalu ada." Tapi suami saya selalu telepon Bambang. Katanya Lastri baik baik saja. Saya kemarin sudah melarangnya bu" tapi Lastri sudah bertekat saya bisa apa? hiks hiks.

__ADS_1


"Ya sudahlah, kita doakan saja mbak" semoga Lastri baik baik saja."


"Saya pamit dulu ya mbak" boleh saya minta no hp Bambang?


" Oh boleh bu, sebentar ya" Bu Santi masuk ke dalam lalu kembali keluar membawakan secarik kertas dan menyerahkan pada Bu Susi.


Sampai dirumah Bu Susi melihat anaknya sudah pulang sekolah dan sedang menonton acara Televisi.


"Darimana Mah? tanya Doni.


"Dari Rumah Lastri Don. jawab Bu Susi lesu.


Doni kemudian beranjak mengejar Mamanya yang hendak ke kamar mandi.


"Mah gemana kabar Lastri? Tanya Doni antusias.


"Nanti Mama ceritain sekarang mama mau kekamar mandi dan shalat Ashar dulu. Ibu Susi segera mandi sore dan shalat Ashar. Setelah shalat Ibu Susi menemuhi anaknya.


"Ini ada No Pak Bambang, coba gih" di hubungi. titah Bu Susi.


"Pak Bambang siapa mah? tanya Doni.


"Dia Omnya Lastri."


Kriing keiing kriing


"Hallo? suara di sebrang sana.


"Hallo Pak" apa saya bisa bicara dengan Pak Bambang? Doni berkedip kepada mamahnya.


"Oh ya...Saya sendiri," saya bicara dengan siapa ini?


"Saya Doni Om, kakaknya Lastri."


"Maaf setahu saya Lastri tidak punya kakak yang bernama Doni."


SELAMAT MEMBACA


Jangan lupa

__ADS_1


Like


Coment


__ADS_2